
Debora menyusul Roy dan Eyang ke kamar.
"Debora apa yang kamu katakan.. Kata macam apa itu.." Roy bangkit dari duduknya.
"Aku gak sanggup ke hilangan kamu lagi Roy.. Aku gak mau.. Aku gak bisa.. Aku... Aku lebih pilih untuk di madu dari pada aku harus tinggalkan kamu.. Gak, aku mau kamu nikah lagi..." Debora histeris sambil mengucapkan kata kata itu.
"Debora tenang Debora... Eyang liat apa yang sudah Eyang buat.. Eyang puas.." Roy kesal pada Eyang yang mengawali semua ini.
"Dia yang mulai duluan Roy.. Kalau dia gak selingkuhin kamu Eyang gak akan juga minta dia tinggalin kamu atau kamu yang nikah lagi, tapi karna ini adalah salah dia sendiri makanya Eyang minta kamu nikah lagi. Kalau ini semua terjadi sama dia, ya udah dia harus terima donk.." Eyang tak merasa bersalah sama sekali.
"Ck Eyang ini bukan saatnya yang benar dan yang salah.." Roy langsung keluar dari kamar Eyang dengan membawa Debora bersamanya.
"Roy.." Debora memanggil Roy dalam lemahnya.
"Ya sayang aku di sini.. Aku di sini.. Kamu tenang ya.." Roy mengelus Debora.
"Roy nikahlah sama perempuan itu. Aku gak apa apa kok.." Debora tetap berusaha tersenyum meski hatinya sakit meminta Roy untuk menikah lagi.
"Gak Debora aku sudah punya kamu, untuk apa aku cari yang lain...?" Roy menolak mentah mentah permintaan Debora.
"Tapi.."
"Sudah Debora aku gak mau omong kosong ini lagi. Kalau Eyang memang gak mau kamu jadi istri aku ya udah kita tinggalin dia. Aku ikut kamu pergi dari sini.." Roy mengenggam tangan Debora.
"Roy itu gak baik. Masa kamu mau tinggalin Eyang sendiri..." Debora sudah banyak belajar dan ia tak ingin salah jalan lagi.
"Debora... Aku gak mau maka aku gak akan mau juga..." Roy tak ingin membicarakan masalah ini lagi.
***
Bisma menoleh ke kiri dan kanan. Ia menikmati panasnya terik matahari di siang hari ini.
Mungkin ia sedang ingin berjemur saja. Maklumlah bule kan suka berjemur. Tapi sepertinya itu tidak di lakukan Bisma, ia hanya menikmati harinya ini. Di sampinnya ada minuman es kopi.
Senyumnya mengembang melihat seorang anak kecil lewat dengan membawa es krim dan bersama ibunya.
"Anak yang manis..." Gumamnya.
"Eeehhh itu Adel...? Adel...!!" Bisma memanggil Adel yang ia lihat.
"Eeehh.. Bisma.." Adel menemui Bisma.
"Tumben di sini.. Tunggu siapa tuuhh..?" Adel dengan cerianya menyapa Bisma.
"Cuma coba panas panas.. Hehee.. Eeeh kamu...?"
"Ya aku jalan jalan mumpung hari minggu..." Bisma mengangguk setuju.
__ADS_1
Sebenarnya Bisma di sini karna tak ingin di rumah. Hari ini Mama Marry akan datang. Maka ia pergi secepatnya dari rumah. Bukan karna ia takut bertemu dengan Mama Marry tapi dia malu dengan apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu, Bisma menyadarinya, Mama Marry tidak pernah menghubunginya, berarti Mamanya tak membutuhkannya atau mengingatnya lagi.
Untuk itu bertemu saja Bisma malu.
"Kamu kok keliatan sedih..?" Adel membaca raut wajah Bisma.
"Aaah tak kok.." Adel menggeleng.
"Ayo kita jalan jalan, aku bosan jalan sendiri.." Adel menarik tanga Bisma begitu saja tanpa meminta Izin Bisma.
Bisma hanya pasrah dan ikut kemana Adel membawanya. Mungkin ia akan merasa lebih baik jika bersama Adel.
"Ma.. Ini kedai Es krim kesukaan aku looo kamu mau coba ya aku paling suka itu rasa coklat.. Eeemm enak deh.." Adel langsung memesan untuknya dan untuk Bisma juga.
"Biar aku yang bayar ya..." Bisma yang membayar es krim pesanan Adel.
"Makasih.. Eeemm kayak banyak uang aja kamu.. Kita itu harus nabung Ma.. Aku dah dari awal kerja di kantor pak Roy sudah nabung, karna kalau aku pikir pikir, aku yang cuma lulusan SMA ini di sentil aja sudah keluar dari kantor, dan dengan posisi aku yang cuma cleaning service beeeeh di ganti pake robot kayaknya bisa juga..." Bisma salut pada Adel yang memiliki pikiran seperti itu.
"Jadi kamu sudah banyak tabungan..?" Bisma mencoba mencari tahu lebih banyak tentang Adel.
"Eeemm gak juga.. Tapi kalau untuk beli es krim lagi bisa..." Adel tersenyum lebar.
"Hadehhh.." Bisma mengelengkan kepalanya.
"Eehh itu celemotan..." Bisma melihat ada es krim yang mempel di pipi kanan Adel.
"Aaahh kamu gak betul lapnya.." Bisma mengambil sapu tangannya dan mengelap jejak jejak es krim di wajah Adel.
Seorang tersenyum melihat kedekatan Adel dan Bisma.
"Bisma Jaya Krisnata.." Panggilnya.
Bisma dan Adel menoleh bersamaan.
"Aaaaa..." Bisma sangat terkejut.
**
Siang berubah malam. Roy dan Debora tidak ada keluar lagi dari kamar mereka, Roy menenangkan Debora dan membawanya untuk tidur siang. Otaknya terus berputar.
Akhirnya ia mendapatkan ide bagus. Mungkin ini saatnya.
"Debora..." Roy membangunkan Debora.
"Eeemmm??" Debora baru membuka matanya.
"Sayang aku ada rencana, apa kamu akan setuju dengan rencana aku ini..?"
__ADS_1
***
Ting tong..
"Itu pasti Mama Marry sayang.. Aku buka pintu dulu ya.." Hery dengan semangatnya membuka pintu dan ternyata itu memang Mama Marrynya dan dengan sang kakak tersayang Hery.
"Mama... Kak Bisma..?" Hery terkejut. Padahal Bisma mengatakan sendiri padanya kalau ia tidak ingin bertemu dengan Mama Marry karna masih malu padanya. Tapi yang Hery lihat ini adalah Bisma dan Mama Marry datang bersamaan.
"Good afternoon..." Mama Marry memeluk Hery dengan hangatnya Soerang ibu.
"Mama..." Hery menepikan rasa khawatirnya Pada Bisma dan lebihencoba fokus pada Mama Marrynya.
"Where are The Twins...?" Mama Marry sudah tak sabar bertemu dengan baby Alf dan baby Elf.
"Itu..." Hery langsung menunjuk Rena dan kedua anak mereka.
"Waaahh..." Marry sangat antusias dan segera ingin melihat Alf dan Elf.
"Oowww look so cute..." Begitu gemas pada bayi bayi itu.
"Pak Hery kakak kamu..?" ada suara lain dari belakang punggung Bisma.
"Eeemm?" Hery menegok.
"Kamu? Adelkan..?" Hery bisa mengenali semua pekerja di kantornya.
"Iya pak.. Eeemm.." Adel bingung menjelaskannya seperti apa.
"Aaa.. Hel.. Nanti aku ceritakan.. Sekarang aku bawa Adel masuk dan kamu alihkan perhatian Mama Dulu.. Oke.." Hery yang masih mencari tahu hanya mengangguk setuju.
"Mereka cantik dan tampan kan Mama.." Hery menuju Rena dan Marry yang sedang asik dengan Baby Alf dan baby Elf.
"Ya.. Ooowww.. Cucu.. Ya kan mereka aku panggil cucu.." Sepertinya memang cukup sulit bule belajar bahasa Indo.
***
"Waaaahhh Nur kamu hari ini cantik banget..." Puji Eyang pada wanita yang di gadang gadang akan ia nikahkan dengan Roy.
"Eeemm jeng mana cucu kamu itu... Mau liat donk.. Kemarin liat pas dia masih remaja, sekarang pasti sudah dewasa banget...." Nenek dari wanita itu mencari keberadaan Roy yang sejak datang tadi ia tak melihatnya.
"Iya jeng, ingat dulu kan.. Nur sangat senang ketemu Roy.. Nur kamu masih suka kan sama Roy.." Wanita itu tersenyum malu malu.
"Aaahh sudah Eyang duga.. Kamu gak akan lupa cucu Eyang yang paling ganteng itu..." Eyang Roy sangat senang.
"Aaahh itu yang namanya Roy kan.." Nenek Nur menunjuk Roy yang sedang menuruni tangga.
"Ya itu Roy.." Eyang senang melihat Roy keluar pada waktu yang tepat.
__ADS_1
Roy...