
Debora dan Bisma bersama ke dapur. Bisma memperhatikan Debora sedangkan Debora dengan pikirannya sendiri.
"Kamu temannya Rena..?" Bisma memecahkan pemikiran Debora.
"Ya aku temannya." Debora menjawab singkat saja.
"Eeemm.. Kamu kayaknya gak asing aku liat.. Kamu kerja apa kalau boleh tahu..?" Bisma dan Debora berbincang sebentar.
"Ya aku sekarang gak kerja, tapi kalau dulu aku kerja jadi desainer." Bisma mengangguk antuasias.
"Wow.. Kamu keren sekali. Apa kamu sering ke Jerman..? Atau Amerika?" Bisma sangat senang memiliki teman baru.
"Ya aku pernah ke sana dengan anak buahku, kami ikut Fashion show di sana beberapa kali di sana." Debora juga suka berbincang dengan Bisma.
"Haaahh.. Ya ini ada Debora sama aku.. Aman aja.." Rena datang sambil telponan bersama Hery.
"Ya udah dulu ya.. Kapan kami mask di sini, oohh ya nanti kamu pulang jam berapa?" Debora dan Bisma terdiam dulu melihat Rena yang sedang telponan.
"Oohh oke. Hah.. Oh Roy.. Debora? Ini.." Rena memberikan ponselnya Pada Debora.
"Ya Halo..?" Debora bingung kenapa Hery ingin berbicara padanya, padahal tadi kan Debora sudah bicara dengan Hery.
"Debora..?!" Terdengar suara lain.
"Roy ini kamu..?" Debora memperbaiki posisi ponselnya yang ia pegang.
"Ya ini aku.. Kamu.. Aahh apa kamu ketemu Bisma.. Kakaknya Hery.?" Roy sangat khawatir.
"Iya, aku ketemu.. Kenapa..?" Debora tak menyadari ketakutan Debora.
"Apa dia manis..?" Pertanyaan yang membuat kening Debora mengkerut.
"Manis..?"
"Iya.. Apa dia manis.. Tingkahnya, sikapnya, wajahnya?" Baru Debora mengerti yang Roy tanyakan.
"Ooohhh eeem ya dia orang yang baik..." Debora menjawab seadanya.
"Ciihh.. Jangan terlalu dekat ya.. Awas aja.." Debora hanya mengiyakan dan panggilan pun terputus.
"Haahh ini mereka pada kenapa sih..? Tadi Hery yang aneh sekarang Roy." Lirih Debora. Setelah itu ia menghampiri Rena dan Bisma lagi yang sedang meracik bumbu masakan mereka ini
"Kamu tahu Debora, kak Bisma ini jagonya masak looo.." Bisma tentu saja bangga dia di puji.
"Tentu saja nona nona. Aku laki laki yang jago di dapur.." Bangganya.
"Jadi jangan tolak bantuan laki laki dapur ini ya..." Mungkin maksudnya koki. Bukan laki laki dapur.
__ADS_1
Rena dan Debora tertawa mendengar ucapan Bisma yang kadang belepotan itu.
***
"Hery...!!!!!" Roy dan Hery tidak fokus berkerja kalau seperti ini, yang satu teriak yang satu, dan yang satu membalas.
"Apa!!!" Hery pura pura Stay Cool. Padahal....
"Haaa.. Debora dan Rena sama laki laki itu.. Kamu gak takut gitu Her..?" Roy akhirnya duduk di sofa.
"Ya mau gimana lagi. Tapi aku percaya kok Bisma gak akan gitu dia juga udah usaha kemarin untuk merubah diri tapi dia gak terbiasa sama Wanita melakukan itu, ya udah. Aku mencoba percaya.. Tapi tetap harus ada yang awasi Rena di rumah. Biar aku tenang." Jelas Hery dan Roy usng tertekan.
"Ya kan masa Debora nanti Debora tertarik sama Bisma gimana... Kalau Debora coba bibit import gimana...?" Hery menaikkan satu alisnya.
"Ya kalau bisa keluar.." Roy membulatkan matanya.
"Hery..!!!??" Rengeknya.
***
"Waaahh wanginya.." Puji Debora baru kali ini dia melihat proses memasak Daging wagyu. Dan wangi yang di hasilkan sangatlah nikmat.
"Ya donk... Siapa dulu yang masak..." Bisma langsung di depan panggangan menunggu steaknya matang. Debora dan Bisma tak memperbolehkan Rena berlama lama di dapur dan berkerja keras. Rena hanya membantu yang mudah mudah saja.
"Sayang..." Terdengar satu suara yang sangat di kenal Rena.
"Katanya pulang jam 5.. Ini baru jam tiga..?" Interogasi Rena Pada Hery yang langsung memeluknya.
"Ya aku kangen makanya pulang cepat." Hery mengecup pipi Rena.
"Debora..?" Roy juga ada di sini, ia rupanya ikut Hery pulang.
"Roy..?" Debora tak menyangka Roy juga akan di sini dan secepat ini.
"Kamu lagi apa...?" Roy yang melihat Debora dangan Bisma yang sedikit berdekatan.
"Aku lagi olesi bumbu di steaknya dan Bisma yang balik Steaknya.." Ucap Debora, Roy melihat sepertinya Debora sangat senang. Entah senang karna memasak Steak, atau karna yang Lainnya.
"Ooohh" hanya itu jawabannya.
"Oohh ini husband kamu ya..?" Bisma mengenal Roy dari Hery. Bisma juga tahu kenyataan Hery dan Roy.
"Ya itu suami aku.. Kami sudah nikah lumayan lama.." Bisma mengangguk paham.
***
Kini steak yang di masak Rena, Debora dan Bisma sudah matang. Mereka makan bersama. Hery, Rena, Roy, Debora dan Bisma. Hery dan Rena tampak biasa saja dan lebih saling memperhatikan satu sama lain.
__ADS_1
Sedangkan Roy dan Debora tampak canggung. Hery dan Rena tak menyadarinya, tapi Bisma menyadarinya. Maka ia lebih mencoba dekat dengan Debora seperti memberikan saus dan juga memotongkan Steaknya.
Roy tidak ingin terlalu dekat dan menunjukan keromantisan seperti Hery dan Rena. Tapi ia juga terganggu dengan Bisma yang dekat dengan Debora. Serba salahlah Roy. Mau romantis tapi gengsi, mau jauh tapi takut yang lain mendekat.
"Enakkan..?" Bisma bertanya kepada semuanya.
"Ya Enak.." Hery menyahut pertanyaan Bisma.
"Rena suka..?" Bisma beralih ke Rena.
"Rena suka.." Rena bisa mengendalikan Hery dengan mengelus paha Hery, oleh karna itu Hery bisa tenang walaupun Bisma bertanya padanya.
"Debora suka kan..?" Kini beralih ke Debora.
"Ya Aku suka.. Enak banget.." Debora tersenyum pada Bisma dan di tangkap jelas Roy.
"Sabar Roy sabar nanti di rumah..." Roy berusaha menenangkan dirinya.
***
Debora dan Roy pulang. Bisma dan Hery membereskan meja makan dan Rena hanya menonton.
"Haaahhh.." Rena yang menghela nafas. Lelah rasanya ia hanya diam.
"Sayang pulang dalam kamar kamu dan istirahat ya ini juga sudah malam.." Saran Hery.
"Ya Baby.. Yang Hely katakan itu betul. Biarkan kami para laki laki yang bekerja di dapur." Bisma ikut menimpali.
***
Debora dan Roy sampai di rumah. Roy memarkirkan mobilnya, mobil terparkir rapi maka Debora turun dari mobil itu. Masuk dan meninggalkan Roy di dalam mobil itu sendiri.
"Iissshhh.. " Roy semakin merasa tidak benar.
Roy juga segera masuk dan Debora tak ada di kamar, sepertinya ia sedang mandi. Rpy terduduk di sofanya. Ia memijit keningnya.
"Aaahhhrrr.. " Rasanya sangat tak rela. Roy mengingat Bisma membantu Debora memotongkan steak. Belum lagi senyum manis yang Bisma berikan pada Debora. Roy sangat tak suka.
Rpy rasanya gerah jika terus mengingatnya. Ia melepaskan bajunya dan hanya mengenakan celana panjang saja. Tak lama pun Debora keluar dari kamar mandi.
Ia nampak lebih segar dan cerah. "Uuhh... Roy mandilah dulu.." Debora sempat menoleh pada Roy yang hanya sandaran di sofa.
Tubuh Debora hanya di balut handuk, rambutnya basah, kulit mulusnya berseri. Roy menelan salivanya dengan susah.
"Aku akan balas dendam.." Roy bangkit dari duduknya dan menghampiri Debora.
Roy...
__ADS_1
Off ya..