
Stuart mendudukkan dirinya di samping Adel dan Foppa.
"Gimana rasanya.. Enak..?" Ledek Stuart.
"Apanya yang Enak..?" Kesal Bisma.
"Rasanya, cari seorang gak tahu di mana, ngapain, sama siapa, masih nafas atau gak.. Gitulah yang Adel rasa kemarin itu Bisma. Dan saat ketemu orang yang di cari, orangnya malah abis main asik asik sama orang lain.. Gimana rasanya..?" Stuart hanya mengerjai Bisma dan Albert.
"Maaf ya.." Adel memperbaiki bajunya.
"Tadi.."
Flashback On.
"Stu.. Kamu mau apa..?" Stuart mendekati Adel.
"Stu.."
"Stu...!!" Adel ketakutan saat Stuart di depannya dengan dadanya yang menawan. Adel sangat malu memandangnya.
"Adel tolong aku, pura puralah kalau kamu aku perk**sa nanti Aku bukakan pintu dan biarkan Bisma dan Albert temukan kamu dalam kondisi se*si. Jadi pasti mereka berpikiran kalau kita berdua sudah melakukannya. Aku mau kasih sedikit pelajaran buat Bisma dan Albert." Adel masih tak mengerti.
"Tapi kayak apa..?" Stuart merobek kemeja yang di gunakan Adel dan membuatnya seolah kekerasan se*sual.
"Cakar aku di sini.." Stuart menunjuk bahunya.
__ADS_1
"Apa kamu yakin.. Sakit looo..." Adel ragu ragu.
"Ayolah Adel.. Gak apa apa.. Cakar aja.."
Srrrekk..
"Aaauu.." Adel yang merasa sakit sedangkan Stuart biasa saja.
"Sini juga leherku.." pinta Stuart lagi.
"Astaga Stu..?!" Rengek Adel.
"Oke siap.. Kamu baring di situ.. Cepat..!" Titah Stuart.
"Di sini?" Adel mencoba berbaring seperti yang di minta Stuart.
"Ya ampun.. Harus kah Stu..?" Adel ragu.
"Harus.. Biar mereka berdua juga tahu rasanya kayak apa.. Kamu kemarin sibuk cari Bisma dan dia lagi enak enakakn sama Albert dan gitu juga Albert ini bukan kali pertama dia berbohong dan bawa pergi pasangannya. Kali ini aja ya.." Pinta Stuart lagi.
Akhirnya Adel setuju dan hanya berbaring di sofa dan mendengar ledekkan ledekkan dari Stuart untuk Bisma dan Albert. Kadang Adel merasa malu mendengarnya. Apalagi saat Stuart mengatakan kalau ia memainkan itunya.
Ya itu yang paling memalukan untuk Adel. Padahal ia dan Stuart tak melakukan apa pun. Setelah perkelahian Stuart dan keduanya semakin parah barulah Adel menyudahi kebohongannya.
Flashback Off.
__ADS_1
Bisma mengusap rambutnya. Ia kira Adel benar benar di apakan oleh Stuart.
"Makanya jangan sekali kali lagi kalian begitu, kalian sudah tahu kan rasanya gimana. Itu lah yang Adel rasa, aku rasa, Papa rasa.. Mama Kamu rasa Bisma.." Stuart berusaha menyadarkan mereka.
"Maaf.." Bisma mengakui kesalahannya.
"Jangan minta maaf sama aku.. Minta maaf sama Adel, dia yang kebingungan cari kamu dan akhirnya dia hubungi aku, dia gak hubungi Hery karna dia tahu Hery pasti akan berbuat yang lebih parah dari aku, dan yang paling Adel takutkan, Mama Marrynya.." Stuart membeberkan semuanya yang ia ketahui dari Adel.
"Maaf Stu.." Albert juga meminta maaf. Sepertnya ia juga menyadari sesuatu dari hal ini.
"Maaf juga untuk kamu Bisma.. Aku ketelaluan, aku robek baju istri kamu.. Tapi demi rencana ini berjalan lancar..." Stuart juga tahu itu berlebihan.
"Aku ganti baju dulu.." Adel baru sadar kalau ia masih menggunakan baju yang sama.
"Cari di lemari itu tadi.. Pilih aja yang mana kamu mau.." Ucap Stuart.
"Tunggu.." Bisma menghentikan Adel.
"Eemmm?" Adel berbalik.
"Pakai punya aku.." Bisma membuka jaketnya dan mengenakannya pada Adel. Mata Albert sebenarnya tak tahan melihatnya karna itu seperti penghianatan untuknya. Laki laki yang ia cintai sedang dekat dengan seorang wanita.
Stuart juga merasa demikian. Rasanya iri melihat Adel mendapat perhatian dari Bisma.
"Makasih Bisma.." Ujar Adel.
__ADS_1
"Eeemm pakailah.." Bisma mengusap puncak kepala Adel.
Off dulu..