
Saat tiga tongkat bambu menggebuk dan ajal sudah di depan matanya, Pengemis Watu Item berteriak ketakutan minta ampun, tapi yang keluar dari mulutnya cuma suara tercekat disertai semburan darah. dia seakan teringat semua perbuatannya di masa lalu. hanya gara- gara menginginkan ramuan obat yang dapat meningkatkan tenaga saktinya milik wakil perkumpulan pengemis Sembilan Tambalan, dia menjadi gelap mata dan tanpa sengaja membunuh sang wakil sekaligus tabib perkumpulannya saat dia terpergok mencuri ramuan itu.
Sialnya ramuan obat itu ternyata belum sempurna, sehingga tidak banyak membantu peningkatan tenaga dalam dan kesaktian ajian Watu Item yang menjadi andalannya.
''Sialan., habislah sudah..'' rutuk Ki Manggal. justru di saat itulah dari satu arah melesat empat bayangan benda aneh ke arahnya. tiga diantaranya menyambar punggung tiga pengemis muda yang hendak menghabisi Ki Manggal. hebatnya begitu tiga benda yang belum jelas wujudnya itu menembus punggung sasarannya, tubuh ketiga orang pengemis itu langsung kaku tak ubahnya balok kayu, lalu roboh mendelik mati dengan tubuh mengeras seperti patung batu.!
Benda kedua seperti dua buah benang tali berwarna kuning keemasan. dua benang itu melesat rendah menyusur tanah lalu dengan cepat menggulung tubuh Ki Manggal yang sudah hampir putus nyawanya, sekaligus menariknya hingga menjauh mundur ke luar gelanggang pertarungan.
Kedua kejadian ini berlangsung sangat cepat dan hampir bersamaan waktunya. baik Pengemis Sapu jagad maupun rekannya si Pengemis Penceng sama terkesiap kaget sampai terlambat bertindak. mereka baru sadar ketika mayat kaku tiga anak buahnya roboh dengan suara berdebum keras saat menghantam tanah. bersama dengan nenek Pengemis Sapu Jagad mereka berkelebat mendekat. wajah keduanya pucat melihat tiga buah senjata rahasia berbentuk pasak dari batu yang menancap rata di punggung anak buahnya. anehnya darah sedikitpun tidak sampai tersembur keluar, melainkan mengumpal keras seperti tanah liat..!
''Pasak Mayat Membatu'., ini senjata maut milik si 'Datuk Tinggi Mayat Besi..!'' seru Pengemis Penceng kaget mengenali senjata yang telah menghabisi tiga anak buahnya.
''Orang nomor tujuh dari kelompok 13 Pembunuh ada di sini..?'' desis Pengemis Sapu Jagad. tanpa sadar kedua orang ini menjadi geger dan memandang sekeliling tempat itu.
Dari kabar yang pernah mereka dengar, senjata rahasia bernama Pasak Mayat Membatu itu sangat ganas. siapapun yang terkena senjata pasak yang terbuat dari batu hitam itu bakal langsung mengeras darah dan dagingnya..!
''Hak., haa., ha., sungguh bagus jika kalian berdua kenal diriku. tapi yang hadir disini bukan saja aku, tapi masih ada sobatku yang cantik ini., sang Putri Penjerat, alias si Laba- Laba Kuning, nomor empat dalam kelompok 13 Pembunuh..!''
Serentak keduanya menoleh ke satu arah. belasan langkah di depan sana telah muncul segerombolan manusia. dua orang yang paling depan adalah seorang tua kurus bertubuh tinggi jangkung menjulang seperti sebuah galah, berjubah dan berambut hitam panjang, dia memakai sebuah topi tinggi berwarna merah di kepalanya. kumis dan janggut panjang menghiasi wajahnya yang dingin seram.
__ADS_1
Dari dandanan dan logat bicaranya orang ini berasal dari tanah seberang. dia memang seorang tokoh silat jahat dari daerah Minang pulau andalas.yang di kenal dengan julukan 'Datuk Tinggi Mayat Besi.!' si nomor tujuh dalam 13 Pembunuh.
Dulunya manusia tinggi ini adalah seorang sakti yang terpandang di daerahnya. tapi karena sombong serta sering berbuat kejahatan membuat dia punya banyak musuh hingga akhirnya terdesak dan kabur ke tanah jawa, lalu bergabung dengan kelompok 13 Pembunuh.
Di samping kirinya berdiri sesosok tubuh pendek perempuan cantik bercadar tipis warna kuning. pakaian ringkasnya yang terbuat dari sutra kuning dipenuhi gulungan benang besi keemasan. sebuah jaring mirip sarang laba- laba melilit leher dan bagian dadanya yang kecil namun kencang. seekor laba- laba besar bermata merah mendekam di bahu kanannya. sedang di bahu kiri perempuan bertubuh kecil ini memanggul sesosok tubuh Ki Manggal yang penuh luka dan tergulung benang besi kuning.
Meskipun berbadan kecil dan rada pendek, wanita cantik bercadar kain kuning tembus pandang itu tidak terlihat kesulitan memanggul tubuh Ki Manggal pertanda dia punya kekuatan hebat. dibelakang kedua orang ini talah bersiap belasan orang bercaping dan berbaju seragam hijau. muka mereka semua tertutup topeng tengkorak putih dan membekal sebilah tombak pendek.
''Sang Putri Penjerat alias si Laba- Laba Kuning. benar dialah si nomor empat..!''
''Ki Manggal sudah terjatuh di tangannya., kita harus cepat merebutnya kembali..!'' kedua ketua cabang perkumpulan pengemis Sembilan Tambalan itu saling lirik berbisik. kejab berikutnya keduanya langsung menyerbu kedepan. Pengemis Penceng langsung hantamkan dua kepalan tangannya bersamaan dengan tumbukan kepalanya. tiga gulung angin tenaga dan uap putih melabarak.
Tidak mau kalah dengan rekannya, ketua cabang kidul Nyi Pulungan si Pengemis Sapu Jagad juga babatkan tongkat sapunya hingga menimbulkan gelombang angin kencang dan titik- titk embun putih berhawa dingin membekukan tulang. saat sapunya dihantamkan gelombang tenaga dahsyat langsung menghantam Datuk Tinggi Mayat Besi. rupanya Nyi Pulungan ingin secepatnya merobohkan lawannya hingga sampai menyerang dengan jurus 'Gelombang Badai Salju Penyapu Jagad.!' kabarnya siapapun yang tidak kuat menahan gempuran jurus ini tubuhnya akan terhempas dan mati kedinginan.
Meskipun kaget dengan ilmu kesaktian lawannya. tapi Datuk Tinggi Mayat Besi malah tertawa bergelak. kedua telapak tangannya mengembang lalu menyentak kedepan. segulung hawa panas yang disertai asap merah menggebrak ganas memapaki serangan Nyi Pulungan. hawa tenaga dingin dan panas bertumbukan di udara..!
'Whuuuss., Wheeess..!'
'Blaaam., Blaaar..!'
__ADS_1
Keduanya terpental mundur kebelakang, Datuk Tinggi merasakan hawa sangat dingin merasuki tubuhnya hingga menggigil. cepat dia kerahkan tenaga dalamnya untuk mendesak hawa dingin itu keluar. sebaliknya Nyi Pulungan terlihat mandi keringat. kulit tubuhnya memerah menahan hawa panas.
Sementara itu si Laba- Laba Kuning yang menghadapi Pengemis Penceng cepat kibaskan kedua tangannya kedepan.
Bergulung- gulung benang kuning keemasan membentuk jaring melesat ke muka sekaligus menjerat kepala, kedua kepalan tangan dan juga kaki Pengemis Penceng. beberapa saat benang- benang itu mampu menahan jurus Tiga Tumbukan Pemusnah. sampai kemudian terputus satu persatu karena hentakan tenaga ilmu lawan.
'Tresss., tess., tees.!'
'Sraat., crast!'
Walaupun Pengemis Penceng mempunyai kepala yang sekeras besi hingga mampu menahan jeratan benang sakti lawan, tapi tangan dan kakinya juga sedikit terluka.
''Sial..!'' geram si Laba- Laba Kuning. dengan memanggul tubuh Ki Manggal membuatnya tidak leluasa untuk bergerak menyerang. ''Kalian semua maju hadapi kedua orang gembel tua ini. kalau mampu membunuh mereka akan diberikan imbalan besar..!'' perintahnya pada semua orang berseragam hijau dan bertopeng tengkorak putih yang menjadi bawahannya. setelah memberi isyarat pada rekannya, si wanita pembunuh nomor empat ini mendahului berkelebat pergi.
Tanpa diperintah dua kali belasan orang berbaju hijau itu cepat menyerbu sambil babatkan tombak pendek di tangan masing- masing. apalagi dijanjikan imbalan oleh atasannya membuat serangan mereka menggila.!
''Nenek tua peot tukang sapu., lain kali kita main- main lagi hingga puas, sementara itu hadapi saja anak buahku. kami berdua masih ada keperluan, sampai jumpa lagi. Ha., ha.!'' pekik Datuk Tinggi sambil berkelebat menyusul kawannya.
''Keparat pengecut., jangan kabur..!'' damprat Nyi Pulungan dan Pengemis Penceng hampir bersamaan. mereka tidak mampu mengejar karena keburu di hadang belasan anak buah pembunuh nomor tujuh dan empat itu. akhirnya kekesalan dua orang pimpinan cabang ini dilampiaskan kepada mereka. tapi rupanya para anak buah kelompok 13 Pembunuh itu juga membekal ilmu silat lumayan kuat. baru setelah membuang tenaga belasan jurus, baru kedua orang ini mampu menghabisi seluruh pengeroyoknya.
__ADS_1
Dengan mengucap sumpah serapah dan makian kotor merekapun pergi tinggalkan tempat itu, setelah lebih dulu memberikan sejumlah uang kepada penduduk desa Randung agar memakamkan keenam anak buahnya yang sudah tewas.