
Dewi Malam Beracun termenung sesaat lamanya. meskipun sudah berkali- kali dia memegang benda bundar yang semerah bara api itu tapi tetap saja ada rasa ngeri yang merasuki hatinya. Lencana Ketua 13 Pembunuh memang benda mengerikan yang seolah melambangkan datangnya kematian.!
''Dari ciri- cirinya seperti yang dikatakan Sabarewang perempuan itu pastilah si nomor delapan., ada urusan apa wanita jalang yang gila itu muncul kemari. tapi lencana tanda pengenal ini memang asli karena aku bisa merasakan hawa Iblis yang terpancar darinya..''
''Setan betina yang kelakuannya lebih buruk dari si jelek bau Gada Rahwana itu tidak mungkin berani bermain- main. berarti dia mendapat perintah dari atasan., dari empat orang yang selalu berada disekeliling si nomor satu, kira- kira siapa yang telah muncul keluar dan memberi perintah..?'' gumam Roro berpikir keras sambil berjalan mengelilingi kereta kuda hingga beberapa kali, seakan tidak perduli dengan pandangan keheranan Satriyana dan Sabarewang.
''Si lengan buntung jelas tidak mungkin, orang ini seperti bayangan tubuh si nomor satu. dimanapun ketua berada dia selalu ada di dekatnya. si pemabuk dan si penjudi juga tidak bakal mau keluar kecuali ada hal yang sangat penting.,''
Roro mengusap wajahnya cantiknya yang tiba- tiba memucat, sesosok bayangan lelaki tampan yang lemah lembut sedang mengukir boneka kayu terlintas di benaknya. perempuan ini mendesis, ''Pasti orang itu., yah tidak salah lagi, yang datang pastilah dia.!'' batinnya ngeri bercampur benci. karena orang inilah salah satu penyebab dia sampai terjerumus menjadi anggota kelompok 13 Pembunuh.
''Respati belum pulih keadaannya, tapi ketua perkumpulan meminta agar urusan segera di tuntaskan., apa yang mesti kulakukan.?'' pikir Roro sesaat bingung.
Tiba- tiba dia seperti teringat sesuatu, bibir indahnya yang merah merona menyungging senyum sombong, licik sekaligus kejam.
''Kalau tidak salah ingat ditempat terakhir kali kita berhenti sebelum ke bukit Lading ini ada sebuah persimpangan jalan kecil, apakah jalan itu bisa menuju ke Lembah Seruni.?'' tanya Roro kepada Sabarewang.
Meskipun merasa heran tapi kusir kuda itu mengangguk membenarkan. ''Seingatku memang jalan kecil itu bisa menuju kesana. dulu aku pernah ikut mengawal barang ke daerah Maguwo, saat hendak melintasi lembah itu kami sempat dihadang oleh sekumpulan perempuan berilmu silat tinggi yang meminta upeti uang jalan.''
''Dua orang kawanku mencoba melawan, tapi hanya dengan beberapa jurus saja salah satu dari para perempuan itu berhasil mempecundangi ke dua rekanku. karena kalah jumlah akhirnya kami berikan beberapa keping perak pada mereka dan kamipun dapat melanjutkan perjalanan ke Maguwo.,'' jelas Sabarewang sambil mengenang kejadian masa silam. sementara Roro cuma tertawa kecil mendengar cerita rekannya. ''Eeh., kenapa kakak Dewi bertanya soal jalan ke Lembah Seruni itu.?'' tanya Satriyana yang sedari tadi diam. Sabarewang jadi ingin tahu juga.
''Hhmm., tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya. aku akan pergi dengan menaiki salah satu kuda paling lama dua hari. kalau Respati sudah sadar dan bertanya katakan saja aku sedang pergi menemui seorang teman lama di Lembah Seruni., jaga diri kalian baik- baik.!'' seru Roro Wulandari sambil mengambil salah satu kuda penarik kereta. sekali tubuh langsingnya naik ke punggung kuda, binatang itupun melesat pergi.
''Nyi Dewi bilang hendak menemui seorang kawan lamanya di Lembah Seruni., apakah dia kenal dengan gerombolan perempuan yang pernah menghadang kelompok Garuda Merah di lembah itu.?'' gumam Sabarewang penasaran.
Roro Wulandari terus memacu kudanya dan hanya berhenti sebentar saat tengah hari untuk sekedar beristirahat. untungnya tidak ada halangan suatu apapun yang menghadang hingga saat senja tiba Roro sudah sampai di dekat suatu pedataran yang agak sempit dan di himpit oleh dua buah perbukit kecil.
Bukit itu itu meskipun tidak tinggi tapi cukup terjal berbatu dan rapat ditumbuhi semak pepohonan. di depan jalan masuk ke lembah banyak di tumbuhi bunga seruni berwarna putih, kuning dan juga merah muda. ada yang sedang mekar, masih kuncup, tapi banyak juga yang sudah layu dan rontok berserakan. entah bunga itu sengaja ditanami orang atau memang sudah tumbuh liar. bunga seruni putih jumlahnya terlihat jauh lebih banyak.
Meskipun masih berhenti di depan mulut lembah tapi Roro dapat melihat kalau tanaman bunga itu juga tumbuh di dalam lembah itu, malahan jumlahnya jauh lebih banyak. angin senja yang berhembus menebar aroma bunga itu. tempat inilah yang disebut sebagai Lembah Seruni.
''Hhm., waktu cepat berlalu, tapi keadaan lembah ini tidak berubah. masih sama seperti dulu.'' gumam Roro tersenyum simpul sembari turun dari punggung kuda cokelat. dengan perlahan dia mulai menuntun tunggangannya masuk kedalam lembah.
Baru beberapa langkah dia masuk terdengar suitan nyaring yang saling bersautan. Roro menyeringai sinis, ''Lagaknya juga masih sama, selalu malas turun tangan sendiri. anak buahnya yang bekerja dia tinggal terima hasilnya., enak bener hidupnya.!''
Selagi dia membatin dihadapannya telah muncul lima orang perempuan berbaju warna- warni. tapi kalau di perhatikan di pinggang kiri masing- masing terselip sekuntum bunga seruni putih yang masih segar. jika dilihat usia mereka tidak sebaya, ada yang lima belas tahunan, tapi ada juga yang lebih tua, mungkin sudah menginjak empat puluh tahunan. tapi rata- rata punya paras yang menarik.
__ADS_1
Seorang diantaranya yang paling tua maju menegur. ''Di senja hari begini ada seorang wanita cantik melewati lembah sendirian, kau ini kesasar atau sengaja datang kemari.?''
''Tapi sayang., sepertinya dia tidak punya barang berharga yang dapat diberikan pada kita sebagai uang jalan melewati lembah ini..'' ujar gadis yang umurnya paling muda sambil berkacak pinggang. dia memakai baju putih berlengan pendek berkulit putih mulus, berwajah cantik jelita serta berambut panjang hitam lebat. meskipun terlihat pintar tapi sikapnya agak sombong seperti suka meremehkan orang lain.
Dalam hatinya Roro tertawa sendiri. ''Hi, hi., Kalau melihat tingkah sombong anak ini, aku jadi seperti melihat diriku sendiri dimasa remaja..''
''Heii siapa kau., ada tujuan apa melewati lembah ini.,?'' tanya si gadis sembari melangkah maju. ''Lembah Seruni ini tidak bisa dilewati sembarangan orang, hanya orang- orang tertentu saja yang dapat melaluinya dan mesti bayar upeti uang jalan., kau dengar tidak.!''
''Aku dengar., tapi aku ini bukanlah orang sembarangan dan tidak perlu bayar apapun., kau dengar tidak., Hik., hi.,!'' Roro menjawab balik membuat kelima orang perempuan itu tercengang saling pandang dengan muka jengkel.
''Rupanya perempuan sombong ini belum sadar sedang berada di mana dan berhadapan dengan siapa.!'' geram gadis yang umurnya dua puluhan dan berada paling kiri. meskipun cukup menarik tapi pipinya ditumbuhi jerawat kemerahan.
Roro goyangkan jari telunjuknya., ''Cck., ck., diriku memang tidak kenal kalian kaum bawahan rendah, tapi aku kenal dengan pimpinanmu. waktuku tidak banyak sekarang bawa aku kesana..!'' ujar Roro sambil maju menuntun kudanya masuk ke lembah.
''Kurang ajar., memangnya siapa kau sampai berani mengaku kenal pimpinan kami.!''
''Wanita sombong ini sangat mencurigakan, kita mesti meringkusnya lalu bawa menghadap pimpinan.!'' bisik perempuan yang paling tua kepada semua rekannya. dua orang yang berdiri paling kanan mengangguk tertawa mengejek, kejab berikutnya tubuh keduanya sudah menggebrak dengan lancarkan tiga buah pukulan dan tendangan kilat ke tubuh Roro.
Dewi Malam Beracun mendesah, dengan gaya kemalasan kedua tangannya diputar menangkis kiri kanan, tubuh langsingnya bergerak lentur seakan gadis penari. berkutnya dia susupkan kedua telapak tangannya menghajar perut dan iga kanan lawannya yang diakhiri sapuan tendangan berputar. serangan lawan mentah tubuh keduanya terjungkal pingsan roboh ke tanah.!
Hebatnya meskipun bertangan kosong tapi lawan justru mampu mendesak mereka bertiga. gerakannya cepat, luwes tapi sangat mematikan.!
Suara keributan di luar lembah mengundang para penghuninya keluar, dalam sekejab tidak kurang dari tiga puluh orang wanita bersenjata pedang sudah mengepung gelanggang pertarungan.
Memasuki jurus kesepuluh mendadak Roro membentak keras, kedua tangannya berputar lalu mengemplang keras. ''Lepas semunya.!''
'Whuuk, whuk.!'
'Plaak., plak, deess.!'
Dengan keluarkan jeritan tertahan ketiga perempuan ini terpental roboh dengan pegangi dada serta lengannya yang memar ngilu. pedang ketiganya terlepas dari tangan.
Semua orang disana berseru terperangah kaget. saat hendak menyerbu, Roro sudah lebih dulu membentak sambil jarinya menuding ketiga lawannya yang berusaha bangun. ''Kau., pedangmu menyerang terlalu lambat, kuda- kuda kakimu juga kurang kuat.''
''Sedangkan kau., gerakan pedangmu terlihat ragu antara menusuk atau membabat perut.!'' tunjuk Roro pada dua orang yang umurnya lebih tua.
__ADS_1
''Sebaliknya denganmu gadis muda yang sombong., pedangmu terlalu cepat begerak tanpa sasaran yang jelas. kau punya bakat tapi belum bisa mengendalikan hatimu..!'' tutur Roro pada gadis berbaju putih yang paling muda seakan seorang guru yang memberi petuah pada muridnya. meskipun marah dan malu tapi ketiga orang itu cuma bisa menggeram tanpa tahu harus berbuat apa, karena dalam hatinya mereka juga mengakui kebenaran omongan lawannya.
''Biarpun sudah lama tidak bertemu tapi kebiasaanmu yang suka berbuat keributan di tempat orang lain tidak pernah berubah.!'' terdengar bentakan seseorang dibarengi berkelebatnya sosok bayangan berjubah putih.
Bayangan putih itu langsung melesat cepat ke arah Roro Wulandari. dua buah pedang pendek berwarna keemasan di tangan sosok yang melayang itu berkelebat membabat dan menusuk. meskipun terlihat seperti gerakan sederhana tapi Roro justru sampai menjerit ngeri. dia sadar betul dibalik serangan itu tersimpan tidak kurang dari sepuluh tikaman pedang yang mengincar bagian tubuhnya yang paling mematikan.!
Tidak mau mati konyol, Roro berkelit mundur sambil keluarkan kipas peraknya. gerakan membentang kipas, membabat, menangkis dan menotok dilakukan dalam sekejab mata.
'Whuuut., whuuk.,!'
'Beet., Traaang, traang.,!'
Entah berapa puluh kali terdengar benturan senjata. cahaya sinar emas dan perak bercampur dengan bayangan hitam putih. saling labrak dan menggulung dengan sengitnya. angin senja yang berhembus lembut di mulut lembah berubah menjadi hempasan gelombang badai.
Untuk kesekian kalinya terdengar benturan senjata, kali ini terdengar lebih keras disertai percikan bunga api. dua tubuh terpental ke belakang. bayangan hitam terhuyung tiga langkah. yang putih tersurut dua tindak lalu jatuh terduduk. hamparan rumput di mulut lembah terlihat berserakan porak poranda.
''Sudah hentikan., kami cuma main- main.!'' seru sosok wanita muda berjubah putih yang baru bangkit saat melihat anak buahnya hendak menyerbu. sepasang pedang emasnya yang pendek disarungkan dibelakang pinggangnya yang ramping.
Wajahnya cantik umurnya sebaya dengan Roro Wulandari. wanita ini tersenyum lalu tertawa lepas. ''Haa., ha., Roro yang sombong dan selalu merasa paling cantik ini rupanya belum lupa dengan musuh lamanya yang terkurung di lembah ini.,!''
''Hik., hii., Aku pasti kuwalat dan sial seumur hidup kalau sampai lupa denganmu.!''
Entah siapa yang duluan bergerak kedua wanita cantik ini sudah berpelukan erat sambil menanyakan kabar masing- masing.
Semua orang menjadi heran, mereka bilang bermusuhan tapi sikap keduanya seakan sahabat lama.
''Apa yang membuatmu datang kemari, tentunya kau tidak cuma berkunjung saja bukan.?'' tanya wanita cantik berjubah putih itu. Roro tersenyum malu, ''Ash., memang aku tidak bisa membohongi Nyi Puji Seruni, si 'Dewi Seruni Putih'. sang penguasa Lembah Seruni ini., terus terang saja aku sedang diburu oleh waktu, aku butuh Kembang Api..!''
Orang yang disebut sebagai Nyi Puji Seruni atau Dewi Seruni Putih terkesiap. wajah cantiknya sesaat menegang. ''Sepenting itukah masalahnya.?'' tanyanya kurang yakin. Roro mengangguk. ''Aku tidak butuh terlalu banyak asalkan cukup untuk membuat hancur lebur daerah sepuluh tombak keliling..!''
''Gila., memangnya berapa banyak musuh yang bakal kau hadapi. apa perlu bantuan tenagaku juga orang- orangku..?'' tanya Nyi Puji Seruni dengan muka berubah hebat.
Yang ditanya menggeleng sambil menepuk pundak Dewi Seruni Putih. ''Terimakasih atas niat baikmu, tapi kau tahu sendiri siapa diriku sekarang ini. aku tidak mau orang lain terlibat bahaya karenaku.!''
Nyi Puji Seruni menghela nafas penuh rasa prihatin. ''Sampai kapan kau harus seperti ini Roro., kuharap secepatnya dirimu bisa terlepas dari rantai perkumpulan jahat yang membelenggumu., ayolah masuk ke dalam, kita perlu bicara banyak sambil minum tuak..!''
__ADS_1