13 Pembunuh

13 Pembunuh
Dua orang dari masa lalu.


__ADS_3

Waktu tanpa terasa sudah mendekati tengah malam. pertarungan sengit juga telah menuju puncaknya. jurus 'Jari Sinar Pedang Salju Dewata' yang dilepaskan Dewa Serba Putih menghantam mata ke tiga dari siluman ganas yang telah terjerat ilmu 'Belenggu Jiwa Langit Dan Bumi' dari Kyai Jabar Seto.


Mahkluk siluman yang wujudnya menyerupai serigala, kera lutung dan kelelawar raksasa itu meraung buas saat sebuah sinar pedang menembus mata yang ada di dahinya.


Lolongan siluman itu sungguh memekakkan gendang telinga. seakan dia sedang merasa sangat kesakitan dan marah.


Mestinya dalam perkiraan I Gede Kalacandra si Dewa Serba Putih dan Kyai Jabar Seto mahkluk siluman jahat yang telah memakan banyak sekali korban itu akan langsung mati terbunuh karena konon mata ketiga itulah letak kelemahan dari siluman itu.


Tapi sungguh di luar dugaan, biarpun mata ketiganya sudah tertikam sinar pedang dari ilmu pukulan Dewa Serba Putih bahkan sampai menyemburkan asap hitam busuk dari lubang di tengah keningnya. tapi siluman itu bukan saja masih hidup, bahkan dibarengi dengan raungan murka mahkluk besar itu berontak dan hampir terlepas dari jeratan rantai tasbih 'Belenggu Jiwa Langit Dan Bumi' Kyai Jabar Seto yang mulai retak hendak terputus.


''Celaka., siluman jahat itu akan terlepas dari jeratan rantai tasbihku. I Gede Kalacandra., rasanya aku sudah tidak mampu lagi untuk menahan amukannya. cepat kau hantam lagi siluman ini.!'' seru Kyai Jabar Seto yang mulai kewalahan.


Terpaksa Dewa Serba Putih kembali harus kerahkan tenaganya untuk menghantam siluman itu dengan jurus 'Jari Sinar Pedang Salju Dewata' tapi dari cahaya pedang yang redup jelas menandakan kalau ilmu pukulan itu sudah banyak berkurang kekuatannya.


I Gede Kalacandra merutuk dalam hati, karena meskipun ilmu kesaktiannya itu sangat hebat bahkan sanggup melubangi dinding baja yang tebal sekalipun hingga tembus, tapi untuk mengeluarkannya orang tua dari pulau Bali itu membutuhkan banyak sekali tenaga dalam. maka tidaklah heran kalau saat ini dia sudah kehilangan banyak tenaga hingga menyebabkan kekuatan ilmu pukulan saktinya melemah.


Ilmu kesaktian tinggi yang mestinya dapat membunuh siluman itu, kini bahkan tidak sanggup menembus kulit tubuh mahkluk jejadian itu dan mental buyar.


Sementara jeratan rantai tasbih dari Kyai Jabar Seto sudah semakin melemah, cahaya biru dari ilmu Belenggu Jiwa Langit Dan Bumi sudah mulai meredup dan terputus- putus. sampai akhirnya benar terputus dan siluman itupun terlepas.!


Dengan keluarkan suara memekik dan meraung siluman bermata tiga yang dahinya sudah berlubang itu kepakkan sayapnya hingga menimbulkan hempasan angin keras berhawa panas. Kyai Jabar Seto sampai jatuh terjengkang. siluman itu memekik seakan tertawa mengejek lalu terbang keatas udara hendak kabur. hanya karena telah terluka cukup parah di bagian mata dahinya membuat kecepatan terbangnya menjadi jauh berkurang.


''Sahabatku Kyai Jabar Seto., bagaimana keadaanmu.?'' seru Dewa Serba Putih yang merasa khawatir.

__ADS_1


''Jangan hiraukan aku, cepat kau habisi siluman jahat itu. jangan sampai dia berhasil kabur dan memulihkan dirinya.!''


Dewa Serba Putih tentu saja tahu akan hal itu. tapi dia juga sudah kelelahan dan tenaga saktinya juga belum pulih. di saat mereka di landa gusar dan cemas, dari satu arah terdengar dua suara mendesis dan menggerung buas.


Tubuh Repati mendadak melesat berkelebat maju dengan babatkan pedang Iblis Hitam. bayangan wujud dua ekor ular kobra hitam mendahului serangan jurus ini. kecepatan bergerak pemuda itu jauh meningkat hingga tidak dapat diikuti oleh mata seorang ahli silat kelas satu sekalipun.


Tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi. dua cahaya berwujud kobra hitam raksasa sudah menggelung dan membuntal tubuh raksasa siluman itu di atas udara. sedangkan raga Respati seakan turut lenyap ke dalam gelombang hawa kobra hitam yang saling menggulung di udara.


Roro Wulandari berteriak khawatir menyebut nama si pemuda. Sabarewang dan juga Satriyana yang entah sejak kapan sudah keluar dari dalam kereta juga merasa panik. biarpun demikian mereka bertiga sama tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.


Gulungan hawa dan sinar hitam dari wujud dua ekor ular kobra hitam itu membuat udara juga semakin panas, padahal jarak antara tempat pertarungan di atas udara dengan Roro berserta ke dua rekannya hampir sepuluh tombak jauhnya.


I Gede Kalacandra dan Kyai Jabar Seto yang punya kepandaian sangat tinggi juga turut menjauh. anehnya kedua orang itu seperti diam- diam sedang.mengamati sosok diri Satriyana.


''Meskipun masih samar tapi aku dapat merasakan aura kesaktiannya..'' bisik Dewa Serba Putih pada rekannya.


''Aku juga punya pendapat yang sama denganmu., tapi aku tidak mengira pemilik Darah Keabadian itu adalah seorang gadis muda..'' jawab Kyai Jabar Seto sambil kembali mengeluarkan seuntai kalung tasbih dari saku jubah putihnya dan mulai kembali berdzikir.


Baru saja jemari Kyai Jabar Seto memilin tasbihnya, diatas sana terdengar suara ledakan dan raungan keras di sertai semburan asap hitam pekat berbau busuk yang menyebar ke seluruh penjuru udara.


Sosok tubuh Respati terpental turun ke bawah. beruntung dia masih sempat berjumpalitan sembari kerahkan ilmu meringankan tubuhnya, hingga saat tiba di tanah tidak mengalami cedera. sekujur tubuh pemuda itu pucat pias dibasahi peluh dan mengepulkan asap tipis, nafasnya tersengal dan gemetaran. kedua cahaya berwujud ular kobra hitam juga telah lenyap. ketiga orang kawannya serentak mengerubungi.


Kedua mata Respati menatap jajam ke atas, kabut dan cahaya hitam yang menyelimuti wujud siluman ganas itu terus menggulung. kejap berikutnya sosok siluman itu terhempas ke bumi dengan keluarkan suara berdebum. puluhan cahaya dan kabut kelabu berbentuk wajah- wajah manusia terlihat keluar dari kedua rongga mata siluman itu yang telah jebol di hantam ilmu 'Sepasang Kobra Inti Neraka' yang merupakan tingkatan kedua dari kitab ilmu kesaktian 'Kobra Iblis' milik Respati. rupanya dalam keadaan terdesak pemuda ini sudah berhasil menembus penghalang yang ada di tingkatan kedua dari kitab Kobra Iblis.

__ADS_1


Kiranya berpuluh cahaya kabut kelabu yang menyerupai wajah manusia itu adalah roh para korban siluman ganas itu. kini mereka sudah terlepas dan kembali ke alamnya. terakhir semua orang yang ada disana jelas melihat ada gumpalan kabut bercahaya putih yang menyerupai wujud seorang bocah perempuan kecil. wajah lucu bocah itu terlihat tersenyum gembira tangan kecilnya melambai. tanpa sadar Roro melangkah maju, tangannya terulur meraba tangan kecil si bocah yang hanya berwujud kabut. meskipun tidak mendengar suara apapun tapi wanita cantik ini merasa kalau si bocah sedang mengucapkan terima kasih kepada mereka.


''Pergilah ke alammu., kau sudah bebas sekarang.!'' bisik Roro dengan suara bergetar sementara air matanya menetes haru. wanita ini sangat suka dengan anak- anak. mungkin itu karena dia sudah tidak dapat memiliki keturunan.


Roh bocah perempuan itu tersenyum manis. sambil melambaikan tangan bayangannya lenyap ke angkasa. Kyai Jabar Seto sedikit mengangkat kedua telapak tangannnya, menengadah dan berdoa untuk ketenangan arwah para korban siluman jahat itu. yang sosoknya kini cuma tinggal onggokan tulang belulang yang hangus terbakar.!


Sabarewang dan Satriyana ternganga, seumur hidup baru kaki ini mereka bertemu kejadian aneh sekaligus mengerikan seperti ini. di saat mereka masih terpukau, tiba- tiba I Gede Kalacandra si Dewa Serba Putih dan Kyai Jabar Seto mendatangi. herannya kedua orang ini terlihat mengamati Satriyana dari ujung kepala hingga berhenti di bawah kaki gadis itu. Seketika Roro dan Sabarewang langsung menghadang dan curiga.


''Apa mau kalian., jangan coba menggangu Satriyana.!'' gertak Sabarewang sambil loloskan pedangnya. sementara Roro juga sudah membentangkan kipas peraknya siap beradu nyawa.


Anehnya baik Dewa Serba Putih maupun Kyai Jabar Seto cuma diam dan terus saja mengamati jemari kaki Satriyana, membuat gadis remaja pewaris istana Angsa Emas ini merasa gelisah. apalagi sekarang wajah kedua orang tua itu terlihat memancarkan keharuan, bahkan I Gede Kalacandra sampai berkaca- kaca kedua matanya. Kyai Jabar Seto juga tidak berhenti mengucap syukur dan berdoa. setelah saling pandang penuh kelegaan. mereka berdua menjura hormat di depan Satriyana.


''Saya Jabar Seto., pada masa lalu adalah seorang kulubalang kepala pasukan nomor lima Istana Angsa Emas. kini datang untuk mengaturkan hormat dan menanti perintah dari tuan puteri.!''


''Aku I Gede Kalacandra., tiga puluh tahun lalu menjabat kulubalang kepala pasukan nomor dua di Istana Angsa Emas., mohon maafmu karena terlambat mengenali tuan puteri.!''


Semua orang di sana tersentak kaget, jika ada suara petir mungkin mereka tidak akan sekaget ini. malam itu begitu penuh dengan kejutan serta kejadian aneh. Roro Wulandari dan kedua kawannya saling pandang lalu menyingkir. kedua mata Satriyana terpejam, gadis itu tidak tahu apa yang mesti dia lakukan, akhirnya dia balikkan tubuh dan kembali masuk ke dalam kereta kuda. dari dalam sana terdengar suara tangisan lirih. dia merasa beban hidupnya sangat berat.


****


Pengumuman., dengan ini saya sampaikan untuk seminggu ke depan novel silat 13 Pembunuh ini belum bisa up date, karena author ada kesibukan kerja ke luar kota.


Terimakasih atas dukungan like👍 kritik, saran dan koment dari para Reader selama ini. 🙏 Wasalam.

__ADS_1


__ADS_2