AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 299


__ADS_3

Dion memicingkan matanya.


"Kurang apanya kamu..?"


"Kurang baik untuk Dion.." Dion membuka matanya lebar lebar.


"Debora kamu tidur kah..?" Dion meneliti wajah Debora.


"Iya kan aku lagi tidur.. Makanya bisa liat kamu dalam mimpi..!" Cicitnya.


"Aaahh iya.." Dion membenarkannya saja.


"Kurang baiknya itu gimana..?" Dion ingin tahu maksud ucapan Debora tadi.


"Aku.. Aku.."


.


.


.


.


.


.


Dan.....

__ADS_1


Bisma berlari lebih cepat dari pada Stuart dan menangkap Adel.


"Lepas..! Lepas... Lepas..!" Adel memberontak lagi di pelukkan Bisma.


"Adel.. Lebih baik kamu jalanni hidup baru sama Stuart.. Bukanya akhiri hidup kamu.." Bisma berkata layaknya ia yang paling benar.


"Tahu apa kamu hah..?" Adel benar benae sakit hati dengan tindakan Bisma.


"Maaf..." Lirihnya.


"Stuart.. Dia milikmu.." Ucapnya. Adel menoleh pada Stuart yang tersenyum sangat menyeramkan untuknya.


"Terima kasih.." Stuart dengan senang hati mengambil amanah Bisma.


"Kamu.. Kamu bukan Bismaku.. Kamu bilang kamu mau mulai hidup baru.. Kamu Bisma yang baru.. Kamu gak kayak gini Bisma.. Kamu.. Kamu bahkan bilang.. Kamu mau punya anak sama aku.. Mana semua keinginan itu..?" Meski suaranya sangat lemah kedua laki laki di tempat itu bisa mendengarnya dengan jelas.


Sempat merasa ada yang meletup di hatinya tapi Bisma tak menghiraukannya. Melihat Adel yang begitu terpuruk sambil memegangi perutnya.


Adel hanya bisa menutup matanya, menutupnya seakan tak ingin membukanya lagi. Tubuhnya terasa melayang, Adel yakin itu Stuart yang mengambil alih dirinya dair lantai dingin ini.


Tak ada lagi perlawanan dari Adel. Hanya air matanya yang keluar tak henti, mulutnya pun ia bungkam atau memang tak bisa mengeluarkan banyak kata kata lagi.


Perlahan Stuart membaringkan Adel di tempat tidurnya. "Sayang.. Aku akan buat kamu bahagia.. Apa kamu gak percaya sama aku..?" Stuart membelai rambut Adel.


Perlahan mata itu terbuka, di tatapnya mata hijau itu.


"Lakukanlah.. Apapun yang ingin kamu lakukan.." Ucap Adel dengan percaya diri.


"Kamu yakin..? Apa ada permintaan jenis kelami*nnya.. Perempuan atau laki laki..?" hati Stuart sangat senang mendengar ajakkan Adel tadi.

__ADS_1


"Apa pun yang bibit mu berikan, aku siap.." Semakin tertantanglah Stuart.


"Kalau begitu.. Minum ini dulu.. Entah perempuan atau laki laki.. Tapi ini akan sangat membantu kita sayang.." Stuart memberikan gelas bertutupan rapi.


Tanpa menunggu lagi Adel meneguknya hingga tandas.


Apapun yang sedang di lakukan Stuart pada Adel sama sekali tak berbekas pada Bisma. Meski ia melihatnya, ia tak merasa ada yang salah sama sekali dengan itu.


Mimpi masa lalu dan kenangan buruk Bisma berputar kembali di otaknya dengan jelas. Sama seperti rekaman video panjang penuh kesan.


"Aku mulai sayang..." Suara serak menggoda Stuart memberikan aba aba pada Adel.


"Euuggghhhh..!" Adel meremaskan selimut di kiri dan kanannya menunggu rasa sakit menerjangnya.


Padahal baru malam kemarin ia merasakan cinta bersama Bisma di ranjang mereka sendiri dan malam ini Adel harus melewati malam penuh birahi bersama seorang pria lain.


"Aaahhh!!" Pekik Adel ketika ada yang memasukki bagian intinya.


"Eeemmmm... Eeemmm!!" Adel merengek kesakitan.


"Sakit..! Jangan.. Aaaa.." Bisma hanya menoleh saat mendengarnya.


Terlintas lagi saat dirinya masih kanak kanak. Ia juga merisngis seperti Adel saat ini. Memohon ampun dan meminta maaf. Matanya berkaca kaca lagi bila mengingat semuanya.


Tiba tiba Bisma menggenggamkan tangannya erat. Ingin rasanya ia melampiaskan rasa itu. Meski sudah berpuluh tahun, rasa itu tetap mengganggu rupanya.


Tanpa ada aba aba lagi, Bisma meninju Stuart di atas ranjang.


"Aku.. Aku.. Aku gak akan lemah seperti dulu..! Aku sudah dewasa..!" Amarahnya.

__ADS_1


Adel sudah tak memiliki ketertarikkan lagi untuk mendengar ocehan keduanya. Adel hanya memejamkan matanya. Berharap rasa sakit itu hilang.


Bisma..


__ADS_2