13 Pembunuh

13 Pembunuh
Gerombolan berbaju biru.


__ADS_3

Agak di pinggiran kadipaten Jepara terdapat sebuah rumah besar yang setiap harinya hampir selalu ramai dikunjungi oleh orang- orang yang hendak berobat. meskipun tempat bernama 'Rumah Pengobatan Mata Hati' itu sangat terkenal utamanya disekitar Jepara hingga ke Demak utamanya bagi para kerabat orang keraton atau kaum kaya raya yang sedang mengalami sakit, namun pemilik dari rumah pengobatan itu tidak pernah sekalipun membedakan mereka dengan rakyat jelata.


Siapapun yang datang berobat ke sana mesti mengikuti aturan yang telah dia tetapkan. tidak perduli berasal dari mana dan punya latar belakang apa, mereka yang hendak berobat padanya harus mengantri. jika ada pihak yang berniat menerobos antrian karena ingin berobat terlebih dulu, si pemilik bukan saja akan menolak untuk mengobati, malah dia dan para muridnya bakalan menghajar keras orang- orang itu.


Meskipun orang yang hendak berobat di sana harus menunggu dari awal pagi hingga hampir tengah hari untuk dapat bertemu dan mendapatkan pengobatan dari sang pemilik rumah pengobatan itu, tapi selama ini nyaris tidak pernah terdengar ada orang yang berani melanggar aturannya.


Ini semua karena Nyi Rumilah, si pemilik sekaligus tabib dari rumah pengobatan Mata Hati itu mempunyai ilmu silat dan kesakitan yang cukup bisa diandalkan. di samping itu dia juga memiliki tiga orang murid yang tidak cuma pandai ilmu pengobatan tetapi juga menguasai ilmu silat lumayan kuat.


Pada awalnya Nyi Rumilah cuma memiliki seorang murid perempuan dan dua orang pembantu setengah tua yang bertugas mengatur para pengunjung yang hendak berobat, namun karena semakin banyaknya orang yang datang berobat dia mengangkat dua orang gadis muda lagi untuk menjadi muridnya sekaligus dapat membantunya.


Dengan adanya dua orang murid yang baru dia angkat sejak tiga bulan lalu itu membuat pekerjaan Nyi Rumilah yang oleh sebagian orang disebut sebagai si 'Tabib Mata Hati' ini menjadi lebih lancar dan cepat. satu lagi keistimewaan dari Nyi Rumilah, meskipun sudah menjadi tabib ternama tapi dia tidak pernah mematok pembayaran yang mahal. bahkan sering kali membebaskan biaya berobat terhadap kaum miskin.


Namun sejak dua hari terakhir pondok pengobatan Mata Hati milik Nyi Rumilah mendadak menutup diri dan tidak menerima siapapun yang berniat untuk berobat tanpa ada kejelasan atau penyebabnya. kejadian ini selain mengejutkan juga membuat kecewa banyak pihak yang ingin menyembuhkan penyakitnya.


Di depan pagar rumah itu selain tertutup rapat juga di jaga oleh salah satu murid Nyi Rumilah yang paling muda dan dikawal dua orang wanita berbaju ringkas warna hitam yang memakai caping bambu. apabila ada orang bertanya tentang Nyi Rumilah mereka cuma menjawab kalau saat ini Tabib Mata Hati sedang tidak ada di tempat.


Menjelang senja dari ujung jalan terlihat dua orang penunggang kuda berpakaian kelabu yang nampak kebesaran sedang memacu tunggangannya menuju kadipaten Jepara. biarpun wajah mereka tidak begitu jelas karena teralingi caping bambu lebar namun dari rambut gondrong yang sudah memutih bisa di pastikan kalau keduanya adalah lelaki tua. .

__ADS_1


Penunggang kuda sebelah kiri mendadak mengeluh. tubuhnya hampir saja terjungkal dari punggung kuda jika saja dia tidak sempat memeluk leher tunggangannya. rekannya yang berkuda di samping kanan cepat menarik tali kekang tunggangannya hingga berhenti. dia berpikir cepat sambil melirik ke belakang. meskipun tidak nampak siapapun tapi perempuan ini tahu bakal ada yang datang mengejar mereka.


Sekali bergerak dia dapat meraih turun tubuh kawannya. ada keluhan tertahan disertai kucuran darah kental dari mulut perempuan itu. jelaslah kalau rekannya sedang terluka dalam cukup parah. dengan dua pukulan cukup menyakitkan di punggung kuda dia menggebah lari kedua binatang itu mengarah ke dalam hutan.


Sekali bergerak dia sendiri cepat memanggul tubuh kawannya dan lenyap menuju Jepara. di sini dapat diketahui kalau ilmu peringan tubuhnya cukup tinggi. selang sepuluh kali waktu tarikan nafas dari arah yang sama muncul belasan orang penunggang kuda berseragam biru. setiba di persimpangan jalan mereka melambatkan laju kudanya.


Pimpinannya adalah seorang wanita cantik berumur empat puluh tahunan berjubah biru dengan sulaman dua buah trisula bersilangan pada bagian punggungnya. sepasang senjata trisula yang memancarkan cahaya keemasan bergagang pendek terselip di pinggang ramping wanita itu. para pengikutnya juga membekal senjata berbentuk sama hanya saja terbuat dari bahan yang lebih rendah.


Wanita itu memberi isyarat bawahannya untuk berhenti dan memeriksa sekitar tempat itu. tiga orang diantaranya segera menyahuti turun dari kudanya lantas berkelebat cepat hingga jarak lima puluhan langkah. setelah itu mereka kembali hampir bersamaan. ''Ketua., aku menemukan jejak kuda menuju ke arah hutan. kuyakin kedua orang pencuri buruan kita berada disana..'' ucap seorang anak buah perempuan cantik berjubah biru yang bermuka hitam.


''Lapor ketua., dari arah depan tidak aku temukan pertanda apapun. buruan kita tidak melewati jalanan itu..'' sahut orang yang punya hidung agak bengkok. ''Jejak kuda juga tidak saya temukan di jalan yang menuju ke arah Jepara. hanya ada beberapa tapak kaki yang agak dalam terlihat di tanah . mungkin itu bekas para pejalan kaki..'' sambung anak buahnya yang terakhir.


Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke tepian hutan. tanpa diperintah belasan anak buah wanita berjubah biru yang terdiri dari empat perempuan dan delapan laki- laki itu cepat masuk dan menyebar ke dalam hutan. cuma sang pimpinan bersama seorang gadis muda berparas manis yang mungkin baru berumur tujuh belas tahun saja yang tetap menunggu di atas punggung kuda.


Sepeminum teh kemudian dari tengah hutan kecil itu terdengar seruan. ''Dua kuda milik buruan kita ada disini. tapi kedua bangsat itu tidak terlihat..!'' hampir serentak semua orang bergerak ke asal suara. wanita berjubah biru yang tadinya masih duduk diatas punggung kudanya dan berada di tepi hutan bersama seorang gadis muda pengawalnya justru malah sampai lebih dulu ke tempat itu.


''Lapor ketua., saat saya menemukannya kuda ini sudah dalam keadaan lemas. terlihat ada bekas pukulan di punggung kedua binatang itu..'' terang seorang perempuan tiga puluh tahunan bertubuh sintal yang sikapnya agak genit. di kedua pipinya terdapat bintik jerawat kemerahan.

__ADS_1


Raut wajah sang ketua sejenak menegang saat meraba punggung sepasang kuda hitam yang merunduk lemas diatas tanah berumput tebal. ''Orang yang telah melakukan pukulan telapak ini jelas tahu betul letak urat- urat di tubuh kuda hingga binatang tunggangan ini saat terkena pukulan seolah dipaksa berlari cepat ke arah yang dia tentukan dengan harapan dapat berlari sejauh mungkin..''


''Sayangnya kuda ini sudah kehabisan tenaga karena sudah dipacu seharian sejak pagi hari tadi hingga kedua binatang inipun roboh di tengah hutan..'' sejurus kemudian sang ketua bertanya pada salah satu orangnya yang tadi mencari jejak buruan ke arah Jepara. ''Kau tadi bilang ada bekas jejak kaki di tanah yang cukup dalam. apa benar begitu.?''


Yang ditanya mengangguk. ''Jejak kaki itu dalamnya hampir setengah ruas jari tangan namun cuma ada beberapa dan berjauhan..'' sang ketua melirik gadis muda yang berdiri di sampingnya. ''Bagaimana menurutmu tentang masalah ini.?'' yang ditanya cepat menjawab.


''Kurasa kita sudah tertipu dari awal. salah satu dari buruan kita sedang terluka dalam akibat pukulan sakti 'Tapak Rambah Biru' milik ketua..'' gadis manis berbaju biru ringkas dengan potongan lengan pendek itu berpikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


''Tanah di jalanan kering dan cukup keras. jika bisa membuat jejak kaki sampai sedalam hampir setengah ruas jari di atas permukaan tanah semacam itu menandakan kalau orang ini sedang memikul beban berat. jarak jejak kaki yang berjauhan jelas menunjukkan ilmu meringankan tubuhnya cukup tinggi. besar kemungkinan dia sedang memanggul tubuh kawannya yang sedang terluka parah.!''


''Keparat., sejak dari pertama kali kita tiba di persimpangan jalan menuju kadipaten Jepara aku sudah menduga ada yang tidak beres. tapi jika mereka bermaksud ke Jepara, apa kau bisa menduga tujuan mereka.?'' desak sang ketua. sepertinya gadis yang umurnya paling muda dibandingkan lainnya itu punya kemampuan berpikir yang jauh lebih matang di bandingkan rekan- rekannya hingga dia sangat dipercaya oleh ketuanya.


''Jika ada seseorang yang terluka tentu dia akan berusaha mencari pertolongan agar bisa mendapat perawatan atau kesembuhan. di pinggiran Jepara kudengar ada satu pondok pengobatan sangat terkenal yang dipimpin oleh seorang tabib wanita. mungkin., ketua juga tahu siapa yang aku maksudkan..''


''Kawan lamaku Nyi Rumilah., sepertinya diriku harus mengunjungimu. kuharap saja kau dan pondok pengobatanmu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. sebab jika tidak., aku tidak akan segan- segan menghancurkan tempatmu meskipun dulu kau pernah menanam budi padaku..'' desis sang ketua.


''Kita langsung bergerak ke Jepara. tujuan kita adalah Rumah Pengobatan Mata Hati milik Nyi Rumilah. tapi ingat., saat memasuki kadipaten Jepara, jaga kelakuan kalian agar tidak sampai menimbulkan masalah.!'' perintah wanita itu sambil mendahului keluar hutan di ikuti semua anak buahnya.

__ADS_1


*****


Silahkan tulis komentar, kritik dan saran anda. Terima kasih.


__ADS_2