13 Pembunuh

13 Pembunuh
Munculnya barang incaran.


__ADS_3

Senja sudah beralih malam hari. seiring dengan munculnya kegelapan rintik air hujan juga mulai turun dari atas langit. meskipun hanya gerimis namun dalam waktu singkat sudah mampu membasahi kalangan. jalanan tanah yang awalnya kering kini mulai becek tergenang air hujan.


Pemilik warung bernama Ki Pulut dan cucu lelakinya yang gemuk hitam sudah sedari tadi menutup pintu dan jendela warungnya. tapi dari balik celah dinding anyaman bambu di warungnya, kedua kakek dan cucunya itu masih berusaha untuk mengintip apa yang terjadi diluar sana.


Kejadian bentrokan ilmu pedang tingkat tinggi antara Puji Seruni sang 'Dewi Seruni Putih' dengan 'Pendekar Pedang Lali Jiwo' sesaat membuat gerakan si 'Raja Lutung Sakti' yang hendak hantamkan satu aji kesaktian untuk menghabisi nyawa 'Hantu Caping Getih'. kesempatan yang cuma beberapa kejap mata itu digunakan lawannya untuk menjauh.


''Hendak kabur kemana kau keparat tua. terima saja ajalmu sekarang.!'' bentak Raja Lutung Sakti gusar. dari mulutnya keluar suara meracau mirip teriakan sekawanan monyet sedang mengamuk. dengan tubuh setengah membungkuk dan kedua lengan menjuntai tanah dia berkelebat cepat ke depan.


Secara hebat sepasang lengan berbulunya yang terkepal erat terlihat semakin membesar juga memanjang lantas berputar terayun dan menghantam dari atas kebawah. dua buah kepalan berisikan gumpalan tenaga sakti yang bercampur dengan kilatan cahaya petir terasa menindas nyali siapapun.


''Hancur lebur jiwa ragamu.!'' rutuk si Raja Lutung Sakti murka. dengan jurus kesaktian yang dinamai 'Kepalan Lutung Menggenggam Palu Guntur' ketua perguruan 'Lutung Ciremai' itu bermaksud untuk membuat tubuh Hantu Caping Getih tercerai- berai menjadi serpihan.


Sesuai dengan nama ilmu kesaktiannya, nampak kedua tangan Raja Lutung Sakti yang terkepal dan membesar itu tidak ubahnya sepasang palu guntur raksasa milik dewa yang turun dari atas langit. suara bergemuruh disertai ledakan keras mengiringi datangnya pukulan sakti itu.


Hantu Caping Getih berteriak ketakutan saat merasa ajalnya tiba. dengan seluruh sisa tenaganya dia menghamburkan seluruh senjata caping terbang berdarahnya. meski orang tua ini juga sadar kalau semua itu tidak akan ada gunanya paling tidak dia bisa punya sedikit waktu untuk bergulingan menjauh.


''Aaaakh., lutung tua keparat.!''


'Whuuukk., wheeeess.!'


'Blaaaaamm., blaaaaarr.!'


Seperti yang telah diduga lemparan belasan senjata rahasia caping besi terbang berdarah yang dilontarkan tidak mampu untuk membendung kekuatan jurus sakti lawannya. tiga kali berguling ditanah untuk menjauh juga sudah upaya terakhir Hantu Caping Getih untuk menghindar dari kematian.

__ADS_1


Belum lagi inti pukulan sakti lawan datang, hawa tekanan yang berat dan panas sudah menindas tubuhnya hingga sekujur tulangnya seolah remuk membuat dia semburkan darah dari mulutnya. pakaian orang tua itu tercabik hancur sehingga dia nyaris telanjang. tanah disekitar tempatnya tergeletak rengkah dan melesak kebawah.


Beberapa mayat anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang berada didekatnya turut tersapu bermentalan. sesaat lagi pukulan maut Raja Lutung Sakti menyudahi segalanya, segelombang hawa gelap tajam berbentuk sebilah pedang besar hitam pekat yang seakan mampu membekukan jiwa dan pikiran mendadak datang memotong serangan itu.


Biarpun cuma sekali saja terjadi ledakan keras namun sanggup mengguncang daerah itu. bahkan warung Ki Pulut yang berdiri belasan langkah dari kalangan sampai turut berderak sebelum akhirnya roboh. beruntung sesosok bayangan putih terlebih dulu sempat menerobos warung untuk membawa keluar kakek dan cucunya itu yang hampir terkubur reruntuhan warungnya sendiri hingga mereka selamat.


Walaupun begitu keduanya sama meringkuk ketakutan diatas tanah. biarpun warung itu hanya sebuah gubuk bambu dan batangan kayu tapi jika mereka tertimpa juga akan cedera parah. disampingnya Puji Seruni yang berdiri dengan nafas sedikit tersengal. untuk berkelebat cepat menolong Ki Pulut dan cucunya dari jarak belasan tombak dia mesti keluarkan tenaga cukup banyak.


Di penjuru lainnya meski Ratu Lutung Sakti semakin dapat mendesak Nyi Balung Geni tapi ilmu kebal nenek itu masih sanggup membuatnya bertahan. bahkan suatu ketika dengan meraung gusar dia lepaskan empat buah pukulan telapak lalu diakhiri sebuah tendangan menggunting yang mengancam leher lawannya.


'Wheeettt., sheeett., bheeett.!'


'Plaaakk., dhaaaass., dhuuess.!'


''Patah lehermu Lutung betina tua bangsat.!'' hardik Nyi Balung Geni sengit. ''Huhm., remuk kepalamu keparat.!'' umpat Ratu Lutung Sakti. dengan merunduk dia menjotos beruntun secara bersilangan. ini adalah gerakan menangkis sekalian balas menyerang kepala lawan. saking cepatnya gerakan dua nenek tua itu orang sulit melihat ada berapa pukulan yang telah mereka lepaskan dalam satu gerakan jurus.


Sebaliknya sang suami alias si Raja Lutung Sakti ganti saling labrak dengan Pendekar Pedang Lali Jiwo yang telah menghalanginya untuk menamatkan nyawa Hantu Caping Getih yang sudah terluka parah. berturut- turut dia lontarkan jurus kesaktian 'Jari Lutung Nirwana' yang disusul dengan ilmu 'Kepalan Lutung Menggenggam Palu Guntur.!'


Pendekar Pedang Lali Jiwo keluarkan seruan tertahan. dengan mengumpat orang tua cebol berjubah putih gombrong ini cepat ayunkan pedangnya menyilang dari atas kebawah. dua larik cahaya hitam pekat disertai semburan hawa hitam pekat melabrak. bumi seakan bergetaran sementara diatas langit gelap terdengar bergemuruh seolah hendak runtuh.!


Hujan yang mulai deras seakan menghilang lenyap saat dua cahaya pedang yang lebih pekat dari gelapnya malam melibas kedepan. dalam kemarahannya orang tua pendek ini telah keluarkan ilmu pedang terkuatnya yang diberi nama 'Pembelah Kegelapan Langit dan Bumi.!'


Sebenarnya jurus ini dia persiapkan untuk menghadapi musuh lamanya Jarot Winongko si Pedang Geledek. namun sayangnya lawan yang diincar sudah dikabarkan mati. akhirnya orang ini menerima tawaran ketua 'Kelompok 13 Pembunuh' untuk bergabung dengan dijanjikan imbalan kitab ilmu pedang yang luar biasa.

__ADS_1


Tidak dapat ditahan lagi benturan dua buah kekuatan sakti yang saling hantam seakan membuat bumi pecah dan langit runtuh. guncangan dan ledakan menyapu segala sesuatu yang ada didekatnya. reruntuhan warung hancur terbakar habis lantas lenyap tersapu angin pukulan.


Puji Seruni silangkan sepasang pedang 'Walet Emas' didepan dadanya seraya kerahkan tenaga dalam untuk dapat terus bertahan. dia mesti melindungi Ki Pulut dan cucunya yang bersimpuh ketakutan saling berangkulan dibelakang tubuh gadis cantik itu. lebih dari dua puluh tarikan nafas waktu yang diperlukan untuk membuat segalanya mereda dan kembali tenang.


Setelah semuanya berlalu disana telihat Raja Lutung Sakti berdiri terbungkuk. kedua lengan jubah hitamnya juga bagian dada robek besar terkoyak. bulu- bulu putih lebat ditubuhnya sebagian basah memerah oleh darah yang bercampur air hujan. sepasang tangannya kembali menyusut dan terkulai kebawah. meski begitu kedua matanya tetap menatap tajam lawannya.


Di lain jurusan Pendekar Pedang Lali Jiwo tetap berdiri mendongak dengan angkuhnya. pedang besar hitam pekat masih tergenggam erat ditangan orang tua bertubuh pendek itu. namun jika dilihat dari dua jalur bekas tapak kakinya sepanjang hampir empat tindak ke belakang diatas tanah juga dengusan tarikan nafasnya yang tersengal memburu, dapat dipastikan kalau dia juga sempat terhantam pukulan ketua padepokan Lutung Ciremai itu.


''Huhm., rupanya tubuh pendekmu lumayan keras juga hingga sanggup menahan pukulan saktiku..'' ucap Raja Lutung Sakti yang mau tidak mau memuji juga. ''Kaupun cukup punya kekuatan. memang pantas untuk menjadi seorang pemimpin perguruan silat besar. kalau begitu., bagaimana jika kita tentukan siapa yang lebih unggul dalam satu serangan terakhir.?'' tantang Pendekar Pedang Lali Jiwo yang disambut seringai bengis lawannya.


Baru saja kedua pesilat kawakan ini hendak kembali beradu kesaktian untuk menentukan kalah menang atau bahkan siapa yang bakal bertahan hidup, dari satu jurusan sudah bermunculan puluhan orang berseragam hijau dengan topeng tengkorak penutup wajah. tidak ketinggalan juga tombak pendek bergerigi yang terselip dipinggang mereka.


''Pasukan Tombak Gergaji Iblis' dari cabang mana yang datang kemari.?'' batin Pendekar Pedang Lali Jiwo dan Nyi Balung Geni yang baru saja berhasil terlepas dan menjauh dari gempuran si Ratu Lutung Sakti. tanpa sadar keduanya saling lirik lalu bergabung dengan pasukan dari kelompok 13 Pembunuh itu.


''Maaf pimpinan., ada perintah mendadak dari yang mulia Ketua agar semua anggota segera kembali kemarkas, karena barang incaran sudah kami temukan. harap pimpinan sudi menerimanya untuk diberikan pada yang mulia Ketua Kelompok 13 Pembunuh..'' ujar salah satu dari anggota pasukan pembunuh itu yang langsung dan maju menjaga hormat pada Nyi Balung Geni dan Pendekar Pedang Lali Jiwo.


Belum sempat kedua orang tua ini bertanya, anggota pasukan itu sudah memberi isyarat pada rekannya untuk maju. kawannya yang berasa dibelakang cepat menyahuti. sambil membungkuk hormat dia memberikan sebuah buntelan kain persegi panjang yang kotor.


Nyi Balung Geni yang menerima sedikit menyingkapnya. isinya adalah sebuah peti dari kayu cendana hitam yang nampak kotor berlepotan tanah lumpur. kedua orang tua itu keluarkan suara tercekat kaget mereka segera dapat mengira apa isi dari peti kayu cendana hitam itu.


''Harap kedua pimpinan segera membawa pergi peti itu untuk diberikan pada ketua kita. sekalian juga bawa tubuh pimpinan Hantu Caping Getih yang sudah terluka parah. biar semua sisanya yang ada di sini menjadi urusan kami., Pasukan Tombak Gergaji Iblis.!''


''Waktu sangat mendesak, jadi pimpinan berdua pergilah sekarang juga..'' ujar sang pimpinan anggota pasukan pembunuh itu sambil berbalik mencabut senjata. bersama belasan rekannya mereka bersiap menjadi penghalang bagi pimpinannya untuk lari dari sana.

__ADS_1


*****


Silahkan tulis komentar anda. 🙏 Terima kasih.


__ADS_2