13 Pembunuh

13 Pembunuh
Kolam rahasia


__ADS_3

Kedua perempuan muda murid Nenek Tabib Selaksa Racun ini berdiri saling pandang, dari beberapa gebrakan tadi dapat dilihat kalau Roro Wulandari masih unggul setingkat lebih tinggi dalam ilmu silat jika dibandingkan Rumilah. meskipun satu guru tapi bakat Roro lebih menonjol dibandingkan kakaknya, sebaliknya Rumilah lebih tertarik mendalami ilmu pengobatan, dia belajar silat hanya sekedar untuk menjaga diri saja.


Roro menyimpan kipas peraknya di belakang pinggangnya yang ramping, lalu berlari menghambur memeluk Rumilah, tabib itu mendekap erat adik seperguruannya, berdua mereka tertawa melepas kerinduan, Rumilah menghapus titik air mata yang membasahi pipi Roro, ''Kenapa malah menangis., kalau orang lain tahu Dewi Malam Beracun ternyata cuma perempuan cengeng, kau bisa dijadikan bahan tertawaan.!''


''Aku tidak perduli omongan orang, persetan dengan mereka.!'' ujar Roro sambil menyeret Rumilah untuk duduk kembali diatas balai bambu, lalu dengan seenaknya dia berbaring dipangkuan Rumilah. ''Kau ini bukan gadis remaja lagi, kenapa masih berlaku manja seperti bocah kecil begini.,?'' ledek Rumilah sambil menggelitik adik seperguruannya, dia tahu betul kalau Roro tidak tahan rasa geli.


Benar saja gadis itu terpekik kegelian, ''Jangan kak., Iihh aduuh geli., sudah Hii, hi.,!'' Roro tertawa terkikik, nafasnya tersengal, wajahnya sampai kemerahan. Rumilah jadi tidak tega.


''Eeh., tadi kau bilang membawa buah setengah busuk kemari, kenapa aku tidak melihatnya.?'' tanya Rumilah. Roro langsung terjingkat bangun. ''Aduh., kenapa aku sampai melupakan urusan yang paling penting. Ada seorang kawanku yang terkena racun ganas, kalau dilihat dari gejalanya mungkin itu akibat serangan racun kelabang kuning.!''


Rumilah berdiri seketika, wajahnya yang selalu lembut dan ramah langsung berubah hebat, 'Sudah berapa lama orangnya terkena racun itu, ''Ada masalah sepenting ini tapi kenapa kau malah mengajakku bersenda gurau.?'' Roro menunduk, ''Dia terkena racun sejak malam lalu, meskipun begitu asalkan sudah sampai kemari aku yakin Mbak Rumilah pasti bisa menyembuhkannya.!''


Mata Rumilah mencorong tajam. ''Darimana kau bisa tahu kalau aku mampu mengobati kawanmu,! 'Dengar Roro., bagi seorang tabib nyawa orang sakit lebih utama dari urusan apapun. 'Bahkan kadang disuatu keadaan tertentu, seorang tabib harus berani mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyembuhan orang lain., 'Guru sudah sering mengajarkannya pada kita berdua, jadi jangan pernah berbuat bodoh seperti ini lagi., Kau mengerti.!'' damprat Rumilah kereng sambil gebrakkan tongkatnya ke lantai ruangan.


Roro yang biasanya garang, keras kepala dan mau menang sendiri cuma mengangguk diam tanpa berani membantah, sikapnya seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi Ibunya karena ketahuan mencuri makanan. mungkin didunia ini cuma Rumilah seorang yang berani membentak- bentak gadis itu.

__ADS_1


''Aku tadi sudah menyuruh pembantumu, Nyi Gimun untuk memberitahu Respati agar membawa Sabarewang kemari, 'Heran., seharusnya mereka sudah didalam rumah. apa aku perlu keluar yah.,?'' gumam Roro.


''Sabarewang dan Respati itu siapa.,?'' tanya Rumilah bingung. ''Sabarewang itu kawanku yang sedang keracunan alias buah setengah busuk yang kukatakan tadi., sedang Respati ini teman lamaku..'' jawabnya. ''Ooh., aku ingat sekarang. dulu waktu digunung Lawu kau sering bercerita tentang sepupu jauhmu yang selalu melakukan hampir semua yang kau minta dan juga melindungi dirimu. kalau tidak salah namanya juga Respati., 'Uuiih., ini yang disebut dengan kekasih lama bertemu kembali.,!'' goda Rumilah tertawa. wajah adik segurunya bersemu kemerahan, ''Mbak Rumilah., jangan meledekku, sekarang aku akan keluar dulu mencari mereka..'' ujar Roro tersenyum malu.


''Tidak perlu,! 'Biar kuurus sendiri semuanya, kau urusi saja tubuhmu dulu, 'Iih., tidak biasanya badanmu bau asem begini.!'' olok Rumilah pura- pura tutupi hidungnya.


Roro nyengir malu, ''Iya., sejak kemarin aku belum mandi. 'Eeh., kolam tempat pemandian rahasia kita masih adakan,? 'Biar aku mandi air bunga wangi duluan, tubuhku sudah terasa lengket dan gatal kena keringat.!'' keluhnya.


''Jangan cuma mandi bunga wangi saja, tapi bersihkan juga bulu ketiakmu itu,! 'Dari dulu kau selalu saja malas melakukannya, apa kau tidak merasa risih.?'' omel Rumilah sebal.


Adik seperguruannya cuma terkikik tanpa merasa bersalah sambil melangkah ke dinding ruangan sebelah kiri. dibagian atasnya ada celukan kecil yang agak tersembunyi. didalam celukan itu tergantung dua buah gelang kecil yang terbuat dari kuningan, tangannya memutar- mutar kedua gelang itu lalu menariknya, dinding itu seketika bergeser.


'Kreek., Sreeett.,!' dari dinding itu muncul sebuah pintu yang berhubungan langsung dengan satu tangga batu yang menuju ke bawah tanah, rupanya ada ruangan rahasia dibawah kamar tidur Rumilah. tanpa ragu Roro melangkah masuk, tangannya menarik sebuah gelang kuningan yang ada disebelah kanan dinding ruang rahasia, pintu itupun tertutup kembali.


Gadis itu menapaki belasan anak tangga batu untuk mencapai lantai ruang rahasia, meskipun ruangan itu tertutup tapi anehnya tidak begitu gelap, kalau diamati ada puluhan batu permata yang terpasang di langit- langit ruangan batu, cahaya redup terpancar dari permata itu. suara gemericik air terdengar dari tengah ruangan yang luasnya mencapai sepuluh tombak keliling.

__ADS_1


Roro mengambil sebuah batu api untuk menyalakan lentera minyak yang menempel di empat penjuru dinding ruangan, seketika keadaan menjadi terang, rupanya ditengah ruangan itu ada sebuah kolam air batu yang sangat jernih, luasnya kira- kira empat tombak keliling. air jernih dan berbau wangi segar terus mengalir dari sebuah pancuran berbentuk kepala naga. sepasang mata patung naga itu terbuat dari batu permata yang memancarkan cahaya indah kebiruan. beraneka bunga warna- warni mengapung di permukaan air kolam.


Air wangi bunga di kolam itu terasa hangat hingga mengepulkan asap tipis, rupanya kolam itu berhubungan langsung dengan sebuah sumber air panas yang ada didalam tanah.


Dengan santai Roro melepas pakaiannya, air kolam wangi yang sangat jernih seakan sebuah cermin besar sehingga dia bisa memandangi tubuhnya sendiri. wanita cantik ini tersenyum, dia sangat beruntung memiliki wajah cantik dan tubuh seindah ini. tapi hatinya terasa pedih saat sadar tubuh indah itu sudah kotor ternoda oleh jamahan tangan para manusia jahat. kehormatannya yang terengut dan rahimnya yang tidak bakal mampu lagi memberi keturunan pada pasangannya kelak membuat dia merasa rendah diri dan tidak berharga.


Dengan menghela nafas sedih Roro mulai menenggelamkan tubuhnya ke kolam air wangi sambil berharap bisa menghilangkan rasa sesak yang melanda jiwanya.


Setelah selesai membersihkan dirinya Roro bergegas memakai pakaiannya kembali, rasa nyaman saat mandi di kolam air panas membuatnya lupa waktu. entah sekarang sudah berlalu berapa lama, sekali kakinya menutul tubuhnya melayang ke anak tangga paling atas. terdengar suara lirih beberapa orang berbicara dari balik pintu, tapi anehnya tidak satu suarapun yang dia kenali bahkan suara Rumilah juga tidak terdengar, padahal ruangan ini adalah kamar pribadinya yang tentu tidak boleh sembarangan dimasuki orang lain. Roro segera menyadari adanya bahaya yang mengancam.!


Telinganya berusaha menangkap suara pembicaraan orang diluar sana, meskipun tidak begitu jelas tapi dia bisa memastikan kalau setidaknya ada tiga orang didalam kamar Rumilah, meskipun dalam ilmu silat tidak sehebat dirinya tapi kakak segurunya itu bukanlah orang lemah yang mudah dipecundangi.


''Kalau begitu ada orang dalam yang terlibat disini.!'' pikir Roro. dia mesti berusaha tenang sambil meraba keadaan yang terjadi di luar. pengalamannya bertahun- tahun merambah rimba persilatan membuatnya matang dalam bertindak.


Jarak antara pintu ruang rahasia dengan balai bambu tempat tidur Rumilah ada lima langkah letaknya disebelah kanan dinding. kalau Roro menyerang secara mendadak tentu akan mengagetkan lawannya dan sangat mudah baginya untuk menghabisi musuh yang sedang panik. masalahnya dia tidak tahu keadaan Rumilah dan yang lainnya saat ini.

__ADS_1


Akhirnya dia mengambil sebuah keputusan, tangan kanan menggenggam selusin jarum dan paku beracun, tangan kirinya menekuk membentuk cengkeraman, dari jemarinya keluar kuku- kuku panjang runcing berwarna merah., inilah Cakar Tengkorak Darah.!


__ADS_2