13 Pembunuh

13 Pembunuh
Nyi Sendang Inten dan Nyi Rumilah. (bag1)


__ADS_3

Rombongan orang- orang berkuda dengan pakaian seragam warna biru dan membekal senjata tombak trisula pendek itu terlihat memasuki gapura pintu masuk kadipaten Jepara sebelah utara saat senja sudah tiba. di langit barat terlihat rona cahaya jingga kemerahan yang menyeruak diantara awan.


Para prajurit kadipaten yang berjaga di pintu perbatasan sempat terkejut dan waspada melihat kedatangan gerombolan baju biru ini. tapi saat melihat lambang sulaman sepasang tombak trisula emas bersilangan yang berada di punggung jubah biru wanita cantik yang berkuda paling depan, mereka sama saling lirik dan memberi isyarat untuk menahan diri.


Sepertinya para prajurit jaga itu mengenal siapa mereka itu. apalagi sang pemimpin juga sudah melemparkan sekantung kecil berisi uang kepada kepala prajurit jaga. ''Tolong terimalah sedikit pemberian dari kami ini tuan prajurit. sekedar untuk membeli makanan dan minuman pengganjal perut selama bertugas menjaga keamanan perbatasan..''


Kantung kulit itu kecil tapi isinya penuh. tidak ada alasan bagi kepala prajurit jaga dan para anak buahnya untuk menolak. namun dia juga tetap perlu sekedar bertanya tentang tujuan mereka datang ke Jepara. ''Kami hanya ingin mengunjungi seorang teman lama. dia Nyi Rumilah si 'Tabib Mata Hati..'' jawab wanita cantik itu sembari tersenyum. prajurit kepala itu mengangguk sebagai isyarat mengijinkan.


Setelah membelok ke kanan jalan, tidak lama kemudian rombongan berbaju biru itu telah sampai di depan rumah Nyi Rumilah. di sana sudah menghadang tiga orang perempuan yang salah satunya masih gadis belia. ''Mohon maaf., jika saudara- saudara hendak bermaksud menemui Nyi Rumilah, beliau sedang tidak berada di tempat. jadi kalian bisa kembali lagi lain waktu..''


''Kurang ajar., berani benar gadis kemarin sore ini mengusir kita. Hei gadis ingusan., apa kau hingga tidak mengenali siapa adanya kami. bahkan Nyi Rumilah sendiri juga merasa segan jika bertemu dengan ketuaku.!'' damprat wanita yang wajahnya punya bintik jerawat dan berperilaku rada genit.


Gadis muda itu tertegun sesaat lamanya. ''Sekali lagi mohon maafmu para tamu yang terhormat jika sikapku kurang sopan. aku baru tiga bulan menjadi murid Nyi Rumilah hingga tidak mengenal siapa kalian ini dan berasal dari mana. sungguh tidak ada niat untuk mengusir, tapi guruku benar- benar sedang tidak ada di sini..'' jawab gadis berparas manis itu membungkuk sopan.


''Huhm., pantas saja aku tidak pernah melihat dirimu sebelumnya. rupanya kau cuma orang baru di sini..'' dengus si pemimpin sementara matanya justru melirik dua orang perempuan berpakaian ringkas warna hitam yang bagian wajahnya teralingi caping bambu. ''Setahuku Nyi Rumilah tidak pernah memperkerjakan orang lain untuk menjaga pondoknya. cepat katakan siapa kalian berdua ini.!''


Perempuan sebelah kiri yang tubuhnya sintal dan rada pendek balas mencibir. ''Bertamu ke rumah orang lain tapi tidak punya sopan santun hingga sudah berkoar saat masih di atas punggung kuda. apakah dipikir dengan mengandalkan nama Nyi Sedang Inten' si ketua perkumpulan silat 'Intan Biru' yang berjulukan 'Dewi Biru Trisula Sakti' dia sudah dapat menakuti semua orang.?''


Bukan saja wanita cantik pimpin rombongan berkuda itu yang terkejut, semua anak buahnya juga turut terperanjat mendengar ucapan orang didepannya. tapi mereka juga malah merasa gusar karena lawan seakan memandang remeh kehadiran mereka. ''Jika sudah mengenali siapa kami, kenapa masih juga tidak meminta ampun dan memberi jalan masuk.!'' gertak perempuan bermuka jerawat.


Lain yang digertak beda pula orang yang menjawab. kali ini perempuan yang berdiri di sebelah kananlah yang bicara. ''Kalian bilang adalah kenalan baik Nyi Rumilah, karenanya kami masih enggan untuk berbuat kasar. tapi melihat perilaku kalian yang makin sombong, aku jadi ingin kenal dengan kemampuan dari perkumpulan silat 'Intan Biru.!''


Mulutnya bicara santai tubuhnya juga sudah bergerak sangat enteng melesat ke depan. yang jadi sasaran adalah si muka jerawat. gerakannya bukan saja cepat tapi juga keji. tangan kiri membentuk telapak membabat miring leher lawan sementara tangan kanan menekuk serupa cakar yang mencabik dada lawannya yang masih berada di atas kudanya.

__ADS_1


Jarak dua tombak dan mesti melompat keatas untuk bisa menyerang seakan tidak menjadi masalah buat wanita berbaju ringkas hitam itu. belum lagi jurus serangan telapak dan cakarnya serasa membawa sambaran angin tajam yang merobek udara, pertanda dia bukan saja mempunyai ilmu meringankan tubuh tinggi tapi juga tenaga dalam yang kuat.


Sepintas kedua tangannya sepintas hanya memainkan satu jurus saja. tapi ditengah jalan seolah berubah menjadi tiga bahkan lima bayangan telapak dan cakar maut yang mengancam nyawa. satu lagi tindakannya yang di luar dugaan. ''Sangat tidak sopan berbicara di atas tungganganmu. turun kau dari sana.!'' bentaknya garang.


Saat melesat terbang lancarkan serangan, kaki kanannya juga membuat tendangan ke bagian depan perut kuda. meski tidak keras namun cukup membuat binatang itu cedera, hingga yang diserang bukan saja harus menyelamatkan diri jurus lawan yang mengancam leher dan dadanya namun juga terpaksa melompat turun berjumpalitan jika tidak ingin tubuhnya terbanting dari atas punggung kudanya.


Segalanya berlangsung cepat dan tidak terduga. kuda itu meringkik keras kesakitan sebelum tersungkur jatuh. yang menunggangi turut mencaci maki. kedua tangan bergerak menangkis dan balas memukul. tapi tetap saja kerah baju lehernya sempat robek juga baju bagian dadanya turut tercabik hingga sebagian buah dadanya sebelah kiri terlihat.


Dalam keadaan tubuh baru jejakkan kaki di tanah, si baju hitam sudah kembali melabrak sambil keluarkan suara sindiran mengejek. ''Hee., he., sampai kapan kau hendak pamer buah dada seperti itu. biar terlihat adil akan aku tolong membuka sekalian yang sebelah kanan..''


''Perempuan keparat., kurobek mulut.!'' rutuk si muka jerawat sambil lepaskan sekaligus empat tusukan trisula besi yang dia cabut dari balik pinggangnya. biarpun terkejut dengan serangan balik lawannya tapi orang ini bukan saja tidak menjadi jeri, dia malah lipat gandakan kecepatan jurusnya. selintas terlihat ada sebuah cahaya tajam berkilauan yang turut menyambar.


'Whuuuut., whuuuut., wheeet.!'


'Traaaang., traaaang., treeeng.!'


Berturut- turut terdengar suara beradunya senjata yang diakhiri dengan terpisahnya dua sosok tubuh akibat benturan jurus pukulan. perempuan muka jerawat jatuh terjengkang. robekan baju birunya di bagian dada yang bertambah lebar membuat dua gundukan itu seperti hampir tersembul keluar seluruhnya. beruntung dia juga memakai selembar kain untuk lapisan dalam hingga masih sedikit tertutupi.


Di penjuru lainnya wanita penjaga berbaju hitam terpental mundur hingga tiga tombak. tapi hebatnya dia mampu mendaratkan kedua kakinya dengan mantap meski jelas dari dengusan nafasnya aliran darah orang ini sempat tersendat. di tangan kanannya entah sejak kapan sudah tergenggam sebilah pedang pendek berbentuk agak melengkung mirip bulan sabit.


Kejadian ini sangat mengejutkan pihak orang perkumpulan 'Intan Biru'. mereka tahu betul tingkat kepandaian rekannya yang menempati urutan ke lima dibawah sang ketua dan tiga orang lainnya. dalam rimba persilatan nama perkumpulan silat Intan Biru yang bercokol di atas sebuah bukit yang berada ditengah perbatasan wilayah Jepara dan Demak juga cukup terkenal, utamanya sang ketua si 'Dewi Biru Trisula Sakti'.


Sebenarnya mereka ini cuma diluarnya saja berbentuk sebuah perkumpulan silat, tapi sebenarnya adalah sekumpulan orang yang mau melaksanakan pekerjaan apapun termasuk membunuh, mencuri dan menculik asal dibayar mahal. namun masih ada sedikit kebaikan pada mereka. kabarnya gerombolan ini tidak pernah mau mengusik atau menyasar para pembesar bersih dan orang kaya yang dermawan.

__ADS_1


Semua anggota Intan Biru sudah sama mencabut senjata trisula mereka hendak membuat perhitungan, saat bersamaan pintu rumah pengobatan itu di buka seseorang. dari dalam keluar seorang gadis cantik berbaju biru muda. Nyi Sendang Inten mengenalnya sebagai murid Nyi Rumilah.


''Mohon maafmu Nyi Sendang Inten., kami tidak dapat memberi penyambutan yang baik pada para tamu. jika ada masalah yang mendesak, kau dan dua orangmu bisa masuk ke dalam. sedang yang lainnya mohon lebih dulu bersabar menunggu di luar..'' ucap murid Nyi Rumilah menjura. terdengar dengusan dari beberapa orang yang merasa tidak puas.


''Kenapa kita tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam seluruhnya. ataukah kalian hendak bermain curang.?'' cibir seorang lelaki yang ikut turun dari kudanya bersama Nyi Sendang Inten. orang ini merasa geram karena perempuan genit berjerawat yang baru saja kalah bertarung itu adalah kekasihnya.


''Ini bukanlah markas perkumpulanmu yang bisa kau masuki seenaknya. apakah kau pikir dengan jumlah banyak dapat menggertak kami yang hanya ada dua orang saja di luar. apa kau yakin di dalam sana ada berapa orang seperti kami yang berada didalam. jika satu saja diantara kami sudah mampu merobohkan rekanmu, bisa kau bayangkan sendiri jika kami semua keluar menghadang..''


''Asalkan kalian tahu saja, kita berdua diperintahkan untuk berjaga di luar karena kepandaian kamilah yang paling rendah jika dibandingkan rekan kami yang lainnya.!'' ujar si baju hitam sambil selipkan kembali pedang pendeknya ke balik pinggang. semua orang diam- diam terkejut mendengarnya.


''Jika benar yang dia katakan, ilmu silat orang- orang baju hitam ini tidak boleh dipandang remeh. kita juga belum tahu mereka berasal dari golongan mana dan ada berapa orang..'' batin Nyi Sendang Inten. setelah berpikir sebentar diapun bergegas masuk mengikuti kedua orang murid Nyi Rumilah sambil mengajak gadis cantik yang menjadi orang kepercayaannya juga lelaki kekasih si genit muka jerawat.


Setelah melewati beberapa ruangan, mereka sampai di depan sebuah kamar. Nyi Sendang Inten agak terperanjat melihat ada dua orang perempuan berbaju ringkas dan bercadar kain hitam dengan sulaman bulan sabit perak sedang berdiri di depan pintu kamar yang dia tahu adalah tempat Nyi Rumilah.


''Persekutuan 'Bulan Perak'. kenapa mereka bisa berada di tempat Nyi Rumilah. Aah., jangan- jangan kedua orang penjaga yang ada diluar itu juga anggota Bulan Perak.?'' batin Nyi Sendang Inten mengenali tanda yang tersulam dibagian kiri cadar hitam itu. dengan waspada dia melirik bawahannya yang juga terlihat kaget.


''Tamu yang hendak bertemu sudah saya antar kemari..'' ucap murid pertama Nyi Rumilah. dari balik pintu terdengar sautan agar mereka masuk ke dalam. di sana terlihat duduk di atas pembaringan seorang wanita tiga puluh lima tahunan yang nampak anggun namun sangat pucat seperti sedang sakit parah. sejak kelima orang ini masuk sudah dua tiga kali wanita ini terbatuk darah.


''Nyi Rumilah., ada apa dengan dirimu. kenapa kau bisa mengalami sakit separah ini.?'' seru Nyi Sendang Inten kaget. saat hendak maju murid pertama Nyi Rumilah sudah lebih dulu menahannya. ''Penyakit guru sangat parah, karenanya beliau berpesan agar tidak ada orang yang mengganggunya.!'' terangnya sedih.


''Aku tidak apa- apa., tolong ambilkan meja dan kursi untuk para tamuku juga beberapa makanan kecil. mereka pasti ingin berbicara sesuatu masalah yang sangat penting..'' kata Nyi Rumilah pelan sambil usap ujung bibirnya yang berdarah dengan selembar sapu tangan.


Sebentar saja meja kursi lengkap dengan camilan dan kendi air minum sudah tersaji di tengah kamar tidur tabib wanita itu. Nyi Sendang Inten beserta dua orang pengikutnya duduk di atas kursi kayu sementara kedua murid Nyi Rumilah berdiri agak menjauh.

__ADS_1


*****


Mohon tulis komentar Anda🙏. Terima kasih.


__ADS_2