
Rena dan rombongannya kini sudah di bandara. Perasaan Debora lebih nyaman bersama Rena dan yang lainnya.
"Sayang sayang sayang.." Hery malah asik dengan anak anaknya.
"Eeemm Debora apa kamu sudah kasih kabar Roy lagi.. Apa kamu tadi sudah bilang sama Roy kalau kamu ikut ke Jerman...?" Hery bertanya.
"Ee belum.. Aku malas bilang sama dia.." Tolak Debora mentah mentah.
"Eemmm kalau gitu aku hubungi dia ya.. Setidaknya dia tahu kalau kamu baik baik saja dan ikut kami ke Jerman." Debora mengangguk setuju dengan ucapan Hery.
Hery pun menghubungi Roy. Tak butuh waktu lama Roy segera menerima telpon dari Hery.
"Apa aku sudah bisa jemput Debora..?" Suara Roy yang begitu semangat membuat Hery terkejut.
"Bukan aku cuma mau kasih kabar kalau Debora ikut kami Jerman, ke pernikahan Bisma dan Adel. Kami sudah di bandara.." Ucap Hery. Roy langsung bangkit dari duduknya.
"Aku akan ke sana sekarang.. Aku juga ikut ya.." Roy segera bersiap.
Tiba tiba ponsel Roy berdering lagi.
"Ya aku sebentar lagi ke sana.." Roy terdiam ketika mendengar jika itu adalah Debora yang berbicara.
"Roy.. Aku mau kamu gak usah ikut, aku mau habiskan waktu sendiri dulu.. Aku cuma pergi selama Satu minggu. Aku harap kamu baik baik aja, aku juga sangat berharap kamu bisa membuktikan kalau kamu memang setia sama aku... Kamu paham maksud aku kan Roy...?!" Roy memejamkan matanya.
"Oke sayang.. Tapi aku harap kamu juga hati hati, cepat pulang dan maafkan aku.. Aku akan setia menunggu kamu pulang.." Roy berusaha sabar menunggu.
"Ya aku usahakan... Ya tergantung apa kamu bisa tepati janji kamu itu.." Debora sudah mewanti wanti Roy.
"Ya aku janji."
Panggilan terputus. Debora menghela nafasnya.
"Kenapa..?" Rena memegangi bahu Debora.
"Aku baik baik aja kok.. Tapi hati ini.. Aku gak aka percaya sama Roy. Aku yakin dia makin senang dan akan menghabiskan banyak waktu dengan Nur.." Debora sudah berprasangka buruk.
"Debora... Kamu tadi sudah janji maafin Roy. Aku tahu cinta kamu sama Roy itu sangat besar. Gak mungkin kamu nolak Roy.. Sudah ya.. Kita ke Jerman untuk bersenang senang.. Kamu ingat kan rencana kita.." Rena mengedipkan matanya.
Debora mengangguk setuju. Hery mengelengkan kepalanya. Rena dan Debora berencana untuk liburan sejenak. Liburan untuk para wanita saja. Hery menyutujuinya permintaan Rena. Tapi dengan janji yang menguntungkan Hery juga.
***
__ADS_1
"Di mana Debora Roy..?" Eyang melihat Roy yang gusar tak karuan di rumah. Eyang yakin pasti terjadi sesuatu di antara mereka berdua.
"Eeemm Debora pergi sama Hery dan Rena ke Jerman. Pergi ke pernikahan Bisma dan Adel. Ya hitung hitung Debora mau liburan juga" Ucap Roy ia memilih untuk duduk di samping Eyang.
"Waaahh bagus donk.." Eyang terlihat senang.
"Ya Eyang Bagus untuk Debora, dia bisa jalan jalan dan gak suntuk di rumah terus.." Sepertinya lain yang di pikirkan Eyang. Tak sama Dengan yang di pikirkan Roy. Eyang bahkan memijit keningnya.
"Bukan Deboranya, tapi kamu dan Nur. Berarti Nur punya waktu untuk sama kamu.. Berapa lama Debora liburannya sama Rena?" Eyang lebih bersemangat.
"Ya seminggu Eyang itu pun kalau sampai juga, Hery gak bisa tinggalkan lama perusahaan." Jawan Roy sebenar benarnya.
"Uuuhh lama itu.. Nur.. Nur.." panggil Eyang.
"Ya Eyang..?" Nur datang dari kamarnya.
"Kenapa Eyang..?" Nur masih tidak tahu apa apa.
"Nur.. Ada kabar baik sayang.. Debora pergi berlibur sama Rena ke Jerman, dia pergi selama seminggu.. Jadi kamu da Roy punya banyak waktu looo.." Eyang pamer pada Nur.
"Hah..? Rena itu siapa...?" Sudah beberapa kali Nur mendengar nama Rena tapi ia tidak tahu siapa itu Rena.
"Ooohh jadi Hery sudah punya istri.. Waahh.. Kok aku baru tahu ya.. Aku kira Hery belum nikah.." Nur mengaruk keningnya.
"Ya jadi Rena dan Hery pergi ke Jerman untuk nikahnya Bisma kakak Hery. Debora ikut, ya kan asik kan.. Eeeemm kalian berdua bisa berduaan.." Eyang menyenggol nyenggol Nur.
"Haiisss Eyang ini.. Roy pusing Eyang senang.." Roy tak ingin lagi mendengar ucehan Eyang dan Nur memilih pergi dari situ.
Roy sedang menaiki tangga menuju kamarnya. "Eeehh Roy kamu ke mana itu bukan arah kamar kamu.." Tegur Eyang.
"Lah kok bukan kan kamar Roy di atas sini.." Roy merasa ia tidaklah salah.
"Kan kamu mulai sekarang sama Nur sepanjang hari.." Eyang beroceh lagi.
"Astaga... Kan peraturan yang di buat Nur, dia cuma dapat jatah malam hari aja... Terus kenapa siang hari gini Roy harus sama Nur. Ya tetap nanti malamlah Eyang." Itulah jalan pikiran Roy dan jalan ia menolak permintaan Eyang.
***
Kita terbang ke Jerman, negara dengan julukan fatherland yang dalam bahasa Indonesia artinya tanah air. Di Jerman yang mengartikan pemerintahan dan ketertiban mereka.
Hery dan Rombongan tiba, mereka sudah di jemput Marry, Bisma dan tentu saja Adel juga. Seperti biasa Hery dan Bisma terus beroceh, saling melempar ejekkan dan saling menggoda tiada habisnya.
__ADS_1
Marry juga sangat senang dengan adanya Debora juga. Bukan hanya itu, kebahagian Marry bertambah ketika melihat Baby Alf dan Baby Elf juga ada bersama Rena dan Hery.
***
Marry membawa anak menantunya dan berserta cucunya pulang ke rumahnya. Rumah yang cukup besar untuk mereka tinggali.
Sangat sibuk dan bahkan Debora melupakan kalau ia dalam masalah rumah tangganya dan Roy. Banyak hal baru yang ia lakukan, ia dan Adel menjadi sangat akrab. Adel menceritakan pengalamannya saat baru sampai Jerman pada Rena dan Debora.
Canda ria tak ada duka di wajah mereka.
Malam tiba. Malam ini hati Debora berdetak kencang lagi. Ia kembali mengingat dan suara Roy dan Nur seolah sudah terekam jelas di ingatannya.
Akhirnya Debora menghubungi Roy. Ini belumlah malam di Indonesia. Roy pasti belum bersama Nur.
"Halo.." Sangat cepat Roy menerima telpon dari Debora.
"Ya.. Halo.. Apa kamu sibuk..?" Debora memberanikan diri untuk bertanya.
"Gaklah sayang aku mau sibuk apa coba..? Aku lagi sendiri di kamar ini. Aku kesepian sayang.." Roy mengeluh.
"Ya rasain.." Debora senang tahu kalau Roy sedang sedih karna tak ada dirinya.
"Cepat pulang ya sayang.. Aku rindu kamu.." Roy sangat manja.
Mereka pun seolah menjadi anak ABG yang sedang jatuh cinta dan hanya bisa mengirim cintanya lewat telponan.
***
"Adel.. Ini.. Sebentar lagi harinya tiba.. Apa kamu yakin.. Aku kok deg degan ya.." Bisma memegangi dadanya.
Bisma dan Adel di paksa satu kamar oleh Marry. Marry ingin sekali Bisma dan Adel segera punya anak. Mau tak mau mereka menurutinya. Dan di sinilah mereka di kamar mereka berdua juga walaupun beberapa hari lagi barulah mereka sah suami istri.
"Tenanglah Bisma.. Aku gak rasa apa apa kok.. Aku percaya sama kamu Bisma.. Tapi aku mohon.. Jangan kayak kemarin aku malu.." Adel duduk di samping Bisma.
Karna ketidak normanya Bisma pada lawan jenisnya, mereka sangat akrab seperti teman bahkan saudara. Tidak ada rasa canggung hanya saling melindungi satu sama lain.
"Entah rasanya beda aja. Dan ya aku juga minta maaf masalah kemarin, aku gak akan ulangi lagi kok.." Bisma mengangkat jarinya membentu huruf V dengan jari tengah dan jari telunjuknya.
Flashback on
...
__ADS_1