
Pemuda berbaju biru lengan pendek itu sudah bisa duduk bersandar di dinding kereta kuda. entah sudah berapa lama dia pingsan. tubuhnya terasa sakit dan ngilu. di hadapannya juga duduk bersandar seorang gadis lima belas tahunan berbaju hitam tanpa lengan dengan rambut hitam dipotong agak pendek. meskipun kulitnya sedikit sawo dan gaya penampilan mirip lelaki, tapi wajah gadis itu sangat manis menarik hati dengan potongan tubuh ramping dan padat berisi.
Dengan sorot mata tajam gadis bernama Satriyana itu menegur ''Kau sudah merasa nyaman, atau masih perlu istirahat lagi.?''
Pemuda baju biru itu sesaat tertegun, dalam hati dia membatin ''Gadis ini mungkin masih berumur lima belas tahunan, tapi sikap dan gaya bicaranya sangat lugas seperti orang dewasa saja..''
Sementara di luarnya dia menjawab ''Kurasa keadaanku sudah mendingan. bagaimana ceritanya aku bisa berada di sini, sepertinya ini di dalam sebuah kereta kuda.?'' tanya si baju biru yang bernama Birunaka itu sambil memandang sekeliling ruangan. dia merasa heran sekaligus terpukau kagum dengan segala peralatan dan senjata yang secara samar tersimpan di sana.
''Bagus kalau begitu, kita bisa langsung mulai bertanya jawab dengan sejujur- jujurnya.!'' ujar Satriyana sambil menunjuk jemari kaki kiri Birunaka. ''Katakan siapa dirimu sebenarnya dan berasal dari mana. dan yang terpenting adalah apakah kau ada hubungan dengan keluarga Istana Angsa Emas.?''
Birunaka terhenyak. meski sudah mengira bakal mendapatkan pertanyaan seperti itu, tapi dia sungguh tidak menduga kalau gadis di depannya bakalan langsung bertanya secepat itu hingga sesaat si pemuda merasa bingung bagaimana menjawabnya.
''Kenapa cuma diam., apa kau merasa ragu dengan jati dirimu sendiri atau malah tidak percaya denganku.?'' sindir Satriyana dengan menunjuk jari kaki kanannya yang sama rata panjangnya antara jari manis dan jari tengah.
''Kau keturunan dari siapa dan bagaimana bisa tahu tentang Istana Angsa Emas.?'' Birunaka balik bertanya. seketika gadis itu menggebrak keras lantai kereta kudanya.
''Heih., di sini aku yang bertanya padamu dan kau hanya perlu menjawabnya. sekarang belum saatnya bagimu untuk balik bertanya., kau paham.?'' gertak gadis itu tegas.
Sementara itu Roro yang mendengar dari luar saat Satriyana menggebrak lantai kereta kuda cuma tertawa dalam hati. ''Bagus., dia sudah tahu kapan waktunya bersikap lembut dan keras pada lelaki., juga bagaimana cara menggertak lawannya., tidak memalukan kalau dia menjadi adikku. Hak., ha., ha.!''
''Orang bernama Birunaka atau siapapun namamu., kalau kau hanya bisa diam, lebih baik segera pergi dari sini dari pada cuma membuang waktuku. anggap saja kita tidak pernah bertemu dan kuharap seterusnya kita tidak pernah berjumpa lagi.!'' geram gadis itu marah sambil bergegas keluar kereta.
''Tunggu dulu., aku akan menjawabnya tapi kuharap nantinya kaupun juga berlaku sama.!'' cegah Birunaka. sekilas senyuman tipis tersungging di bibir Satriyana. ''Semua itu tergantung bagaimana jawabanmu..''
Birunaka luruskan punggungnya yang kaku dan menarik nafas dalam ''Kakek dari pihak ayahku yang sekaligus menjadi guruku adalah salah seorang sepupu dari pemimpin istana Angsa Emas, sekaligus menjabat kepala pasukan tingkat rendahan dari Istana itu sebelum mengundurkan diri akibat ada perselisihan dan pengkhianatan di dalamnya..''
''Aku tidak begitu jelas soal ini, tapi beliau pernah berpesan pada ayah yang kemudian meneruskan kepadaku agar mencari dan melindungi keturunan terakhir dari pewaris istana itu. aku tidak jelas siapa yang kakekku maksudkan, dia pria atau wanita, berapa usianya dan sekarang berada di mana..'' tutur Birunaka sambil melirik Satriyana yang terus menatapnya dengan tajam. ''Gadis ini manis juga. tidak., bukan cuma manis, tapi sangat manis dan menarik hati..'' pikir si pemuda tersenyum sendiri.
''Lanjutkan saja bicaramu., matamu tidak perlu melirik kemari. jangan mencoba berpikir yang aneh- aneh karena itu hanya membuatku jengkel dan muak.!''
__ADS_1
''Ba., baik maaf., setelah mundur dari istana Angsa Emas kakek berkelana di rimba persilatan untuk mencari seorang pangeran istana itu yang berhasil selamat dari usaha pembunuhan yang dilakukan sekelompok pembunuh bayaran., meskipun sudah berusaha mencarinya tapi kakekku tidak berhasil menemukan pangeran itu..''
''Lalu tugas itupun terus beralih ke ayahku dan sekarang kepadaku. yang kutahu cuma setiap ciri anggota istana Angsa Emas pasti mempunyai jari kaki yang agak berbeda. jari manis dan tengah pada sebelah kakinya sama panjang.!''
''Walaupun masih ada beberapa keturunan istana Angsa Emas yang masih tersisa di dunia ini, tapi cuma keturunan pangeran terakhir yang menjadi buruan semua orang.!''
''Siapa nama pangeran pelarian itu., dan kenapa cuma keturunan terakhir yang jadi incaran.?'' potong Satriyana tegang.
''Soal ini aku tidak bisa mengatakannya..''
''Jawab saja pertanyaanku., sekarang.!'' gadis itu mendamprat sengit dengan raut muka bengis, sepasang matanya memancarkan cahaya merah menggidikkan. Birunaka tercekat ngeri.!
''Nam., namanya pangeran Kunta Angsana, itu yang kudengar dari ayah dan kakekku. soal., soal keturunan terakhir itu yang menjadi buruan semua orang, karena dia., dia..''
''Dia kenapa., jangan bicara bertele- tele.!''
Hening sesaat lamanya., dua orang muda itu masih duduk berhadapan bersandar dinding kereta kuda. yang perempuan terus diam menunduk, bahunya sedikit terguncang. dari mulutnya terdengar tawa lirih yang mirip suara tangisan. ''Jadi semua ini cuma soal darah keabadian., Hik., hi.!''
''Kau tidak perlu mencari keturunan terakhir itu karena dia sudah ada di depanmu..!'' kata Satriyana sambil mencabut sebilah pisau kecil dari balik bajunya. sekali tangannya bergerak pisau kecil itu sudah menggores pergelangan tangan kirinya hingga berdarah.
Belum sempat Birunaka sadar apa yang terjadi, gadis itu sudah sorongkan tangannya yang bedarah ke depannya. '' Kau minumlah darahku.!''
''Aa., apa maksudmu., apakah kau., kau sudah jadi gila.?'' sentak Birunaka kibaskan tangannya. ''Minum darahku sekarang juga.!'' bentak Satriyana. entah kenapa pemuda itu merasakan kengerian saat mendengar suara perintah gadis itu, juga sorot matanya yang menakutkan. tanpa sadar dia tertegun kaku.
''Minum darahku.!'' sekali lagi terdengar gadis itu memberi perintah. seakan tersihir Birunaka mendekat lalu mulai menghisap darah yang menetes dari pergelangan tangan gadis itu.
Saat darah Satriyana sudah terserap dalam tubuhnya, pemuda itu merasakan aliran tenaga saktinya meningkat tajam. sisa rasa sakit dan luka dalam yang masih tertinggal seketika hilang. Birunaka tersentak seakan baru menyadari sesuatu. ''Ja., jadi kau inilah keturunan yang terakhir., kau., kau pemilik Darah Keabadian itu.?'' serunya kaget sambil mendorong tubuh Satriyana.
''Memang dia orangnya., sekarang kau sudah mengetahui semuanya. biar kuperjelas., awalnya diantara kami berempat tidak ada keterkaitan satu dengan yang lain. tapi seiring dengan banyak kejadian membuat kami mulai bisa saling memahami dan melindungi.!'' ujar orang berbaju merah tinggi besar agak brewokan. entah sejak kapan Sabarewang muncul di depan pintu kereta kuda dengan sikap mengancam. dia tidak sendirian disampingnya juga berdiri seorang wanita secantik bidadari berjubah gaun hitam, dengan atasan berupa pakaian dalam berbentuk kutang. wanita jelita ini gerakkan kipas peraknya yang menebar bau harum. meskipun bibir indahnya tersenyum tapi malah menyiratkan ancaman maut.
__ADS_1
''Sejak awal bertemu, aku sudah merasa dia gadis yang istimewa, dia juga sudah menjadi adikku. jadi., kalau sampai terjadi apa- apa dengan dirinya..''
'Whuuut., whuuuk., whuut.!'
'Breet., breet., set.!'
''Kau akan menyesal sampai ke neraka.!'' ujar Roro Wulandari sambil melipat kembali kipas peraknya. Birunaka kucurkan keringat dingin. gerakan kipas perak perempuan cantik itu sangat cepat, dia tidak mampu menghindar. bagian depan bajunya sampai robek- robek tersambar angin kipas yang tajam menyayat.
Pemuda itu melirik keluar, di belakang kedua orang itu terpancar hawa membunuh yang sangat menakutkan dari seorang pemuda berbaju putih. meskipun cuma berdiri diam tapi dari sorot matanya seakan dia berkata ''Dia sudah percaya padamu, harap kau jaga kepercayaannya., jika tidak kuhabisi kau.!''
Birunaka berlutut di depan Satriyana, ''Harap putri Satriyana memberikan maaf karena bodoh hingga tidak mengenalimu lebih awal. jika ada perintah harap sampaikan saja, saya akan laksanakan sebaik mungkin. saya juga bersumpah akan menjaga rahasia ini dengan nyawaku.!''
Satriyana mendengus, lalu menerobos keluar, Birunaka terkejut dan coba menahan. ''Tuan putri Satriyana tunggu., tuan putri.!'' serunya panik berusaha menyusul. tapi pedang buntung Sabarewang sudah menahannya.
''Kau tidak perlu cemas., dia cuma perlu waktu untuk menenangkan diri. Nyi Dewi juga sudah menyusulnya. bicara dengan sesama wanita tentu akan lebih nyaman. sebaiknya kau makan saja dulu, kutahu perutmu belum terisi.!'' kata Sabarewang sambil memberi potongan ubi dan ketela rebus pada Birunaka yang masih terkejut mengalami peristiwa di luar dugaan itu.
Satriyana menangis di pelukan Dewi Malam Beracun. wanita cantik ini membelai dan mencium lembut rambut gadis pewaris istana Angsa Emas itu. ''Menangislah sepuasmu., tapi jangan membuat air mata menjadi kelemahanmu. semua akan baik- baik saja, kami semua ada bersamamu.!''
Satriyana mendongak, Roro mengusap air matanya ''Aku sungguh merasa beruntung punya kakak dan sahabat- sahabat yang baik seperti kalian bertiga, terutama kakak Dewi Malam Beracun..''
''Hik., hi., aku juga senang punya adik seperti dirimu. Uuh., panas sekali disini. tubuhku sudah lengket berkeringat.!'' keluh Roro menghapus keringat di dahinya.
''Iya benar., tadi saat kakak Roro memelukku aku sampai mencium bau yang aneh.!''
''Bau aneh., apa maksudmu tubuhku bau keringat begitu.?'' tanya Roro mundur. dia merasa malu. ''Eeh iya kak., kakak Dewi bau asem, sebaiknya kita mandi bareng saja di sungai kecil sana..'' Satriyana mendahului berlari menuju sungai. Roro masih sempat mencium aroma tubuhnya sendiri. ''Iih., tidak kusangka sebau ini, aku mesti mandi bunga. dan minyak wangi.!'' gumamnya menyusul Satriyana.
Dalam sekejab dari salah satu sudut tikungan sungai kecil yang jernih airnya itu, telah terdengar bunyi kecipak air di selingi suara canda dua orang wanita yang sedang mandi. sementara itu agak jauh di salah satu cabang pohon seorang pemuda berbaju putih menyeringai licik melihat tubuh telanjang dua wanita cantik yang mandi di sungai itu.
Respati bukan pemuda baik- baik yang suci, dia juga punya sisi jahat dan jahil. dia tidak berniat mengintip, hanya saat mengambil buah durian liar dari atas salah satu pohon yang tumbuh disana. tanpa sengaja matanya melihat dua tubuh bidadari sedang mandi. ''Ini bukan kesengajaan, jadi bukan salahku., lagi pula orang bilang berdosa jika menolak rejeki yang ada di depan mata..'' gumamnya sembari bersandar di dahan atas pohon. tangannya memegang dua buah durian liar yang harum. sementara matanya menikmati pemandangan indah dua wanita yang telanjang mandi.
__ADS_1