
Dua sosok tubuh dengan kepala pecah mandi darah tumbang ke tanah, keadaanya sangat mengenaskan, air sungai sesaat seperti memerah bercampur darah, gadis muda berkulit sawo yang kurus dan dekil itu sampai menjerit tertahan. walaupun dia pernah melihat pembantaian manusia yang dilakukan oleh seorang tua bergolok buntung, tapi tetap saja kejadian didepan matanya ini sangat mengerikan baginya. gadis itu seakan baru tersadar dari sebuah mimpi buruk saat melihat pria yang menolongnya ambruk ke tanah.
Anak perempuan itu berusaha bangkit tapi tubuhnya terasa lemas dan sakit, terpaksa dia hanya bisa merangkak. tapi baru bergerak separuh jalan, sepasang tangan kasar tiba - tiba sudah mencekik lehernya dari belakang, dia berusaha meronta sekaligus hantamkan kedua sikunya kebelakang hingga membuat orang yang mencekiknya semakin beringas, tubuh gadis kurus itu dibantingnya, ditambah lagi satu tendangan ke perut membuat si gadis harus kembali terjungkal ke sungai.
''Aku akan mengurusmu nanti, setelah aku menghabisinya.,!'' geram orang yang hanya bertelanjang dada itu. ternyata dia masih hidup setelah ditendang Sabarewang sampai jatuh ke dalam sungai. dengan mengambil golok milik salah satu kawannya yang sudah mati dia menghampiri Sabarewang yang masih terkapar.
''Jangan., tolong hentikan.,!'' jerit gadis kurus itu sambil melempar sekepal batu kali ke kepala orang itu, tapi karena tenaganya lemah batu itu cuma mengenai bahu. ''Bocah jahanam.,! rupanya kau sudah tidak sabar mau kukerjai., baik sekarang juga akan kau rasakan.,!'' bentak si telanjang dada marah. orang ini seperti kesetanan menyergap gadis itu, sebenarnya dia agak heran, bagaimana gadis kurus yang kelihatan lemah ini bisa mempunyai daya tahan tubuh yang kuat hingga masih sanggup bertahan meski sudah dihajar berulang kali.
Sadar kalah tenaga, gadis kurus itu berusaha kabur kehulu sungai. di satu tempat dia membuat gerakan melompat seakan menghindari sesuatu, lalu berbalik dan diam menunggu seakan mengejek lawannya. tentu saja si telanjang dada tambah murka, dengan kalap dia mengejar, tapi saat hanya tinggal beberapa langkah lagi mendadak dia jatuh tersungkur setelah kakinya tersandung sebuah tonjolan batu yang ada didalam sungai itu. baru saja hendak bangkit, sebuah kepalan batu kali yang cukup besar sudah menghantam keras kepalanya.
Gadis kurus itu buang batu kali di tangannya, untung dia ingat tempat dimana tonjolan batu didalam sungai yang membuatnya jatuh tersandung saat lari dari kejaran keempat orang itu. dengan nafas tersengal dan tubuh sempoyongan, gadis kurus itu menghampiri Sabarewang. dia agak panik melihat ada rembesan darah dari pinggang kanan orang yang terbaring lemah didepannya.
Gadis kurus itu meraba leher dan hidung orang itu. 'Masih bernafas, orang ini masih hidup., ''Tuan., tuan., bangunlah.!'' si gadis kurus berusaha membangunkan lelaki yang ada di depannya. dia merasa lega saat Sabarewang membuka matanya, beberapa saat kemudian wajahnya menegang, mulutnya bergumam seperti berusaha mengatakan sesuatu., ''Tuan apa yang ingin kau katakan.,?'' tanya gadis kurus itu seraya mendekatkan kepalanya, ''Di., di be., bela., kang., mu.,!'' bisik Sabarewang terputus- putus.
Gadis kurus itu menegang, sepasang matanya seakan berkilat tajam, tangan kirinya meraih sesuatu sambil membalikan badan secepat yang dia mampu, tubuh berikut pedangnya berputar setengah lingkaran, bersamaan tangan kirinya begerak menusuk dari bawah ke atas, 'Beet., Crass.,!'
Tangan kirinya masih menggenggam gagang pedang buntung Sabarewang, ujung pedang juga masih menancap seruas jari tepat di kening orang bertelanjang dada, mulut lukanya seperti membentuk bintang segi empat. dibelakang kepala orang itu nampak memar berdarah bekas dihantam batu kali. golok ditangannya terlepas, sepasang matanya melotot seakan tidak mau percaya dengan apa yang sedang dialaminya., kecundang mati ditangan seorang gadis kurus tak bernama.
Tubuh orang itu mengejang, dari keningnya mengucur darah kental yang sebagian membasahi muka gadis di depannya, tubuhnya tumbang terkapar mati dengan membawa seribu rasa penasaran. Sabarewang tercengang, dia juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, gerakan tubuh gadis kurus ini saat menusuk kening lawannya jelas adalah gerakan jurus Bintang Langit Terpecah, yang dia gunakan untuk membunuh kedua lawannya. meskipun jelas tidak bertenaga dalam, tapi gerakan si gadis justru lebih luwes dan nyaris sempurna dibandingkan yang telah dia lakukan. 'Siapa sebenarnya anak ini, dari mana asalnya, dan bagaimana dia bisa mengunakan jurus itu,?' batin Sabarewang bingung. sepintas gerakan jurus Bintang Langit Terpecah itu memang terlihat sederhana, tapi sebenarnya sangat rumit, aneh dan mematikan karena mengandung puluhan pecahan anak jurus, hingga membuatnya cukup sulit dipelajari, tapi anak ini hampir sempurna melakukannya.!'
Suara tangisan dan jeritan tertahan menyadarkan lamunan Sabarewang, meski tubuhnya masih sangat lemah, tapi dia bisa melihat kalau gadis kurus berkulit sawo matang yang terlihat kotor dan basah kuyup berlepotan lumpur sungai itu sedang menangis sambil mendekap wajahnya yang terpercik darah. mungkin jiwanya terguncang karena baru pertama kali dalam hidupnya dia membunuh manusia.
''Sabarewang., dimana kau.,?' 'Hooii kusir., jangan main-main denganku, aku sudah membayarmu mahal tahu,!''
Terdengar suara dua orang laki-laki dan perempuan muda sedang mencari seseorang, ''Dari jejaknya aku yakin dia ke arah sini., lihat kain popok bayi itu seperti sengaja ditinggal, tapi anehnya kain ini sudah bersih.,'' kata suara si wanita. ''Mungkin dia sengaja kabur karena bosan kau suruh-suruh terus.!'' ujar si pemuda. ''Makanya jadi wanita jangan terlalu kejam., orang pada takut berdekatan denganmu.,!''
__ADS_1
.'Apa kau bilang.?' Coba ulangi lagi ucapanmu barusan,!' tanya si wanita setengah membentak. tak ada jawaban apapun dari si pemuda, mungkin dia enggan berdebat dengan wanita itu. ''Bagaimana kalau kita mencoba turun ke sungai, mungkin ada petunjuk yang bisa kita dapatkan disana.,?'' usul si pemuda sekaligus mengalihkan pembicaraan.
''Aku tidak mau., nanti bajuku jadi kotor dan basah terkena air sungai, kau saja yang turun ke sana.!''
Terdengar suara menggerutu dari mulut si pemuda, tapi orangnya cepat bergerak lincah kebawah menuruni tebing sungai, pemuda berbaju putih dan menggembol buntelan kotak yang bukan lain adalah Respati itu segera melihat sosok tubuh Sabarewang yang sedang terbujur lemah di pinggir sungai, tak jauh darinya nampak tiga sosok mayat pria terkapar bersimah darah. pemuda ini cepat berusaha menolong rekannya, dengan cekatan dirobeknya baju dipinggang kanan Sabarewang, 'Lukanya cukup lebar, tapi tidak berbahaya, jadi dia pingsan kehabisan tenaga bukan karena luka ini., 'Ahh, jangan- jangan Sabarewang nekat memakai jurus itu.!' batin Respati resah, karena dia tahu betul untuk dapat menggunakan jurus Bintang Langit Terpecah bukan saja butuh gerakan tubuh yang luwes dan mantap juga pemahaman akan rahasia pecahan jurusnya. tetapi yang paling penting orangnya harus memiliki tingkat tenaga dalam yang tinggi. sedangkan tenaga dalam Sabarewang belum mencapai tingkatan itu.
Respati tidak membawa obat luka di bajunya, terpaksa dia hanya menotok bagian luka untuk menghentikan darah yang mengalir. lalu mencoba salurkan hawa murninya untuk menguatkan tubuh bekas anggota kelompok jasa pengawalan barang Garuda Merah itu
Pemuda ini baru saja selesai mengatur pernafasannya, saat merasakan ujung sebilah pedang menyentuh tengkuknya, ''Apa yang telah kau lakukan padanya.?'' terdengar suara dingin dari belakangnya, Respati heran karena itu suara seorang gadis muda. ''Tetap diam., Jangan berani bergerak atau.,''
'Atau apa.,?'' bentak pemuda itu sambil secepat kilat berbalik sekaligus tangannya bergerak mengemplang pergelangan orang yang memegang pedang itu hingga terlepas dari genggamannya. dengan terperanjat orangnya kembali meraih pedang buntung sambil bergerak mundur.
Kini terlihat sosoknya, ternyata benar dia seorang gadis yang masih sangat muda, berambut pendek, kurus dekil, serta punya beberapa bekas luka di tubuhnya yang hanya memakai baju kutang yang sudah usang dan basah kuyup. Respati menyeringai, lalu maju mendekat, ''Jangan berani kemari., aku., aku sudah pernah membunuh orang, 'Aa., aku., su., sudah menjadi seorang pembunuh.!'' ''Jang., jangan sampai kau menyesal.!'' ancam si gadis sambil gemetar mengacungkan pedang buntungnya. 'Haa., ha., kau pernah membunuh orang?' tanya Respati sambil tertawa geli. ''Benar., itu orang yang bertelanjang dada, aku., aku yang telah membunuhnya.,!'' jawab gadis itu sambil terbata seakan menahan beban berat.
''Kau mungkin benar sudah membunuh orang itu., tapi kau bukanlah seorang pembunuh.!'' Mulut berbicara tubuhnya bergerak seringan hembusan angin, gadis itu terperanjat, secepatnya dia babatkan pedangnya berulang kali tetapi selalu mengenai tempat kosong, saat hendak menusuk dia merasa gengamannya disentil orang, meski tidak menyakitkan tapi mampu membuat jari tangannya lemas, pedangnya kembali terlepas. tahu- tahu sekarang si pemuda sudah berada dibelakang si gadis, kedua tangannya mendekap erat tubuh kurusnya.
''Wah.,wah., meskipun tubuhmu ceking, kotor dan rada bau, tapi., rasanya kau mantap juga saat dipeluk., Hee., he.,!''
''Dasar pemuda mesum bermulut busuk, lepaskan tanganmu dari tubuhku.,!'' umpat si gadis sambil meronta- ronta. 'Ooh., semakin kau meronta akan semakin menyenangkan jadinya'., ''Dengar gadis ceking., seorang pembunuh tidak akan pernah mengunakan ancaman atau gertakan kosong, dia cenderung langsung bertindak, karena semakin cepat dia bisa menghabisi mangsanya itu semakin baik baginya., dan kau bukanlah orang seperti itu.,!''
Gadis itu terus berusaha melepaskan diri, entah kenapa dia juga mulai menangis.
''Hanya ada dua kemungkinan, kau tidak sengaja melakukan pembunuhan atau kau terpaksa melakukannya untuk membela dirimu juga orang lain.,!'' kata pemuda itu. ''Mungkin kau merasa bersalah karena tanpa sengaja telah melakukan pembunuhan untuk pertama kalinya dalam hidupmu., ingatan itu mungkin tidak akan pernah terlupakan atau bisa juga cepat hilang begitu saja. tetapi kadang manusia dihadapkan pada dua pilihan saja., membunuh atau dibunuh.! Jadi anggap saja kejadian hari ini hanyalah sebuah mimpi buruk belaka.,'' bisik si pemuda dengan suara lembut.
Pelukannya mengendur, tapi tetap menahan tubuh kurus sigadis agar tidak merosot kebawah, isak tangis semakin jelas terdengar dari mulutnya. entah kenapa rasa sesak dan beban berat di dadanya perlahan menghilang, hatinya juga mulai tenang kembali. '-Hei., gadis ceking., tadinya kau meronta, berontak dan mencaci maki aku, tapi kenapa sekarang kau malah diam., atau jangan- jangan dirimu sudah mulai nyaman dipeluk lelaki tampan sepertiku., Haa., ha.,!''
__ADS_1
Wajah gadis itu memerah, saking malunya dia sampai tidak tahu harus berbuat apa.
''Sampai kapan tanganmu mendekap tubuh anak itu.,?'' Respati terjingkat sambil lepaskan pelukannya pada si gadis kurus yang langsung berlari menjauh, lalu berlindung di belakang tubuh seorang wanita cantik bergaun hitam yang sedang menggendong seorang bayi. ''Eeh., Kau., kau., jang., jangan salah paham, tadi aku hanya main- main sebentar saja dengan gadis itu.' jawab Respati gelagapan. sementara dalam hatinya merutuk 'Celaka., benar- benar sial aku kali ini.,'
''Ooh., jadi kau cuma main- main.,?'' tanya perempuan itu sambil tersenyum manis, sipemuda menganguk., ''Benar hanya main,?'' ulang perempuan cantik yang bukan lain Dewi Malam Beracun itu sambil terus melangkah mendekat. senyuman menggoda tak pernah lepas dari bibirnya.
''Iya., tentu saja.,'' jawab Respati meyakinkan.
Wanita itu tersenyum jauh lebih manis, lalu., 'Plaak.,!' sebuah tamparan mendarat di pipi kanan si pemuda, tidak terlalu menyakitkan, tapi cukup meninggalkan bekas tapak lima jari di pipinya.!
gadis kurus dibelakang Dewi Malam Beracun tekap mulutnya menahan tawa, Respati mendelik kesal.
''Bertahun- tahun tidak bertemu, rupanya kau sudah berubah jadi pemuda mata keranjang..' Memangnya siapa percaya omonganmu, main- main kau bilang,?' Huh., cepat bawa Sabarewang, kita rawat dia di kereta kita.,!''
''Dan., adik kecil, kalau kau suka boleh ikut kami, tentu saja setelah membersihkan dirimu dulu.,!'' ujarnya kepada gadis kurus itu sambil tertawa riang.
''Kenapa dia mesti ikut kita.,?'' tanya Respati sambil memangul Sabarewang. ''Ooh., jadi kau keberatan.,?'' pemuda itu langsung menggeleng keras, sekali genjot tubuhnya naik ke tebing. gadis kurus itu melongo melihatnya. ''Kak., meskipun dia rada nakal tapi bukan orang jahat, ilmunya juga sangat tinggi.!'' ujar si gadis kurus itu kagum.
''Yah., aku tahu itu.,''
''Lalu., kenapa kakak menamparnya.?''
''Eehmm., mungkin karena aku suka saja melakukannya.,!'' jawab wanita cantik itu sambil tertawa. bersamaan tangan kanannya merangkul tubuh si gadis kurus, kakinya menutul ke tanah, mereka melayang naik ke atas tebing, ''Eeh., adik manis, katakan siapa namamu.?''
Gadis itu tersenyum, ''Namaku Satriyana., dari desa Kembangsoka.''
__ADS_1