
Dua orang pengintai itu saling pandang, lantas tertawa lirih membayangkan pikiran kotor yang muncul didalam otaknya.
''Kalau kalian mengiinginkan wanita cantik
itu, kenapa hanya diam disini,? ingat jangan sia- siakan rejeki yang sudah berada didepan mata.,!''
Bagaikan baru mendengar suara hantu gentayangan, kedua orang pengintai ini terkejut bukan kepalang, bersamaan mereka membalikan tubuh sekalian mencabut golok dari pinggangnya. ''Siapa yang bicara.?'' gertak orang yang disebelah kiri, meski wajahnya belum jelas kelihatan, tapi punggung orang ini rada bungkuk.
Kawannya yang bertubuh lebih besar memandang sekeliling, tidak nampak apapun kecuali kegelapan malam.
''Kurang ajar,! keluarlah kalau berani., jangan main sembunyi macam siput.!''
Si bungkuk mengumpat, ''Jangan berteriak bodoh,! nanti Si Ular Sakti dan yang lainnya bisa mendengarnya.!'' Orang ini tidak sadar kalau tadi dia juga sudah berteriak cukup kencang.
''Sudahlah, lewat tengah malam begini malah bikin ribut di hutan ini. katakan siapa kalian berdua dan mau apa,? satu lagi, tadi kau bilang akan melapor pada seseorang, sekarang jawab siapa orang itu.!''
Hanya berjarak sepuluh langkah didepan mereka, entah sejak kapan sudah muncul seorang pemuda, cahaya sinar bulan yang menembus celah pepohonan menerangi bajunya yang putih, selembar ikat kepala kulit ular hitam melilit kening dan rambutnya yang hitam gondrong.
''Ular Sakti Berpedang Iblis.!'' kedua orang itu berseru tertahan. tanpa sadar mereka mundur beberapa langkah, dalam hatinya kedua orang ini merasa bingung, sejak kapan si pemuda keluar dari dalam kereta kuda itu sementara sedari tadi mereka tidak pernah luput mengawasinya.!
__ADS_1
Pemuda berbaju putih yang memang Respati adanya itu melangkah maju, raut mukanya sangat dingin, sepasang matanya menatap tajam kedua orang didepannya layaknya seekor ular berbisa yang siap menyerang mangsanya. ''Malam ini aku belum sempat tidur, tubuhku letih ingin istirahat, tapi kalian berdua malah datang mengacau., sebaiknya kalian langsung kuhabisi atau bagaimana.?''
Kedua pengintai ini mulai gemetaran, mereka sadar sedang berhadapan dengan siapa saat ini.
Tanpa bersepakat terlebih dahulu kedua orang ini cepat balikkan badannya lalu kabur, anehnya Respati seakan tidak berniat mengejarnya, meski agak curiga tapi kedua orang ini terus menggenjot larinya. dalam sekejab saja.mereka sudah mampu menjauh belasan tombak, rupanya ilmu meringankan tubuh kedua orang ini lumayan juga. mereka bersorak dalam hati karena sebentar lagi akan berhasil kabur.
''Habisi satu sisakan satu.!''
Suara itu entah ditujukan pada siapa, tapi yang jelas satu sosok tinggi kekar berpedang buntung tiba- tiba saja sudah menghadang jalan mereka.
Tanpa menghentikan laju larinya, kedua orang ini langsung menyerang orang didepannya, karena bagi mereka jauh lebih baik menghadapi orang yang tidak dikenal dari pada bertaruh nyawa melawan Ular Sakti Berpedang Iblis, si nomor tiga belas dari Kelompok 13 Pembunuh itu.!
Si tinggi besar babatkan golok besarnya dengan ganas, yang diserang bagian pinggang dan perut lawan, tenaga orang ini cukup kuat, angin serangan goloknya menderu tajam. rekannya si punggung bungkuk berkelebat cepat diantara celah dahan pepohonan, dia bermaksud memanfaatkan kegelapan malam dan langsung membacok dari atas udara. yang diincar kepala, leher sekaligus pundak lawan. Dilihat dari ilmu meringankan tubuh dan jurus serangannya mungkin orang ini pernah mempelajari ilmu golok 'Lutung Terbang' yang berasal dari perguruan silat 'Lutung Ciremai' yang cukup ternama di daerah jawa barat,!'
Orang tinggi kekar berpedang buntung yang bukan lain adalah Sabarewang itu cepat miringkan tubuh sambil putar pedangnya lalu menusuk kelima arah, ini adalah jurus bertahan sekaligus balas menyerang.
'Traang., trang.!' suara bentrokan senjata tajam terdengar berulang kali, ketiganya terpisah mental, tapi sekejab kemudian sudah kembali saling tikam dan bacok dengan sengitnya. dalam waktu singkat lebih dari sepuluh jurus sudah terlewati.
Sabarewang mulai naik darah, lawan terus menyerangnya tanpa ampun, golok besar dan berat ditangan si tinggi besar berpadu dengan golok tipis melengkung yang ringan milik si punggung bungkuk, kerjasama kedua orang ini benar- benar merepotkan Sabarewang. kali ini pedang buntungnya diputar bersilangan didepan dada guna melindungi tubuh dari babatan dua golok lawannya. meski mampu selamat tapi tendangan kaki si tinggi besar ke pinggang kirinya yang masih belum sembuh benar membuatnya terjungkal,!'
__ADS_1
Dengan gulingkan tubuh Sabarewang berhasil selamatkan dirinya dari bacokan golok tipis si punggung bungkuk, dari bawah orang ini balas menyerang balik, pedang buntungnya membabat kaki si bungkuk lalu membalik punggung sekaligus menusuk selakangan si tinggi besar. karuan kedua orang ini kalang kabut menghindar, meskipun mampu lolos tapi betis dan paha mereka sempat juga tergores.
'Wuut., wut, craas.,!'
-'Setan alas., Keparat sial.!'' Kedua orang ini merutuk marah. si punggung bungkuk dan rekannya sungguh tidak menyangka kalau lawan yang sudah kepepet malah mampu berbalik menyerang dan melukai mereka.
Sabarewang menatap tajam si punggung bungkuk, pedang buntungnya menuding orang itu tepat- tepat.,
''Aku pernah mendengar cerita ada seorang murid perguruan Lutung Ciremai yang dikeluarkan dari perguruannya dan menjadi buronan, karena dia telah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan kepada seorang murid perempuan yang ada disana.,''
''Bertahun- tahun anak murid perguruan itu memburu orang ini tapi selalu gagal untuk membekuknya. bukan sebab kalah ilmu, tapi karena si murid murtad ini pandai juga menyamar., 'Hei kau., Buang saja gumpalan kapuk yang mengganjal punggungmu, berhentilah berpura- pura menjadi orang bungkuk.,!'' gertak Sabarewang kereng.
Orang berpunggung bungkuk terjingkat seperti baru disengat lebah, tanpa sadar dia menyurut mundur, tapi kemudian bibir tipisnya menyeringai licik, tubuhnya yang tadinya bungkuk kini menegak. tangan kirinya melemparkan gumpalan kapuk yang ada dibalik punggungnya, juga mengelupas kulit bopeng palsu dari pipi kirinya. dibawah cahaya bulan bintang dilangit, kelihatan kalau orang ini masih cukup muda dan lumayan tampan. ''Hek., he, he., rupanya matamu tajam juga, mungkin itu bisa lebih melapangkan jalanmu menuju liang kubur.,!''
Diakhir ucapannya orang ini langsung melesat maju sambil memutar golok lengkungnya, Sabarewang tak mau kalah, tubuhnya mencelat ke udara, dari atas dia memutar cepat tubuh dan pedangnya seperti gasing, lalu meluncur deras kebawah sambil menikam langsung lawannya, bekas anggota kelompok pengawalan barang Garuda Merah ini telah melancarkan jurus' Pusaran Petir Tunggal,!' meskipun kehebatannya masih dibawah jurus Lima Sambaran Petir Maut, atau Bintang Langit Terpecah, namun jurus ini juga cukup mematikan.
Golok lengkung bertemu pedang buntung, golok membabat pedang menikam, tidak terdengar benturan senjata, yang ada cuma suara jeritan parau disertai semburan darah segar dari leher yang tertembus pedang.!
Pedang buntung masih menancap miring di leher orang itu, golok lengkungnya meskipun sempat membabat lengan bahu kanan lawan tapi akhirnya tetap terjatuh ke tanah bersama tubuh pemiliknya.
__ADS_1