13 Pembunuh

13 Pembunuh
Dua Dewi Mabuk


__ADS_3

Dua perempuan muda yang sama cantik jelita., yang berjubah gaun hitam berdiri anggun, tangan kirinya memegang kendi kecil berisi tuak, berjalan santai menikmati keindahan taman bunga seruni yang terhampar di dalam lembah sambil bersenandung lagu tentang cinta dan patah hati. yang berjubah putih duduk bermalasan diatas kursi goyang terbuat dari rotan.


Sebuah kendi tuak dan gelas bambu beserta sekuali kacang goreng terhidang diatas meja kayu yang ada di samping kirinya. meski tuaknya bukan yang paling keras tapi cukup mampu membuat seorang lelaki tukang pukul dan peminum jatuh tersungkur karena mabuk.


Hebatnya dua orang wanita cantik ini sudah habis tiga kendi dan belum mabuk juga, takaran minum keduanya mengkin sudah tingkat dewa.!


''Sejak kapan Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun yang terkenal berhati kejam dan ganas menjadi lembek hingga mau- maunya bernyanyi soal asmara dan hati yang merana.,''


''Kalau sampai kejadian ini diketahui orang, kau pasti jadi bahan tertawaan., Hak., ha, ha.!'' tegur si cantik berjubah putih yang tidak lain Nyi Puji Seruni atau Dewi Seruni Putih, sang ketua Lembah Seruni sambil tergelak.


Yang di sindir cuma pencongkan bibir merahnya yang indah lalu tersenyum tawar, ''Apapun juga aku tetap seorang wanita biasa yang kadang bisa terjerat asmara., lagi pula untuk menghibur diri bernyanyi juga tidak ada salahnya bukan.?'' jawab Roro asal saja.


Sekali teguk dia habiskan tuak dikendinya. berjalan keliling taman sekali lagi sambil memetik sekuntum bunga seruni kuning yang sudah mulai layu. bunga seruni layu itu seakan mengingatkan dirinya yang sudah bukan lagi seorang gadis remaja. bulan depan umurnya sudah genap tiga puluh tahun. umur yang cukup tua bagi seorang wanita lajang.


''Aku tahu tidak sepatutnya bertanya soal pribadi, tapi bagaimana hubunganmu dengan Respati, kalian berdua masih sama keras kepala dan tidak mau saling terbuka..?''


''Kalau begitu terus, kalian tidak bakalan bisa bersatu.!'' ujar Puji Seruni sambil meneguk tuaknya. dia lebih suka minum dari gelas bambu dari pada meneguk langsung dari kendinya.


Roro tertawa pahit, wajahnya mendongak kelangit. disana sang surya sudah tenggelam dibalik bukit. rona sinar jingga mengantarkan burung- burung untuk terbang kembali ke sarangnya berganti gerombolan kelelawar yang keluar mencari makanan.

__ADS_1


''Soal itu aku cuma bisa pasrah, orang bilang mencintai seseorang tidak selalu harus memiliki.,'' jawabnya pelan. ''Lalu kau sendiri bagaimana., masih mengharap kekasihmu kembali.?'' Roro balik bertanya. dia tahu kalau sahabat lamanya juga mempunyai seorang pujaan hati. anehnya pemuda yang dicintainya seorang yang miskin, pendiam dan berkaki cacad. mungkin ini yang dinamakan sebagai cinta memang buta.


''Kuakui diriku pernah jatuh hati padanya, tapi dia sudah lama menghilang entah kemana.,'' jawab Dewi Seruni Putih pahit. dibenaknya masih terbayang sosok pemuda pincang bertongkat besi yang pendiam dan penyendiri. juga cara melangkah si pemuda yang lucu dan menggelikan, kaki kanan melangkah yang kiri terseok mengikuti. kaki kanan menapak, sebelah kiri menyusul seakan merayap.


''Lagi pula sebulan lalu tanpa sengaja aku sempat menolong seorang kakak sepupu raja Belambangan yang terluka oleh serangan para begal rampok yang sengaja dibayar oleh kaum pemberontak saat dia dan putranya yang kedua sedang berburu di hutan. saat itu aku sedang kelayapan di daerah timur..'' tutur Nyi Puji Seruni seraya mengemil kacang goreng.


''Waah., biar kutebak. si pangeran atau anak kedua dari kakak sepupu raja Belambangan itu jatuh cinta padamu dan ingin secepatnya mempersunting dirimu.!'' seru Roro yakin.


''Bukan itu saja Roro., malahan ayah dan ibunya sendiri yang memintaku untuk menjadi menantunya, mereka bilang putra keduanya itu jadi kurus dan seringkali sakit karena memikirkanku., Aah., kecantikan wanita kadang bisa menjadi dosa dan derita bagi kaum lelaki. Hik., hi., hii.,!''


''Wah., ternyata kau lebih jahat dariku Hik hi.!'' ucap Roro. kedua orang wanita cantik ini bergelak tawa. walaupun hari juga sudah mulai gelap tapi kedua wanita cantik itu belum juga berhenti minum tuak hingga akhirnya mereka berdua sama tersungkur mabuk.


Di lihatnya perabot yang biasa ada di dalam tidak terlihat. mungkin sudah dipindahkan keluar. hidungnya yang tajam masih dapat mengendus sisa bau ramuan obat. meskipun tidak merasa sakit tapi tubuhnya masih rada lemas. sepasang baju dan celana putih terlipat rapi diatas rak kayu yang ada di sebelah kiri atas dinding kereta kuda. pedang Iblis Hitam dan beberapa barang pribadinya juga berada di sana. Respati menduga pasti Roro Wulandari yang sudah mempersiapkan semuanya. membayangkan wanita itulah yang telah membuka seluruh pakaiannya membuat dia cuma bisa nyengir dan terkekeh.


Biarpun samar tapi si pemuda masih mengingat saat terakhir dia bertarung sengit dengan Nyai Bawang dan Santang Wirat, sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri karena keracunan belatung biru. dengan cepat dia mengambil pakaian itu dan memakainya. pedang Iblis Hitam diselipkan di belakang pinggangnya.


Saat membuka pintu, yang pertama kali disadarinya adalah hari sudah berganti malam. Sabarewang dan Satriyana yang sedang duduk di depan api unggun sambil menghangatkan kuah sayuran di dalam kuali sama menoleh lalu menghambur ke arahnya.


''Respati.,! kau sudah sadar, bagaimana keadaanmu, apakah masih terasa sakit., apa perlu bantuan, apa kau merasa lapar atau haus, katakan padaku.?'' Satriyana langsung memberondong Respati dengan pertanyaan sampai si pemuda tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Sabarewang mendengus lalu tepuk jidat si gadis hingga dia mengaduh. ''Aduh., Kenapa kau malah memukulku.?'' keluhnya kesal.

__ADS_1


''Kalau mulutmu nyerocos terus, bagaimana dia bisa menjawab pertanyaanmu.?'' damprat Sabarewang dongkol.


''Yang sedang kutanyai Respati, jadi apa hubungannya dengan dirimu.?''


''Ooh., jadi sekarang kau sudah mulai berani membantah melawan orang tua, nanti kusumpahi bakal kuwalat.!''


Mau tak mau Respati tersenyum geli melihat kelakuan kedua rekannya yang hampir selalu ribut. ''Saat ini perutku memang lapar., tapi tubuhku juga lengket dan bau cairan obat. kurasa aku perlu mandi dulu.!'' ujar Respati sambil melangkah pergi.


''Tapi dari mana kau bisa mendapatkan air, memangnya kau hendak masuk lagi ke goa itu.?'' seru Satriyna bingung.


Respati cuma lambaikan tangannya. sebagai orang yang pernah tinggal bertahun- tahun ditempat itu, dia tahu betul daerah mana yang ada airnya. tapi hanya sebentar saja dia sudah kembali berbalik.


''Aku tidak melihat Roro bersama kalian. dia pergi kemana, apakah ada sesuatu yang terjadi disini.?'' tanya Respati tajam.


Sabarewang dan Satriyana saling pandang sesaat baru menceritakan semuanya, termasuk kedatangan wanita cantik berbaju merah muda dan bertingkah genit.


''Wanita yang mereka ceritakan itu apakah mungkin si nomor delapan., juga ada urusan apa Roro pergi ke Lembah Seruni.,?'' pikir Respati heran, sesaat kemudian dia tertegun ''Aah., jangan- jangan dia hendak mengambil barang itu., dan kalau memang benar seperti yang kupikirkan, maka rencana dia kali ini benar- benar gila dan mengerikan.!'' desis si pemuda bergidik.


''Eeh., kakang Respati apa yang sedang kau pikirkan, jangan katakan kalau kau mulai kangen dengan kakak Dewi, Hik hi.,?'' goda Satriyana sembari terkikik. gadis ini cepat hentikan tawanya saat melihat mata Respati menyorot tajam padanya. ''Sepertinya malam ini kau mesti bergadang untuk melatih kemampuan memanahmu dengan titik sasaran yang sangat jauh.!''

__ADS_1


__ADS_2