
Tuan muda pemalas dari kota 'Hantu Pagi' ini renggangkan tubuhnya yang terbaring diatas kursi malasnya. sambil menghela nafas dia menarik selimut tebalnya ke atas hingga menutupi leher lantas memejamkan kedua matanya. dia seolah sedang mengenang masa lalu. melihat itu sepasang gadis cantik pelayannya juga kedua orang lelaki muda bertubuh kekar yang menjadi pengawalnya tidak berani bicara apapun.
Mereka seolah telah paham betul jika dalam keadaan demikian majikan mereka sangat pantang untuk diganggu hingga keheningan terasa menyelimuti tempat mereka berada. saat sepeminum teh waktu berlalu, tiba- tiba saja pemuda pemalas berjubah putih itu kembali membuka matanya. air mukanya seolah berubah agak tegang dan buas.
''Aku merasakan adanya hawa kematian yang jauh lebih mengerikan sedang menuju ke tengah gelanggang pertarungan besar di bawah sana. mungkin sebentar lagi keadaan akan berubah hebat..'' desis si tuan muda pemalas sembari condongkan tubuhnya ke depan. dalam kegelapan malam sorot matanya seakan menjadi jauh lebih tajam.
Tanpa sadar empat orang bawahannya sama melihat ke bawah bukit karang dimana pertarungan besar- besaran antara 'Kelompok 13 Pembunuh' dengan orang 'Istana Angsa Emas' dan ratusan pesilat dari berbagai golongan masih berlangsung dengan sengat sengit. dilihat sekilas saja orang sudah bisa melihat kalau 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' berbalik terdesak.
Kehadiran seorang pemuda pincang yang bersenjatakan sebuah tongkat besi hitam, juga seorang gadis bertangan kiri buntung yang dikenal sebagai 'Putri Penjerat' mampu membalikkan keadaan. hebatnya kedua orang ini seakan tidak terpengaruh dengan ribuan binatang beracun yang ada di pulau Seribu Bisa ini.
Jika sang Putri Penjerat dapat terhindar dari sengatan binatang beracun karena dia bekas anggota dari 13 Pembunuh yang tentunya telah memiliki daya tolak racun dari dalam tubuhnya, si pincang bernama Pranacitra itu biarpun beberapa kali terkena sengatan ular dan kalajengking beracun tapi dia seolah tidak perduli. batu sakti Nirmala Biru yang sudah melebur dalam darahnya membuat dia seakan menjadi kebal terhadap racun.
Senjata tongkat besi hitam kepala tengkorak bergerak secepat sambaran halilintar. setiap kali berkelebat menusuk, membabat dan mengepruk dengan ganasnya, selalu saja ada nyawa yang menjadi korbannya baik dari pihak 13 Pembunuh maupun para pesilat aliran hitam. demikian juga dengan sabetan benang- benang baja si Putri Penjerat.
Kedua orang ini seolah sedang berlomba untuk membunuh lawan yang mengeroyok mereka semakin banyak darah musuh yang tersembur dan jeritan- jeritan ngeri bersautan terdengar, makin ganas bersemangat juga keduanya untuk melakukan pembantaian. saking sadisnya perbuatan keduanya sampai lawan sama bergidik seram. dalam hatinya mereka merasa kalau dua orang itu bukanlah manusia melainkan iblis.
Udara malam itu mendadak berubah semakin dingin. entah dari mana muncul gumpalan kabut putih yang makin lama semakin bertambah pekat. bahkan sekarang gumpalan kabut aneh itu mulai naik ke atas udara terus menyebar ke segala penjuru dan berubah kemerahan serta berbau anyir darah hingga beberapa orang yang tanpa sadar menjadi ngeri.
Tapi tetap saja mereka semua tidak dapat mengendurkan serangan jika tidak ingin nyawanya melayang dibabat lawan. meskipun sekarang hampir semua pihak mesti bertarung dalam gumpalan kabut. walaupun dengan mata mereka yang terlatih sebagai kaum pendekar masih dapat menembus kepekatan kabut tapi kadang mereka juga bisa salah sasaran dengan membabat rekan sendiri.
__ADS_1
Berikutnya dari balik pekatnya kabut merah darah di delapan penjuru arah terdengar suara teriakan- teriakan menggerung buas seperti manusia kelaparan hingga membuat semua orang merinding. meskipun belum jelas terlihat siapa yang berteriak seseram itu namun pastinya mereka adalah kaum lelaki dan perempuan.
''Aaaaakh., aaaakh., aarrghh.!''
''Aaaaaakh., uaaagh., eargh.!''
''Too., too., loongg., tolong aku., Aaakh.!''
''Mahkluk siluman dari mana ini. cepat menyingkir., Aaakh., setan jahanam.!''
Kali ini jeritan parau disertai suara kepanikan beruntun terdengar disegala penjuru. anehnya kabut merah darah yang menutupi pandangan mata semua pesilat sama tersedot ke dua puluh empat titik hingga dalam waktu singkat kabut itupun lenyap. tapi pemandangan yang mereka lihat berikutnya membuat sebagian orang tidak tahan untuk muntah sekaligus menatap nanar.
Pemandangan ini sangat menyeramkan bagi semua orang yang ada disana hingga tanpa sadar mereka sama hentikan pertarungannya. justru inilah kesalahan besar karena kedua puluh empat sosok itu langsung menyerbu dengan gigitan taring, cengkraman dan cabikan kuku jemari mereka yang panjang dan tajam.
Mereka yang terkena serangan hanya dapat berteriak parau saat merasakan darahnya mulai habis terhisap dengan sangat cepat. beberapa orang pesilat yang merasa punya kemampuan lebih hebat masih sanggup lolos dari serangan sambil bacokkan senjata pusakanya sekaligus balas menghantam dengan pukulan saktinya.
Tetapi alangkah terkejutnya mereka saat melihat kalau dua puluh empat sosok bugil yang baru saja mereka sadari sebagai gerombolan mayat hidup itu ternyata kebal dengan serangan senjata juga tahan pukulan sakti bertenaga dalam tinggi, seolah tubuh mereka berubah lebih keras dari lempengan baja.
Sebaliknya saat gerombolan mayat hidup itu menyerbu, korbanpun berjatuhan tanpa dapat dihindari. baik kecepatan bergerak maupun kekuatan tubuhnya berada di atas hampir semua orang. yang paling membuat perhatian mereka terpecah adalah separuh mayat hidup perempuan itu dalam keadaan tanpa selembar benangpun juga gerak- gerik tubuh mereka yang menggiurkan membuat mereka terlupa sedang berhadapan dengan mayat hidup.
__ADS_1
Bahkan saat mayat hidup wanita itu datang menyerang, seolah ada suatu kekuatan gaib yang membetot sukma sehingga kaum lelaki sesat hilang kesadaran. di saat pikiran mereka tersadar semuanya telah terlambat. leher mereka sudah tertancap gigi- gigi tajam juga kuku mayat hidup yang membenam ke tubuh mereka agar dapat menghisap darahnya hingga menjadi seonggok jasad kering.
Demikian juga kalau mayat hidup lelaki menyerbu, ada perasaan mual dan sangat jijik dalam hati mereka karena bagaimanapun juga melihat mayat lelaki bugil jelas tidak menyenangkan. yang lebih mengherankan adalah dua puluh empat mayat hidup itu cuma menyerang orang Istana Angsa Emas dan para tokoh silat penyerbu pulau Seribu Bisa terutama mereka yang berasal dari aliran putih.
Entah sejak kapan pula sebagian besar pesilat golongan hitam malah bekerja sama dengan Pasukan Tombak Gergaji Iblis dan anggota 13 Pembunuh. mungkin ada yang diam- diam mengajak mereka untuk bersekutu dengan Kelompok 13 Pembunuh dengan harapan bisa mendapat bagian harta pusaka Istana Angsa Emas.
''Haa., ha., Ki Sabda Langitan, coba kau lihat siapa yang datang. mereka bukan lain para mayat hidup ciptaan dari Nyai Bawang si 'Nenek Bawang Beracun Belatung Darah' yang kini menjadi pasukan pembunuh andalan dari ketua kami. asal kau tahu saja, para mayat ini kebal senjata sakti dan pukulan maut. kalian semua pasti mampus.!'' gembor si 'Setan Arak' tertawa mengejek.
Biarpun merasa gusar tapi Ki Sabda Langitan alias si 'Tangan Penggoncang Langit' tidak dapat bicara apapun karena semua yang dikatakan lawannya adalah suatu kenyataan. bahkan baru saja dia sempat menolong salah satu anggota 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' dari serangan mayat hidup tapi pukulan saktinya hanya dapat membuat mayat terpental jauh namun gagal menghancurkannya.
''Huhm., jangan kalian samakan pasukan mayat hidupku itu dengan yang sebelumnya, karena mereka punya daya bunuh berkali lipat lebih kuat. kalian para tikus Istana Angsa Emas juga kaum bedebah rendah yang mengaku dari aliran putih, semuanya tidak bakal lolos dari hukuman kematian dariku karena berani mendatangi pulau Seribu Bisa ini.!''
Satu suara berat dan menggaung seram yang seolah berasal dari balik dunia kegelapan terdengar menyeramkan hati siapapun. satu titik merah bagai bola api raksasa melesat cepat membelah udara malam sebelum menghantam permukaan tanah hingga berlubang besar dan sesaat diselimuti kobaran bara api.
Tubuh beberapa orang pesilat yang tidak sempat menghindar turut hancur binasa dihantam kekuatan dahsyat itu. setelah segalanya berlalu semua orang sama melihat ke dalam lubang besar di tanah yang hangus terbakar. ditengah sana terlihat sebuah benda bundar berwarna merah menyala seperti lempengan besi ditempa api.
Biarpun gelap malam tapi dengan ketajaman mata para kaum persilatan, mereka masih dapat melihat gambar yang terukir di atas lempengan bundar sebesar telapak tangan itu. di sana terdapat tiga belas ukiran wajah setan juga tengkorak menyeramkan. itulah lambang sekaligus pertanda jika sang ketua dari Kelompok 13 Pembunuh telah muncul.!
--------
__ADS_1
Silahkan tulis komentar, like👍, vote👌, kritik saran Anda jika suka. Terima kasih👏.