AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 15


__ADS_3

Kisah singkat rumah tangga Roy tak semua orang ketahui. Hanya Roy, Hery dan Rena yang mengetahuinya. Untuk Debora dan John entahlah karna mereka berdualah pemeran utamanya dalam kisah rumah tangga Rky dan Debora.


"Kau benar John. Mungkin saja Roy memiliki wanita untuk dia bersenang senang. Cihh dasar laki laki kurang ajar. Bisa bisanya dia hianati aku." Debora mulai terpancing panas yang John berikan padanya tapi, malu sungguh malu jika bukan Debora yang menjadi istri Roy. Siapa yang menghianati siapa yang marah. Siapa duluan menyulut api siapa yang bertanggung jawab atas kebakarannya.


"Benar sayang kita harus temukan wanita itu. Aku yakin Roy pasti menyimpannya di suatu tempat yang kapan saja bisa Roy datangi. Coba kamu pikir pikir dulu ya. Siapa tahu kamu ingat sesuatu." John memberi dukungan yang sungguh tak ada faedahnya. John yakin setelah Debora mendapatkan bukti bahwa Roy berselingkuh, maka Debora akan menggugat cerai Roy dan Debora pasti maminta beberapa aset perusahaan Roy. Dan pasti untuk mempertanggung jawabkannya Roy akan memberikan apa yang Debora minta. Dan setelah itu, John akan menaburi cinta palsu untuk Debora agar Debora mau membagi hartanya yang ia dapat dari Roy. Dan setelah itu John yakin ia tak akan terus menjadi seorang asisten Debora. Pasti dia yang menjadi bosnya.


Itulah rencana John sebenarnya, untuk menghancurkan rumah tangga Roy dan Debora, lalu melayangkan Debora ke atas awan dan setelah itu John akan menghempaskan Debora ke Bumi lagi dan John renggut semua yang Debora punya.


Debora cepatlah kamu sadar akan kesalahkan yang kamu buat. Jangan sampai kamu menyesal pada akhirnya nanti. Dan di saat itu tiba bahkan menyesal pun tak ada gunanya.


Siang berganti malam. Kini Debora dan Roy sedang makan malam bersama du meja makan. Tidak banyak bicara bahkan Roy tak menegur Debora sama sekali. Meja makan dengan makanan hangat tapi suasana di meja makan itu tidaklah sehangat makanan yang terpampang di meja makan.


Roy makan dengan sangat serius sedangkan Debora diam diam terus memperhatikan Roy.


"Roy bagaimana kalau minggu depan kita pergi menemui Eyang. Aku merindukannya. Lagi pula minggu depan aku ada cuti. Bagaimana?" Debora menanyakan pertanyaan pada Roy sambil terus menatap Roy tanpa melepaskan pandangannya.


"Apa kamu tidak takut jobmu di ambil orang. Kalau jobmu di ambil orang, kamu tidak akan mendapat gantinya lagi seperti Sahamku yang bisa berganti kapan saja mereka dan aku mau. Benarkan?!" Ucap santai Roy sambil terus mengunyah makanan di mulutnya tapi pandangannya hanya lurus kedepan tak menatap Debora di sampingnya yang bertanya.

__ADS_1


"Oohh Roy... Sudahlah jangan marah lagi ya... Maafkan aku. Aku bukannya bermaksud mengatakan itu. Pekerjaanmu memang sangat penting, aku akui itu Roy. Jangan marah lagi ya.."Debora mengelus elus bahu Roy agar suasana hati Roy yang penyayang dan penyabar kembali.


Bukannya menjawab, Roy malah bangkit dari duduknya dan mengantar piringnya sendiri lalu mencucinya dan setelah itu Roy mengelap piringnya sendiri dengan serbet dan menaruhnya di rak piring dengan rapi dan berlalu meninggalkan Debora seorang diri yang terpaku dengan apa yang Roy lakukan


Jarang sekali Roy akan mencuci piringnya sendiri seperti yang baru saja Roy lakukan. Apa tidak membuat Debora tercengang.


"Semarah itukah dia??" Debora merasa amarah Roy masih membara.


Debora kemudian mengantar piringnya juga yang masih ada isi di dalamnya dan meketakannya di washtafel dan kembali menyusul Roy.


Debora masuk ke dalam kamarnya dan Roy. Debora mencari keberadaan Roy tapi ia tak menemukannya.


"Apa dia masuk dalam ruang kerjanya lagi?" Debora menuju ruang kerja Roy dan memutar handle pintu dan ternyata di kunci. Ya Roy masuk lagi ke dalam ruang kerjannya.


"Roy bukalah. Aku ingin bicara.." Raung Debora dari luar ruangan kerja Roy.


Tidak ada sahutan dari dalam membuat Debora semakin kesal. "Roy akan aku bilang kamu sama Eyang kalau kamu tidak ingin bicara denganku, kamu marah padaku padahal aku sudah minta maaf. Akan aku adukan kamu Roy." Debora habis kesabaran menunggu respon dari Roy dan akhirnya melancarkan serangannya dengan mengancam dan menjual nama sang Eyang, nenek dari Roy. Dan Debora yakin ini pasti akan memancing Roy keluar dari dalam tempat persembunyiannya.

__ADS_1


Dan GUBRAK...


Pintu ruangan itu dibanting dengan sangat kuat di depan Debora. Sampai sampai Debora pun kaget bukan main karna Roy tidak pernah bersikap kasar padanya.


"Apa kau ingin terus mengujiku?" Roy benar benar marah saat ini. Dan Debora salah telah mengerang dengan mengancam dengan menjual nama Eyangnya.


"Debora aku sudah bosan terus berdebat denganmu. Kenapa kamu teru memancingku untuk mengajakku bertengkar. Dulu okelah.. Kamu marah maka aku akan melunak, tapi aku bosan terus menjadi budakmu dengan terus mengikuti keinginanmu. Aku akan seperti boneka dan mengikuti katamu saat kamu marah seperti ini. Debora aku juga ingin di hargai, aku juga ingin kamu patuhi bukan hanya aku yang patuh akan kamu dan perkataanmu." Roy meraup oksigen sebanyak banyaknya.


"Tadi pagi... Kamu memintaku pulang hanya untuk berdebat dan terus menarik panjang perdebatanmu karna kamu tadi pagi kalah berdebat denganku. Oleh karna itu kamu sampai sekarang terus menggangguku. Sampai kamu memenangkan perdebatan ini dan aku mengaku kalah dan siap melakukan apa saja yang kamu inginkan. Aku mohon Debora hentikan. Kamu membawa bawa nama Eyang. Apa kanu tidak tahu kesehatannya bagaimana sekarang. Apa kamu ingin menghilangkan satu nyawa orang hanya demi keinginanmu. Dasar Bodoh." Roy masuk kembali ke dalam ruang kerjanya tanpa mendengarkan apa apa lagi dari Debora.


Wajah Debora memucat melihat wajah penuh amarah Roy yang tidak pernah Roy tampakkan di hadapan siapapun. Bibirnya bergetar tak sanggup berucap bahkan untuk terbuka saja mungkin tidak berani di depan Roy yang tidak memberikan sela untuk Debora membela diri atau sekedar merayu.


Debora pulang ke kamarnya serang diri. Langkahnya lunglai. Debora sampai di depan ranjangnya dan mendudukkan dirinya di lantai dan menangis sejadi jadinya berharap Roy akan mendengarnya. Debora yang sudah menangis 5 menit dengan suara yang sedang dan karna Roy tidak ada tanda tanda ingin datang dan menghentikan tangisan Debora. Tapi nyatanya nihil. Roy tidak datang untuk menghentikan tangisan asli demi palsu Debora.


Karna Roy tidak datang juga Debora menaikan satu oktaf tangisannya dan mengeraskan suaranya. Tapi tetap saja Roy tak menanggapi.


Roy bukannya tidak mendengar, tapi Roy malah tertawa ria melihat video di laptopnya yang menunjukan Debora hanya sedang mencari perhatian Roy.

__ADS_1


"Dasar bodoh." Roy mengeluarkan Ponselnya dan merekam video Debora dan mengirimnya pada Hery dan Rena, dengan hastage kurang lebih seperti ini #TONTONANKUMALAMINI


HALO HALO PEMBACA BARU DAN PEMBACA LAMA NOVEL AYDS IKUTI TERUS YA KESERUAN CERITANYA, CUKUP BERIKAN SATU LIKE ANDA DI SETIAP BABNYA, ITU SUDAH MENDUKUNG AUTHOR DAN AUTHOR SANGAT SENANG.. TKS..


__ADS_2