
Lima sosok bayangan manusia itu terus bergerak secepat angin bertiup menerobos kegelapan malam yang dingin. begitu cepatnya mereka berkelabatan hingga sisa rintik air hujan tidak dapat menyentuh pakaiannya. semua itu menandakan tingkat ketinggian ilmu ringan tubuh dari kelima orang itu.
Lebih dari waktu sepeminum teh kemudian salah satu dari dua orang perempuan berbaju dan bercadar kain hitam yang berlari paling depan, sama hentikan gerakannya sambil sebelah tangannya terangkat memberi isyarat pada tiga orang yang mengikuti dibelakang. sepuluh langkah didepan mereka terlihat berdiri sebuah gubuk bambu kecil.
Jika tidak memiliki pandangan mata sangat tajam, orang tidak akan dapat melihat gubuk itu dengan mudah. karena selain suasana gelap dan sepi juga terlindung dibalik semak pepohonan tinggi. dari mulut orang yang berdiri paling depan keluar suara burung hantu dua kali pendek sekali panjang.
Berikutnya dari dalam gubuk yang gelap nampak disulut pelita lampu minyak. cahaya pelita minyak itu menembus celah dinding anyaman bambu dan jendela yang dibuka seseorang dari dalam sana. tanpa bicara apapun kedua orang perempuan yang berdiri paling depan segera berjalan menuju gubuk.
Tiga orang lainnya yang berada dibelakang sesaat saling pandang. dalam hati mereka timbul sedikit kecurigaan. ''Bagaimanapun juga., kalian bertiga para tamu adalah kaum pendekar yang punya nama besar, setidaknya perempuan tukang perintah yang gemar bermalas-malasan di 'Lembah Seruni' itu dimasa lalu juga pernah turut andil dalam meruntuhkan keperkasaan perguruan silat 'Naga Biru' digunung Semeru..''
''Chih., tidak kusangka dia sekarang jadi agak penakut hanya untuk masuk kedalam sebuah gubuk reot. padahal sobat lamanya sudah menunggu disini dengan hidangan gorengan panas, wedang jahe bahkan tuak harum penghangat tubuh.!'' terdengar satu suara merdu namun terkesan sombong dari balik gubuk itu.
Jika dua orang kakek nenek yang hampir sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu- bulu putih kecoklatan mirip monyet itu saling pandang tidak mengerti, gadis muda cantik berjubah putih yang berada didepannya justru terlihat kesal sekaligus geli. ''Hooii Roro., dari dulu kau tidak pernah berubah. selalu saja bicara seenaknya sekalipun untuk menyambut kawan lamamu ini. dasar sialan., kau mesti diberi pelajaran.!''
''Haa., ha., Nyi Puji Seruni sang 'Dewi Seruni Putih' rupanya sedang marah. Iihh., takuutt.!'' ledek suara wanita dari dalam gubuk. ''Kalian cepat masuk saja. nanti hidangan keburu dingin dan malam akan semakin larut. kecuali., jika kalian takut aku memasang perangkap.!''
''Huhm., ingin kulihat sehebat apa sekarang ini dirimu, Nyi Roro Wulandari si 'Dewi Malam Beracun.!'' dengus gadis yang bukan lain Puji Seruni itu. mulut bicara tubuhnya sudah melayang masuk menyusup ke lubang jendela yang terbuka. sebelum jejakkan kakinya dilantai tanah gubuk dia sempat sekali bersalto sambil mencabut kedua pedang 'Walet Emas' dari pinggangnya.
Sekali pandang dia dapat melihat seisi gubuk bambu itu. dua orang anggota persekutuan 'Bulan Perak terlihat berdiri disudut gubuk dekat dengan pintu. dibagian tengah terdapat meja dan empat buah kursi kayu. bermacam hidangan yang masih mengepulkan asap panas tersaji diatas meja persegi itu.
Tidak terlihat orang yang dicarinya, tapi dari sudut belakang gubuk itu terasa sambaran angin tajam yang menyambar pinggangnya. sambil membalikkan tubuh Puji Seruni babatkan pedang Walet Emas. satu membuat gerakan berputar dan membacok kebawah untuk menangkis serangan, satu pedang lagi langsung menusuk ke tiga sasaran.!
Yang menyerangnya adalah juga seorang wanita cantik berjubah gaun hitam. kipas perak ditangannya yang tertangkis pedang berubah dari membabat pinggang lawan jadi berputar melindungi perut dada dan lehernya yang putih. seolah tidak mau kalah telapak tangan kirinya membuat gerakan membacok juga mencengkeram leher disusul dua buah tendangan melingkar yang mengarah iga dan lambung lawannya.
__ADS_1
'Whuuutt, wheeett., shraaatt.!'
'Traaaang., triiiiing., claaaang.!'
Dalam waktu sebentar saja pukul memukul beradu jurus silat dan senjata itu berlangsung hampir lewat sepuluh jurus. dua sosok hitam putih saling libas dengan sengitnya didalam gubuk yang hanya berukuran tiga kali empat tombak saja itu. terakhir kipas perak dan pedang emas kembali beradu kekuatan sampai timbulkan percikan api. dua bayangan hitam dan putih saling terpisah mundur.
Jika Puji Seruni tersurut dua langkah hingga hampir merapat dinding gubuk. wanita yang menyerangnya juga mundur berjumpalitan di udara lalu mendarat tepat diatas salah satu kursi kayu disamping meja. kipas perak yang menutupi parasnya perlahan diturunkan dengan gaya yang anggun. seraut wajah secantik bidadari terlihat tersenyum sinis.
Sebaliknya Puji Seruni juga menyeringai. tapi sekejap saja tubuhnya sudah berkelebat ke depan. tahu- tahu orangnya sudah berada di atas kursi kayu. kini dua orang wanita cantik itu sudah duduk berhadapan saling menatap tajam dengan hanya terpisah oleh sebuah meja kayu persegi.
Setelah berdiam diri dan saling berpandangan mata, kipas perak ditangan kanan wanita berjubah gaun hitam bergerak membabat dan menotok sementara tangan kirinya yang muncul cakar berasap panas kemerahan mencengkeram dan mencabik dengan ganas.
Sepasang pedang pendek ditangan Puji Seruni berkelebatan cepat menikam dan menggunting. cahaya kuning keemasan saling sambar dengan sinar perak dan cakar merah darah. pertarungan sengit antara kedua wanita cantik jelita itu berlanjut sambil duduk diatas kursi kayu.
Ini membuktikan kalau meskipun tingkat tenaga dalam yang mereka keluarkan dalam pertarungan itu cukup hebat, tapi keduanya masih mampu mengendalikan diri dan kekuatan jurusnya agar tidak sampai menghancurkan sajian diatas meja itu. hanya pesilat tingkat atas saja yang mampu untuk melakukannya.
Biarpun adu jurus silat diatas kursi antara mereka hanya berlangsung tidak lebih dari lima jurus tapi itu sudah cukup bagi keduanya untuk saling lebih memahami kemampuan masing- masing. bentrokan jurus silat itu diakhiri dengan kursi yang mereka duduki sama tersurut mundur tiga empat jengkal.
''Dibandingkan saat terakhir kali kita bertemu di lembah tempat tinggalku, aku merasa kalau kemampuanmu sudah jauh meningkat Roro. selain karena berlatih keras pasti dirimu sudah mendapatkan sesuatu yang berharga..'' ujar Puji Seruni sambil sarungkan kembali pedang Walet Emasnya.
Wanita cantik yang memang Roro Wulandari alias si Dewi Malam Beracun itu juga lipat kipas peraknya lalu diselipkan dibalik jubah gaun hitamnya. ''Kaupun lumayan punya kemajuan Puji Seruni. cukup sulit bagiku untuk mengimbangi kecepatan pedang Walet Emas milikmu. sampai aku terpaksa gunakan jurus 'Cakar Tengkorak Darah..'' Roro balik memuji sahabat karibnya.
Kedua sahabat itu lantas saling berpelukan dan tertawa bersama. jika ada orang lain yang melihat, mungkin mereka bakal menganggap kalau keduanya telah bertarung adu jiwa. padahal bagi Roro dan Puji Seruni semua yang mereka lakukan barusan hanyalah latihan biasa saja.
__ADS_1
Bersamaan itu pintu gubuk bambu terbuka. dua orang tua berwajah mirip monyet masuk kedalam dengan pandangan waspada dan curiga. ''Aah., maafkan aku yang terlupa akan kehadiran dua orang tua hebat dari gunung Ciremai. silahkan duduk dikursi itu. mari kita santap hidangan makan malam yang ada ini sebelum menjadi dingin..'' ucap Roro menyapa kedua orang tua yang bukan lain 'Raja dan Ratu Lutung Sakti'.
Kedua ketua perguruan silat Lutung Ciremai itu saling pandang sambil sekilas mengamati seisi gubuk. tapi melihat dua wanita cantik itu sudah mendahului duduk dikursi akhirnya merekapun turut duduk dihadapan meja dengan sikap waspada. melihat tingkah mereka Roro tertawa jahil.
''Hik., Hi., Aaih., jangan tegang begitu. mari kita habiskan dulu hidangan ini baru bicara. masakan anak buahku sangat enak lho. dan jangan khawatir kuberi racun..'' ujarnya sambil mendahului menyantap pisang serta buah sukun goreng. tidak lupa dia juga menenggak tuak dari kendi. berikutnya nasi dan ikan lele bakar berikut sambalnya yang pedas turut diganyangnya.
Puji Seruni jelas tidak mau kalah. sekali sambar mulutnya sudah dipenuhi dua paha ayam goreng. melihat kedua wanita itu sudah hampir menghabiskan separuh isi hidangan lezat diatas meja, Raja Ratu Lutung Sakti buang rasa malunya. malah cara mereka menyantap makanan terlihat lebih rakus dari siapapun.
Dengan adanya keempat orang itu, sebentar saja semua yang tersaji dimeja sudah ludes masuk kedalam perut. kedua anggota persekutuan Bulan Perak yang berdiri disudut gubuk hanya bisa menghela nafas. mereka berdualah yang sebelumnya menyiapkan semua hidangan itu.
Tetapi kini., sedikitpun tidak ada yang tersisa untuk mereka makan. dengan mengeluh dalam hati merekapun membereskan meja itu. sekejap kemudian meja itupun sudah kembali bersih. Puji Seruni dan Raja Ratu Lutung sempat memuji kelezatan masakan mereka.
''Kau., pergilah berjaga diluar. awasi benar daerah sekeliling gubuk. dalam jarak seratus langkah tidak boleh ada yang mendekat.!'' perintah Roro pada salah satu anak buahnya yang masih muda. setelah menjura hormat diapun keluar dari gubuk itu. dengan satu isyarat Roro memanggil bawahannya yang bernama Nyi Sapta Kenanga atau si 'Tujuh Bunga Terbang'.
Perempuan setengah tua itu mengangguk. dari balik dinding gubuk bambu sebelah kiri yang paling jauh dari pintu dia mengeluarkan sebuah buntelan kain. rupanya dinding dari anyaman bambu itu rangkap dua, sehingga ada rongga ruangan rahasia di antara kedua dinding bambu ini.
Buntelan kain yang masih sedikit kotor berlepotan tanah itu diserahkan kepada pimpinannya. dengan isyarat pula Roro meminta Nyi Sapta Kenanga untuk berjaga diluar pintu gubuk. pimpinan persekutuan Bulan Perak itu memandangi buntelan kain yang dia letakkan di tengah meja. senyuman licik tersungging dibibir merahnya.
Saat tangannya membuka buntelan kain itu Raja dan Ratu Lutung Sakti sama keluarkan suara tercekat. di atas meja itu ada sebuah kotak persegi terbuat dari kayu cendana hitam. bentuk kotak kayu itu sama persis dengan yang telah diambil oleh Nyi 'Balung Geni' dan 'Pendekar Pedang Lali Jiwo.!'
*****
Jika dibawah ada tulisan, author sedang berusaha menulis., itu bohong, tipu, mbujuki, ngapusi. ðŸ¤ðŸ˜… karena mungkin saja sekarang authornya lagi makan atau tidur bermalas- malasan. 😪🥱🙄.
__ADS_1