AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 249


__ADS_3

Lama tak mendengar kabar dari Roy. Entah seperti apa nasibnya sekarang.


Dari luar rumahnya saja sudah sepi, mobilnya masih terparkir rapi. Berarti Roy tak kemana mana selama.


Pekerjaan tidak ada maka apa yang bisa ia lakukan. Untunglah Roy masih memiliki tabungan selama ia masih bekerja bersama Hery.


Itulah yang ia gunakan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.


Roy menoleh pada Nur yang sedang sibuk dengan kukunya. Sepertinya Nur juga nyaman saja seperti ini. Tapi akan berapa lama lagi uang tabungan iyu bertahan.


Eyang juga beberapa minggu ini memerlukan uang yang tidak sedikit. Kondisinya kembali memburuk. Roy tetap menghiburnya dengan mengatakan cicitnya yang sedang bersama Debora. Bukannya terhibur Eyang malah merasa bersalah pada Debora dan tak mungkin untuk Debora kembali membawa cicitnya.


"Nur.. Kamu yakin baik baik aja..?" Roy menatap Nur lekat lekat.


"Ya aku baik baik aja.." Nur mengangguk.


Beberapa hari yang lalu Nur mual mual dan setelah di periksa dokter Nur di nyatakan tengah mengandung. Roy dengan segala masalah di hidupnya kini harus menerima kenyataan baru yaitu sang istri kini tengah mengandung.


Meski tak segembira Debora dulu tapi Roy berusaha untuk menerima kahamilan Nur.


Nur tiba tiba memeluk Roy dengan erat.


"Aku tahu, yang kamu alami berat.. Itu karna aku, maaf ya.." Roy menghela nafasnya.


"Sudah.. Kamu pikir aja kesehatan kamu dan bayi ini. Itu yang penting, sisanya serahkan sama aku.." Roy mengelus punggung Nur.

__ADS_1


***


.


.


.


.


.


Adel membuka matanya di tengah malam ini. Ia melihat Bisma sangat dekat dengannya bahkan sudah menyentuh pipi Adel.


"Aataga.." Adel memegangi dadanya.


Setelah beberapa menit kemudian, Bisma merasakan ada yang berbeda. Ia membuka matanya dan tak ada Adel di peluknya.


Bisma menoleh ke belakang, Adel ada di sana. Bisma kembali melakukan hal yang sama, ia memeluk Adel dari belakang dan mengeratkannya.


Beberapa menit kemudian Adel kembali terganggu karna merasa sesak. Menoleh dan Bisma memeluknya lagi.


"Dia ini kenapa sih..?" Adel menyingkirkan tangan Bisma lagi.


Adel berpindah tempat kali ini tidak main main Adel pindah ke bawah Kaki Bisma.

__ADS_1


"Aku yakin dia gak akan ikut lagi.." Gumam Adel sebelum ia terlelap lagi.


Bisma merasa kekurangan lagi ia membuka matanya dan tak menemukan Adel lagi.


"Adel..." Bisma melihat Adel di bawah kakinya. "Nanti kamu.." Bisma juga ikut Adel pindah ke sana.


"Gak akan lepas kamu abis ini.." Gumam Bisma dan memunggu Adel bangun dan berpindah tempat.


Pelukkan yang di eratkan dan satu kecupan di layangkan. Beberapa menit masih tak berubah, tapi tepat 30 menit kemudian Adel mulai menggeliat tak nyaman.


"Iissshhh" Desih Adel saat melihat tangan kekar memeluk perutnya.


Adel hendak bangun tapi tiba tiba Bisma menarik Adel dengan sangat erat. Bahkan Bisma memindahkan posisi ke tempat tidur yang lebih luas dari pada tempat yang Adel tempati tadi.


"Bisma.."  pekik Adel.


"Adel.. Aku mau pelukkan.." Bisma memejamkan matanya tapi mulutnya berbicara.


"Tapi sesak.." Adel menggerakkan tubuhnya lagi.


"Oke oke." Kiranya Bisma melepaskan Adel, tapi ternyata tidak, Bisma hanya melonggarkan pelukkannya pada Adel.


"Ayo kita tidur lagi.." Ajaknya.


"Heemm" Tak ada yang bisa menjadi alasan Adel lagi untuk lepas dari pelukkan Bisma karna sekarang Bisma memeluknya dengan baik dan tak terlalu mengeratkan pelukkannya hingga Adel kesulitan bergerak.

__ADS_1


Adel hendak terlelap tapi tiba tiba Bisma berulah lagi.


Bisma..


__ADS_2