
Dua orang tua utusan Istana Angsa Emas itu tersentak kaget. mereka sungguh tidak pernah mengira kalau pihak lawan bakal membuat perangkap seperti ini. biarpun dalam hati jelas mereka dilanda kemarahan hebat, tapi justru tidak mampu berbuat apapun. dengan tuan putrinya berada ditangan musuh, mereka jelas tidak dapat berbuat sembarangan.
''Wanita sundal keparat., beraninya dirimu mempermainkan kami dengan tipuan licik seperti ini. jika sampai terjadi apa- apa dengan putri Satriyana, kau dan seluruh kawanmu akan menanggung siksaan yang paling menyakitkan dari kami.!'' gertak Dewa Serba Putih sambil berusaha menahan hawa amarahnya yang meluap. turut maunya saat ini juga dia hendak menghantam habis- habisan lawannya.
''Sebenarnya apa maumu Dewi Malam Beracun, juga dimana putri Satriyana sekarang ini berada. harap kau jawab sejujurnya.!'' sela Kyai Jabar Seto sambil memberi isyarat pada sahabatnya untuk menahan diri. dengan mendengus gusar I Gede Kalacandra alias Dewa Serba Putih dia menurutinya.
''Hik., hi., sebenarnya kalian berdua tidak perlu khawatir, gadis pewaris Istana Angsa Emas itu baik- baik saja keadaannya. bahkan dalam beberapa hari ini nafsu makannya lebih besar. soal keinginan kami., dengan segala hormat mohon kalian undang pimpinan tertinggimu sekarang juga untuk berunding. harap kalian ingat saja, bukan kami yang menginginkan pertemuan ini. tapi pihak Istana Angsa Emas yang mrmbutuhkan bantuan kami..'' jawab Roro sambil tertawa melirik rekannya.
''Kesempatan ini hanya berlaku sekarang saja. karena jika perundingan ini gagal, dengan sangat mudah kami bisa menghilang tanpa jekak apapun. kalian pasti juga tahu kalau sebenarnya kami semua bisa saja terus menyembunyikan diri dalam tempat rahasia yang sangat jauh dan terpencil. terus terang saja., kami semuanya sudah jenuh dengan kerasnya kehidupan di dunia persilatan..''
''Dia benar., sejujurnya saat si nomor dua belas mengajak kami untuk keluar menemui kalian, aku adalah orang yang paling menentangnya. begitu juga semua teman lainnya, kalian tahu kenapa., karena hidup kami sudah cukup tenang dan nyaman selama dalam tempat persembunyian kami. jadi., putuskan sekarang juga atau kami segera pergi.!'' gertak si Putri Penjerat yang sedari awal diam.
''Aku juga mulai bosan di tempat ini. Nyi Dewi., kurasa kita tidak perlu lagi berurusan dengan mereka. toh Satriyana juga tidak ingin ikut bersama mereka. soal perselisihan Istana Angsa Emas dengan kelompok 13 Pembunuh biar mereka sendiri yang mengurusinya. kita tidak perlu ikut campur apalagi membantu mereka..'' timpal Sabarewang sinis.
''Orang- orang Istana Angsa Emas yang butuh bantuan menghadapi 13 Pembunuh, sudah bagus kita mau keluar persembunyian untuk menemui kalian. tapi jika sambutan kalian pada kami seperti musuh begini, lebih baik kita batalkan saja untuk bekerja sama..'' kali ini Ki Ageng Bronto turut nimbrung bicara.
''Tuan- tuan sudah mendengar sendiri., semua keputusan berada di tangan Istana Angsa Emas. waktu kami tidak banyak, juga sudah hampir tengah malam..'' kata Roro memandang ke langit. malam itu sedikit mendung tidak banyak bintang diatas sana.
__ADS_1
''Huhm., jangan kau pikir mudah meninggalkan tempat ini sebelum kalian serahkan putri Satriyana.!'' Dewa Serba Putih mengancam tapi Kyai Jabar Seto kembali menahannya. ''Sebelum kamu putuskan, masih ada satu masalah ingin kutanyakan.., bagaimana cara kalian hingga dapat menghubungi kami dari Istana Angsa Emas untuk bertemu di lembah malam ini.?''
Hening sesaat lamanya, I Gede Kalacandra seakan baru menyadari masalah ini. seminggu lalu entah bagaimana caranya dalam pakaian seorang anak buah mereka yang bertugas di luar dapat terselip sebuah surat rahasia yang isinya sebuah petunjuk untuk mendapatkan rahasia kelompok 13 Pembunuh. tidak teradapat nama pengirim surat, namun ada nama tempat sebuah lembah dan waktu untuk pertemuan. selain itu juga terselip satu tusuk kundai emas berbentuk bulan sabit.
Meskipun khawatir itu sebuah jebakan tapi para pimpinan Istana Angsa Emas tetap memutuskan untuk menyelidikinya. lagi pula dari tusuk kundai bulan sabit itu Kyai Jabar Seto dan I Gede Kalacandra dapat mengira kalau Dewi Malam Beracun yang berada dibalik semuanya.
''Itu soal mudah., salah seorang anak buahku yang cantik pernah bertemu anggotamu, walau bagaimanapun juga lelaki muda umumnya suka dengan gadis cantik yang lemah lembut. dengan sedikit gerakan tubuh dan rayuan manis surat rahasia itu dapat disusupkan ke balik pakaiannya. tapi kau tenang saja Kyai., anak buahmu itu masih perjaka kok. kami juga masih tahu batasan..'' ujar Roro tertawa berderai. wanita ini benar- benar pandai menggoda orang lain.
''Kau sungguh perempuan binal yang tidak tahu malu.!'' maki I Gede Kalacandra. bukannya tersinggung Roro malah tergelak, ''Haa., ha., aduh., terima kasih atas pujianmu..'' semua rekannya melirik, ''Pikiran wanita ini benar- benar diluar nalar manusia waras..'' batin mereka prihatin.
Si Laba- Laba Kuning ulurkan benang- benang bajanya bersiap untuk menjerat sasaran. gabungan hawa membunuh yang terpancar dari tubuh mereka terasa menyesakkan jiwa. tanpa sadar kedua utusan tua itu menyurut mundur. tujuh orang ini sudah siap beradu nyawa.!
Saat di puncak ketegangan, dari satu arah berkelebat tiga sosok bayangan kuning yang dalam waktu sekejap berada di depan Roro Wulandari. kini Panglima Istana Tengah dan Panglima Istana Kiri terlihat mengapit seorang tua berjubah kuning dengan sulaman seekor angsa emas dibagian dadanya.
Empat orang bekas anggota 13 Pembunuh itu terkesiap saat melihat jubah kuning emas orang tua itu sama persis dengan yang dipakai sang ketua kelompok 13 Pembunuh. orang tua menatap dingin Roro Wuandari. ''Kau pastilah Dewi Malam Beracun. otak dari kelompokmu ini. apa yang kau perbuat ini cukup nekat juga. tunjukkan padaku dimana pewaris Istana Angsa Emas berada, maka kita bisa bicara tanpa rasa curiga.!'' meskipun ucapannya terdengar datar tanpa ancaman namun membawa pengaruh sangat kuat pada diri pendengarnya.
Orang tua itu sempat melirik jemari kaki gadis bisu tuli bernama Gembluk itu. ''Tidak ada kelainan di jari kakinya. berarti bocah ini memang cuma pancingan belaka. tapi kenapa aku merasakan ada suatu pancaran tenaga gaib yang sangat samar di dalam tubuhnya.?''
__ADS_1
''Apa jaminannya kalau kami tunjukkan gadis itu padamu.?'' tanya Respati maju disamping Roro. ''Aku adalah 'Tuan Sesepuh Pelindung Istana Angsa Emas'. pada masa silam diriku adalah salah satu dari empat sesepuh tertinggi Istana Angsa Emas yang disebut sebagai 'Tuan Sesepuh Istana Barat'., segala kehormatan dan harga diriku adalah jaminannya.!'' menjawab orang tua itu.
Jawaban ini seakan menunjukkan ketegasan dan juga keputusan yang tidak dapat ditawar lagi. ''Meskipun aku tidak pernah mengenalmu namun sudah sering mendengar segala sepak terjangmu, banyak yang bilang Dewi Malam Beracun si nomor dua belas adalah seorang wanita cantik yang sangat cerdik dan punya tipu muslihat luar biasa. biarpun demikian aku percaya kau dan juga ketiga kawanmu bekas anggota 13 Pembunuh masih punya harga diri dan kehormatan..''
''Istana Angsa Emas sudah percaya padamu, kuharap kaupun percaya pada kami. tunjukkan dimana junjungan kami, sang pemilik Darah Keabadian, tuan putri Satriyana., pewaris terakhir Istana Angsa Emas berada sekarang.!'' desak Tuan Sesepuh Pelindung Istana dengan suara dingin.
Sekujur tubuh kakek tua itu seperti diselimuti tenaga gaib yang bersinar keemasan. biarpun tenaga kesaktian itu tidak menyerang secara langsung, namun mampu membuat Roro dan semua kawannya seakan tertindas jiwa raganya. bahkan Jurata , Birunaka dan juga Sabarewang sampai jatuh berlutut akibat tekanan tenaga sakti itu..''
''Hentikan sekarang juga., jika kalian inginkan diriku maka jangan pernah menyakiti teman- temanku.!'' satu teriakan sekeras guntur memecahkan suasana malam. bukan saja membuat seantero lembah terguncang hebat. bahkan lima orang tokoh dari Istana Angsa Emas yang ada di sana sama tergetar jalan darah dan inti tenaga dalamnya.
Anehnya teriakan keras yang mengandung tenaga gaib itu seakan hanya ditujukan pada orang- orang Istana Angsa Emas saja. terbukti Dewi Malam Beracun dan semua rekannya tidak mengalami suatu apapun juga. dengan serentak Tuan Sesepuh Pelindung Istana dan para bawahannya menoleh ke satu orang yang berdiri diam disana.
Dengan tangan kiri gadis bermuka kusam yang kabarnya bisu tuli dan Roro panggil sebagai Gembluk itu mengusap wajahnya. selembar topeng kulit yang sangat tipis serta halus terkelupas. seraut wajah gadis cantik berkulit agak sawo terpampang di sana. meskipun masih sangat muda tapi pancaran kewibawaan sudah jelas terlihat dari dirinya. siapa lagi gadis itu kalau bukan Satriyana. rupanya Roro Wulandari sengaja memakaikan dua buah topeng padanya, sehingga wajar saja kalau muka gadis itu terlihat lebih tembem.
*****
Asalamualaikum., mohon maaf karena menjelang hari raya Idul Fitri, kami semakin banyak pekerjaan. jadi kami hentikan sejenak novel 13 Pembunuh dan Pendekar Tanpa Kawan. mungkin setelah lebaran akan kami lanjutkan kembali. Terimakasih, Wasalamualaikum.🙏
__ADS_1