13 Pembunuh

13 Pembunuh
Si pincang menipu si pemalas.


__ADS_3

Sang pimpinan dari 'Kelompok 13 Pembunuh' itu menggembor keras. sambil sedikit membungkuk, orang tinggi besar itu kibaskan kedua tangannya seperti seekor angsa sedang mengepak hendak terbang ke langit. saat dia menghantam, udara seolah robek oleh dua cahaya kuning emas berbentuk sayap angsa raksasa.


Hawa panas seakan membakar apapun yang dilaluinya. beberapa orang pesilat baik dari aliran putih maupun hitam seketika menjerit ngeri saat tubuh mereka terpotong hangus sebab turut terlibas ilmu kesaktian 'Kepakan Sayap Emas Pemusnah Jiwa' yang daya kekuatannya berkali lipat lebih hebat dari sebelumnya.!


Bahkan dari cahayanya yang amat panas dan menyilaukan saja sudah dapat membuat mata seseorang menjadi buta. semua ini menandakan kalau pimpinan para pembunuh bayaran berhati iblis ini sudah bertekad untuk membunuh Pranacitra secepat mungkin. murid lima dedengkot aliran hitam dari 'Lembah Seribu Racun' ini jelas tidak hanya tinggal diam.


Dengan sedikit menekuk lutut dan pinggang sepasang telapak tangannya yang terbuka dibalik ke atas setengah menengadah. sekali dia bergerak menghantam melesat sepasang cahaya hitam merah berbentuk telapak tangan yang menebar hawa panas, ilmu pukulan 'Sepasang Telapak Mengemis Nyawa' langsung menggebrak dahsyat untuk menghadang ilmu kesaktian lawannya.!


'Whuuuss., wheeesss., slaass.!'


'Blaaaamm., blaaarr.!'


''Aaaakh., 'uaagh.!''


Akibat beradunya ilmu kesaktian tingkat tinggi yang baru terjadi membuat keadaan menjadi semakin kacau. banyak orang persilatan yang menjadi korban sasaran ledakan kekuatan sakti itu. tanpa menunggu lama ketua 13 Pembunuh berkelebat ke depan sambil hantamkan dua ilmu pukulan sekaligus yang pastinya disambut juga dengan balasan ilmu kedigjayaan dari si pincang.


Tidak ada lagi yang mampu melihat jelas mana Pranacitra ataupun pimpinan 13 Pembunuh, karena yang nampak hanya kelebatan bayangan hitam dan kuning yang saling libas. semua orang seketika mundur menjauh jika tidak ingin menjadi sasaran angin pukulan yang melabrak terpecah ke delapan penjuru. setelah melihat sang ketua turun tangan, semua anak buahnyapun turut kembali terbangkit nafsu membunuhnya.

__ADS_1


Pertarungan besarpun kembali terjadi dengan sengitnya. walaupun jelas kalah jumlah tapi dikarenakan si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' telah berhasil membantai hampir separuh dari jumlah pasukan 'Mayat Hidup' bugil yang terkenal kebal terhadap apapun, tekanan bagi para pesilat aliran putih menjadi banyak berkurang.


Sebenarnya bukan pihak 13 Pembunuh dan kaum persilatan golongan hitam saja yang merasa terperanjat karena pasukan dua puluh empat Mayat Hidup yang mereka andalkan dapat dilenyapkan satu persatu, namun orang Istana Angsa Emas dan pesilat aliran putih juga tidak menyangkanya. dalam hati mereka sama bertanya kenapa Ular Sakti Berpedang Iblis sampai mampu melakukannya.


Seperti yang diketahui sebelumnya, pasukan mayat hidup telanjang itu dapat dibangkitkan oleh mantra sihir dari ilmu 'Angonan Mayit Sewu' dan 'Darah Keabadian' yang mengalir dalam tubuh Satriyana, sehingga bukan saja menjadi sangat kuat tapi juga kebal pada apapun termasuk cahaya mentari yang bisa membakar habis pasukan mayat hidup sebelumnya.


Namun Respati alias si Ular Sakti Berpedang Iblis secara tanpa sengaja telah mendapatkan 'Darah Keabadian' yang paling murni dalam tubuh Satriyana saat keduanya mendekam di dalam ruangan penjara dan dipaksa oleh ketua 13 Pembunuh untuk meminum racun panas dingin yang dapat merangsang gejolak nafsu syahwat, hanya saja, gadis itu mesti mengorbankan kesucian dirinya demi untuk menyelamatkan si pemuda.


Karena itulah kekuatan Respati tidak saja meningkat tajam namun mampu menerobos tingkatan tertinggi dari ilmu yang terkandung dalam kitab pusaka 'Kobra Iblis'. pendek kata, biarpun sama- sama menggunakan Darah Keabadian sebagai jalan untuk meningkatkan ilmu kedigjayaan tetapi tingkatan kesaktian darah keabadiannya berbeda.


Darah kesucian seorang wanita biasa saja sudah tidak dapat dinilai oleh apapun. apalagi seorang gadis yang menjadi keturunan langsung dari Istana Angsa Emas. mungkin inilah yang disebut sebagai rejeki dibalik malapetaka. kalau saja ketua 13 Pembunuh tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin dia akan mengutuk kecerobohannya sendiri tujuh turunan.


Dari dalam tubuh pemuda aneh yang juga majikan dari sebuah wilayah terlarang didunia persilatan bernama 'Kota Hantu Pagi' itu terlihat bergetaran, seakan hendak tersembur keluar gelombang hawa kesaktian yang dipenuhi hawa membunuh. dua orang gadis cantik yang selalu setia mendampinginya perlahan menjauh. mereka tahu pimpinan mereka sedang berusaha untuk meredam amukan tenaga saktinya yang hampir selalu haus akan darah pertarungan.


''Nona Camar Anggun., jika aku turun kesana, berapa lama waktu yang kupunyai.?'' tanya tuan si muda pemalas. gadis jelita yang bertubuh sedikit lebih tinggi merasa ragu sesaat sebelum memeriksa buku catatannya. ''Kalau tuan muda hendak turun ke bawah dan harus bertarung, mungkin kau cuma bisa mengendalikan dirimu sampai waktu tiga ratusan tarikan nafas saja..''


''Kalau boleh kunasihatkan, sebaiknya tuan muda pikirkan kembali. atau setidaknya ijinkan kami berdua mendampingimu di bawah sana agar dapat mengingatkan keadaanmu..'' jawab Camar Anggun. ''Benar tuan muda. tapi kurasa lebih baik urungkan saja niatmu untuk ke bawah. aku sangat khawatir terjadi sesuatu dengan dirimu..'' bujuk gadis satunya yang bernama 'Pipit Lincah'.

__ADS_1


Tuan muda pemalas mengangguk mantap. ''Tiga ratus tarikan nafas kurasa sudah cukup. kalian berdua tidak perlu khawatir. aku cuma ingin memastikan apakah benar benda yang kita cari berada di tangan ketua Kelompok 13 Pembunuh. lagi pula sepertinya si pincang sialan itu sudah terdesak oleh lawan..''


''Ini sangat aneh, tidak mungkin hanya dalam beberapa gebrakan saja dia sudah terluka dalam. apakah manusia setan bertopeng tengkorak itu memang punya ilmu kesaktian yang begitu tinggi.?'' gumam si pemuda pemalas itu perlahan berdiri dari kursinya. jubah putih bersih yang menutupi tubuhnya terlihat mengembang berkibaran. sepintas pandangan pemuda ini seolah telah menjadi utusan dewa yang baru turun dari atas langit.


Selapis cahaya putih keperakan menyelimuti seluruh tubuhnya. suara berkerotokan disertai ledakan- ledakan kecil terdengar dari dalam diri orang ini, pertanda kekuatan saktinya tengah kembali mengaliri seluruh tubuh serta jalan darahnya. udara sekitar puncak bukit turut berpusaran keras mengelilingi si tuan muda. bebatuan terangkat naik sebelum akhirnya meledak pecah diudara.


Beberapa kali kilatan cahaya petir menyambar diatas langit pagi seakan ikut menyambut bangkitnya sebuah kekuatan sakti yang lama terpendam. walaupun bukan pertama kalinya Camar Anggun dan Pipit Lincah melihat keadaan ini tapi mereka berdua masih saja merasa ngeri hingga mundur lebih jauh.


''Kalian berdua tetap berada disini. kecuali ada kejadian yang diluar dugaan, jangan pernah turun kesana.!'' belum sempat kedua orang gadis cantik itu menjawab, tubuh majikan Kota Hantu Pagi sudah melesat turun ke bawah bukit. gerakannya sepintas sangat lamban namun hanya dalam sekejap saja sudah berada diatas kalangan pertarungan antara si pincang Pranacitra dengan ketua 13 Pembunuh.


''Kau minta bantuanku., tidak kusangka dirimu begitu lemahnya hingga sebentar saja sudah terluka dalam. Huhm., memalukan.!'' damprat si pemalas yang masih melayang di udara. dalam jarak tiga tombak diatas sana dia lepaskan sebuah ilmu pukulan sakti yang menebar cahaya putih keperakan di sertai gulungan hawa panas dingin silih berganti. tenaga kesaktian yang terlontar ke bawah seketika mampu memecah kedua orang yang sedang bertarung sengit.


''Jahanam dari mana yang berani ikut campur urusanku.?'' hardik ketua 13 Pembunuh gusar. saat itu dia sudah merasa diatas angin dan yakin bakal mampu membunuh si pincang dalam sepuluh jurus ke depan. ''Haa., ha., aku cuma numpang lewat dan ingin bertanya sesuatu padamu. kebetulan saja pincang sialan ini memintaku untuk datang lebih cepat..'' jawab tuan muda pemalas sambil jejakkan kakinya dengan ringan nyaris tanpa suara.


''Seberapa parah luka dalammu.?'' tanya si pemalas melirik Pranacitra. yang ditanya cuma nyengir dan menguap. ''Kapan aku pernah bilang sedang luka dalam. jika tidak berpura- pura terdesak dan terluka, lantas kapan lagi kau akan ikut turun kemari..'' jawab Pranacitra enteng. sebaliknya air muka majikan Kota Hantu Pagi seketika jadi mengkelam setelah sadar kalau dia telah tertipu.


........................

__ADS_1


Silahkan tuliskan komentar Anda. Terima kasih😊🙏.


__ADS_2