
Dua orang penunggang kuda terlihat memacu kudanya melalui jalanan berbatu yang membelah hutan itu, sebenarnya saat berangkat ke Punggingan mereka hanya menaiki seekor kuda saja, tapi dikarenakan barang yang mereka beli di sana cukup banyak, terpaksa mereka membeli seekor kuda lagi. kedua orang itu bukan lain Respati dan Satriyana. hari sudah menjelang sore saat mereka sampai kembali ditempat asal kereta kuda berhenti. dan seperti yang sudah disangka Dewi Malam Beracun langsung menyambut dengan semburan omelannya.
''Kenapa baru sekarang kalian kembali., apa kalian mendadak tersesat arah, atau sengaja bersenang- senang disana,?'' gerutunya sambil berkacak pinggang.
''Dan kau.,! 'Kubilang beli baju baru yang pantas, kenapa masih memakai pakaian seperti itu.,? ingat kau ini anak perempuan yang sudah beranjak remaja, harus mulai berdandan menata diri.!'' bentaknya sambil menuding Satriyana, gadis itu cuma diam menunduk. ''Aa., aku sudah membelinya tapi belum kupakai, aku juga sudah mandi.,'' jawabnya membela diri. ''Lalu kenapa tidak kau pakai., Hhah.,?'' geram wanita itu.
''Banyak peristiwa terjadi disana, anak ini juga sempat dihajar dua orang begundal yang mencoba mengambil paksa barang- barang kita.,?'' sahut Respati sambil turunkan muatan dari punggung kuda dibantu Sabarewang.
Dewi Malam Beracun seketika menghambur memeluk Satriyana, dengan cemas tubuh kurus gadis itu diperiksanya, ''Kau tidak apa- apa., siapa orang yang berani mengusikmu,? katakan pada kakak, sekarang juga kita cari dan hajar mereka.!''
Satriyana tertawa geli juga terharu dengan perhatian Dewi Malam Beracun, ''Diluarnya saja kakak Dewi galak tidak kenal ampun, tapi sebenarnya hatinya sangat baik dan penuh rasa sayang..'' batin gadis dari Kembangsoka itu. ''Aku tidak, apa- apa kak., ada Respati yang menolongku, 'Eeh iya., cairan wewangian pemberian kakak Dewi memang luar biasa., setelah mandi dengan itu tubuhku bukan saja bersih segar, tapi juga harum banget.,!''
''Hii., hi, hi., 'Tentu saja., asal kau tahu cairan itu berasal dari campuran tumbuhan langka, beberapa diantaranya hanya bisa didapatkan di pulau seberang, harganya sangat mahal.!'' terang Wanita cantik itu bangga.
''Sabarewang., tolong kau buka semua bungkusan itu, aku mau lihat apakah semua barang pesananku sudah terbeli.?'' perintah wanita itu. Sabarewang tertegun sebentar, seingatnya baru sekarang perempuan ini mau menyebut namanya, biasanya dia cuma bilang, 'Hei., Kusir., lakukan ini,!' Kusir., cepat kau buat itu.!' 'Kenapa kerjamu lambat kusir, awas kupotong upahmu.!'
Sambil tersenyum kecil Sabarewang cepat melakukan perintah Dewi Malam Beracun. dalam sekejab semua barang sudah tergelar diatas tanah beralas tikar pandan, kecuali Dewi Malam Beracun dan Respati, dua orang lainnya sempat ternganga melihat apa yang ada di sana, ratusan pisau kecil, ribuan batang jarum berbagai ukuran, bola- bola besi berduri, busur dan anak panahnya, paku, beberapa kantong bubuk berwana putih dan hitam, gulungan benang besi, lempengan baja, jaring dan masih banyak lagi.
__ADS_1
''Kau yakin bisa menggunakan semua ini.,?'' tanya Respati ragu.
Wanita itu tersenyum sombong, ''Ini belum sebarapa., kalau saja waktunya cukup dan barangnya ada, aku bisa membuat yang lebih hebat dan mematikan dari ini.,!''
''Sebenarnya apa yang hendak Nyi Dewi lakukan dengan semua benda ini.?'' tanpa sadar Sabarewang ajukan pertanyaan,
''Hhm., kau akan lihat sendiri nanti, tapi kalau mau kau boleh ikut membantuku untuk mengerjakannya. tapi ingat jangan banyak bertanya, kerjakan saja yang kuperintahkan, dan jangan melakukan yang tidak aku suruh, kau paham.?'' tegasnya.
Sabarewang mengangguk mantap, rupanya orang ini sudah dilanda penasaran.
''Nanti kau bawa dulu Anggana., malam ini mungkin kita harus tidur di luar. 'Respati kau yang berjaga.!'' kata Dewi Malam Beracun pada Satriyana dan Respati. lalu mendahului melahap ayam bakarnya.
Menjelang malam, Sabarewang pindahkan kereta kudanya agak masuk kedalam hutan, sementara Respati bersiap membuat api unggun, disungai dekat hutan dia sempat mandi dan mengganti bajunya yang sudah koyak dan tidak layak pakai dengan pakaian putih yang baru pilihan Satriyana, ternyata sangat pas dan nyaman dipakainya.
Satriyana terlihat menggendong Anggana di belakang punggungnya dengan memakai keranjang gendongan yang baru dibelinya.
Tidak berapa lama kemudian Dewi Malam Beracun muncul wanita ini juga baru selesai mandi. Sabarewang mengatakan kalau semua barang sudah dipindahkan ke dalam kereta, ''Kerjamu bagus., sekarang juga kita mulai bekerja.,!'' pujinya pada lelaki itu. lalu mengecup pipi montok bayinya yang ada digendongan Satriyana. sebentar kemudian dari dalam kereta kuda mulai terdengar berisik, seperti suara kayu dipotong dan besi yang ditempa, diselingi suara wanita yang sedang memberi bermacam perintah.
__ADS_1
''Kau tahu apa yang dilakukan mereka berdua didalam kereta itu.?'' tanya Satriyana bingung. Respati cuma angkat bahunya, ''Entahlah, tapi yang jelas Dewi Malam Beracun sedang merombak kereta kuda itu menjadi senjata mematikan,! nanti kau akan melihatnya sendiri..''
''Tapi kenapa kita tidak boleh melihatnya.? setidaknya kita bisa membantunya..''
''Karena ada hal penting lain yang mesti kita bikin jelas terlebih dahulu.!'' ujar Respati sambil menatap tajam wajah Satriyana dari balik kobaran api unggun. gadis itu merasa perasaannya bergejolak. ''So., soal apa itu.?'' tanyanya.
''Kotak kayu cendana hitam.,! 'kau bilang pernah melihatnya dirumahmu. katakan siapa kau sebenarnya., harap jangan salah paham, aku memang inginkan kejujuran, tapi bukan paksaan., kalau kau tidak mau menjawab aku juga tidak bakal memaksa., hanya selanjutnya mungkin aku tidak akan percaya dan perduli lagi padamu.!''
Satriyana pindahkan gendongan bayinya kedepan dada, dia hanya diam menunduk, Respati tahu gadis ini sedang berusaha mengambil keputusan. pemuda ini mendengus, lalu seakan berdiri hendak berlalu pergi.
''Aku hanya bisa mengatakan sebagian saja., aku masih perlu waktu.,!'' ucap Satriyana. ''Kumohon mengertilah, bisakah kita tetap berteman dan saling mempercayai.,?''
Respati menoleh ''Katakan saja yang ingin kau ucapkan.!'' katanya sambil kembali duduk, dengan menggunakan ranting.dia mengatur nyala api unggun didepannya.
Setelah menarik nafas dalam, gadis itu memulai kisahnya., diawali kematian ayah dan kakeknya, lalu perlakuan jahat keluarga pamannya yang juga mengincar kotak kayu cendana hitam dan soal Ki Mijun bekas orang nomor sembilan dari kelompok pembunuh bayaran 13 Pembunuh yang telah menolongnya. tapi tentang dugaan Ki Mijun yang mengatakan kalau dirinya mempunyai hubungannya dengan keluarga Istana Angsa Emas tidak diceritakan kepada Respati.
Pemuda ini terdiam, setelah mendengar cerita Satriyana pikirannya malah menjadi semakin keruh.
__ADS_1