AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 282


__ADS_3

Ceklek...


Adel dari gendongan Bisma membukakan pintu kamar mereka.


"Apa... Apa ini..?" Adel tak percaya yang ia lihat ini.


Bisma tak menjawab. Ia justru senang dan langsung membawa Adel masuk.


"Bi.. Bisma.. Ini.. Kanapa kamar kita.. Bunga.. Lilin...?" Adel mulai panik.


"Kita coba ya yang kamu takutkan itu.. Kamu kan bisik tadi dan bilang.. Kamu takut sakit.. Jadi kita coba.." Bisma membaringkan Adel di tempat tidur.


"Aaahh.. Bisma.. Aku..? Kamu..?" Bisma membuka bajunya.


"Astaga.. Sayang.. Aku.. Astaga.. Malam ini kah..?" Adel mundur hingga sandaran ranjang.


"Iya.. Kita coba.." Bisik Bisma.


Adel masih ragu. Tapi Adel juga ingin saling memiliki, ingin seutuhnya menjadi istri Bisma.


"Yah.. Benar aku istrinya.. Gak ada salahnya untuk coba. Bisma suami aku.. Aku berhak atas dia dan dia berhak atas aku.." Adel meyakinkan dirinya


"Ya sayang.. Kita coba.. Tapi.. Pelan pelan.." cicit Adel. Ia menempelkan tangannya di dada Bisma.


"Iya.. Aku usahakan.." Bisma tersenyum nakal.


"Bisma..!"


Malam yang panjang di lewati, bibir yang awalnya dapat bungkam kini tak bisa. Beberapa kali mengeluarkan kata kata seksi.


***

__ADS_1


Adel bersandar di dada Bisma. Nafas Bisma masih tak beraturan, sangat terasa jelas di Adel.


Berkali kali pula Bisma mengecup Adel dan mengatakan terimakasih. Rasa nikmat baru saja mereka nikmati bersama sama.


"Apa sakit..?" Bisma dan tangannya memeriksa.


"Ck.. Jangan di sentuh.. Nanti sakit. Tadi kan..?" Adel melotot pada Bisma.


"Oke oke.. Tapi sekarang rasanya gimana..?" Bisma sangat ingin tahu.


"Ya kalau sekarang gak sakit.. Tadi itu yang sakit.. Pas baru masuk.." Adel malu malu.


"Tapi.. Ujung ujungnya enak kan.. Seru kan..?" Bisma mengelus pipi Adel dan merapikan rambut Adel yang berantakan.


"Hmmmm..." Adel hanya berdehem dan mengangguk.


"Apa besar..?" Pipi Adel merona mendengarnya.


"Ck.." Adel berdecak.


"Hehehehehe.. Aku hebat kan...?" Adel bukannya menjawab tapi malah masuk dalam pelukkan Bisma, menenggelamkan wajahnya di dada Bisma.


"Aku cinta kamu.." Bisik Adel.


"Aku lebih mencintai kamu.. Adel sayang.. Abis ini.. Kamu gak boleh dekat dekat sama cowok lain ya.. Siapa pun itu.. Aku gak mau ada yang dekat dekat kamu.. Apalagi.. Stuart.." Bisma memandang sini dinding di depannya.


"Del..?" Tak ada sahutan dari Adel. Saat Bisma memastikannya, rupanya Adel sudah terlelap di dadanya. Hidungnya menempel di dada Bisma dengan nyaman.


"Istriku ini.." Bisma mengecup puncak kepala Adel.


Bisma merasa nyaman karena hidung Adel di dadanya. Nafas lembut Adel membuainya. Perlahan pun Bisma memejamkan matanya.

__ADS_1


Setelah malam yang panjang, ini saatnya bersitirahat.


.


.


.


.


.


.


"Ck.. Hery benar benar.." Dion membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Meski bukan tempat tidurnya Dion berusaha untuk tetap tidur. Dion sangat tidak terbiasa dengan tempat tidur baru. Yang ia temati ini bukanlah tempat tidurnya.


Dion sedang menginap di rumah Hery. Dengan paksaan Hery tentunya. Oleh sebab itu Dion selalu mengocehi Hery.


Kamar yang di tempati Dion tepat bersebelahanan dengan kamar Debora. Sungguh nekad, pikir Dion.


Dion menoleh ke kiri dan kanannya. Rasanya sungguh berbeda. Dion memang seperti ini karena selama ini Dion tidak pernah menginap di rumah orang. Walaupun ia dinas. Setidaknya ia membawa selimut tipisnya. Mungkin sudah kebiasaan Dion yang tak bisa lupa membawa selimutnya itu.


Dan alhasil, Dion tidak dapat tidur sampai detik ini. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 2 dini hari. Tapi mata itu tetap tidak dapat tertutup.


Dion memilih untuk membuka jendela kamarnya, mungkin itu bisa membuatnya nyaman.


Tiba tiba.


Hai hai guys.. kita buat pasangan baru lagi ya.. Debora dan Dion akan memulai ceritanya di sini.. gk apa apa kan Readers tersayang..??

__ADS_1


__ADS_2