
Dengan perut yang kelaparan Roy terus mencari Rena ke sembarang tempat. Sedangkan orang yang tengah sampai di unitnya dan membersihkan dirinya.
Roy sadar hari semakin mengelap, mungkin Rena sudah pulang ke unitnya, tidak mungkinkan Rena berkerja sampai malam. Dengan pikirnya lagi Roy pulang lagi ke apartemen Rena.
Rena kini sedang mencari baju yang pas untuk ia kenakan malam ini.
Roy baru saja sampai di depan unitnya, Roy pun membuka kode unit Rena dan masuk ke dalamnya. Roy melirik rak sepatu di dekat pintu masuk. Di sana ada sepatu berwarna putih milik Rena.
"Rena...." Roy berlari menuju kamar mereka dan langsung menerobos masuk.
Saat ini Rena sedang mengenakan celana piamanya yang belum terpakai dengan benar masih di lututnya.
Ceklek..
Pintu kamar itu terbuka tiba tiba tanpa ada aba aba ketukan dari luar. Roy masuk dengan nafas yang terengah engah.
"Ah.. Ro.. Roy.. Kamu..?" Rena tak percaya apa yang ia lihat, Roy ada di depan matanya. Bukannya Roy sedang di rumah Eyangnya, kenapa Roy kini ada di depannya.
"Rena..." Mata Roy berkaca kaca melihat wanita tercintanya rupanya baik baik saja.
Roy berlari lagi dan langsung memeluk Rena dengan sangat erat. Tangis Roy pun pecah saat memeluk istri mudanya itu.
"Roy... Kenapa kamu ada di sini, bukankah kamu sedang di.." Belum sempat selesai Rena menanyakan pertanyaannya Roy langsung membungkam bibir kecil Rena dengan bibirnya.
Rena tidak dapat menolak apa yang suami tercintanya lakukan dan memilih untuk menikmati sensasi yang di tawarkan Roy padanya.
__ADS_1
Roy mengendong Rena dan menuju ranjang empuk mereka, dan melanjutkannya di sana. Roy melepaskan ciumannya dan menatap istri mudanya itu. Mata Rena juga sedikit berair dan basah, Rena pun menangis melihat suaminya kini ada di hadapannya.
"Maafkan aku sayang... Aku bodoh dengan meninggalkanmu... Maafkan aku cintaku... Aku sangat mencintaimu..." Roy terus mengelus elus wajah istrinya halus.
Rena tidak dapat menolaknya dan hanya bisa mengangguk anggukan kepalanya. Tak dapat Rena bohongi dirinya menginginkan Roy tetap di sampingnya. Mungkin orang lain akan mengira Rena egois tapi Rena adalah istri Roy juga yang juga berhak atas Roy.
Tak butuh waktu lama Roy dan Rena saling melepas rindunya di ranjang yang menjadi saksi bisunya. Malam ini pun sungguh malam yang menyenangkan untuk merek berdua.
Roy dan Rena baru selesai dengan kegiatannya dan masih betah di ranjang menikmati kehangatan tubuh satu sama lain.
"Roy.. Aku mendapat pekejaan kemarin. Aku sangat menyukainya, bolehkah aku terus berkerja di tempat itu?" Tanya Rena sambil memutar mutarkan jarinya di dada Roy yang tek berbaju itu.
"Pekerjaan apa yang kamu dapatkan?" Roy penasaran pekerjaan apa yang di lakoni istrinya.
"Benarkah? Lalu kemarin kamu berkerja di situ?" Tanya Roy apa yang membuat Roy kucar kacir semalam
"Iya aku mulai dari kemarin kerja di situ." jawab Rena apa adanya.
"Di sana ada siapa saja?" Tanya Roy kini mengintrograsi Rena.
"Di sana ada Fery, baru berumur 14 tahun, ada kakaknya Dinda.. Iya itulah kami yang sapekerjaan" Ucap Cessa mengenalkan teman teman kerja barunya.
"Hari ini juga aku mendapatkan upahku langsung Roy.. Walau pun sedikit aku sangat senang dan bersyukur" Ucap Rena lagi begitu senang dengan pekerjaan barunya.
"Tapi sayang, aku bisa saja memberikanmu uang yang lebih banyak." Ucap Roy memgingatkan statusnya yang adalah suami Rena.
__ADS_1
"Iya Roy... Aku paham maksudmu baik, tapikan aku bukanlah istrimu seorang saja, ada Debora juga, dan semenjak kepergianmu kemarin aku paham, mungkin ada saatnya di mana aku harus mengingat kalau aku ini hanyalah istri simpanan, jika sewaktu waktu Debora menginginkanmu seperti kemarin aku harus siap donk dengan konsekuensinya." Rena begitu jujur dengan isi hatinya. Wajah sedih Rena kembali lagi.
"Rena sayang.. Kamu jangan berpikiran seperti itu. Kamu itu yang paling aku sayang. Istri yang paling aku bangga banggakan. Memang Debora itu istriku juga, tapi jika aku bisa menceraikannya maka akan aku ceraikan Rena." Roy mencoba menjelaskan juga kondisinya.
"Apa? Cerai? Tapi kenapa... Jangan bilang karna aku Roy.." Rena hendak menangis mendengar Roy akan menceraikan Debora jika itu karnanya.
"Sayangku jangan menangis.. Aku menceraikannya karna apa yang di perbuat padaku sungguh tak termaafkan lagi Rena.. Kamu harus tahu, ketika aku dan Debora di rumah Eyang, aku sempat menelponmu sebentar itu dan kamu mengatakan kalau kamu mengantuk dan mematikan telponnya, aku pulang ke kamar dan mendengar Debora juga sedang menelpon laki laki lain Rena, Debora mengatakan jika aku ini laki laki tidak sehat, maka ia akan meminta anak pada laki laki itu karna mungkin laki laki itu lebih sehat dariku. Padahal, sebelumnya Debora sudah mengatakan ia siap menjadi seorang ibu dan mengandung anakku, tapi setelah mendengarkan perbincangan mereka di telpon, aku tak percaya jika nanti anak yang ia kandung adalah anakku. Aku sangat tak yakin dengan itu Rena. Mungkin sajakan Debora hamil dengan laki laki lain dan mengatakan akulah ayah dari anak itu. Dan kalau aku mengikuti saja maunya Debora maka aku akan membesarkan anak hasil perselingkuhannya dengan laki laki lain dengam penuh kasih sayangku. Apa itu adil untukku Rena?" Roy menumpahkan apa yang di pikirkannya di sepanjang jalan pulang dari rumah Eyang tadi siang.
Rena merenungi apa yang di katakan Roy, memang tak salah jika Roy menceraikan Debora, istri yang berbakti pada suaminya tidak mungkin mau melakukan itu.
"Hanya saja satu lagi masalahnya." Ucap Roy dengan wajah lesunya.
"Apa Roy...? Apa Debora sedang mengandung sungguhan?" Ucap Rena menebak asal.
"Tidak Rena sayang. Aku tidak pernah merasa menghamilinya. Memang malam kemarin itu aku ada bermain bersamanya tapi aku ingat kok aku mengeluarkannya di luar. Dan Debora juga baru berhenti mengunakan obat kontrasepsi malam itu. Jadi tidak mungkin akan jadi Sayang. Debora juga harus kembali Subur dan begitu pula denganku. Tapi masalahnya bukanlah itu. Tapi Eyangku adalah masalahku selama ini, aku sudah lama berniat menceraikan Debora tapi Debora memiliki Eyang dan Eyang begitu mempercayai Debora bahkan aku sama sekali tak di percayainya. Jika aku menceraikan Debora maka Eyang akan mengamcamku dengan berbagai macam cara dan alasan. Sementara Eyanglah satu satunya keluargaku Rena.... Aku benar benar bingung." Keluh kesah Roy juga tak kalah banyak dari Rena.
"Roy.. Bagaimana bila aku yang hamil? Selama ini kamu dan aku selalu... dan di dalam pula. Apa kamu tidak takut aku yang hamil?" Tanya aneh Rena.
"Sayang kalau kamu yang hamil aku akan langsung membawamu pulang dan mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak akan takut jika kamu yang hamil Rena. Aku sangat yakin padamu. Kamu bukanlah Debora kamu adalah Renaku. Hanya milikku." Roy menggenggam tangan Rena dengan erat.
Wajah Rena bersemu merah mendengar ucapan suaminya. Tapi yang dikatakan Rena ada benarnya juga, bagaimana jika malah Rena yang mengandung anak Roy. Bukankah itu akan semakin rumit masalahnya?
Tapi di mata Roy itu tidaklah rumit, itu adalah berkat dari sang pencipta yang harus di jaga sepenuh hati. Roy juga siap jika Rena yang mengandung anaknya, Roy juga tak akan mempermasalahkan orang berkata apa yang penting di dan Rena berserta anak anaknya hidup bahagia. Itulah yang di pikirkan Roy.
Sedangkan Dion..
__ADS_1