AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 94


__ADS_3

Hery dan Rena sama sama mendengarkan percakapan telpon antara Eyang. Walaupun Hery mengatakan sedang mandi, tapi itu hanya bohong.


"Apa kita akan ke sana?" Hery melirik Rena di sampingnya.


Rena memanglah baru selesai mandi, rambutnya masih di gulung dengan handuk.


"Eeemm.. Ayolah.. Sebenarnya ada yang aku inginkan nanti di sana.." Hery menyipitkan matanya.


"Apa..? Sayang ngidamkah?" Hery khawatir.


"Eeeemm mungkin juga..." Rena berlalu dari samping Hery.


"Eehh baju aku mana ya..?" Rena baru ingat kalau ia belum punya baju di rumah Hery ini.


"Eh iya.. Maaf aku lupa.." Hery langsung berlari entah kemana. Rena mengeleng gelengkan kepalanya.


"Kemana Dia..?" Rena celingak selinguk mencari Hery.


"Sayang.." Hery berlari lagi.


"kamu cari apa sih. Itu apa...?" Rena melihat paper bag yang di bawa Hery.


"Ini bajumu. Aku lupa tadi, aku sudah pesan terus datang eh kamu masih mandi tadi, ya udah aku tinggalin di ruang tamu... Maaf ya aku lupa.." Hery benar benar imut Rena tak peduli dengan permintaan maaf Hery yang ia perhatikan.


Wajah tampan Hery yang sedang meminta maaf itu sangat mengemaskan. Hery awalnya tak menyadarinya tapi setelah beberaa menit kamudian baru ia menyadari tatapan Rena.


Hery menarik Rena ke pelukannya. "Apa...?" Hery dengan suara magnetisnya sangat menggoda.


Bukanya menjawab Rena malah terus menatap wajah tampan Hery. "I love you.." Hery mendekatkan wajahnya dan menyentuhkan hidungnya dan hidung Rena.


***


"Eyang bilang tadi Hery dan Rena tinggal di rumah Hery..?" Roy menemui Eyangnya lagi setelah mengantar Debora ke kamar.


"Iya.. Tadi Hery bilang sama Eyang kan tinggal beberapa hari lagi pernikahan mereka, ya kata Hery dia sudah gak peduli kata orang.." Eyang tertawa kecil dan lanjut fokus pada ponselnya.


"Sejak kapan mereka tinggal sama sama...? Di rumah Hery...?" Roy tak percaya.


"Iya Eyang juga gak tahu tapi Mereka tinggal di rumahnya Hery tu.." Eyang terus fokus pada ponselnya.


"Gitu ya.." Roy menatap kosong ke depan.


Kiiikk kiikk..


Bunyi klakson mobil dari luar rumah. Seorang bibi keluar dan menyambut kedatangan Hery dan Calon istrinya.


"Hery.." Eyang sangat senang ketika Hery benar benar menepati janjinya dan datang bersama Rena.

__ADS_1


"Iya Eyang.. Ini Hery sudah datang.." Hery menyalimi tangan Eyang setelah Hery barulah Rena juga menyalimi Eyang.


"Wah.. Eyang gak akan bosan bosan bilang calon istri kamu ini cantik benget Her.." Eyang sangat senang melihat Rena. Kali ini Juga Rena tidak malu malu bertemu dengan Eyang. Tidak seperti saat di Mall kemarin, karna sekarang Rena sudah cukup yakin dengan dirinya sendiri yang akan bersama Hery di jenjang hidupnya.


"Iya Eyang.. Hery kan pintar juga pilih pilih.." Eyang memolot pada Hery yabg menggoda calon istrinya.


"Kamu ini.." Eyang menepuk punggung Hery.


Roy tak bergeming, dan hanya bisa melihat pemandangan yang seharusnya ia yang memperkenalkan Rena seperti ini pada Eyang.


"Sayang kamu sudah makan kah..?" Eyang menanyai Rena.


"Sudah kok Nyonya.." Panggil Rena dengan ragu ragu.


"Eh jangan panggil Nyonya nyonyaan donk.. Hery kan panggil Eyang, ya kamu juga panggil Eyang...." Ralat Eyang.


"Iya Eyang.." Rena mengucapkannya tanpa ragu.


Debora dari atas melihat intraksi Rena dan Eyang. Sangat terlihat Eyanf juga sangat menyukai Rena. Ia membayangkan kalau sekarang Rena masih bersama Roy. Dan Eyang memihak Roy. Maka pasti Ia akan di kucilkan. Apalagi karna kegugurannya ini. Tapi setelah mengingat kenyataan sekarang, Rena adalah calon istri Hery Debora tersenyum sumringah.


"Hery bagaimana persiapan pernikahan kamu sama Rena...?" Eyang mulai berbincang bincang dengan keduanya.


"Iya Eyang Hery sama Rena ke sini juga mau kasih kabar kalau lusa pernikahannya.." Hery memberitahukan kabar baik itu.


"Wah.. Baguslah. Eyang sudah gak sabar Her.." Eyang sangat antusias.


"Ya aku menyewa WO yang handal. Terus mereka bisa persiapkan dalam jangka waktu yang singkat gini..." jelas Hery.


"Kamu kok kayak gak suka aja Hery cepat nikah...? Harusnya kamu senang donk Hery mau nikah. Kemarin Eyang sampe kira Hery itu gak normal sebagai laki laki, masa perempuan di usirnya.. Tapi sekarang, sudah liat calon istrinya yang cantik dan bahkan sudah ada calon Debay lagi.. Aaaa.. Eyang sudah gak sabar banget Hery.." Eyang mengguncang guncangkan tubuh Hery bahkan Hery sampai menutupi wajahnya malu.


Rena juga menggeleng gelengkan kelapannya. Roy menatap jengkel pada Hery. Ia merasa iri pada Hery yang berhasil mendapatkan hati Eyang dan juga Rena di sampingnya kini.


"Eeemm Eyang sebenarnya Rena ada sesuatu yang mau di lakukan di sini.." Ucap Hery tiba tiba.


"Hah? Apa sayang..?" Eyang lagi lagi sangat antusias.


"Eem gak apa apa Eyang.. Rena cuma mau bawa Eyang foto foto gitu.." Rena malu malu mengatakannya.


"Eehh ngidam kah sayang..?" Eyang semakin menjadi.


"Kayaknya gitu..." Sahut Hery.


"Wah.. Ayo deh ayo..." Eyang juga mengeluarkan ponselnya untuk jeprat jepret bersama Rena.


"Fotokan boleh..?" Rena menyerahakan ponselnya pada Hery.


Hery pun mengangguk dan ia memotokan Eyang bersama Rena yang entah ada berapa gaya yang mereka pakai.

__ADS_1


"Hery foto sama kami dua donk..!" Pinta Rena lagi.


"Aahh iya itu.. Masa kamu gak foto sama Eyang dan dan calon istri kamu.." Eyang juga mendukung Rena.


"Terus yang fotoin siapa..?" Hery memperlihatkan ponsel yang ia pegang.


"Itu ada Roy.. Roy foto kan ya..!" perintah Eyang pada Roy.


Roy sebenarnya sangat tidak ingin melakukkannya tapi dengan rasa itu mau tak mau ia menuruti Eyangnya. Roy siap memotokan Rena, Eyang, dan Hery.


"Tunggu tunggu.. Belum siap.." Eyang mengambil tangan Rena dan tangan Hery. Ia buat kedua tangan itu menyatu di di hadapannya.


"Oke sudah.." Eyang tersenyum bahagai.


Perasaan Roy sangat terguncang sekarang. Di depan matanya sendiri Rena berpegangan dengan laki laki lain, dan ia hanya memotokannya.


Hery dan Rena tersenyum bahagia juga. Tak memperdulikan apa yang Roy rasakan saat ini.


Waktu terus berlalu, kini sudah hampir sore, Hery dan Rena pun berpamitan pada Eyang, Roy dan Debora. Baru baru ini Debora juga datang bergabung dengan mereka.


"Kami pulang dulu ya Eyang.." Pamit Hery.


"Kalian gak mau tinggal sama kami kah..?" Eyang sangat berharap.


"Eeemm kami berdua mau habiskan waktu bersama Eyang..." Hery mengedipkan pada Eyang.


"Eh.. Kamu nakalnya sakarang ya..?" Eyang merasa ini Hery yang berbeda dari yang ia kenal.


"Ya gak apa apa, kan ada pawangnya.. Makanya Hery berani nakal.." Eyang mencubit pinggang Hery. Rena juga tertawa melihat keduanya sangat lucu di matanya.


Roy tak bisa terus mendengar hal hal semacam itu. Debora lagi sangat senang melihat semua yang terjadi di depanya. Ia sangat bersyukur, Hery dan Rena benar benar memiliki hubungan yang baik bahkan punya banyak cinta di mata mereka. Fix lah, Tidak ada lagi yang bisa menganggu rumah tangganya.


Hery dan Rena sudah keluar dari rumah Roy. Eyang dan bibi rumah itu mengantar Mereka. Roy terdiam di tempatnya dan memijit keningnya.


"Mau aku pijiti kah..?" Tawar Debora.


"Gak usah.." Roy naik ke kamarnya. Mungkin ia perlu menenangkan dirinya setelah apa yang ia lihat ini. Sahabatnya dan wanita yang ia cintai malah bersama dan akan menikah dalam waktu dekat ini.


***


"Kamu sudah janji ya..?!" Rena mengingatkan Hery.


"Iya ya sayangku.. Aku sudah janji itu pasti di tepati..." pengakuan Hery.


Tak perlu waktu lama karna jaraknya juga cukup dekat. Rena dan Hery sudah tiba di rumah mereka. Ya rumah mereka. Rena turun dengan semangatnya Hery mengelengkan kepalanya.


Di ruang tamu Rena sudah menunggu Hery seperti raja. Hery masuk dan menahan tawanya, entah apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Off dulu kawan panjang itu loo.. Bonus..!!


__ADS_2