
Beralih dari para pasangan bucin itu, kedua pasangan ini lebih berbeda.
"Adel.. Aku akan pergi ambil surat nikah kita dan juga beberapa berkas penting untuk perpindahan negara kita.. Kamu tunggu di rumah aja dan catat apa aja yang mau kamu bawa. Gak usah banyak sih.. Kan di sana bisa beli lagi.." Bisma dan Adel mengatur rencana mereka.
"Tapi aku lebih kasian sama mama Marry Bisma.. Dia tinggal sendiri di sini. Memang ada bibi dan yang lainnya tapi kan beda juga yang mananya anak.." Adel merasa sedih. Ia sudah sangat dekat dengan Marry. Ia sudah menganggap Marry ibu kandungnya sendiri.
Bisma tersenyum melihat kebaikkan hati Adel yang begitu tulus menyayangi keluarganya.
"Ya.. Aku juga tahu itu.. Tapi..." Bisma menundudukkan kepalanya.
"Eeemmm Bisma itu jamnya sudah mampir lewat.. Nanti kamu telat lagi.. Cepat.." Adel mengingatkan.
"Oohh astaga.." Bisma segera mengambil tasnya dan berangkat.
"Aku jalan dulu." pamitnya lagi."
"Haaaaaahh.." Adel menghela nafas.
Adel memilih untuk keluar dari kamarnya, ia bisa menyiapkan barang barangnya nanti saja.
Saat tiba di ruang tengah semuanya sepi. Ia mengintip ke dapur, para bibi sedang memasak.
Ia lanjut ke halaman belakang, barulah ia melihat sosok Marry. Adel menghampirinya.
"Mama.." Panggil Adel.
"Eeehh.. Adel sayang.. Sini sayang.." Panggil balik Marry.
"Bisma sudah berangkat..?" Tanya Marry.
"Iya sudah.. Mama lagi apa..?"
"Mama lagi liat buang bunga mama ini. Kasian ada yang layu." Marry memutik beberapa.
"Oohhh.."
Adel menemani Marry di halaman ini.
Bercerita dan bersenda gurau. Marry sangat menikmati saat saat bersama Adel dan begitu sebaliknya.
"Adel.." Panggil Marry saat keduanya sedang duduk di kursi panjang.
__ADS_1
"Ya Ma..?" Adel sedang asik melihat bunga bunga yang ia petik tadi.
"Mama titip Bisma sama kamu.." Marry tetap tersenyum hangat pada Adel.
"Apa sih Mama Ini...?" Adel meletakan bunganya.
"Iya sayang.. Mama gak minta yang lain lagi selain itu.. Mama mau kamu jaga Bisma. Kalau Hery... Dia sangat pandai menjaga dirinya sejak kecil, sedangkan Bisma, mungkin aku terlalu memanjakannya makanya dia untuk menjaga diri aja gak bisa. Di tambah lagi Bisma yang berbeda dari laki laki pada umumnya. Aku sangat khawatir kalau gak ada Cewe yang mau nikah sama dia. Makanya Mama Mohon untuk jaga Bisma untuk Mama.." Pembicaraan ini semakin dalam saja.
"Mama.. Adel pasti jaga Bisma.. Adel bisa jaga Bisma di mana aja.. Adel rasa juga kami berdua sebenarnya gak usah pergi dari sini Mama, kita bisa tinggal bersama di sini.. Sama Mama juga.." Adel memberi saran.
"Gak sayang gak boleh... Mama gak mau Bisma di sini sayang.." Adel menyipitkan matanya.
"Maksud mama apa.. Apa mama gak mau dekat sama anak mantu mama?" Pikir Adel.
"Bukan gitu nak bukan.." Marry menggeleng cepat.
"Kamu tahu kan.. Bisma itu... Dia punya banyak teman di sini.. Dia bisa aja melakukan apa yang dia mau. Mama gak mau dia terus bergaul dengan orang orang di sini.. Nanti dia malah makin jadi gimana..?" Marry sedih mengingat Bisma yang berbeda itu.
"Eeemmm.." Adel juga jadi bingung untuk bilang apa.
"Ya makanya.. Mama minta Bisma bawa kamu balik ke Indo lagi.. Kalau di sana, dari penuturan Hery, Bisma gak bisa banyak tingkah. Dia fokus kerja meskipun kerja yang ringan aja. Di sana juga kurang yang seperti dia. Jadi otomatis dia gak punya teman untuk melakukan itu. Dan kamu mungkin bisa ambil hati dia sayang.." Marry mengangkat dagu Adel.
"Mama.." Pipi Adel merona.
"Iya mama Adel paham juga rasa yang mama Rasa.." Adel mengusap punggung Marry.
"Makanya mama yang kasih ide agar kalian berdua tinggal di Indo aja.. Mama tenang kalau Bisma di sana. Ada Kamu ada Hery ada Rena juga yang bisa jaga Bisma. Mama percaya sama kalian.. Dan mama sangat yakin itu.." Marry menaruh harapan besar pada Adel.
"Mama juga berharap kamu dan Bisma bisa juga punya baby.. Mama pengen banget liat baby kalian.. Doa mama akan selalu menyertai kalian sayang.."
"Mama.." Adel berharu mendengarnya.
"Adel juga usahakan mama.." Adel mengangguk setuju.
"Adel kamu juga sayang Bisma kan..?" Ini mungkin pertanyaan yang paling sulit untuk Adel.
"Eeemm ya ma.. Adel sayang sama Bisma juga.. Adel suka Bisma juga.." Entah jujur atau bohong tapi pipinya merona saat mengatakan itu.
Marry melihat pipi Adel yang merona sambil mengatakan itu pun yakin dengan apa yang di katakan Adel ini benar.
***
__ADS_1
Bisma sedang berada di kantor kedutaan di Jerman. Ia sedang mengurus perpindahannya dan Adel.
Marry sudah memintanya dan ia juga paham apa yang di maksud mamanya itu. Dan yang di katakan Marry memanglah benar. Lebih baik ia pulang ke Indonesia bersama Adel. Di sana ia akan lebih aman dari pergaulannya.
"Bisma..?" Panggil seseorang dari sampingnya.
Deg..
"Albert..?" jantung Bisma berdetak dengan sangat kecang.
"Bisma.." Albert langsung memeluk Bisma tanpa memikirkan orang di depan mereka yang melihatnya.
"Kamu.. Kamu di sini Al..?" Bisma sampai bergetar menanyai Albert.
"Aku rindu kamu.." Bisma menggigit bibirnya mendengar ucapan Albert.
Albert adalah pasangan pertama Bisma sebelum yang lainnya. Oleh karna itu Bisma tidak bisa mengontrol hatinya saat bertemu Albert.
"Aku juga rindu kamu Al.." Bisma memeluk erat Albert.
Pelukkan itu berubah menjadi elusan di punggung Bisma. Hasrat Bisma meningkat marasakan elusan Albert.
"Permisi tua..?" Seorang petugas mengagetkan keduanya.
"Eehh iya.. Oohn punya saya.." Bisma mengambil berkasnya.
"Bisma kamu mau ke mana...?" Albert membaca surat yang di pegang Bisma dan itu adalah surat perpindahannya.
"Aku akan pindah Al... Aku akan pindah ke Indonesia sama istri aku.."
Albert membulatkan matanya. "Kamu nikah Ma..? Kok bisa..?" Albert mengeraskan suaranya seperti tak suka.
"Al.." Bisma menegur Albert karna semua orang menatap mereka.
"Kita bicara di luar aja nanti Al.." Ajak Bisma.
"Oke dan aku mau tahu semuanya.." Albert menatap tajam Bisma yang punya tatapan sayu dan teduh itu.
"Aku cinta kamu Bisma.." Bisik Albert lagi di telinga Bisma dengan menggoda dan membuat Bisma salah tingkah.
Bisma...
__ADS_1
Off dulu ya.. Mau lanjut gak ni cerita Bisma dan Adel, berserta masalah mereka..?
Komen donk.. Pengen tahu maunya pembaca..