
Pecahan meja bundar dari baru pualam putih yang ukurannya sangat besar itu seketika berhamburan. kecuali orang tua buntung yang dijuluki si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' yang cepat berdiri dibelakang sang ketua, semua orang yang ada disana sama menjauh sambil kerahkan tenaga kesakitan untuk membendung beratus potongan meja batu yang disertai luapan tenaga dalam dari orang tinggi besar bertopeng tengkorak itu.
Biarpun semua anggota dari kelompok '13 Pembunuh' merasa ngeri dan keheranan atas segala yang terjadi tapi tidak satupun yang berani bertanya. belum lagi mereka mengerti salah satu dari diantara para pembunuh itu mendadak keluarkan suara jeritan kaget sekaligus ketakutan.
Sesosok tubuh lelaki tua yang memakai sebuah caping aneh terbuat dari besi dan berwarna merah terlihat melayang cepat diudara sebelum akhirnya terjatuh didepan sang ketua. belum sempat dia bangun sebuah tamparan keras sudah membuat caping besi berikut kepalanya pecah dengan darah seisi otaknya berhamburan.
Dengan sebuah kibasan telapak tangan kirinya muncul seberkas sinar kuning keemasan yang menebarkan hawa sangat panas juga turut menghantam dirinya. tubuh orang tua yang baru beberapa kejapan mata menjadi mayat tanpa kepala itu seketika terpanggang hangus. bau daging gosong dan busuk menyengat memenuhi udara sekitar.!
Segalanya berubah menjadi hening. meski semua orang merasa bergidik melihatnya tapi tidak seorangpun yang berani bicara. dalam hati masing- masing sama membatin, ''Gila., ilmu ketua 13 Pembunuh memang tidak bisa diukur. sampai tokoh silat sekelas 'Hantu Caping Getih' tidak dapat berbuat apapun meski hanya untuk sekejap mata saja mempertahankan selembar nyawanya..''
Diantara dua belas anggota kelompok 13 Pembunuh, terlihat Nyi Balung Geni dan 'Pendekar Pedang Lali Jiwo' yang menggigil ketakutan. dengan tubuh gemetaran mereka berlutut di atas tanah. keringat dingin mengucur deras saat jari tangan sang ketua menunjuk mereka berdua.
''Sewaktu kembali dari luar sana, kawan kalian si Hantu Caping Getih sempat terluka luar dalam sangat parah. untuk membuatnya pulih aku berbaik hati memberinya obat yang kucampurkan dengan beberapa tetes 'Darah Keabadian' milik gadis pewaris 'Istana Angsa Emas' yang sangat berharga. itu sengaja kulakukan sebagai penghargaan atas semua usaha kalian bertiga dalam mendapatkan barang yang aku inginkan..''
''Tetapi apa yang kudapatkan sekarang., semuanya hanyalah seonggok barang tidak berguna. dasar bangsat., dua tua bangka tolol. bagaimana pesilat sekelas kalian berdua sampai dapat tertipu barang pusaka palsu. kenapa tidak kalian periksa terlebih dulu isi peti keparat itu. cepat jawab.!'' damprat sang ketua yang diamuk amarah.
Baik Nyi Balung Geni dan Pendekar Pedang Lali Jiwo sama mengutuki kecerobohan mereka. tapi semuanya telah terjadi. kini mereka hanya bisa mengharap ampunan dari pimpinannya. disisi lain mereka berdua juga bersiap untuk kabur atau nekat melawan jika nyawanya terancam.
__ADS_1
Turut maunya saat itu juga ketua kelompok 13 Pembunuh alias 'Tuan Sesepuh Istana Utara' berniat untuk menghabisi kedua anak buahnya saat itu juga. tapi dia urungkan karena si Lengan Tunggal Pengejar Roh keburu mencegahnya dengan bisikan. ''Tahan ketua., saat ini kau membutuhkan tenaga orang- orang seperti mereka, sementara kita sedang diburu waktu. jika mereka berdua mampus sekarang, akan sulit untuk mencari gantinya..''
Ketua 13 Pembunuh mendengus. tubuhnya yang tinggi besar dan berjubah kuning emas dengan sulaman seekor angsa nampak bergetar keras. dari celah topeng besinya juga kedua lengan jubahnya keluar asap panas pertanda orang ini sedang berusaha keras menindih hawa kemarahannya.
Dengan meraung gusar dia kibaskan kedua telapak tangannya kesamping kiri- kanan. dua kepulan asap dan cahaya kuning emas berbentuk sayap angsa menyambar ganas. ratusan binatang berbisa yang berada lima tombak mengelilingi tempat kelompok para pembunuh bayaran terkuat itu berada seketika musnah terbakar menjadi arang abu.
''Nyawa kalian dua tua bangka tolol aku perpanjang terlebih dulu. tapi ingat., kalian tetap tidak akan lolos dari hukuman sebelum dapat menebus kesalahan. pertemuan malam ini terpaksa aku akhiri. semuanya kembali saja ke tempat masing- masing sambil bersiap menunggu perintah dariku.!''
Diantara kedua belas orang anak buahnya, selain si tangan buntung masih terdapat juga dua orang anggota lama, mereka adalah si 'Setan Arak' dan Klowor Gombor atau si 'Gila Tangan Kudis'. dengan satu isyarat tangan dari ketuanya mereka berdua tetap berdiri ditempat. sebentar saja disana tinggal sang ketua bersama tiga orang kepercayaannya.
Baik Setan Arak maupun si Gila Tangan Kudis sebenarnya juga merasakan keganjilan saat mengetahui rekannya si tangan buntung yang selama ini selalu menjadi bayangan ketuanya kemanapun dia berada, bisa sampai datang terlambat kembali ke pulau ini. dengan lirikan tajam mereka turut menuntut jawaban.
Tanpa perduli dengan pandangan mata kedua rekannya, si buntung langsung menjawab. ''Seperti yang kukatakan padamu sebelumnya, alasanku menahanmu untuk menghabisi berdua adalah kita sekarang ini sedang membutuhkan tenaga orang persilatan yang punya kemampuan tinggi. apalagi kau telah membunuh si 'Hantu Caping Getih..''
''Selain kita mesti dapatkan penggantinya dalam 13 Pembunuh secepat mungkin, semua ini juga untuk mencegah timbulnya perasaan takut dan khawatir dihati mereka sehingga nantinya berpikiran untuk mengundurkan diri atau kabur dari sini..'' ujar si buntung dingin.
Ketua 13 Pembunuh terdiam sesaat lamanya. meskipun dalam hati dia dapat menerima alasan bawahannya yang paling dia percayai itu, tapi entah kenapa dirinya juga merasakan suatu keanehan dengan sikap si Lengan Tunggal Pengejar Roh. hanya saja dia sendiri juga tidak dapat mengungkapkan keanehan seperti apa yang dirasakannya.
__ADS_1
Demikian juga si Setan Arak dan Klowor Gombor. keduanya cuma merasa kalau si tua buntung ini jadi sedikit lebih sering bicara jika dibandingkan dengan sebelum pertempuran besar tempo hari. meski demikian mereka tidak berusaha mencari tahu penyebabnya.
''Sekarang aku bertanya., kenapa kau sampai terlambat untuk kembali kemari. setalah bertahun- tahun lamanya kau mengikutiku dan melewati berbagai macam peristiwa, baru kali inilah ada kejadian seperti ini. sungguh mengherankan..'' tegur ketua 13 Pembunuh.
Yang ditanya tertegun sesaat lamanya. meski mereka para anggota lama 13 Pembunuh adalah sebangsa manusia berhati kejam tanpa ampun namun juga bukan tanpa perasaan sedikitpun. setidaknya mereka sudah puluhan tahun berjuang bersama hingga nama Kelompok 13 Pembunuh menjadi sebesar sekarang.
''Sebenarnya aku memang telah mengalami suatu kejadian yang sangat aneh. saat diriku mengejar pemuda pincang yang telah berani menghalangiku untuk membunuh si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' dalam pertempuran besar di lembah malam itu, aku berhasil membuatnya terluka parah oleh serangan 'Cakar Pisau Setan Hijau' milikku..''
''Seharusnya dalam hutan itu aku dapat menemukan mayatnya. tapi setelah cukup lama mencari tetap saja jejaknya tidak dapat kutemukan. disini aku merasakan ada yang janggal. kalau pemuda pincang yang dulu sempat menjadi yang teratas dalam jajaran sepuluh pesilat pendatang baru bersama dengan bekas nomor si dua belas dan tiga belas itu masih hidup kenapa dia tidak terlihat kembali. ataukah., ada pihak lain yang terlibat atau menolongnya.?''
''Pertanyaan lain juga tersirat dibenakku, orang ini sempat menghilang lebih tiga tahun lamanya. kedudukan sebagai pesilat muda terkuat juga sudah beralih pada pendekar muda yang lainnya. dan baru beberapa bulan belakangan ini namanya terdengar kembali didunia persilatan..''
''Sebenarnya apa yang membuat si pincang ini muncul lagi. kenapa juga mesti di lembah sunyi tempat pertarungan besar itu. juga kemunculan kembali rekan lama kita si 'Maling Nyawa'. bahkan si Malaikat Copet kudengar turut hadir disana. apakah semua itu cuma kebetulan saja ataukah ada yang mengaturnya.?''
Mendengar jawaban si buntung ketua 13 Pembunuh dan kedua rekannya tanpa sadar terkesiap. mereka tidak menyangka kalau si Lengan Tunggal Pengejar Roh dapat berpikir sedalam itu karena biasanya orang ini tidak pernah mau perduli dengan apapun juga.
Tanpa mereka sadari ada pandangan mata buas yang disertai satu seringai licik sempat tersungging di bibir pucat si tua buntung. diatas sana malam bertambah pekat. udara juga berhembus semakin dingin seakan suatu pertanda bakal adanya banjir darah.
__ADS_1