13 Pembunuh

13 Pembunuh
Nyi Sapta Kenanga.


__ADS_3

Meskipun merasakan ada keanehan dalam masalah ini namun baik si 'Pendekar Pedang Lali Jiwo' dan 'Nyi Balung Geni' tidak lagi sempat berpikir panjang. setelah mengambil keputusan Nyi Balung Geni terlebih dulu melontarkan sebuah pukulan sakti bertenaga dalam tinggi untuk memecah perhatian kedua lawannya.


Yang diserang terpaksa bergerak cepat menjauh dengan keluarkan umpatan gusar. bersamaan itu Pendekar Pedang Lali Jiwo segera berkelebat menyambar tubuh Hantu Caping Getih yang terkapar diatas tanah. dengan memanggul rekannya yang sekarat kedua pesilat tua itupun melesat kabur meninggalkan tempat itu.


''Keparat., jangan harap dapat kabur dari sini.!'' bentak si 'Ratu Lutung Sakti' gusar. ''Dasar kaum pengecut licik. tinggalkan dulu nyawa anjing kalian.!'' maki 'Raja Lutung Sakti' tidak kalah geram. bersamaan keduanya berkelebat menyusul lawannya yang sudah jauh berada lebih dua puluhan tombak didepan.


Karena sebagian tenaga kesaktian mereka masih terkuras akibat pertarungan sengit yang baru saja dilalui, dua ketua padepokan Lutung Ciremai itu jadi sedikit terlambat bergerak. apalagi ada belasan anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang langsung menghadang mereka dengan tombak terhunus.


Karuan saja sepasang Raja dan Ratu Lutung Sakti bertambah makin sewot. dengan nafsu membunuh yang meluap kedua orang tua bermuka mirip monyet itupun melampiaskan kemarahannya pada sekumpulan orang berseragam hijau yang menjadi bawahan 'Kelompok 13 Pembunuh' dari pulau 'Seribu Bisa' itu.


Meskipun menang jumlah tapi Pasukan Tombak Gergaji Iblis itu jelas bukan lawan kedua pesilat kawakan ini. dalam sekali gebrakan saja empat orang sudah terjungkal roboh dengan kepala pecah, leher patah, dada remuk dan senjata tombak mental hancur berpatahan. walaupun begitu mereka tetap nekat menyerbu dengan beringas.


Diantara belasan anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis itu, ada dua orang yang masih tetap berdiri ditempatnya. mereka bukan lain adalah kedua orang yang telah menyerahkan peti kayu cendana hitam berleporan tanah lumpur pada Nyi Balung Geni dan Pendekar Pedang Lali Jiwo. biarpun semakin banyak rekan mereka yang tewas ditangan sepasang manusia monyet itu namun mereka seperti tidak perduli.


Kejadian ini tidak terlepas dari pengamatan mata Puji Seruni yang baru saja memulihkan aliran darah serta pernafasannya akibat bertarung dengan Pendekar Pedang Lali Jiwo. sebenarnya dia juga berniat merebut peti kayu cendana itu yang sangat mungkin berisi barang yang sedang diincarnya namun lawan sudah keburu kabur.

__ADS_1


Saat hendak mengejar dia sempat melihat keanehan dari perilaku kedua orang itu hingga tanpa sadar gadis cantik ini hentikan niatnya. ''Sungguh aneh., kenapa kedua orang itu hanya berdiam diri saja tanpa membantu kawannya yang sudah terdesak.?'' pikir Puji Seruni tertegun. saat itulah kembali terdengar jeritan parau bersautan dari mulut para anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis.


Dari hampir dua puluhan orang hanya dalam lima gebrakan jurus saja kini tinggal cuma tinggal tiga orang saja yang bertahan hidup itupun dengan membawa luka memar dan patah tulang lengan. tanpa bersepakat merekapun mencelat kabur. ''Sialan., kenapa kalian berdua cuma menonton saja tanpa mau membantu kami. ayoh., cepat kita kabur.!'' maki salah satu dari mereka saat melewati kedua orang rekannya yang sedari awal hanya diam.


Sayangnya baru beberapa langkah ketiga orang itu melewati tubuh rekannya, mereka sama berteriak parau sekaligus kaget saat tahu tombak bergerigi ditangan kedua kawannya sudah bergerak membabat dan menikam punggung mereka. tanpa ampun ketiganya tersungkur berkelojotan dengan mata mendelik penasaran karena tewas ditangan kedua rekannya sendiri.!


Kejadian itu berlangsung begitu cepatnya hingga semua orang yang melihat tercengang bingung. lebih terperanjat lagi saat kedua orang Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang tersisa itu melepaskan caping bambu dan topeng tengkorak putih yang menutupi wajah mereka.


Biarpun wajah kedua orang ini masih tertutupi selembar cadar hitam bersulaman bulan sabit perak namun jelas kalau ternyata mereka adalah kaum wanita. saat pakaian hijau juga ditanggalkan terlihat bagian dalam tubuh keduanya sudah memakai seperangkat baju ketat berwarna hitam. sebilah pedang pendek yang bentuknya sedikit melengkung mirip bulan sabit terselip dibelakang pinggang.


Puji Seruni tertegun memutar otak sesaat lamanya sebelum akhirnya tertawa bergelak. ''Haa., ha., rupanya ini sebagian dari rencana licik si Roro. sialan betul., sekarang mungkin dia sedang enak- enakan bersantai entah dimana, sementara anak buahnya dari persekutuan 'Bulan Perak' juga diriku yang mesti bersusah payah untuk melaksanakan rencana gilanya.."


''Huhm., awas saja nanti. kelakuan dia ini mesti kubalas.!" gerutu Puji Seruni sebal juga geli. "Hei sobat., kudengar dalam persekutuan Bulan Perak ada seorang pesilat wanita ahli menyamar dan punya ilmu meringankan tubuh hebat bernama Nyi Sapta Kenanga, berjuluk si 'Tujuh Bunga Terbang'. meskipun tertutupi cadar tapi jika kulihat dari usiamu kau inikah Nyi Sapta Kenanga itu.?''


Yang ditanya hanya tunduk menganguk tanpa menjawab. dari cerita sahabatnya Puji Seruni paham kalau orang ini sangat menjaga kerahasiaan dirinya. karena hampir tidak ada seorangpun yang tahu wajah asli perempuan ini selain Roro Wulandari sebagai ketua persekutuan Bulan Perak.

__ADS_1


Dilain pihak Raja Ratu Lutung Sakti sudah berdiri disebelah kiri- kanan mereka dengan raut muka curiga. dalam hati keduanya sama membatin, ''Kenapa perkumpulan Bulan Perak yang kerjanya mencuri dari kaum kaya kikir dan pembesar tengik untuk dibagikan pada kaum miskin dan teraniaya bisa muncul dan terlibat disini. ada hubungan apa antara mereka dengan Nyi Puji Seruni dari Lembah Seruni ini.?''


''Suamiku., tadi aku mendengar kalau nama Dewi Malam Beracun juga mereka sebutkan. sungguh tidak diduga wanita yang kabarnya sangat cantik dan punya segudang tipu muslihat itu bukan lain adalah sang ketua dari persekutuan Bulan Perak yang menjadi musuh kaum kaya culas dan para pejabat penindas rakyat..'' bisik Ratu Lutung Sakti.


''Belum lagi si Tujuh Bunga Terbang. aku dengar kabarnya maling perempuan itu sudah beberapa tahun menghilang entah kemana. bahkan ada juga yang bilang dia sudah mati. kenapa sekarang bisa muncul kembali dan sudi merendahkan dirinya menjadi anak buah Dewi Malam Beracun.?''


''Aku juga tidak menyangkanya istriku. tapi., semua yang terjadi sangat aneh bagiku. kita mesti menyelidiki masalah ini, kalau perlu kita paksa mereka untuk membuka mulut. biar bagaimanapun juga kita harus dapatkan barang itu sesuai pesanan. biarpun pemuda itu tidak mengharuskan kita mendapatkannya, tapi kita tetap berusaha membalas budinya tempo hari. rasanya sangat memalukan jika masalah sekecil ini saja kita sampai gagal mendapatkannya..'' sahut suaminya.


Saat keduanya hendak membuka mulut, perempuan setengah umur yang dipanggil sebagai Nyai Sapta Kenanga sudah lebih dulu bicara. ''Tentunya kedua orang didepanku ini adalah Raja Ratu Lutung Sakti dari gunung Ciremai yang sudah lama ternama di rimba persilatan. suatu kehormatan bagi kami kaum rendahan persekutuan Bulan Perak dapat bertemu dengan tokoh kawakan aliran putih..''


Seraya membungkuk hormat Nyi Sapta Kenanga terus berkata tanpa memberikan kesempatan bagi keduanya untuk bicara. ''Aku tahu kalian merasa heran dengan semua ini. jika tidak salah diriku menduga, kalian berdua juga menginginkan barang yang sama dengan kami juga Nyi Puji Seruni..''


''Sayangnya barang yang menjadi incaran cuma ada satu tapi sebaliknya banyak pihak yang menginginkannya. meskipun ini masalah yang cukup rumit namun bukan berarti tidak ada penyelesaian. disini bukan tempat yang baik untuk bicara. jika kalian mau., silahkan ikut ke tempat kami.!''


Setelah memberi isyarat kedua anggota Bulan Perak itu sudah berkelebat tinggalkan tempat itu. Raja Ratu Lutung Sakti yang tidak sempat menahan menjadi ragu sejenak, namun saat melihat Puji Seruni sudah bergerak menyusul Nyi Sapta Kenanga, merekapun terpaksa ikut. lagi pula dalam hati kedua ketua perguruan Lutung Ciremai itu sudah dilanda rasa penasaran.

__ADS_1


Malam itu kembali sunyi. tinggal Ki Pulut dan cucunya yang termenung sedih menatap reruntuhan warungnya. orang tua itu kaget saat melihat segenggam kepingan uang emas dan perak dibawah kakinya. dia baru sadar kalau gadis cantik penolongnya sudah meninggalkan uang untuk mereka.


__ADS_2