
Rumah yang berada di ujung jalan itu memang besar dan juga luas. di bagian depannya di kelilingi pagar tembok batu bata setinggi satu tombak. sebuah pintu masuk berukuran besar terbuat dari kayu jati hitam terlihat kokoh di bagian depan.
Respati menghentikan kereta kudanya agak jauh dari pintu masuk rumah itu seperti permintaan Roro. pemuda itu tidak banyak bertanya karena tahu kalau wanita itu pasti punya alasan tersendiri. isi otak 'Dewi Malam Beracun' memang tidak mudah di pahami.
Rumah besar itu letaknya agak jauh terpisah dari dari deretan rumah penduduk yang lain. meskipun dari luar tidak terlihat adanya penjagaan tapi Respati yakin untuk dapat masuk ke dalam sana tidak semudah yang di bayangkan. bahkan nalurinya yang tajam sebagai bekas pembunuh bayaran merasa kalau di dalam rumah itu tersembunyi bahaya maut yang mengintai.
''Kau ingin langsung masuk ke sana atau bagaimana.?'' tanya Respati pada Roro yang melongokkan kepalanya dari jendela depan kereta kuda. wanita cantik itu telihat sedikit bingung. ''Aneh., tidak ada penjaga di bagian depan rumah, seingatku si nomor sembilan ini mempunyai empat orang pengawal utama dengan belasan bawahan..''
''Kau berjaga saja di sini, biar aku yang masuk ke dalam rumah. jika kau mendengar tanda isyarat dariku, lakukan saja sesuai dengan rencana yang telah kita atur..''
''Apa perlu kutemani masuk ke dalam., aku rada penasaran bagaimana dengan tampang si nomor sembilan atau 'Pendekar Golok Bayangan Setan' itu setelah bertahun lamanya dia melenyapkan diri..'' ucap Putri Penjerat menawarkan bantuan. tapi Roro cuma tersenyum menggeleng. ''Kurasa tidak perlu., kau tunggu saja di sini bersama si Ular Sakti, tapi awas yah., jangan kau coba memikatnya, dia hanya milikku..'' canda Roro Wulandari berlagak mengancam. sambil tersenyum sombong tubuhnya berkelebat melompati pagar dinding dan lenyap di balik kegelapan.
Respati hendak mengatakan sesuatu tapi Roro keburu menghilang. meskipun merasa sedikit khawatir tapi akhirnya dia hanya bisa diam menunggu sambil mengamati keadaan. ''Kurasa semua akan baik- baik saja, 'Dewi Malam Beracun' bukan orang yang gampang di recoki. dulu di antara tiga pesilat perempuan yang berada dalam kelompok 13 Pembunuh, dialah yang terhitung paling susah dihadapi. biarpun aku yakin ilmu silatku setanding dengannya, tapi soal siasat dan kecerdikan dia jauh lebih unggul dariku..''
''Lagi pula jika keadaan memaksa, kita masih bisa membantunya. meskipun saat ini tanganku sudah buntung sebelah, tapi aku yakin benang- benang bajaku tetap sanggup menjerat dan memotong tubuh manusia..'' hibur sang Putri Penjerat dari dalam kereta kuda.
Dalam palataran rumah itu terlihat gelap dan lengang, hanya ada beberapa pelita lampu minyak dan obor yang terdapat di beberapa sudut pelataran. rumah besar berpintu tiga dengan beberapa jendela ruangan itu nampak tertutup seakan tidak ada penghuni di dalam rumah besar ini.
Roro mendekam di sudut kiri pelataran, jubah gaunnya yang berwarna hitam membuatnya lebih mudah menyembunyikan dirinya dalam kegelapan malam. biarpun tidak terlihat seorangpun di sana tapi Roro paham ada banyak mata manusia yang mengawasi dibalik kegelapan.
Melihat keadaan itu Dewi Malam Beracun bukannya bergerak secara senyap, malah sebaliknya dia dengan santainya melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. kipas perak terbentang ditangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam enam buah pisau terbang dan selusin paku beracun.
Keadaan tetap saja lengang meskipun Roro sudah sampai di tengah pelataran rumah. dia mendengus sinis saat tahu ada gerakan belasan orang yang diam- diam bergerak mengepungnya. dengan berteriak wanita cantik ini mendadak berseru, ''Hooii Ki Ageng Bronto., cepat kau keluar. barang pesananmu sudah datang. teman- teman lamamu nomor dua belas, tiga belas dan si nomor empat sendiri yang mengantarnya.!''
Terdengar suara seruan nafas tertahan dari berbagai sudut. pintu tengah di bagian depan rumah terbuka, seorang lelaki tinggi besar setengah umur berbaju dan memakai blangkon hitam mentereng dengan kumis tebal melintang terlihat muncul keluar dari balik pintu. empat orang pengawal berjalan mengiringi di belakangnya.
__ADS_1
Alis mata Roro Wulandari mengernyit, meski tahu kalau orang itu adalah Ki Ageng Bronto bekas nomor sembilan dalam 13 Pembunuh, tapi entah kenapa dia merasakan adanya sesuatu yang tidak wajar dari orang ini.
''Lama kita tidak berjumpa Ki Ageng Bronto., aku lihat hidupmu semakin makmur saja. maafkan jika malam- malam begini aku dan dua orang kawan lama datang berkunjung dan mengganggu istirahatmu.'' sapa Roro menjura hormat. jarak diantara keduanya terpaut lima langkah.
''Hak., ha., sungguh aku tidak mengira kalau malam ini bakal kedatangan tamu penting. maafkan aku jika tidak dapat membuat persiapan untuk menyambutmu wahai si cantik jelita Dewi Malam Beracun..'' sambil tertawa Ki Ageng Bronto balas menyapa.
''Uugh., udara malam ini panas sekali. aku jadi ingin mandi, tubuhku gatal dan lengket karena perjalanan jauh. ruangan mandi untuk tamu di bagian belakang rumah yang pernah kupakai dulu masih adakan.?'' tanya Roro sambil kipas- kipaskan senjatanya. Ki Ageng Bronto sesaat agak terkejut.
''Atau jangan- jangan., sudah kau bongkar menjadi ruangan lain. huh., padahal aku suka tempat mandi yang luas dengan kolam mewah yang berhias batu pualam putih itu..'' sungut Roro kesal. si nomor sembilan jadi agak gelagapan menjawabnya. ''Aah., kalau soal ruangan pemandian yang ada di belakang itu memang sudah aku rubah, tapi kau bisa mandi di ruangan lain yang tidak kalah bagusnya..''
Sepasang mata indah Dewi Malam Beracun berkilat tajam, senyuman yang menggoda tersungging di bibir merahnya. ''Benarkah itu, jadi kita berdua bisa kembali melakukannya bersama seperti waktu itu.?''
''Me., mela., melakukan apa maksudmu.?'' tanya Ki Ageng Bronto blingsatan berpura- pura tidak mengerti.
''Iiihh kau ini., apa kejadian saat kita mandi dan bercinta bersama sudah kau lupakan. atau., karena sudah menjadi seorang juragan kaya raya yang selalu di kelilingi para wanita cantik, kau sudah melupakan diriku.!'' bentak Roro kesal. semua orang terhenyak karena tidak mengira kalau kalimat seliar itu bisa keluar dari mulut seorang wanita secantik bidadari.
''Ooh., kau., kau jangan keburu marah begitu Dewiku., sesungguhnya sejak kejadian itu, aku., aku selalu merindukanmu siang malam, banyak wanita cantik yang singgah di sini, tapi tidak ada yang dapat menggantikanmu Dewiku sayang..'' buru- buru Ki Ageng Bronto memotong dan bergerak maju ke depan.
Orang ini seakan benar- benar menyesali semuanya. salah satu wanita paling cantik di dunia persilatan sudah berada di depannya, bagaimana mungkin dia dapat mengabaikan semua itu. bahkan dalam mimpipun dia tidak pernah berharap dapat bertemu dengannya.
''Dewiku sayang., aku Ki Ageng Bronto selalu merindukan dirimu. aku rela kehilangan semuanya asalkan kita dapat bersama selamanya..''
''Betulkah itu kakang Ki Ageng Bronto., benarkah kau rela membuang semua yang kau punya demi diriku ini.?'' tanya Roro sangsi tapi juga seakan mengharap. orang berkumis dan berblangkon hitam itu busungkan dadanya, ''Aku bersumpah demi apaun juga Dewiku sayang. kuserahkan hidup dan matiku demi dirimu.!'' tegasnya.
Dewi Malam Beracun tersenyum genit lalu mendongak ke langit yang masih gelap. sudut matanya melirik tajam Ki Ageng Bronto. ''Baguslah., kalau begitu aku inginkan nyawamu sekarang juga.!''
__ADS_1
'Sheeet., shiiinh.!'
'Wheeet., whuuuk., whuut.!'
''Aaakh., akh.!''
Begitu ucapannya selesai Roro Wulandari cepat kibaskan tangan kirinya ke depan, lalu tubuhnya langsung berputar satu lingkaran penuh. empat pisau terbang melesat cepat menyambar Ki Ageng Bronto. dua pisau lainnya masih tergenggam. tapi seiring putaran tubuhnya kedua pisau dan selusin paku terbang beracun di lepas ke empat penjuru angin.
Terdengar jeritan kesakitan dan teriakan penuh makian. dari empat sudut pelataran terlihat beberapa sosok tubuh tumbang tersungkur sambil tekap dada dan lehernya yang tertancap pisau serta paku terbang beracun.
Ki Ageng Bronto membentak kaget bercampur kemarahan. meskipun demikian dia masih sempat berkelit menghindar, tapi akibatnya empat orang pengawalnya yang menjadi sasaran pisau terbang Roro yang terkenal ganas. biarpun empat orang itu sudah berusaha menghindar sambil babatkan tombak pendek yang tersembunyi di belakang pinggangnya, tapi tetap tidak mampu lolos dari kematian.
''Dewi Malam Beracun., apa maksud dari perbuatanmu ini., jika memang kau sudah tidak percaya dengan sumpahku, kenapa mesti berbuat demikian kejam.!'' hardik Ki Ageng Bronto menahan luapan amarah.
''Hik., hi., hi., kukira sudah cukup permainan yang membosankan ini..''
''Hei keparat., aku tahu kau bukan Ki Ageng Bronto. tidak pernah ada yang namanya ruang pemandian di bagian belakang rumah ini. juga tidak pernah ada ceritanya aku dan si nomor sembilan mandi bersama sambil bercinta, karena itu hanya karanganku untuk menjebakmu. bodohnya kau termakan dan percaya begitu saja bualanku, Haa., ha..''
''Chuih., jangankan melakukan itu, sekedar membayangkannya saja diriku seakan mau muntah.!'' sungut Roro meludah.
Perempuan cantik ini seakan tersengat saat merasakan ada getaran tenaga sakti yang mengerikan terpancar dari tubuh Ki Ageng Bronto yang ternyata cuma gadungan itu. sekali orangnya meraung baju dan blangkon hitam yang menutupi tubuhnya tercabik hancur oleh getaran tenaganya sendiri.
Kini Ki Ageng Bronto palsu itu jadi berubah penampilannya. kumis tebalnya tanggal wajahnyapun berganti. jubah merah darah dan sepasang golok pendek kembar tajam bergerigi yang juga memancarkan cahaya merah darah tergenggam di kedua tangannya.
Aura kekejaman dan haus darah jelas terasa menyelimuti seluruh raga dan jiwa manusia ini. sepasang mata kemerahan yang kejam dan seringai bengis terpancar dari dirinya.
__ADS_1
Melihat ciri dan penampilan manusia yang berdiri di depannya, Roro Wulandari jadi teringat pada seseorang, dia segera maklum kalau orang di hadapannya tidak kalah hebat dengan Ki Ageng Bronto yang asli.!