
"Tapi apa Dok..?"
"Tapi DNA kedua anak anda juga tidak cocok dengan DNA anda bu.." Terang dokter itu lagi.
"Hah...? Bagaimana bisa dok.. Saya ibunya..?" Rena tak mengerti jika tak cocok dengan Roy maka seharusnya cocok dengannya.
"Sayang.. Tenang dulu.. Eeemm dok.. Mungkin ada kesalahan..?" Hery juga ikut menanggapinya.
"Tidak akan ada kesahan tuan. DNA yang kalian pakai ya itu rambut dan Kuku arang bisa salah. Rambut juga cukup akurat untuk masalah DNA." jelaa dokter itu lagi.
Rena di landa kebingungan. "Bagaimana bisa Hery..? Alf dan Elf..?" Rena terus menanyakan hal yang sama sejak dari rumah sakit tadi.
"Sayang.. Kenapa kamu jadi panik gitu..?" Hery menatap Rena yang tak tenang.
"Ya kalau DNA aku dan Roy gak ada yang cocok itu DNA siapa? Alf dan Elf anak siapa..?" Rena mulai berpikir yang bukan bukan.
"Apa Alf dan Elf ketukar sama bayi lain...?" Hery sampai sampai menghentikan mobilnya tiba tiba karna mendengar ucapan Rena.
"Sayang ingat baik baik.. Kamu melahirkan Alf dan Elf normal. Setelah keduanya lahir mereka Langsung di mandikan di depan kamu dan aku. Setelah selesai di mandikan mereka langsung di baringkan di samping kamu.. Di mana mereka bisa ketukar sayang..?" Hery menegaskan apa yang tak seharusnya ia ingatkan oada Rena karna ia yang menjalani semua itu.
"Ya tapi.. Lalu aku hamil anak siapa..?" Rena semakin bingung.
"Itu anak kita sayang.. Sudah aku mohon jangan pertanyakan lagi masalah ini ya.. Alf dan Elf tetap anak kita.." Hery menjalankan lagi mobilnya.
Rena hanya bisa diam dan terus berpikir dalam hati dan otaknya. Bagaimana ini bisa terjadi pada Alf dan Elf, Rena sana sekali tidak tahu.
***
Beberapa hari berlalu. Hery sering memperhatinkan Rena. Kadang Rena melamun menatap Alf dan Elf. Rena juga terlihat kurang mengajak kedua anaknya berbicara walau hanya sekedar memanggil nama Alf dan Elf.
"Haaaaahh..." Hery menghela nafasnya.
"Sayang...?" Hery duduk di samping Rena.
"Eeemm?" Rena memperbaiki posisi duduknya.
"Apa yang kamu pikirkan..? Kenapa kamu belakangan ini aku liat diam diam aja, gak kayak Rena aku biasanya.. Yang ceria, banyak tanya, banyak maunya, banyak ngaturnya..? Kemana sih istirku sayang itu.... Aku kangan kamu cerewet gitu." Hery mencolek hidung Rena.
Malam ini Bisma, Marry dan Adel pergi untuk mengukur baju pernikahan Bisma dan Adel. Hanya tinggal Hery, Rena, Baby Alf, baby Elf, dan beberapa bibi di rumah belakang.
"Enggak kok.." Rena mengelengkan kepalanya.
"Apa kamu masih kepikiran Baby Alf dan Baby Elf..?" Hery yakin itu yang membuat Rena seperti ini.
Rena awalnya hanya menghela nafasnya. Tiba tiba bahunya bergetar, ia menangis.
__ADS_1
"Sayang..?" Hery tentu langsung panik.
"Sayang kok nangis, jangan nangis sayang aku gak mau liat kamu nangis.." Hery segera menghapus air mata Rena yang berjatuhan.
"Hery.. Alf.. Elf..." Rena menangis sesegukan.
"Sayang.." Hery memeluk Rena erat.
"Maaf.. Aku gak tahu Alf dan Elf anak siapa.." Rena mengatakan yang menganggu pikirannya.
"Sayang..." Hery juga ikut sedih dengan yang ia dengar dari Rena ini.
Rena tak percaya Alf dan Elf yang selama ini bukan anaknya. Itu yang terus terpikirkan Rena.
"Tapi..." Hery tak bisa berkata apa apa karna tangis Rena sudah pecah.
"Sabar sayang.. Sabar.. Liat aku.. Aku gak peduli masalah itu.. Kenapa kamu yang kepikiran gini..?" Hery mengangkat dari dagu Rena agar Rena menatapnya.
"Tapi... Aku gak tahu ayah mereka siapa Hery..." Hery tetap memeluk Rena.
Hery membawa Rena tidur dalam peluknya untung saja baby Alf dan Elf sedang tak rewel. Tapi sang ibu yang rewel.
"Mungkin aku harus melakukannya." Hery menatap kedua putra putrinya.
***
"Ya gak apa kok, yang penting aku gak jauh dari kamu.." Debora yang sedang mengandung ini sangat ceria melebihi biasnya.
"Tapi tumben kamu sibuk Roy..?" Sepertinya ada yang salah.
"Ya hari ini Hery ada kegiatan sendiri, dia minta aku handle dulu kantor." Mata Roy tetap fokus ke jalan tapi ia tetap menjawab pertanyaan Debora.
"Ooohhh pekerjaan apa itu Roy?" Debora malah penasaran.
"Eeemm kayaknya ke rumah sakit gitu.." Jawab Roy lagi.
"Rumah sakit..?" Debora tiba tiba teringat akan permintaan Rena beberapa minggu yang lalu. Tentang rambut dan Kuku.
"Mungkin masalah itu yang membuat Hery harus ke rumah sakit.." duga Debora.
***
"Baiklah.. Pak mungkin hasilnya akan keluar lima sampai enam hari kedepan..." Jelas doktet yang kemarin memeriksa DNA Baby Alf dan baby Elf.
"Silahkan kabari saya secepatnya dok, jangan pedulikan siang atau malam. Kabari saja saya kalau hasilnya sudah keluar." Hery kali ini benar benar gencar mencari kebenaran tentang masalah ini. Ia tidak tahan melihat Rena yang terus sedih karna masalah yang ia tidak ketahui dari mana asalnya.
__ADS_1
Setelah dari rumah sakit Hery langsung pulang ke rumahnya. Ternyata sudah ada Bisma dan Adel di rumah yang menemani Alf dan Elf tapi Rena entah di mana.
"Mana Rena..?" Tanya Hery setelah masuk ke dalama rumah.
"Eeemm Adik ipar tadi di dapur.." Jawab Bisma.
"Ooohhh oya.. Jaga dulu Alf dan Elf ya.." Hery segera mencari keberadaan Rena.
"Sayang..?" Panggil Hery Pada Rena yang sedang duduk di depan meja makan.
"Eeemm..?" Rena berbalik.
Ren sedang memotong motong sayur yang sepertinya akan ia masak. Hery menarik satu kursi dan duduk di samping Rena.
"Kok sudah pulang..? Ini kan belum sampai jam makan siang..?" Rena pun terkejut melihat kedatangan Hery.
"Ya kan itu perusahaan aku.. Terserah aku.." Jawab santai Hery, ia pun ikut memotong beberapa sayur seperti yang Rena lakukan.
"Sayang.. Apa Alf dan Elf sudah menyusu..?" Hery bertanya. Ia hanya takut Rena lupa untuk menyusui kedua anaknya.
"Ahh iya.. Ini waktunya Alf dan Elf nyusu.." Rena segera bangkit dan Hery pun mengikutinya.
"Maaf ya aku keasikan bikin sayur langsung lupa sama Alf dan Elf.." Rena mengambil alih Alf dan Elf dari Adel.
"Gak apa kok.. Aku senang main sama Mereka..." Adel menyukai kedua bayi pintar itu.
"Kita tidur dulu ya.." Rena berbicara pada Kedua anaknya.
"Sini aku bantu.." Hery menggendong Alf dari tangan Rena.
Rena pun mengendong Elf dan mereka masuk ke dalam kamar.
Rena mulai menyusui Alf dan Elf bersamaan. Di kiri dan kanan. Yang lucunya kaki Alf dan Elf selalu saja saling tendang menendang. Maklumlah anak bayi.
"Hehehemm.." Hery tertawa melihatnya.
"Kenapa sayang..?"
"Mereka lucu.." Hery mendekat dan memeluk pinggang Rena.
"Dan aku cinta kamu.." Bisiknya di telinga Rena.
"Sebentar lagi kebenarannya sayang.. Sabar ya.." Gumam hati Hery sambil memperbaiki rambut Rena.
Off dulu ya kawan.. Salam penuh cinta dari Hery dan Rena...
__ADS_1