
Roy terdiam menatap Debora.
"Aku masih punya banyak orang yang peduli sama aku.." tungkas Debora.
"Ya aku tahu.. Aku sangat bersyukur akan itu.. Senang melihat kamu baik baik aja.." Roy pura pura senang dan tersenyum. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia merindukan Debora dan anaknya.
"Ya.."
Roy pamit pulang. Sudah bisa berbicara sebentar dengan Debora sudah membuatnya senang dan tenang, serasa semua masalah hidupnya sirna saat bersama Debora.
.
.
.
.
.
Rena meringis melihat Hery yang tak ada habisnya mengemil semua makanannya.
"Sayang.. Itu banyak banget.. Kamu.. Aaahh?" Rena tak bisa berkata apa apa lagi.
"Sayang mau..?" Hery menawarkan makanan di tangannya.
"Gak sayang gak.. Tapi..?" Rena melirik Roy yang baru saja keluar dari kamar Debora.
Hery mengikuti pandangan Rena. Matnya langsung menyipit pada Rena.
Hery pindah dari tempat duduknya dan duduk di samping Rena. "Sayang..!" Panggil Hery dan menangkup kedua pipi Rena.
"Hmmmm?" Rena menatap Hery dengan pipi gembulnya yang semakin menggembil karna di tangkup Hery.
Cup...
Hery melu**at bibir Rena sangat rakus. Persis seperti seorang yang tengah kelaparan.
"Hmmmm?" Rena hampir tak bisa bernafas di buat Hery.
__ADS_1
Roy menoleh dan melihat pemandangan yang luar biasa dari Rena dan Hery.
"Ya ampun.. Betapa beruntungnya Hery, Rena juga sangat mencintainya.." Roy cepat cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Roy berlalu barulah Hery melepaskan pengutannya.
"Sayang.. Aku gak bisa nafas tadi.." Rena memukuli Lengan kekar Hery.
"Makanya matanya itu jangan ke mana mana.." Hardik Hery.
"Hah..?" Rena menepuk keningnya.
"Aku cinta kamu.. Dan gak ada yang boleh liatin kamu atau pun sebaliknya. Camkan itu sayang.." Hery menarik tengkuk Rena agar mendekatkan kening mereka hingga bertemu.
"Aku tahu.. Dan aku juga sangat cinta kamu.." Rena tahu itu hanya karna rasa cemburu berat yang di miliki Hery.
"Oke.. Ayo kita makan lagi.."
"Hah..? Habis sayang sayangan makan lagi..?" Rena tak habis pikir.
"Ya donk.. Aku suapi ya.. Aaaa.." Rena menggelengkan kepalanya menghadapi suaminya.
.
.
.
.
.
"Ayo..! Sudah siap..?" Bisma melirik Adel yang tengah merapikan bajunya.
"Ya sebentar.. Kayaknya gak cocok deh.. Bentar ya.." Adel dengan santainya membuka bajunya di hadapan Bisma dan memperlihatkan **********.
"Astaga Adel.." Bisma menutup matanya.
"Apa..?" Adel tak peduli dan tetap mencari baju baru.
__ADS_1
"Nah coba yang ini.." Adel menemukan baju berwarna pink dengan lengan panjang dan brukat dari bahu hingga perlegelangan tangannya.
"Ck.. Adel lain kali jangan buka baju di depan aku.. Aku.. Aiissshhh.." Bisma tak mampu melihatnya.
"Apa sih.. Kamu kan sudah sering liat.." Cicit Adel yang membuat Bisma membuka mulutnya lebar.
Mengingat lagi memanglah benar yang di katakan Adel. Ia sudah melihat Adel seperti itu, bahkan sering.
"Ya tapi kan... Kamu gak malu atau gimana gitu didepan aku.." Cicit Bisma.
"Ya kan aku dulu sudah tes dan kamu gak tertarik kok jadi buat apa aku malu, atau pun takut.." Sarkas Adel lagi.
"Kapan..? Tes gimana..?"
"Kolam renang.. Lupa..?" Adel menoleh ke arah Bisma.
"Ko.. Kolam renang..?" Bisma mengingat ingat.
"Oohhh.." Tiba tiba pipi Bisma merona memerah.
Adel menoleh kearah Bisma. "Cantikkan..?" Adel memerkan baju pilihannya barusan
"Ya cantik.. Cantik banget.." Bisma mengakuinya, "Bukan hanya bajunya yang cantik, kamu juga cantik.. Mungkin bakal banyak cowok yang lirik kamu nanti di jalan.." Cicit Bisma lagi.
"Iissshh kirain pujian beneran.." Adel mengerucutkan bibirnya.
"Looohh memang pujian itu Del.. Kamu cantik banget.." Setelah itu barulah Adel tersenyum lebar dan menambah kecantikkannya di mata Bisma.
"Yuk jalan.."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Stuart..