
Tiga orang anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' itu saling lirik dan mengangguk. setelah membungkuk hormat pada tiga pimpinannya mereka cepat berkelebat pergi setelah terlebih dulu mengajak beberapa orang lagi kawannya untuk melaksanakan perintah dari sang ketua 'Kelompok 13 Pembunuh'.
Orang tinggi besar berjubah kuning emas itu kembali kibaskan kedua lengan jubahnya hingga tersebar gumpalan kabut dingin merah darah yang seketika tersedot oleh tubuh dua puluh empat mayat hidup yang telanjang bulat dengan penuh kerakusan. mereka seolah baru mendapatkan tambahan kekuatan hingga serangan pasukan mayat hidup itu bertambah semakin ganas.
Ditambah lagi kerubutan dari ribuan binatang beracun penghuni pulau Seribu Bisa itu jelas membuat keadaan para pesilat di pihak Istana Angsa Emas dan kaum pendekar aliran putih makin terjepit. jangankan bagi mereka yang tidak memiliki obat penangkal racun, dari 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' saja telah ada yang menjadi korban karena ramuan obat pemusnah racun buatan Nyi Rumilah sudah mulai hilang kekuatannya.
Jika saja anak buah Dewi Malam Beracun dari persekutuan 'Bulan Perak' tidak datang membantu mungkin korban dari pihak mereka akan semakin banyak. meskipun merasa berhutang budi tapi terselip juga rasa iri dalam hati mereka karena cuma anggota dari Bulan Perak saja yang boleh meminum obat penangkal racun dengan takaran yang sesuai dengan kebutuhan, sementara mereka harus membaginya dengan yang lain hingga khasiat obat itupun tidak dapat bertahan lama.
Ketua kelompok 13 Pembunuh tegak berdiri dengan pengawalan sepuluh orang anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis. kedua bawahannya si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' juga Pendekar Sadis Bermata Api' telah ikut juga turun tangan dan bertarung dengan lawan incarannya masing- masing.
Jika Pendekar Sadis Bermata Api memilih beradu kesaktian dengan seorang tokoh silat muda dari golongan lurus yang juga sama- sama ditempatkan dalam jajaran sepuluh pesilat muda pendatang baru terkuat saat ini yang dijuluki sebagai 'Pendekar Alis Kelabu' maka Lengan Tunggal Pengejar Roh malah lebih dulu dikeroyok oleh tiga orang pesilat sekaligus.
Walaupun begitu orang tua ini justru berada diatas angin dan mendesak ketiga lawannya. padahal mereka bertiga juga bukan pesilat kemarin sore. sang ketua 13 Pembunuh sebenarnya merasakan sedikit keanehan melihat perilaku orang kepercayaannya itu dalam masalah memilih lawan bertarung.
''Kenapa si buntung tua ini tidak memilih si pincang sebagai lawannya. apakah setelah pertarungan pertama mereka di lembah sunyi tempo hari dia merasa kepandaian murid lima pentolan golongan hitam itu sangat tinggi hingga dia sengaja menghindarinya.?'' batin orang tinggi besar bekas salah satu sesepuh Istana Angsa Emas pada masa silam itu.
__ADS_1
''Hhum., tapi kurasa itu cuma omong kosong. tangan kanan kepercayaanku ini tidak pernah kenal apa artinya takut. dia pasti punya alasan tersendiri. lagi pula., pasukan mayat hidupku sudah lebih dari cukup untuk menghabisi pemuda pincang sialan yang sempat lama menghilang ini..'' dengusnya dalam hati.
''Ki Sabrang Dowo, Nyi Gangsir Rampe dan kau Ki Gudel Blorok. kebetulan sekali kalian bertiga hadir di pulau ini. Aah., pastinya ini berkaitan dengan urusan lima tahun lalu saat aku membunuh guru dan dua orang saudara seperguruan kalian dari padepokan 'Lindu Pitu'. ingin kulihat sehebat apa sekarang ilmu kesaktian kalian bertiga hingga berani datang ke pulau Seribu Bisa ini.!''
''Hee., he., aku jadi teringat wajah guru dan kedua saudara kalian saat kubetot keluar jantung mereka dengan 'Cakar Pisau Setan Hujau' milikku ini..'' ejek si tua buntung sambil terkekeh acungkan cakar pisaunya hingga ketiga lawannya yang semula mulai merasa ngeri menjadi kembali naik pitam kerena merasa terhina.
''Jahanam tua bertangan buntung keparat. hari ini jika aku tidak mampu mencincang dirimu lebih baik diriku mati.!'' teriak seorang perempuan setengah umur yang berdiri di tengah. ''Kau harus bayar nyawa guru dan kedua saudara kami bajingan tua.!'' timpal lelaki yang bertubuh kurus.
''Huhm., untuk apa banyak bicara dengan bedebah tua berlengan buntung ini. lebih baik kita segera saja menghabisi jiwanya..'' potong lelaki botak yang kelihatannya paling muda usianya dan berangasan itu mendengus. dengan berbekal pedang di tangannya mereka mengurung si tua buntung dari tiga penjuru.
Semua bentakan juga caci maki dari Lengan Tunggal Pengejar Roh dan ketiga lawannya seolah menjadi jawaban atas kecurigaan yang sempat timbul didalam benak ketua 13 Pembunuh. wajah dibalik topeng tengkorak itu menyeringai. dia sangat percaya dengan kemampuan anak buahnya itu, tiga lawannya pasti binasa.
Dalam sebuah ruangan gelap dan pengap yang berada di ujung salah satu lorong goa batu dan paling rahasia di pulau Seribu Bisa, terlihat dua sosok tubuh sedang meringkuk dan saling memeluk di sudut ruangan gelap berpintu besi. jika dilihat sepertinya ruangan yang berbau apek juga anyir darah ini adalah sebuah penjara.
Meskipun suasana remang gelap dengan cahaya obor di dinding yang kecil meredup, namun masih dapat diketahui kalau kedua orang itu masih muda. bahkan salah satunya merupakan seorang gadis yang baru beranjak umur enam belas tahunan. gadis itu terkulai lemas dengan tubuh gemetaran tiada henti.
__ADS_1
Saat pelukan dari pemuda yang mendekapnya semakin erat, seiring dengan hempasan di puncak hawa nafsunya, gadis itu berteriak keras. entah sudah berapa kali dia menjerit dan menangis seperti itu tapi pemuda yang sedang menindih tubuhnya itu seakan tidak pernah berhenti untuk terus menggaulinya tanpa perduli tangis kelelahan dan sakit yang dialami gadis muda ini.
Namun pada akhirnya segala keberingasan pemuda itu berlalu juga. sekarang ini tubuh mereka berdua yang telanjang bulat bermandi keringat bercampur darah masih terlihat saling mendekap dan gemetaran sebelum akhirnya lemas lunglai terlentang diatas lantai penjara yang lembab juga kotor.
Gadis itu masih terisak. tapi anehnya bibirnya seperti menyunggingkan senyuman. perlahan kepalanya menoleh ke arah pemuda yang terbaring disampingnya. sepasang mata orang ini menatap lurus ke atas langit- langit penjara. tatapannya kosong dan dingin seolah dia sedang dilanda kebingungan atau malah seperti kehilangan rohnya.
Suasana yang tadinya penuh dengan suara rintihan bercampur dengusan penuh nafsu syahwat kini berubah menjadi sangat hening. bahkan mereka berdua dapat mendengar irama detak jantung juga tarikan halus dari nafas masing- masing. pemuda itu tersentak seolah baru terbangun dari mimpi panjang. biarpun demikian dia masih tidak berani untuk menatap gadis yang masih terbaring telanjang disampingnya.
''Kee., Ken., kenapa kaa., kau mau mee., mel., melakukan sem., semua iin., ini.?'' dengan terbata akhirnya pemuda itu mampu juga bicara, bahkan pada ucapan berikutnya dia seperti membentak marah bercampur rasa malu dan kecewa. entah pada si gadis atau malah terhadap dirinya sendiri. ''Kenapa kau tidak memilih lari saja dari sini. dasar sialan.!''
Gadis remaja itu tertegun sebentar baru kemudian menjawab. ''Lari., aku mesti lari kemana. lagipula menurutmu apakah seorang gadis bisa pergi begitu saja meninggalkan lelaki yang disukainya sementara teman dekatnya itu sedang sekarat dan pasti mati jika tidak segera mendapatkan pertolongan darinya.?''
''Katakan padaku Respati., apa setelah lebih dua tahunan kita semua berkumpul melewati susah juga senang dalam kebersamaan, kau masih tidak memahami diriku. coba jawab sejujurnya, apakah menurutmu Satriyana adalah gadis yang tega berbuat seperti itu.?'' jawab gadis di sampingnya setengah balik bertanya.
Pemuda itu hanya bisa terdiam tanpa bicara apapun. separuh hatinya merasa bersyukur memiliki rekan yang setia namun disisi lain dia juga terhina dan rendah diri karena tidak mampu menahan hasrat lelakinya. rupanya kedua muda- mudi yang terlentang telanjang bulat dalam ruangan penjara ini adalah Respati dan Satriyana. entah sudah berapa lama mereka melakukan XXX dan XXX yang hanya boleh dilakukan sepasang suami istri.
__ADS_1
........
Silahkan tuliskan komentar Anda. maaf🙏., jika ada tulisan yang kurang berkenan di hati. Terima kasih👏.