
Hampir separuh orang berseragam prajurit langsung bergerak memeriksa sekeliling tempat itu, dengan membekal tombak dan diterangi cahaya obor mereka mencoba menyibak rimbunan semak diantara pepohonan hutan. dari pergerakannya yang tangkas dan rapi dapat dilihat kalau mereka termasuk kelompok prajurit yang terlatih.
Jarak para prajurit dengan kereta kuda semakin mendekat, mungkin tak sampai sepuluh tombak. Dewi Malam Beracun cepat ambil tidakan, dengan terlebih dahulu bergerak memutar menjauhi kereta perempuan ini tahu- tahu muncul hanya sepuluh langkah dibelakang para prajurit yang berjaga di jalan bersama pimpinannya dan si pemuda baju kuning.
''Heii., kalian para prajurit Demak.! ada urusan apa sampai berkeliaran ditengah hutan malam- malam begini.?'' seru Roro sambil berkacak pinggang. karuan saja semua orang terkaget- kaget setengah mati. serentak mereka menoleh kebelakang, para prajurit yang tadinya hendak terus masuk ketengah hutan juga cepat berbalik arah kembali. dengan dibantu cahaya api obor mereka dapat melihat siapa yang berani sembarangan menegur prajurit Demak.
Darah mereka berdesir saat melihat seorang wanita muda berjubah hitam yang cantik jelita bagaikan bidadari kahyangan berdiri dijalan itu. sesaat lamanya mereka terdiam seakan terpesona dengan kehadiran gadis didepannya. apalagi saat wanita itu melangkah dengan santai sambil menebar senyuman dan kerlingan matanya yang menggoda, angin malam menghembus rambut hitamnya yang panjang seakan sengaja dibiarkan terurai tanpa hiasan atau sanggul, semangat dan kegarangan mereka tersapu lenyap entah kemana. hingga tanpa disadari wanita cantik itu sudah berada ditengah barisan mereka.
''Kenapa para prajurit Demak yang kabarnya gagah perkasa ini cuma terdiam., apakah pertanyaanku tadi begitu sulit untuk di jawab.,?'' pertanyaan wanita itu seketika menyadarkan mereka dari lamunannya.
''Sii., siapa kau gadis manis, kenapa malam- malam begini berada disini, apakah kau sendirian saja.?'' tegur sang pemimpin prajurit itu sambil melangkah maju, untuk menutupi keterkejutannya. sementara si baju kuning yang juga turut bersamanya terlihat memandang Roro tak berkedip. senyuman tipis tersungging di bibirnya.
''Aahh., sebuah pertanyaan dijawab juga dengan pertanyaan, lalu siapa yang harus menjawab duluan., 'Duuh., perwira tinggi yang gagah, kau membuatku merasa bingung saja.!'' sahut Roro dengan manja.
Disebut sebagai perwira gagah membuat si pemimpin bangga, dengan membusungkan dadanya dia menjawab ''Aku Kunto Pranjan, menjabat sebagai salah satu perwira kepala prajurit perang Demak, kami dalam sekarang perjalanan kembali ke keraton setelah menyelesaikan tugas berat.,!''
__ADS_1
Seharusnya jawaban sejelas ini pantang terucap dari mulut seorang kepala prajurit. apalagi didepan seorang perempuan yang tidak dikenal, tapi entah kenapa perwira bernama Kunto Pranjan ini seakan sudah terpana dengan gaya Roro yang mengoda. ''Tugas berat., 'Apakah maksud tuan perwira tugas membasmi kaum pemberontak atau gerombolan perampok yang kejam.?''
''Hak.,ha, haa., 'Kalau cuma tugas seperti itu sih sudah menjadi santapan sehari- hari tuan perwira tinggi dan kami semua sebagai bawahannya, tapi yang tuan perwira lakukan jauh lebih berharga dari itu semua., sebuah jasa besar yang bahkan belum sanggup dilakukan orang rimba persialatan selama ini.,!'' kali ini yang bicara adalah pemuda baju kuning, rupanya dia tahu kalau si pemimpin tertarik pada wanita berjubah hitam itu, hingga dia mencoba ikut membantu mengambil hati si gadis cantik.
''Ooh benarkah., aku penasaran jasa besar apakah itu.?'' tanya Roro kedipkan matanya seakan tertarik. ''Hee., he., seorang gadis berani berada sendirian dihutan sepi begini rupa, tentunya nona juga membekal ilmu silat untuk menjaga diri bukan.,?'' selidik si baju kuning, Roro Wulandari berlagak terkesima, ''Wah., tuan benar- benar bemata tajam, dibawah seorang perwira yang hebat, pasti bawahannya juga luar biasa., aku sungguh kagum. 'Benar kata tuan, tapi aku cuma pengelana baru di dunia persilatan, masih butuh banyak bimbingan dari orang- orang hebat seperti anda.!'' kata Roro sambil menjura hormat.
''Sebelum kita teruskan percakapan katakan dulu siapa namamu nona.?'' tanya si baju kuning. ''Aah maaf., namaku Wulandari, lalu siapakah nama tuan sendiri.?''
''Namanya Joko Luwing, dia bawahanku.!'' potong si perwira tinggi. rupanya dia merasa tidak suka kalau Roro berbicara dengan bawahannya. si baju kuning yang bernama Joko Luwing cepat tanggap, dengan gaya menjilat dia kembali memuji si perwira tinggi. ''Nona pasti penasaran jasa besar apa yang telah pemimpin kami lakukan., meskipun baru terjun ke rimba persilatan tentunya nona pernah mendengar nama Gada Rahwana.,!''
''Siapa yang tidak pernah mendengar nama besar Gada Rahwana si nomor enam dari kelompok 13 Pembunuh itu, kabarnya selain bertubuh raksasa dia juga kebal senjata.!'' seru Roro dengan tampang kaget, ''Tapi., apa hubungannya Gada Rahwana dengan tugas berat dan jasa besar tuan perwira.?''
''Ooh., tidak kusangka pengetahuan nona cukup luas juga sampai tahu perkumpulan 13 Pembunuh itu..'' ujar Joko Luwing kagum, ''Nah., Gada Rahwana yang kabarnya tidak terkalahkan itu sudah dihabisi oleh tuan perwira tinggi kita yang hebat ini, batok kepala penjahat itu sudah di penggalnya., nona Wulandari sungguh beruntung karena bisa berkenalan dengan perwira tinggi Kunto Pranjan, kepala pasukan keraton Demak yang gagah dan sakti mandraguna ini.!''
Roro seakan terkagum menatap si perwira, orang ini rada blingsatan dilihat seperti itu. dengan tertawa jumawa dia jentikkan jarinya, ''Aah., itu biasa saja, soal kecil bagiku. orang persilatan saja yang terlalu membesarkan kehebatan raksasa jelek itu, buktinya dengan sekali tebas dia bisa kupenggal.! Haa., ha. ha.!'' katanya sambil tertawa bergelak, diikuti semua bawahannya.
__ADS_1
''Tuan benar- benar hebat,! aku sungguh beruntung bisa kenal tuan- tuan semuanya, bolehkah aku melihat kepala orang jahat itu.?''
''Kumohon tuan perwira, perlihatkan padaku.,'' rengek Roro manja, membuat si perwira tidak bisa menolak dan menyuruh seorang bawahannya untuk mengambil sebuah buntelan bernoda darah, saat isinya dikeluarkan nampak sebuah kepala besar bermuka buruk dan bermata bolong,! 'Batok kepala ini sudah kuberi pengawet agar tidak membusuk, ''Bagaimana., apakah nona Wulandari sudah puas melihatnya.?'' tanya Kunto Pranjan sambil mengamati kepala buruannya. karena tidak mendapat jawaban dia menoleh, dilihatnya Roro melihat tak berkesip kepala Gada Rahwana yang berada ditangan kanannya, orang ini mengira si gadis takut melihat kepala yang seram itu. hingga buru- buru menyimpannya kembali.
''Maaf Wulandari, tentu kau takut melihat muka buruknya.,'' kata si perwira. tapi dia tercengang saat melihat gadis itu menggelung sebagian rambutnya dan menusukkan sebuah tusuk kundai emas berbentuk bulan sabit diatasnya. dari balik jubah gaun hitamnya dia membentang sebuah kipas perak yang menebarkan bau harum memabukkan.!
''Diantara 13 Pembunuh., aku paling benci Gada Rahwana. orangnya bodoh, buruk rupa, gila dan bau.!' meski diantara 13 Pembunuh juga terjadi persaingan, tapi kami juga saling melindungi, jika ada anggota yang terbunuh saat bertugas itu tidak jadi masalah, tapi kalau dia mati karena tipu muslihat apalagi kepalanya di jadikan pijakan orang lain, maka kewajiban bagi kami untuk menuntut balas.!'' gertak Roro bengis. karuan semua orang tersentak, mereka saling pandang sambil siapkan tombaknya.
''Kau., katakan siapa dirimu sebenarnya.!'' bentak si perwira tinggi, sementara Joko Luwing mendengus sambil mencabut trisula dan keris dari balik pinggangnya. yang ditanya tersenyum sombong, lalu melakukan serangkaian gerakan tarian sambil menyanyi,
''Kala rembulan menyinari bumi., Putri malam membentang kipasnya., Mayat- mayat menjadi saksi., Saat dia menari diatas genangan darah.,!''
Kedua orang itu seketika berubah hebat air mukanya, ''Perempuan Jahanam., rupanya kau ini orang dari kelompok 13 Pembunuh.,!'' seru Joko Luwing, seketika semua orang menjadi geger, ''Hik., hi., hii., Benar., akulah si cantik jelita, pembunuh nomor dua belas dari 13 Pembunuh, Dewi Malam Beracun.!''
Begitu ucapannya habis tubuh wanita ini langsung menggebrak kedepan, kipas perak diputar membabat kiri kanan menebar angin keras dan bau harum tajam memusingkan. sementara tangan kirinya tidak tinggal diam, selusin jarum dan pisau tajam dihamburkan kemuka, jerit kematian langsung memecah keheningan malam, tiga orang prajurit tumbang dengan dada dan leher robek dibabat kipas perak, sementara tujuh orang lainnya roboh tertembus jarum dan pisau beracun yang menyambar bagai hujan petir.
__ADS_1
Hanya dalam tiga kali gebrakan Dewi Malam Beracun bukan saja mampu membuat dua belas prajurit mati terjungkal, bahkan dua orang lainnya dibikin cacat dengan kehilangan mata kanan dan telinga kirinya.!' karuan sang perwira Kunto Pranjan dan Joko Luwing mengamuk, dengan memutar senjatanya masing- masing mereka menyerbu bersamaan, keduanya bermaksud menghabisi Roro Wulandari secepat mungkin, tapi mereka lupa kalau wanita cantik ini bukan orang yang gampang untuk dibunuh. si nomor dua belas yang jauh lebih berbahaya dari seribu kalajengking berbisa.!