13 Pembunuh

13 Pembunuh
Kamar terkutuk


__ADS_3

Dua orang gadis yang sama terikat tangan dan kaki terlihat meringkuk lemas dipojokan dinding kereta kuda, sebelumnya ada belasan gadis muda didalam kereta itu, tapi para gadis hasil penculikan para begal Jalak Gandos itu sudah dijual dan beralih tangan. entah bagimana nasib mereka semua, Roro Wulandari cuma dapat berdoa semoga gadis- gadis itu selalu selamat. teringat akan nasibnya sendiri dia hanya bisa pasrah.


Suara batuk dan isak tangis gadis kurus pucat yang ada didepannya membuat Roro tersadar kalau dia tidak sendirian berada di dalam kereta kuda yang gelap itu. tadinya kereta itu milik gerombolan Jalak Gandos, tapi sudah diberikan pada saudagar emas yang telah membelinya. 'Bagaimana keadaanmu, apakah kau sakit,?' tanya Roro sambil beringsut maju, karena gelap dan terikat dia harus meraba- raba dinding kereta.


'Aku tidak apa- apa., hanya sedikit batuk dan dingin.' jawab gadis itu sambil kembali terbatuk dan menggigil, Roro cepat memijit dan mengelus punggung si gadis, tubuhnya dirapatkan untuk memberi sedikit rasa hangat pada gadis kurus itu.


'Namaku Roro dari desa Pendamaran, siapa namamu dan berasal dari mana,?' tanya Roro membuka perkenalan, 'Aku Rumilah, asalku dari daerah kaki gunung Patri.'


'Gunung Patri sangat jauh dari tempatku, mungkin dua hari perjalanan berkuda baru akan sampai. bagaimana kau bisa berada bersama mereka, pasti kau juga diculik oleh gerombolan ini.' ujar Roro coba menebak. meskipun gadis bernama Rumilah tidak menjawab dan berada dalam kegelapan, tapi Roro Wulandari bisa merasakan kalau tebakannya benar. karena Rumilah terus diam, Roro juga tidak mau mendesaknya. keduanya sama membisu dan akhirnya tertidur pulas bersandaran.


Kereta kuda terus begerak cepat, darI celah dinding kereta sudah terlihat cahaya mentari, rupanya hari sudah berganti pagi, sekarang Roro dapat mendengar suara orang di luar, kadang juga ada suara ringkik kuda dan roda pedati, sepertinya mereka sedang melewati jalanan yang cukup ramai. seingatnya dulu saudagar emas itu pernah bilang pada ayahnya kalau rumahnya tidak terlalu jauh dari Pendamaran, mungkin hanya setengah hari perjalanan berkuda.


Roro merasakan kalau jalanan mulai terasa menanjak dan agak berliku, membuat kereta kuda berjalan lebih lambat. setelah cukup lama rombongan itu berjalan, kereta kuda itupun kemudian berhenti. sepertinya mereka sudah sampai di tujuan, terdengar suara Saudagar emas dan istrinya yang memanggil seseorang. langkah kaki beberapa orang terasa mendekati kereta, begitu pintu dibuka cahaya sinar mentari langsung menyeruak kedalam membuat mata Roro sesaat menjadi silau. rupanya waktu tidak lagi pagi melainkan sudah menjelang siang hari.

__ADS_1


Dua orang lelaki kasar menarik keluar tubuhnya mereka berdua dari dalam kereta, setelah itu mereka diseret paksa untuk masuk kedalam suatu bangunan besar yang mirip dengan rumah para pembesar keraton. ukurannya besar dan mewah, di halamannya yang luas terlihat beberapa orang pengawal keluarga saudagar emas yang berjalan hilir mudik menjaga keamanan majikannya. melihat semua itu harapan untuk bisa melarikan diri semakin mustahil baginya. sementara suami istri pemilik rumah megah ini tidak terlihat, mungkin mereka sudah lebih dahulu masuk ke dalam rumah.


Seorang pengawal yang bertugas menjaga pintu utama membisikkan sesuatu kepada kedua orang yang mengawalnya untuk pegi ke suatu ruangan, rumah itu ternyata bukan saja besar tetapi juga sangat panjang, disepanjang lorong rumah banyak sekali perabot dan barang mewah, beberapa wanita pelayan rumah terlihat sibuk menata dan membersihkan perabot.


'Mereka orang baru ya Kang.,? tanya seorang pelayan yang bertubuh agak gemuk dan bermuka galak. sepertinya dia kepala pelayan dirumah ini. lelaki pengawal itu cuma mengiyakan sambil memberikan Rumilah pada si pelayan gemuk, 'Kuserahkan dia padamu, suruh anak ini bekerja cepat membersihkan dapur.' katanya sambil terus membawa Roro Wulandari, Rumilah sempat tetlihat khawatir dengan Roro, tapi anak juragan Sindu Wijoyo itu cuma tersenyum.


Di depan sebuah kamar pengawal itu berhenti lalu membuka pintunya, ruangan kamar itu terlihat remang- remang karena hanya diterangi cahaya lentera minyak yang sepintas menyebarkan aroma wangi yang cukup menyengat. Roro didorong masuk ke dalam kamar yang terlihat cukup besar tapi perabotannya tidak ada yang menonjol, hanya ada sebuah meja dan pembaringan berkelambu yang terdapat di sudut ruangan. dari keadaannya mungkin ini kamar tidur seorang pria. Roro mencoba membuka pintu yang sudah tertutup tapi gagal, sepertinya sengaja dikunci dari luar.


Suasana remang dalam kamar itu terasa menyeramkan. dari balik kelambu muncul satu sosok tinggi gemuk, di tangannya memegang sebuah kendi berisi minuman keras, sepasang matanya memerah nafas orang ini seperti agak memburu. mulutnya menyeringai sambil sesekali meneguk tuak dalam kendi. orang ini sepertinya sedang mabuk.


'Kenapa kau tega melakukan semua ini, banyak penduduk desa mati terbunuh, bahkan ayahmu Ki Kebo Riwut juga telah menjadi korban keganasan mereka.? 'Jawab pertanyaanku Gumoro.!' teriak Roro marah setengah menangis.


'Kau bertanya kenapa hah.,? hee., he., Roro Wulandari, gadis tercantik desa Pendamaran, kalau saja dirimu tidak menolak keinginanku untuk mempersuntingmu, mungkin semua ini tidak akan terjadi, bahkan bisa juga saat ini kita sudah punya momongan dan hidup bahagia, haa., ha.,!'

__ADS_1


Wajah Roro seketika merah padam, 'Kau benar- benar menjijikkan Gumoro, kalau saja ayahmu tahu perbuatanmu ini, beliau tidak akan bisa tenang di alam kuburnya.!'


Gumoro menggeram buas., 'Ayahku.,? siapa ayahku., si tua Kebo Riwut itu bukan ayahku.! justru dialah yang telah membunuh kedua orang tua kandungku saat aku masih terlalu kecil.!' cerita ini kuketahui dari paman Jalak Gandos dan Gempal Codet, mereka dulu teman baik ayahku.!'


'Ja., jadi kau sudah tahu hal itu.,?' desis Roro terkejut, memang sejak beranjak remaja dia sudah pernah mendengar cerita itu dari Ibunya, tapi dia juga diwanti- wanti untuk merahasiakannya. hanya saja cerita yang dia dengar agak berbeda dengan yang dikatakan Gumoro, bahkan sangat jauh berbeda.!


Ganti Gumoro yang mendelik, 'Jadi semua orang di desa juga tahu masalah ini, tapi kalian sengaja merahasiakannya dariku.!' 'Keparat kalian semua memang pantas untuk mati!' teriak pemuda itu mulai kalap.


'Kau salah Gumoro.,! Ki Kebo Riwut memang bukan ayahmu kandungmu, tapi dia adalah pamanmu sendiri, kakak ayahmu Ki Garuta. dulu ayahmu adalah seorang kepala gerombolan perampok, tapi mereka adalah perampok budiman, hanya merampok orang kaya yang kikir dan tamak, juga para pejabat yang menimbun harta tanpa peduli nasib buruk rakyat, lalu harta rampasan itu dibagikan kepada para warga yang membutuhkan bantuan.!'


'Suatu ketika terjadi penghianatan dalam kelompoknya, karena ada yang tidak suka cara kerja kelompok ini. mereka ingin agar harta rampasan tidak perlu dibagikan pada orang lain, tapi harus dibagi rata ke semua anggota, mereka terpecah menjadi dua kubu. perebutan kekuasaan tidak terhindarkan, karena sebelumnya diam- diam sudah diberi racun pelemas tenaga, akhirnya ayahmu dan pengikutnya dibantai habis, saat itu kebetulan pamanmu Ki kebo Riwut datang dan berhasil menyelamatkan kau serta Ibumu. tapi dalam perjalan beliau mati kelelahan karena baru seminggu melahirkanmu.!' tutur Roro Wulandari. tiba- tiba saja satu ingatan yang menyedihkan terlintas dipikiran gadis ini, wajahnya terlihat menyesal dan prihatin.


'Dan kau tahu Gumoro., kalau Jalak Gandos dan Gempal Codet yang mengatakan soal kematian ayahmu, maka bisa jadi merekalah sesungguhnya orang yang telah membunuh ayah ibumu, pasti kedua orang itu bekas anak buah ayahmu yang telah berkhianat,!' 'Dirimu sudah tertipu mereka Gumoro.!'

__ADS_1


'Diaam.,! perempuan setan, kau., kau jangan mencoba menghasutku, semuanya hanya tipuanmu untuk membuatku lengah bukan,? kau ingin kabur, He he., jangan harap manis, hari ini kau adalah milikku seutuhnya.!' bentak Gumoro, meskipun dalam hatinya mulai ada keraguan, tapi pengaruh minuman keras membuatnya semakin beringas, dengan cepat dia begerak maju merengkuh tubuh gadis yang sudah lama diidamkannya itu, Roro menjerit dan meronta, 'Gumoro., sadarlah hentikan., tolong., tolong lepaskan aku.!' Respati tolong aku.!' gadis itu berusaha melepaskan diri dari dekapan Gumoro, tapi entah kenapa tenaganya semakin melemah dan kepalanya terasa pusing.


Gumoro mendengus 'Haah, Respati., bocah sialan itu selalu menjadi penghalangku untuk memilikimu, sekarang menjeritlah sekuatmu tapi tidak akan ada yang datang menolongmu!' tubuh gadis cantik yang sudah lemas itu digendong keatas pembaringan, kamar ini seakan menjadi saksi bisu sebuah perbuatan terkutuk yang dilakukan Gumoro.!


__ADS_2