
Suara gelak tawa sang ketua 13 Pembunuh yang berkumandang keras diakhir malam itu seakan membawa hawa kematian dan mampu meruntuhkan jiwa para pendekar yang masih berada disana. jika saja tidak melihat sendiri sosok si pemilik suara ini mungkin mereka bakal mengira kalau itu gema suara raja iblis yang baru keluar dari pintu neraka.
Suasana mendadak berubah jadi hening dan mencekam hati. perasaan semua orang yang ada disana terutama dari pihak 'Istana Angsa Emas' terasa tertekan seolah ditindih beban sangat berat yang tidak berwujud. bahkan untuk sekedar menarik nafaspun mereka mesti kerahkan kekuatan.
''Huhm., ketua 13 Pembunuh. memangnya apa lagi yang bisa kau tunjukkan pada kami. saat ini saja separuh anggotamu sudah tewas. jangan mencoba untuk menggertak dengan bertingkah sombong, karena sebentar lagi kau bakal menyusul mereka ke neraka.!" gertak 'Panglima Istana Kiri' sambil siapkan gelang- gelang mautnya.
''Manusia jahanam ini harus menebus nyawa 'Tuan Sesepuh Pelindung Istana' juga semua sahabat kita yang telah mati ditangannya.!'' timpal rekannya si Panglima Istana Tengah'. dengan kemarahan meluap sepasang kekasih itu hendak menyerbu, tapi suara hardikan dan peringatan keras dari 'Kyai Jabar Seto yang baru saja bangkit dari pingsannya membuat mereka tertahan.
''Kyai Jabar Seto., bagaimana keadaanmu.?'' kedua orang muda- mudi itu berkelebat menghampiri. disana sudah berdiri si 'Maling Nyawa' yang memapah lelaki tua bersorban putih itu. ''Kaa., kalian jang., jangan bertindak gegabah., meskipun belum jelas tapi saudara Maling Nyawa mengatakan kalau bedebah itu masih memiliki bekal yang sangat berbahaya..''
Kedua orang panglima Istana Angsa Emas itu sekejap saling lirik dengan rasa curiga. ''Meski si tua Maling Nyawa telah membantu pihak kita, tapi walau bagaimanapun juga dia adalah anggota lama dari kelompok 13 Pembunuh. bisa jadi orang tua ini menyimpan maksud tertentu dalam hatinya..'' pikir mereka sangsi. namun disaat itulah ditengah kalangan telah terjadi perubahan yang mengejutkan.
Tidak diketahui siapa yang memerintah juga mengawalinya. 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' dari kelompok 13 Pembunuh berikut seluruh pentolannya yang tersisa entah sejak kapan sudah menarik diri dan berdiri menjauh dalam satu barisan dibelakang sosok tubuh ketuanya yang tinggi besar.
__ADS_1
Beberapa orang anggota 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' dari istana Angsa Emas yang coba memburu seketika hentikan gerakannya saat didepan mereka muncul gumpalan kabut putih kehitaman disertai suara mirip jeritan hantu dan angin yang menderu. jika lebih diperhatikan kabut tebal yang dalam sekejap saja sudah menyelimuti permukaan tanah di sekeliling lembah itu berasal dari tubuh ketua 13 Pembunuh.
Orang yang punya kesaktian sulit diukur ini mendongak sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. dari balik topeng besinya yang berbentuk tengkorak menyeramkan keluar suara meracau seperti orang sedang mengucapkan mantra. seiring gumpalan kabut tebal berhawa dingin dengan bau memuakkan yang menutupi permukaan lembah setinggi paha, rumput dan semak belukar bahkan pepohonan yang terkena kabut itu terlihat layu dan membusuk.!
Semua ini begitu cepat berlangsung. Maling Nyawa adalah orang yang pertama kali menyadari datangnya bahaya maut. ''Cepat kalian semua menyingkir keluar lembah. kabut ini selain beracun juga pertanda kalau dia sudah mulai mengeluarkan ilmu iblisnya.!'' serunya sambil menarik tubuh Kyai Jabar Seto. semua orang meskipun terperangah dan ngeri tapi masih merasa ragu untuk bergerak.
Lain halnya dengan Roro, Respati dan kawan- kawannya. tanpa buang waktu mereka semua bergegas menyingkir. Jurata membopong Sabarewang yang terluka parah. saat melewati tubuh I Gede Kalacandra si 'Dewa Serba Putih' orang itu tersentak kaget sekaligus ngeri. dia melihat tubuh tokoh sakti silat dari pulau Bali yang menghitam akibat pukulan 'Jelaga Hitam Pembungkus Nyawa' milik si 'Momok Jelaga Hitam nampak diselimuti butiran salju beruap putih.
Bersamaan terdengar jeritan menyayat dari belasan anggota Pasukan Pedang Angsa Sakti yang terjungkal muntah keracunan lalu mati akibat terlambat menghindari kabut beracun yang terus menyebar. ''Bodoh semuanya., apa lagi yang kalian tunggu cepat menyingkir sejauhnya.!'' seru Kyai Jabar Seto sampai kerahkan sisa tenaganya hingga terbatuk darah.
Tanpa diperintah lagi seketika semua orang berhamburan pergi menjauh. beberapa ada yang terlambat bertindak hingga tewas keracunan. tubuh para korban tumbang dan terbenam ke dalam kabut. anehnya kabut beracun itu tidak menyebar ke tempat dimana para anggota kelompok 13 Pembunuh berdiri.
''Hanya permainan kabut beracun inikah yang menjadi andalan manusia keparat itu. asalkan kita meminum obat penangkal racun lantas secara bersama kita menyapu balik kabut itu dengan tenaga dalam, bukankah semua ini dapat diatasi.?'' geram Panglima Istana Kiri sambil melirik tajam si Maling Nyawa.
__ADS_1
Diluar dugaan pencuri kawakan yang selama ini dikenal pendiam, lugu dan nampak tolol itu malah balas menghardik. ''Memangnya kau tahu apa bocah kurus pucat., jika cuma kabut beracun itu masalahnya, semua orang juga paham bagaimana menghadapinya. tapi yang jadi perkara adalah apa yang tersembunyi dibawah kabut itu.!''
Entah bagaimana caranya tahu- tahu tubuh si Maling Nyawa sudah berada di depan Penglima Istana Kiri. belum hilang terkejutnya tangan orang tua itu sudah mencengkeram lehernya. ''Dengar bocah goblok yang sok tahu. lain kali jaga sikapmu jika berbicara dengan kaum tua. kau tahu., dimasa lalu diriku pernah membunuh selusin pemuda berkepandaian silat lumayan bagus hanya karena salah satu diantara mereka berani mendengus didepan mukaku..''
''Aku seorang pencuri sekaligus pembunuh yang gemar mencuri apapun dan membunuh siapapun. tapi yang paling kusukai adalah mencuri jiwa seseorang. karena bagiku pemandangan yang terindah adalah., saat melihat sasaranku mati tanpa dia pernah tahu siapa pembunuhnya.!'' desis si Maling Nyawa dingin dan tatapan penuh hawa membunuh. semua orang bergidik ngeri mendengar ucapan orang tua itu. bahkan Respati juga tidak pernah mengira kalau gurunya sangat menyeramkan jika sedang murka.
''Kyai Jabar Seto., Ki Sabda Langitan. ajari anak buahmu sopan santun jika berbicara dengan orang tua. jika saja aku tidak memandang diri kalian berdua, sudah kubuat nyawa bocah sombong ini lenyap.!'' sentak Maling Nyawa hempaskan tangannya. Panglima Istana Kiri jatuh batuk terbungkuk.
''Sobat Maling Nyawa, aku mewakili anak muda itu untuk meminta maaf. terima kasih kau sudah bermurah hati. tapi apa maksudmu dengan bahaya dari dalam kabut itu. Aah lihat., kenapa kabut tebal beracun itu seperti terhisap sesuatu dan tidak lagi menyerang kita.?'' seru Ki Sabda Langitan. semua orang juga merasa heran. hanya si Maling Nyawa saja yang malah semakin tegang.
''Haa., ha., orang- orang Istana Angsa Emas. nikmatilah penghujung malam ini selagi bisa, karena sebentar lagi akan aku kirim kalian semua ke lubang neraka.!'' teriak ketua 13 Pembunuh sambil kibaskan kedua lengannya berulang kali. dari atas langit terdengar suara bergemuruh. awam mendung gelap disertai angin berputaran sementara kilat menyambar tanpa henti. suasana sangat mencekam.
''Celaka., ruapanya ketua 13 Pembunuh benar sudah mempelajari ilmu terkutuk itu..'' gumam Maling Nyawa pucat pias. ''Apa maksudmu dengan ilmu terkutuk.?'' potong Ki Sabda Langitan tegang. tapi orang itu seketika sadar saat melihat ratusan mayat yang jadi korban pertempuran besar terbangkit dan meraung seram dari balik kabut dengan mata merah kehausan darah.!
__ADS_1