
Waktu sudah beranjak menuju siang saat Kereta Kuda Maut yang di kusiri Sabarewang kembali bergerak melaju. Satriyana juga telah berpindah ke bangku depan. gadis cantik berkulit sawo yang gayanya seperti laki- laki ini tersenyum riang.
Hari ini kedua kalinya dia menjalankan alat rahasia yang terpasang di kereta kuda. sekali menarik tuas penggerak, lima panah kecil yang tersembunyi di bawah kereta berhasil menancap ke sasaran. dalam pertarungan melawan kawanan pengemis 'Sembilan Tambalan' gadis ini merasa ikut andil juga.
Hujan pertama kali ini setelah sekian lama bumi di landa kemarau panjang membuat jalanan menjadi agak licin. bau tanah kering yang tersiram air hujan membuat hawa udara menjadi sedikit berat.
Di dalam kereta kuda Respati dan Roro masih sama saling berdiam diri. wanita cantik bekas pembunuh nomor dua belas ini terlihat merasa kesal dengan sikap Respati yang menurutnya berubah menjadi lembek. 'Putri Penjerat' atau si 'Laba- Laba Kuning' menjadi bingung melihat sikap keduanya.
''Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua, kita sudah berhasil lolos dari kepungan para pengemis itu. tapi kenapa sepertinya kalian merasa tidak senang.?'' tanpa tahan bekas pembunuh nomor empat yang kini buntung tangan kanannya itu bertanya.
''Huhm., ini semua karena dia memilih melepaskan semua anggota perkumpulan pengemis Sembilan Tambalan. baru saja terlewat beberapa hari sejak di keluarkan dari kelompok 13 Pembunuh, hatinya sudah mulai melemah..'' sindir Roro Wulandari sinis.
''Semua itu tidak ada hubungannya dengan hati Roro., aku cuma ingin kita tidak lagi sembarangan turun tangan kejam dan menanam bibit permusuhan baru. kalau ada masalah yang dapat di selesaikan tanpa pertarungan adu jiwa kurasa itu lebih baik..'' jawab Respati setengah menyanggah.
''Haa., ha., kau tidak sedang sakit bukan.?'' Dewi Malam Beracun tertawa mengejek.
''Dengar 'Ular Sakti Berpedang Iblis'., kau pasti paham orang- orang macam apa kita adanya sekarang ini. di dalam dunia hitam rimba persilatan kaum pembunuh seperti kita hanya mengerti dua pilihan, membunuh atau mati terbunuh. itu tidak akan pernah berubah meski kita sekarang sudah bukan lagi anggota kelompok 13 Pembunuh..''
''Maafkan jika aku menyela., meskipun apa yang kau bilang cukup beralasan, tapi yang di lakukan si Ular Sakti Berpedang Iblis kurasa juga tidak ada salahnya..'' ujar Laba- Laba Kuning mencoba menengahi. Roro langsung melotot sebal.
__ADS_1
''Hei Putri Penjerat., hati manusia tidak ada yang tahu. kalau kita melepaskan seorang musuh, belum tentu dia hanya akan pergi dan menghilang dari depan kita selamanya. bisa jadi kelak dia akan kembali mengancam nyawa kita dengan kekuatan yang lebih besar. jika itu terjadi sudah terlambat bagi kita untuk menyesal.!''
''Hentikan keretanya Sabarewang., aku mau turun sebentar..'' seru Roro sambil memakai kembali jubah hitamnya sebelah atas. saat kereta kuda berhenti dia langsung melompat keluar.
Respati hendak bertanya sesuatu, tapi saat melihat raut muka Dewi Malam Beracun yang terlihat gusar dan gelisah dia urungkan niatnya. dalam hatinya pemuda ini bingung, kenapa sepupu jauhnya beberapa hari belakangan ini gampang sekali naik darah.
''Kau tidak perlu cemas., dia cuma sedang butuh pelampiasan kekesalan. kami sebagai kaum wanita setiap bulannya hampir selalu mengalami suasana hati yang mudah tersinggung dan perasa. kau tahu masalah bulanan kaum perempuan bukan.?'' terang Putri Penjerat sembari tertunduk malu.
Mulanya Respati tertegun tidak mengerti, tapi kemudian dia terkekeh ''Aah., rupanya wanita yang selalu sok paling cantik dan licik itu sedang datang bulan., pantas saja dia selalu uring- uringan belakangan ini..'' batin pemuda itu nyengir.
Agak lama juga kereta berhenti, Respati dan semuanya sedikit khawatir dengan Roro yang tidak kunjung kembali. baru hendak menyusul sudah datang masuk ke dalam, raut wajahnya tegang. ''Aku tadi sempat melihat banyak orang persilatan sedang menuju Wonokerto, sepertinya pancingan yang kita lakukan berhasil. tapi., sungguh tidak kukira orang yang muncul bakal sebanyak itu. bahkan beberapa pentolan perguruan silat ternama juga turut terlihat..''
''Aah hampir aku lupa., aku juga sempat mendengar dari pembicaraan orang- orang persilatan yang lewat menuju Wonokerto dapat kupastikan ada kemungkinan para pentolan 13 Pembunuh, 'Serikat Kalong Hitam' dan tentunya orang 'Istana Angsa Emas' segera keluar dari sarangnya dan bergerak kemari.!''
''Tapi., jarak pulau Seribu Bisa dengan tempat ini sangat jauh dan harus menyeberangi laut selatan. bagaimana mereka bisa secepat ini bergerak kemari.?'' gumam Respati sangsi.
''Dari apa yang pernah di katakan oleh 'Datuk Tinggi Mayat Besi' sebenarnya sudah banyak orang dari 13 Pembunuh yang diperintahkan untuk datang lebih dulu. mereka tinggal bergerak jika sudah ada perintah dari atasan. terakhir kudengar seluruh anggotanya sudah mencapai lebih seribu orang..'' terang Putri Penjerat.
Dewi Malam Beracun terlihat khawatir, dia seperti ragu hendak mengatakan sesuatu. Respati yang mengenal betul sifat wanita cantik yang tidak pernah kenal rasa takut itu menjadi heran. ''Kalau punya suatu masalah, kenapa tidak kau katakan saja terus terang..''
__ADS_1
''Aku., aku hanya tidak yakin dengan apa yang kupikirkan. tapi selain mereka yang telah kusebutkan tadi, saat hendak kembali kemari aku sempat sekilas melihat seseorang yang berjalan agak di belakang dan terpisah rombongan orang- orang persilatan itu..''
''Sebenarnya tidak ada yang menarik dari lelaki tua berjubah putih ini. namun., tanpa sengaja mataku tertuju pada sepasang tangannya yang terlindung di balik lengan jubahnya. meskipun begitu sempat terlihat kedua tangan kakek ini berwarna biru mengkilap..''
''Dari ciri- cirinya dapat kupastikan kalau dia adalah tokoh silat dari golongan hitam yang di juluki 'Iblis Tangan Biru'..'' terang Roro sambil memandang kedua rekannya. Respati terlihat cukup terkejut. dia segera maklum dengan apa yang di khawatirkan Dewi Malam Beracun.
''Yang aku pernah dengar orang tua ini punya pasangan dalam bekerja. dia seorang tokoh silat muda bergelar si 'Arwah Hijau'. apakah kau melihat juga orang ini.?'' Roro berpikir sejenak lantas menggeleng. ''Kurasa dia cuma sendirian saja..''
Sebaliknya Laba- Laba Kuning justru berkata. ''Aku juga pernah mendengar nama orang ini, tapi kurasa kita tidak perlu merasa takut dengannya. tingkat kepandaian kita bertiga tidak ada yang berada di bawahnya..''
Respati menarik nafas berat. ''Bukan itu masalahnya., Iblis Tangan Biru meskipun punya ilmu kesaktian yang tinggi namun masih sanggup kita atasi. yang harus kita perhitungkan adalah pihak yang berada di belakangnya..''
''Tidak banyak orang yang tahu kalau tokoh silat itu dan juga si 'Arwah Hijau' sudah sejak beberapa tahun lalu menjadi kaki tangan partai persilatan aliran hitam yang terkuat dan paling rahasia saat ini. bahkan sampai ada yang bilang kalau 'Serikat Kalong Hitam' dan 'Kelompok 13 Pembunuh' bergabung sekalipun juga belum tentu sanggup menandingi partai hitam itu.!''
Tengkuk si Laba- Laba Kuning seketika merinding, saat bicara tenggorokannya seakan tercekat kelu. di otaknya terbayang suatu lambang bendera berwarna hitam pekat dengan lukisan latar belakang berupa sebuah gapura dan bulan purnama yang berselimutkan darah.
''Hanya ada satu partai silat aliran hitam yang terkuat saat ini., partai Gapura Iblis.!'' desisnya bergetar. jika memang benar orang 'Gapura Iblis' sudah turun tangan, urusan ini akan bertambah jauh lebih berbahaya.
''Kakang Sabarewang., kita langsung menuju ke Wonokerto, masuk lewat Gerbang Barat. sebelum fajar harus sudah sampai ke sana.!'' perintah Roro yang segera di sahuti si kusir kuda dengan menggebrak laju keretanya.
__ADS_1