13 Pembunuh

13 Pembunuh
Ilmu curian, cakar tengkorak darah.


__ADS_3

Dengan keris berlekuk lima ditangan kanan dan trisula di kiri, orang bernama Joko Luwing menyerang sisi kanan tubuh Roro. sebaliknya pedang besar dalam genggaman si perwira tinggi Kunto Pranjan mendesak dari sebelah kiri, mereka menggencet wanita cantik itu dari dua arah. sementara para prajurit yang tersisa mengurung dengan tombak terhunus.


Meskipun agak merepotkan tapi Dewi Malam Beracun menghadapinya dengan senyuman mengejek, seakan sengaja membuat panas hati lawannya. hanya dalam waktu singkat pertarungan sengit jarak dekat dua lawan satu ini sudah berlangsung lebih dari sepuluh jurus. dentingan senjata beradu berulang kali, tapi belum ada tanda bakal ada yang kalah.


Gerakan jurus Joko Luwing yang sanggup memadukan keris dan trisula cukup mampu membatasi gerakan Roro, kadang kedua senjata itu menusuk susul- menyusul, tapi tidak jarang menikam bersamaan dengan sasaran yang berbeda. pedang besar dan panjang Kunto Pranjan juga sering bergerak membabat dan membacok, sepertinya orang ini mencampurkan jurus pedang dengan jurus golok, menjadi serangkaian ilmu pedang yang hebat dan aneh.


Meskipun mampu mengurung lawannya tapi kedua orang ini juga tidak mampu mendesak lebih jauh, sambaran kipas perak yang cepat serta ganas, membabat dan menotok jalan darah seakan mampu membentengi wanita cantik itu dari serangan mereka. belum lagi bau harum memusingkan yang membuat mereka terpaksa menahan jalan pernafasan, hingga serangan keduanya selalu mentah ditengah jalan.


'Whuut., wuut., Breet.!'


''Aakhh., Perempuan setan.,!''


Kunto Pranjan mengumpat marah, kipas perak lawan mampu membabat perutnya. masih untung dia memakai baju perang yang berlapis lempengan besi hingga tidak sampai merobek perutnya, meskipun begitu kipas perak itu masih sanggup membuat lapisan besi di baju perangnya tergores cukup dalam nyaris tembus.! entah kipas itu terbuat dari bahan apa hingga bisa begitu kuat dan tajam.


Serangan Dewi Malam Beracun sungguh tidak dapat ditebak, tubuh tinggi langsingnya begitu lentur seakan tidak bertulang, baru saja mampu mendesak Kunto Pranjan, dengan enaknya tubuhnya membalik cepat kebelakang mengirimkan tiga totokan kipas perak sekaligus, ini jurus menyerang sekaligus menangkis tusukan senjata Joko Luwing. dan diujung serangan dia kibaskan kipasnya hingga timbulkan angin kencang berbau harum menyesakkan.

__ADS_1


'Sheet., seet., traang.!'


'Whuuutt., wuut,!'


Joko Luwing keluarkan suara mendengus keras, tubuhnya terpental kebelakang kedua senjatanya nyaris terlepas. dengan nafasnya sesak dan kepala pusing dia berusaha tetap berdiri, tapi akhirnya dia jatuh terduduk. tidak disangkanya kalau wanita yang kelihatan lemah lembut ini begitu berbahaya.


''Modar kowe perempuan edan.,!'' rutuk Kunto Pranjan sambil lepaskan tiga bacokan saling menyilang yang diakhiri satu tusukan pedang berputar yang dahsyat, kepala prajurit yang sudah kalap ini mengeluarkan jurus 'Geledek Membongkar Kawah Gunung.!' salah satu jurus yang paling dia andalkan dan jarang digunakan. terakhir kali dia memakai jurus ini setahun yang lalu saat membunuh satu kepala begal yang berhasil kabur dari penjara.


Mau tak mau Roro terkesiap juga, dengan andalkan ilmu meringankan tubuhnya dia lincah menghindari serangan lawan, tapi tetap saja jubah gaun hitamnya robek- robek tersambar angin serangan pedang lawan,


Sebenarnya ilmu ini belum sempurna dipelajari Roro, juga bukan ilmu kesaktian warisan gurunya si Nenek Tabib Selaksa Racun, melainkan bisa disebut sebagai ilmu curian. suatu ketika Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun mendapat tugas untuk membunuh seorang tokoh silat bajak laut dan ratusan anak buahnya yang berkuasa di sebuah pulau kecil di timur tanah andalas.


Bersama dengan pembunuh nomor empat dan nomor delapan dia berhasil menghabisi sasarannya sekaligus mengambil semua harta yang ada, saat hendak meninggalkan tempat itu tidak sengaja dia melihat sebuah bungkusan yang terselip di baju tokoh silat itu, dan tanpa sepengetahuan kedua rekannya diam- diam bungkusan itu diambilnya, setelah di periksa ternyata isinya adalah sebuah kitab ilmu pukulan 'Cakar Tengkorak Darah.!' sebuah ilmu kesaktian yang ganas dan sangat keji.


Babatan pedang Kunto Pranjan meski mampu membuat kipas perak terpental ke udara, tapi tenaga serangan pedangnya juga menjadi berkurang, arah tikaman pedang yang berubah membuat sisi dada sebelah kanan longgar, maka saat lima sinar merah datang menyambar, perwira tinggi itu cuma dapat melolong setinggi langit, dadanya robek tercabik cakar hingga tulang iganya turut berserabutan keluar, darah menyembur membasahi tanah. seiring tumbangnya tubuh si kepala pasukan, Roro juga kembali meraih kipasnya dari udara.

__ADS_1


Sebenarnya Kipas itu memang sengaja dibuat terpental olehnya untuk memancing lawan membuka celah jurus pedangnya yang cepat dan rapat. dalam sebuah pertarungan jarak dekat cukup sulit untuk melepaskan ilmu pukulan sakti. karenanya Dewi Malam Beracun harus memakai kecerdikan agar bisa mendapat kesempatan.


Pakaian atasnya yang robek dibuangnya ketanah, kini wanita cantik itu cuma memakai pakaian dalam tanpa lengan. ''Jika kalian masih ingin hidup, segera bawa mayat pimpinanmu pergi, tapi tinggalkan kepala Gada Rahwana di sini.!'' bentak Roro sambil berkacak pinggang. karuan saja sisa prajurit Demak itu langsung melakukan perintah wanita itu, meski memalukan tapi nyawa lebih penting. sekejab saja mereka sudah kabur dengan membawa mayat atasannya.


Roro berbalik menghadap Joko Luwing yang baru saja mampu berdiri kembali. dengan melangkah santai dan menebar senyuman dia mendekat. sambil berkacak pinggang perempuan itu menegur, ''Heii., Sebenarnya kau ini takut ataukah malah terpesona melihatku.,?'' godanya dengan gaya genit.


Beberapa obor prajurit yang tertinggal menerangi tubuh semampai yang mengkilap berkeringat itu. dalam keadaan lain pemandangan ini mungkin menggoda kaum lelaki, tapi saat ini Roro tidak ubahnya setan betina pencabut nyawa.!


Joko Luwing tidak menjawab, dia sadar kemampuannya jauh dibawah wanita ini. tapi untuk menyerah dan minta ampun dia juga tidak sudi. ''Hik., hii., hi., Kau tidak perlu cemas, aku tidak ada urusan denganmu.!'' ujar Roro sambil membenahi rambutnya yang kusut. ini diluar dugaan Joko Luwing, ''Jadi kau akan melepaskanku.?'' tanyanya ragu. Roro cuma mengangguk, '-Aku sih tidak perduli, tapi sepertinya orang dibelakang itu punya urusan denganmu.!'' jawabnya sambil menuding, lalu berjalan berbalik arah.


''Apapun masalahnya selesaikan sekarang juga, kalau terpaksa harus membunuhnya lakukan dalam sepuluh jurus. jika kau sampai gagal., berhenti saja mengikutiku.!'' seru Dewi Malam Beracun, entah dengan siapa dia berbicara. dengan sapu tangannya yang bersulam bulan sabit Roro menghapus sisa keringat di tubuhnya, ''Duuh., tubuhku mulai bau asem., kayaknya besok pagi aku harus mandi bunga wangi lagi..'' gumamnya sambil menciumi sapu tangannya yang basah, setelah mengambil buntelanan berisi kepala Gada Rahwana dia bergerak lenyap dikegelapan.


''Apa kau masih terpukau dengannya, atau memang belum pernah melihat wanita seperti dia.?'' tegur seseorang dengan suara berat. seketika Joko Luwing menoleh kaget, di bawah keremangan cahaya obor dia melihat seseorang, entah sejak kapan beberapa langkah di depannya telah berdiri sesosok lelaki tinggi besar, berwajah gagah dan agak brewok, di tangan kiri orang ini menggengam sebuah pedang yang sudah buntung.


Wajah Joko Luwing berubah pucat pias, dia tersurut mundur saat mengenali siapa adanya orang itu. ''Kau., kau., kenapa masih hidup., 'Bagaimana bisa kau ada di sini.,?'' desisnya ketakutan seakan melihat hantu gentayangan. malam semakin larut udara juga dingin membeku, tapi sepertinya juga tidak mampu menahan darah panas yang bakal kembali tertumpah di tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2