
Tiba tiba ada suara ketukkan di pintu Rena dan Hery.
"Sebentar.." Rena turun dari Hery dan membukakan pintu kamarnya.
"Ren ada yang mau aku tanyakan.." Debora membawa Rena sedikit menjauh dari kamarnya.
"Apa Debora..?" Rena mengikuti ke mana Debora membawanya.
"Rena.. Ada seseorang yang mau aku tanyakan sama kamu.." Rena mengangguk.
Hery yang penasaran apa yang di bicarakan Rena dan Debora pun menguping pembicaraan keduanya.
"Rena.. Kamu kenal gak yang namanya Dion...?" Rena mengerutkan keningnya.
"Dion..? Oohhh anaknya nyonya Vallen.?" Rena tentu masih mengingat laki laki bersuara merdu itu dengan lesung pipi yang indah dan juga sangat ramah.
"Aku... Aku.. Mau tahu ciri ciri dia.." Debora sepertinya sangat membutuhkan informasi itu dari Rena.
"Oohh Dion itu, punya lesung pipi, suaranya merdu, dia ramah, memang pas pertama kali ketemu dia pendiam tapi lama lama dia mudah akrab. Eeemmm gitu yang aku ingat.." Hery mengepalkan tangannya mendengar sang istri masih mengingat rupa laki laki itu.
"Ooohhh apa namanya itu Dion Wigara..?" Debora melontarkan pertanyaan lagi.
"Ya.. Namanya Dion Wigara.." Rena dan Debora menoleh dari arah suara. Rupanya Hery tak tahan lagi untuk hanya menjadi seorang penguping.
"Dia Dion Wigara.. Dia salah satu pengusaha ekspor.." Hery mengotak atik ponselnya.
"Ini fotonya.." Hery memperlihatkan fotonya dan Foto Dion, sepertinya saat ada pertemuan dan membuat keduanya bertemu dan berfoto bersama.
__ADS_1
"Ya ini Dion.." Sahut Rena lagi. Hery menatap Rena tajam.
"Oohh.. Jadi.. Dia..?" Debora tak percaya yang sedang ia lihat ini.
"Jadi tadi itu dia.. Dia yang belanjaain aku..?" Debora menggigit jari telunjuknya.
"Ooohhh jadi dia yang kamu bilang tadi..?" Rena menyambungkan semua faktanya.
"Iya.. Ada suratnya ini.." Debora memperlihatkan secarik kertas berwarna pink.
"Ya kamu pasti bertemu dengan dia. Dia memang laki laki yang baik.. Maaf Debora aku dan Rena harus jaga Alf dan Elf di kamar.. Untuk masalah Dion nanti aku bantu kamu temui dia dulu.." Hery segera menarik Rena kembali ke kamar.
Debora dengan otaknya yang berputar putar kembali juga ke kamarnya.
"Sayang kenapa sih.. Kasian Debora dia pasti masih mau tahu tentang Diossstt.." Hery membungkam bibir Rena dengan nari telunjuknya.
"Jangan sebut namanya.." Mata Hery menatap dalam dalam Rena.
"Sayang.. Kamu masih mau bahas dia..? Kamu sudah punya aku.." Hery terlihat marah.
"Sayang.. Kamu cemburu..?" Rena menganga tak percaya.
"Aku... Aku gak suka kamu puji puji laki laki lain.. Apalagi Dion.." Hery melipat tangn di dadanya seperti sedang merajuk.
"Sayang.. Aku gak puji, kapan aku puji dia..?" Rena memeluk Hery dari samping.
"Kamu bilang suaranya merdu. Memangnya suara aku gak merdu..? Kamu bilang dia ramah, aku juga ramah.." Rena malah terkekeh.
__ADS_1
"Bukan cuma itu.. Suami aku ini punya segalanya.. Tampan.. Imut.. Menggemaskan, dan yang paling aku suka, kalau dia di ranjang sama aku.." Rena mengatakan itu dengan berbisik lembut di telinga Hery.
Bulu roma Hery merinding mendengarnya. Tidak sampai di sana saja, aksi Rena tetap berlanjut. Ia menggigit pelan daun telinga Hery.
Tangannya nakal menyelinap ke pangkal p**a Hery.
"Ck.. Sayang aku lagi marah loooo.." Hery tak bisa menahan rasanya.
"Sayang.. Kamu marah apa..?"
"Aku gak suka Dion.. Dia pernah dekati kamu dan kamu bersikap baik sama dia.. Dia juga seringkan ke apartemen kamu, bahkan dia juga beli satu apartemen tepat di dekat unit kamu. Demi dia dekati kamu.." Cicit Hery lagi.
"Ya kah..? Aku aja gak tahu.." Rena merasa itu tidaklah benar.
"Ck.. Kamu dulu terlalu naif sama dia.. Mana kamu tahu maksud dan artinya.." Cicit Hery lagi.
"Aku dulu cuma kenal dia karna aku sempat kerja sama Mamanya.. Dan aku juga ada ketemu sama dia di Mall. Dia.."
"Dia selamatkan kamu dari John dan Debora kala itu.. Dia tukar kartu kredit kamu yang atas nama Roy dengan punya dia.." Rena makin mengerutkan keningnya.
"Hah..? Kok bisa..?" Rena benar tidak tahu apa apa tentang hal itu, tapi Hery mencari kebenarannya hingga langsung menanyakannya pada Dion. Bahkan Dion sendiri yang mengaku kalau ia sempat menaruh hati pada Rena. Dan itu membuat Hery waspada jika itu tentang Dion.
"Sudahlah sayang.." Hery tak ingin banyak menceritakan apa apa lagi pada Rena.
"Kamu tuh.. Tadi marah marah sekarang...?" Hery menghembuskan nafasnya pelan.
"Iya.. Maaf.. Aku terlalu.. Ya.. Aku.. Haaahh.." Hery memijit keningnya.
__ADS_1
"Sayang.. Aku sangat cinta kamu.. Untuk apa ada laki laki lain..? Tadi aku jawab seadanya aja Sayang.. Kamu itu sudah suami terbaik yang pernah ada.. Bahkan aku sudah gak minta apa apa lagi di doa ku tiap malam.. Karna aku sudah punya semuanya. Aku cuma minta jangan jauhkan aku dari kamu.. Ada di samping kamu itu rasa terbaik yang pernah ada.." Rena mengelus lengan Hery dan bersandar di lengan kekar itu. Matanya terpejam menikmati gerakan yang ia buat, ke kiri dan kekanan berulang ulang.
Hery..