
Tidak ada seorangpun disana yang tahu kenapa senjata pusaka bernama 'Kipas Darah Bulan Mentari' yang berada di tangan Roro Wulandari si 'Dewi Malam Beracun' dapat mengeluarkan cahaya gaib seperti itu, bahkan sampai menyelubungi ke pangkal lengannya. meskipun demikian semua orang maklum akan kesaktian senjata milik partai persilatan 'Kipas Sangkala' itu.
Maka saat kipas merah darah mengibas ke depan jalur sinar merah, perak dan kuning emas yang terkembang laksana kipas berapi menyambar keudara, hawa panas menerjang bagaikan gelombang topan neraka. anehnya terdengar sayup suara tangisan bercampur tawa menyeramkan yang mengiringinya.!
'Whuuuusss., whuuuusss!'
'Shaaaaatt., blaaaamm., blaaaaamm.!'
Bentrokan tiga ilmu kesaktian yang bertemu diudara kembali menggoncang pedataran lembah tempat pertarungan besar itu terjadi. tidak dapat terlihat apapun didepan sana kecuali gulungan angin panas berwarna merah darah yang menyengat tubuh dan melabrak apapun benda didepannya.
Puluhan sosok mayat baik dari pihak 'Istana Angsa Emas' maupun kelompok 13 Pembunuh yang bergelimpangan diatas tanah dan berada dekat dengan tempat pertarungan turut tersapu mental sampai akhirnya berjatuhan menjadi onggokan mayat hancur gosong, nyaris tidak berbentuk.
Suara jeritan ngeri si 'Iblis Tangan Biru' yang pertama kali terdengar dari balik gulungan badai merah disusul teriakan parau dari mulut 'Sukma Tertawa'. tubuh kedua orang ini bermentalan keluar dari kurungan badai panas yang melanda lembah hingga jarak lebih sepuluh langkah jauhnya.
Begitu tiba ditanah keduanya seolah sudah tidak mampu berdiri lagi. tubuh gemetaran jatuh berlutut lalu muntah darah. padahal tingkat ilmu kesaktian mereka bukanlah sembarangan. selain punya nama besar kedua orang ini juga kenyang pengalaman dalam pertarungan adu jiwa. tapi sekarang didepan seorang wanita cantik bekas pembunuh nomor dua belas, semua kepandaian mereka menjadi tidak berguna.
Di penjuru lainnya Roro Wulandari masih bisa berdiri meskipun dengan dengan tubuh agak terhuyung. cahaya kipas sakti ditangan kirinya ikut meredup. nafas wanita secantik bidadari itu terdengar memburu. jubah gaun hitamnya robek- robek hingga kulit tubuhnya yang putih mulus dan terluka berdarah terlihat dibeberapa tempat.
__ADS_1
Dalam pertarungan yang cukup singkat namun mengunakan ilmu kesaktian tingkat tinggi itu, Dewi Malam Beracun memang mampu mempecundangi kedua lawannya, tapi disisi lain sebenarnya dia juga terluka dalam karena jurus gaib yang mendadak muncul dari Kipas Darah Bulan Mentari membutuhkan sebagian darahnya sebagai pembangkit kekuatan gaib yang telah lama tertidur dalam kipas sakti itu.
Sebagai murid mendiang 'Nenek Tabib Selaksa Racun' yang bukan saja sangat ahli dalam ilmu pengobatan dan sihir, tentunya Roro sedikit banyak memahami bagaimana caranya untuk dapat membangkitkan sekaligus mengenali kekuatan dari senjata barunya. atau mungkin juga dia memang berjodoh dengan kipas itu.
Karena dengan melukai telapak tangan kirinya sendiri dan membiarkan darahnya terhisap kipas, membuat kekuatan yang lama tertidur serta haus darah itupun bukan saja bangun, malah memberikan petunjuk jurus pertama dari ilmu sakti dari perguruan 'Kipas Sangkala' yang dinamai jurus 'Bulan Berkabung Mentari Meredup.!'
Hanya saja., Roro tidak pernah menyangka jika darah yang dia korbankan sebagai syaratnya harus begitu banyak tersedot. wajah cantiknya kini kuyu dan memucat. meski tubuhnya terasa lemah tapi dia mesti dapat bertahan untuk tetap bisa berdiri dan tersenyum penuh kesombongan, karena hanya dengan begitu lawan tidak akan mengira kalau dia sedang berada garis batas pertahanan tubuhnya.
Kejadian tumbangnya dua anggota kelompok 13 Pembunuh itu ditangan Dewi Malam Beracun membuat suasana semakin gempar. sang ketua yang sedang bertarung dengan si 'Maling Nyawa' bahkan sampai tidak sadar menahan pukulan saktinya untuk menghabisi nyawa bekas anak buahnya itu sehingga pencuri sakti yang sudah terdesak hebat inipun masih dapat selamat meskipun harus terluka dalam.
Respati yang khawatir dengan keadaan gurunya dan hendak menghampiri terpaksa harus menahan diri karena bersamaan salah satu anggota 13 Pembunuh yang berjuluk 'Momok Jelaga Hitam' berniat menyerang Dewi Malam Beracun secara licik dengan pukulan sakti 'Jelaga Hitam Pembungkus Nyawa.!'
''Jangan lengah Roro., awas serangan gelap dari belakangmu.!'' seru Respati memberi peringatan pada sepupunya. bukan cuma berteriak saja, pemuda itu juga lepaskan ilmu kesaktian 'Kobra Penggerogot Mayat' untuk menghadang ilmu kesaktian nenek tua jahat dari tanah Andalas itu.
Roro Wulandari bukannya tidak sadar dengan ancaman maut yang datang, tapi dia tidak mampu berbuat banyak. karena untuk tetap bisa berdiri saja dia mesti kerahkan sisa tenaganya. saat dua ajian yang saling hantam dibelakang tubuhnya beradu kekuatan, tubuh wanita itupun turut terhempas bergulingan.
Saat tubuh langsingnya bergulingan ujung mata perempuan itu masih sempat melihat sosok I Gede Kalacandra atau si 'Dewa Serba Putih' yang terkapar tanpa daya dengan sekujur tubuh dan jubah putihnya menghitam, entah dia masih hidup atau telah mati. rupanya Momok Jelaga Hitam yang menjadi lawannya sudah mampu menyingkirkannya. pantas saja nenek jahat itu dapat menyerangnya diam- diam.
__ADS_1
Sementara itu telinganya juga mendengar raungan kemurkaan yang tersembur dari mulut si nomor satu. orang tinggi besar berjubah kuning itu dalam sekejap mata sudah berada dibelakang tubuh Sukma Tertawa dan Iblis Tangan Biru. kedua tangannya bergerak mengibas kirimkan totokan sinar- sinar berkabut keemasan yang seketika merasuki tubuh kedua anak buahnya itu.
Mereka seakan tersengat sambaran petir hingga tubuh keduanya bergetar keras dengan rambut berjingkrak kaku dan mata melotot seolah hendak keluar rongganya. dari mulut tersembur suara raungan keras disertai asap kuning. sekali lagi tangan sang ketua alias 'Tuan Sesepuh Istana Utara' itu menggebut lalu bersedekap didepan dada.
''Habisi semua musuh. aku harus dapatkan si pemilik 'Darah Keabadian' secepatnya.!'' seru ketua 13 Pembunuh pada semua anak buahnya. ''Tenaga dan luka kalian berdua sudah kupulihkan, sekarang bunuh perempuan keparat itu juga pemuda jahanam yang jadi kekasihnya.!'' perintahnya pada Iblis Tangan Biru dan Sukma Tertawa.
''Terima kasih ketua..'' jawan Sukma Tertawa. ''Semua keinginanmu adalah perintah wajaib bagi kami..'' tambah rekannya. sekali tangan mereka bergerak memghantam, dua pukulan sakti sudah melabrak Roro Wulandari dan Respati yang baru mengatur pernafasannya setelah saling labrak dengan Momok Jelaga Hitam.
Sementara itu Momok Jelaga Hitam juga tidak mau diam. sambil mengekeh tokoh silat jahat dari tanah seberang itu turut menyerang dengan ilmu kesaktiannya yang berkabut hitam pekat. tiga kekuatan hebat mengancam nyawa Dewi Malam Beracun dan Ular Sakti Berpedang Iblis.!
Respati angkat pedang Iblis Hitamnya keatas kepala. dengan mata terpejam dan bibir bergetar merapal sebaris mantra. sebuah bayangan hitam pekat berwujud dua ular kobra raksasa muncul dari balik punggungnya. hawa kabut hitam yang dangat panas berbau amis menyebar. itulah ilmu 'Sepasang Kobra Inti Neraka.!'
Roro Wulandari yang terhempas jatuh ketanah mendadak juga diselimuti kabut dan bersinar kemerahan. tubuhnya seakan terangkat lantas berdiri sejengkal diatas tanah. sepasang mata indah yang biasanya menatap bening penuh dengan daya tarik kini terlihat dibasahi air mata bercampur darah.
Rambut hitamnya yang panjang sepinggul juga bersemu kemerahan dengan wajah pucat menyeramkan. suara tangis memilukan hati terdengar dari mulutnya. kipas ditangan kirinya kembali terkembang diselimuti cahaya berkilau. sebaris tulisan hitam timbul diatas kipas itu. disana tertulis jurus kedua., 'Bulan Mentari Berkabut Air Mata Darah.!'
Rupanya darah Dewi Malam Beracun yang begitu banyak terhisap senjata pusaka milik partai silat 'Kipas Sangkala' itu tidak sia- sia. ikatan jiwa antara Roro dengan Kipas Darah Bulan Mentari sudah terjalin. kekuatan gaib kipas sakti yang bangkit dari tidur panjang itu sudah menentukan pemiliknya.
__ADS_1