13 Pembunuh

13 Pembunuh
Pertemuan pertama (bag 1)


__ADS_3

Empat bulan sebelumnya.,


Setelah sempat membuat kegegeran di pedukuhan Punggingan dengan membunuh Tiga Macan Ireng di dalam sebuah warung makan, Dewi Malam Beracun bersama dengan bayi yang dinamainya Anggana dan kedua rekannya terus melanjutkan perjalanan mereka menuju Kadipaten Wonokerto untuk menemui Pendekar Golok Bayangan Setan atau Ki Ageng Bronto.,


Karena belum sempat makan diwarung tadi, sepanjang perjalanan wanita cantik ini terus saja mengomel, Respati dan Sabarewang harus pasrah menjadi sasaran pelampiasan kejengkelan hatinya,


''Heei., kenapa kalian tidak menungguku untuk makan bersama di warung tadi.? malah cuma menyisakan ubi dan jagung rebus saja untukku.,!''


''Makanan di warung tadi banyak yang berlemak, itu tidak baik untuk wanita cantik sepertimu, aku khawatir nanti kau jadi cepat gemuk.,!'' jawab Respati sekenanya. Wanita cantik itu seakan terpana, ''Duh., aku tidak menyangka kalau ternyata., kau, kau., begitu perhatian padaku.,'' katanya sambil tertawa manja, Respati cuma nyengir.


''Memangnya siapa yang percaya dengan omonganmu.,!' Kau pikir aku ini perempuan bodoh.,?'' Bentak Dewi Malam Beracun sambil mencengkeram baju Respati, ''Ta.,tapi yang makan bukan cuma aku saja., Sabarewang juga ikut menghabiskannya, malahan yang dia makan jauh lebih banyak dariku.,'' ujar Respati mencoba membela diri.


''Huh., Kalian berdua sama saja.!''


''Heeii kusir.,!' kereta kuda ini jalannya terlalu lambat., Wonokerto masih sangat jauh, kalau begini kapan kita akan sampai di sana?' Aku membayarmu bukan untuk bermalas-malasan tahu.,!'' Wanita itu terus mengomel.


Meskipun pernah kalah dari Respati sampai hampir kehilangan nyawanya, tapi bagi Sabarewang, Dewi Malam Beracun jauh lebih menakutkan dari si pemuda, maka begitu mendengar perintah, orang ini langsung gebrak tali kekang kudanya. kereta kuda itupun melaju dengan sangat kencang. tapi karena jalanan disana berlubang dan berbatu, kereta kuda itu jadi berguncang-guncang jalannya, Anggana sampai terbangun dan sempat menangis. Wanita ini jadi panik, cepat dia berusaha menenangkan bayinya, tapi tangisannya malah makin keras, ''Kusir sialan.,!' jalanmu terlalu cepat, bayi ini sampai terbangun, awas kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku tidak akan mengampunimu.!''


''Lambat salah, jalan cepat juga marah., bikin orang bingung saja, sebenarnya apa sih maumu.?'' tanya Respati jengkel. ''Diam kau, jangan ikut campur.,!'' semprot wanita galak itu. si pemuda langsung bungkam mulut. Sabarewang lebih nurut lagi, kereta kembali berjalan sedikit lambat.


''Mungkin dia haus atau lapar,?'' ujar Respati melihat bayi digendongan Dewi Malam Beracun masih menangis, ''Aku sudah coba memberinya minum, tapi dia tetap saja nangis, aduuh., bagaimana ini,?'' gumam wanita itu kebingungan. ''Mungkin karena dia sudah bosan susu kambing dia ingin minum air susu ibu yang asli.,'' Respati berpendapat.


Dewi Malam Beracun langsung melotot.!


Si pemuda langsung sadar, ''Mak.,maksudku bukan susu.,mu., tapi kau cari ibu-ibu hamil atau yang sedang menyusui..'' katanya dengan muka kikuk. wanita itu mendengus kesal.


Respati mengernyit sambil tutupi hidungnya, ''Kau tidak mencium sesuatu yang aneh.?''


Dewi Malam Beracun sekejab merasa heran mendengarnya, tapi kemudian diapun sadar., ''Yaahh., dia ngompol, dan., Eek, ek lagi.,'' keluhnya, ''Hei kusir., hentikan keretanya.,!''


Begitu kereta berhenti, Respati segera turun menemui Sabarewang, ''Tuh., majikanmu ada pekerjaan untukmu, mungkin kali ini kau mesti mencuci kain popok bayinya..''

__ADS_1


''Kenapa mesti aku yang melakukannya.,?'' tolak Sabarewang, tapi saat Dewi Malam Beracun memanggilnya, orang ini tetap saja menurut, sebentar kemudian dia sudah pergi mencari sumber air untuk mencuci kain-kain popok bayi yang basah kotor dan bau pesing. kelihatannya sejak peristiwa di punggingan, didalam hati lelaki ini sudah tertanam rasa takut pada wanita cantik itu. Respati tertawa sendiri melihatnya.


Dewi Malam Beracun turun dari kereta, dia terpaksa menggunakan sebagian persediaan air minum untuk menceboki pantat sibayi, ''Kenapa tidak ikut Sabarewang mencari air, tapi malah gunakan air minum orang untuk menceboki pantat bayimu.,?'' tanya Respati kesal. ''Jadi kau keberatan.,?'' wanita itu balik bertanya sambil mendelikkan matanya.


''Aah.,Tid., tidak., semua terserah kau saja,'' jawab Respati nyengir lalu bungkam.


''Menurutmu kenapa kotak kayu cendana hitam dan bayi itu harus diserahkan kepada Ki Ageng Bronto.,?'' tanya Respati mencoba mengalihkan pembicaraan, ''Aku tidak tahu, tapi bayi ini tidak akan kuserahkan kepada siapaun juga.!'' tegas wanita itu.


''Tapi., itu berarti kau sudah menentang perintah orang itu.!''


Dewi Malam Beracun selesai membersihkan momongannya, bayi yang mungkin umurnya baru tujuh atau delapan bulan itu tertawa-tawa saat diangkat tinggi, lalu dilempar tangkap diudara., ''Aku tidak perduli.!' lagipula Ketua tidak menyuruhku melakukannya, dan terus terang saja aku hanya diperintah untuk mengikutimu dan melindungi bayi ini.,!'' jawab wanita itu. ''Heih., kemana perginya kusir itu, lama sekali dia.,!'' gerutunya.


''Sekarang ini musim kemarau., apa kau pikir gampang mencari sungai atau sumber air di tengah hutan begini.,?'' Respati balik bertanya. Sementara dalam hatinya berpikir lain, 'Apa tujuan Ketua sebenarnya., aku merasa ada yang janggal dan tidak nyambung dengan semua ini., Kotak kayu cendana hitam berisi peta rahasia, Bayi dari Istana Angsa Emas,'


'Ki Ageng Bronto si nomor sembilan dari kelompok 13 Pembunuh., juga kemunculan Gada Rahwana dan wanita ini., Ketua hanya menyuruhku merebut kotak kayu itu dari kelompok Garuda Merah, tapi apakah kotak ini juga harus kuserahkan pada Ki Ageng Bronto atau bagaimana orang itu juga tidak menjelaskannya.'


Sementara itu Sabarewang yang mencari sumber air belum juga mendapatkannya, baru setelah masuk agak kedalam hutan akhirnya dia bisa mendengar gemericik aliran air pertanda ada sungai di depannya. benar saja setelah melewati pepohonan dan semak belukar yang tinggi dia bisa melihat ada sebuah sungai kecil, meski dangkal tapi airnya masih cukup bersih. bergegas dia turun ke sana, beberapa lembar kain kotor bekas ompol bayi langsung dicucinya sambil menggerutu, ''Sial betul., kenapa aku harus melakukan ini, meski wanita ganas itu sudah membayarku mahal, tapi bukan berarti dia bisa menyuruhku sesukanya., pantas saja pemuda itu sampai bilang kalau Dewi Malam Beracun jauh lebih menakutkan daripada seribu kalajengking berbisa..!''


'Haa.,ha., mau kabur kemana kau bocah,!'


''Serahkan saja dirimu pada kami., tanggung kami akan memperlakukanmu dengan baik.,!''


''Percuma saja berteriak, tidak ada siapapun yang akan mendengarnya, Ha.,ha.,''


Seorang gadis kecil berbaju kutang yang sudah lusuh dan membawa buntelan kecil di bahunya tampak berlarian menyusuri sungai itu, beberapa langkah dibelakangnya ada empat orang yang sedang mengejarnya. meski sudah berusaha kabur, tapi akhirnya langkah gadis itu terhenti setelah kakinya kesandung batu didasar sungai, diapun jatuh tersungkur dan basah kuyup, 'Akhirnya kau menyerah juga.,!'


''Huh., Bikin kita capek saja., sekarang akan kau rasakan akibatnya. Ha.,ha.,''


Salah satu dari keempat orang itu yang bertelanjang dada menarik baju si gadis hingga dia terpaksa bangun, tapi rupanya dia bukan anak gadis yang gampang menyerah, saat berdiri kakinya langsung menendang selakangan orang bersamaan tangannya memukul ke bawah dagu, agaknya dia punya dasar ilmu bela diri. tak menyangka bakal diserang orang itupun mengaduh dan langsung jatuh terjungkal pingsan, tenaga gadis kurus ini kuat juga.!


''Bocah edan, rupanya kau suka main keras.,!'' ''Bagus, biar kau rasakan ini.,!'' bentak mereka bertiga seraya bergerak mencengkram bahu dan leher sigadis, yang diserang berusaha berkelit, menangkis bahkan balas memukul, tapi apalah artinya kekuatan seorang gadis muda dibandingkan tenaga tiga pria kasar, hanya sebentar saja dia sudah kembali jatuh tersungkur, gadis itu menjerit kesakitan saat rambutnya dijambak oleh salah satu dari ketiga lawannya. ''Heh., gadis sial, tadinya kami cuma hendak mengambil perhiasan yang kau bawa saja, tapi karena kekurang ajaranmu ini, kami juga minta yang lain.,!'' geram orang yang berbadan kurus.

__ADS_1


''Hee. he,' meskipun masih terlalu muda dan hitam kurus, tapi tubuhnya lumayan juga.,!'' ujar temannya yang berbaju coklat. rekannya yang lain langsung bergerak mencengkeram sambil menarik sigadis ketepi sungai hingga tali baju kutangnya putus, anak perempuan itu menjerit berusaha meronta, tapi satu tamparan kembali membuatnya terjatuh. ''Hmm., biar aku duluan yang mengerjainya.,!'' geram si telanjang dada yang sudah sadar dari pingsannya. gadis itu cuma bisa meratap membayangkan apa yang bakal dialaminya.


''Wah.,wah., rupanya disini sedang ada pesta, kalau mau bersenang-senang kenapa tidak mengajakku kawan.?''


Serentak semuanya menoleh, di atas tanggul sungai nampak seorang lelaki empat puluh tahunan berbaju merah sedang berdiri di sana, tampangnya cukup gagah dan sedikit bercambang.


''Siapa kau, dan ada urusan apa.?'' tanya si baju coklat. ''Lebih baik segera menyingkir dari sini daripada celaka.,!'' gertak yang bertelanjang dada kesal.


''Aku cuma lewat saja, kebetulan seleraku juga suka dengan gadis yang agak dibawah umur, jadi kuminta kalian mengalah, berikan saja dia padaku, Hee, he, he., bagaimana hah.?''


Keempat orang itu saling pandang, lalu tertawa bergelak, '' Rupanya ada orang gila yang ingin cepat mati sampai dia bicara ngawur.!''


''Lebih baik kita turuti keinginannya, Hei., kemarilah., kami akan berikan dia untukmu,!''


Orang itu turun dari atas tebing sungai yang cukup tinggi, gerakannya ringan dan mantap. semua orang disana rada terkejut dibuatnya.


''Aku sudah datang, sekarang biar anak itu ikut denganku,!'' ujar lelaki baju merah itu, sambil meraih tangan si gadis, tapi cepat dihalangi si baju coklat, laki-laki itu mendengus, tangan kirinya bergerak menampar sekaligus meninju wajah lawan sampai patah tulang hidungnya, orang itu meraung kesakitan, satu jotosan ke perut langsung membuatnya pingsan, kaki si baju merah tidak tinggal diam, dengan gerakan memutar dia tendang pinggang dan perut si telanjang dada hingga tercebur kembali ke sungai. dua orang lainnya cepat cabut golok dipinggang lalu bebarengan menyerbu lawannya.


Dua golok membacok, membabat dan menusuk dengan ganasnya, yang diserang mampu berkelit bahkan balas menyerang, sejauh ini dia seakan lebih banyak gunakan kedua kaki dan tangan kiri untuk menyerang lawan, tangan kanannya agak terkulai, mungkin pernah cedera parah, ''Keparat.,!'' maki orang yang goloknya rada pendek mendapati serangan goloknya selalu luput dari sasaran. kali ini dia sengaja menyerang bagian kanan tubuh lawan yang dianggapnya lemah, sementara kawannya juga menyerang dari samping kanan, satu mengincar pangkal lengan seorang lagi membabat pinggang.!


'Seett., Weett.,!' Craass.!'


Lelaki baju merah itu cepat berjumpalitan ke belakang, dia agak limbung saat jejakkan kakinya ke tanah, ada darah menetes dari pinggangnya, dengan kertakan giginya dia mencabut sebilah pedang yang sudah buntung. kedua lawannya tertawa bergelak melihatnya, ''Kasihan sekali., sudah bosan hidup pedangnya buntung pula, Haa.,ha.,!''


Dengan tangan kiri memegang pedang buntung, lelaki yang bukan lain adalah Sabarewang terlihat pejamkan matanya sebentar, meski cuma sekejab tapi dia ingat pelajaran ilmu pedang yang baru diajarkan Respati selama mereka seperjalanan meski itu cuma satu jurus dan belum sempurna dipelajari, tapi baginya jurus ini sangat luar biasa hebatnya.


Sebenarnya hanya dengan menggunakan jurus Lima Sambaran Petir Maut miliknya, sudah lebih dari cukup untuk menghabisi kedua lawannya, tapi dia ingin mencoba kehebatan jurus barunya yang bernama jurus 'Bintang Langit Terpecah.,!' Sabarewang tidak tahu kalau jurus ini berasal dari kitab rahasia Tujuh Jurus Pedang Bintang Pemusnah.,! yang di dapatkan dari kotak kayu cendana hitam. Respati tidak berniat mempelajari jurus pedang di kitab itu, tapi salah satu jurus sudah terlanjur terpatri


diotaknya, maka coba diajarkan kepada Sabarewang.


''Majulah kalian.,!'' gumam Sabarewang dengan dingin, kedua lawannya mendengus, lantas menerjang dengan buas, yang diserang tetap bagian tubuh sebelah kanan.

__ADS_1


Lelaki itu gerakkan tubuh dan pedang buntungnya setengah lingkaran lalu menusuk, dua titik cahaya kekuningan berbentuk bintang memancar ke depan, kedua lawannya hanya keluarkan suara tercekik lirih, lalu dari kening keduanya memancar darah merah, disusul kepala mereka terpecah menjadi empat bagian.!


__ADS_2