
Debora membuka matanya ia melihat Roy di sampingnya tengah mememluknya juga. Roy jugertidur pulas siang ini bersamanya.
"Aku kira kamu akan habiskan siang dan malam kamu sama Nur." Gumam Debora.
Debora segera turun dari tempat tidur di liatnya jam sudah pukul 14.05. Debora masuk kamar mandi dan mencuci wajahnya. Setelah ia rasa segar barulah ia mengganti bajunya. Ia ingin ke rumah Rena saja untuk menghibur diri.
***
"Sudah gak sakit kan Al..?" Bisma dan Albert sudah selesai mengobati luka di wajah Albert.
"Ya sudah baikkan. Eeemm apa sekarang kita cari Kakaku dan istrimu..?" Albert sepertinya ketakutan. Mungkin karna ini kakaknya.
"Eeemm ya kita harus melakukannya. Menurut kamu Stuart membawa Adel ke mana..?" Bisma mengemudikan mobilnya dan Albert di sampingnya.
"Eeemm.. Di mana ya Stuart menginap. Dia biasanya nginap di apartemennya. Bisma punya apertemen di sini dan aku lupa namanya. Karna aku gak pernah dinas Indonesia." Albert menggigit jarinya.
"Eeemm kamu tenang saja.. Stuart kan laki laki sejati yang aku tahu.. Aku yakin dia gak akan apa apa kan Adel." Sahut Bisma dengan yakin.
"Siapa Bilang...?" Albert mendelik.
__ADS_1
"Kenapa.. Bukannya kakak kamu itu sanhat setia sama pacarnya dulu. Dn meski mereka berdua pacaran cukup lama, kakak kamu gak pernah main tangan sama pacarnya itu.. Siapa itu namanya.. Eeemm Lisa.. Ya Lisa.." Bisma mengingat saat pertama kali bertemu dengan Stuart dan ia mencari tahu lebih tentang Stuart.
"Ya itu dulu dan sebelum Stuart di hianati Lisa." Sahut Albert lagi.
"Maksudnya...?" Bisma tak percaya.
"Stuart yang sekarang bukan Stuart yang dulu lagi untuk urusan wanita. Ia laki laki yang berbeda. Kalau untuk aku dan keluarga dia tetaplah Stuart. Tapi bila masalah bermain dengan wanita sekarang ia sangat pandai. Bahkan banyak wanita yang meminta padanya untuk menghabiskan malam bersama. Stuart sekarang sering bermain dengan wanita semenjak perselingkuhan Lisa." Jelas Albert lagi.
"Apa..?" Bisma sangat tak percaya.
"Lalu..?" Bisma takut terjadi sesuatu oada Adel.
***
"Waaaahhh selamat ya Ren.. Aku ikut senang.." Debora nebdengar kabar gembira dari mulut Rena sendiri. Kini ia sudah di rumah Hery dan Rena. Rena langsung menceritakan kabar gembiranya pada Debora.
Sedangkan Hery ia di dapur memasak dan menyiapkan makanan sehat untuk istrinya. Ia tak membiarkan para asisten rumah tangganya membuatnya sendiri, ia juga harus melihat dab ikut mencobanya.
"Debora.. Kamu siang siang ke sini..? Jangan jangan Roy..?" Rena menebak.
__ADS_1
"Eeemm" Debora mengangguk.
"Astaga Roy.." Rena menutup mulutnya.
"Memang dia dan Nur gak lakuin pagi kayaknya tapi, Roy lambat keluar dari kamarnya Nur. Kata Eyang berarti Roy kecapek'an.." Debora menceritakan keluh kesahnya pada Rena.
"Ooohh Debora tapi kamu baik baik aja kan..?" Rena khawatir dengan keadaan Debora yang pastinya tersakiti dengan tindakan Roy ini.
"Gak apa apa kok.. Aku baik baik aja yaitu dengan cara pergi ke rumah kamu.." Debora malah tetap tersenyum lebar meski dalam sakit yang luar biasa.
"Debora.. Aku gak sekuat kamu.. Kamu betul betul kuat. Dulu aku kuat karna Hery.. Dan sampai sekarang pun begitu.." dari jauh sudah terlihat Hery membawa nampan yang berisikan piring dan mangkuk.
"Ini dia.. Makan siang sehat untuk para ibu hamil.. Ayo kalian berdua cobalah.." Hery sangat bersemangat.
"Oke.. Kepala koki.." Ledek Rena, Debora tertawa melihat kedekatan Rena dan Hery yang begitu terjalin indah tapi tak seindah hubunganya dan Roy.
***
Adel dan Stuart...
__ADS_1