
Semenjak hari itu kehidupan seorang gadis bernama Roro Wulandari menjadi berubah seratus delapan puluh derajat, dari gadis cantik kembang desa Pendamaran yang di kagumi dan dihormati, menjadi seorang yang selalu mendapat hinaan dan siksaan dari hampir semua orang dirumah itu, makian dan deraan seakan menjadi makanan sehari- hari, sepertinya semua orang disana sengaja diperintah untuk menyiksanya, mulai dari pelayan rumah dan para pengawal. terutama dari istri saudagar emas yang memang mempunyai kebencian dan dendam atas kematian anaknya, bukan hanya Gumoro yang berkali- kali menggaulinya, tapi juga juragan emas itu juga pernah melakukannya.
Mungkin dirumah itu cuma Rumilah yang diam- diam membantunya dengan memberi dia makan dan minum seadanya. pernah Roro merasa sudah tidak tahan hingga berniat bunuh diri, tapi Rumilah mampu mencegahnya dan terus memberinya semangat untuk hidup, karena selama manusia masih hidup, maka harapan akan tetap ada.
Saat Roro hamil akibat perbuatan biadab lelaki itu, dia dipaksa untuk meminum obat penggugur kandungan, mungkin karena minum obat terlalu banyak membuat gadis itu hampir mati lemas. hari berganti hari, minggu dan bulan terus berlanjut, tanpa terasa hampir setahun gadis itu mengalami segudang penderitaan lahir batin. Roro Wulandari yang tadinya cantik jelita kini menjadi kurus kering, bau dan penyakitan membuat orang merasa muak berdekatan dengannya. sekarang dia di tempatkan dalam kandang kuda yang kotor dengan tubuh terikat rantai tanpa ada lagi yang perduli dengannya. apalagi saat ini istri saudagar emas itu sedang hamil kembali diusianya yang sudah mencapai empat puluh tahunan, membuat perhatian seisi rumah beralih darinya.
Hanya Rumilah yang masih sesekali menyambanginya secara diam- diam sambil membawakan makanan sekedarnya, selain Rumilah masih ada seorang nenek tua yang pendengarannya rada tuli serta bisu tinggal di gubuk belakang rumah bersama Rumilah. dulunya nenek tua ini adalah pengasuh Brajawana, anak saudagar emas itu sejak masih bayi, bahkan dialah yang menolong kelahiran Brajawana disaat semua dukun bayi kesulitan mengatasi kelahiran bayi yang sungsang dalam kandungan. karena jasanya dia di ijinkan tinggal dibelakang rumah. sekarang tugasnya membersihkan halaman belakang dan kandang kuda. anehnya setiap kali melewati tempat Roro disekap, nenek itu selalu berhenti dan mengamatinya cukup lama sambil menghela nafas berat.
Menjelang senja seperti biasa Rumilah diam- diam datang ke kandang kuda untuk memberikan sepotong singkong rebus dan gelas bambu berisi air putih kepada Roro. Rumilah melihat temannya dengan pandangan sedih dan menyesal, ''Maafkan aku Roro karena tidak mampu menolongmu, hanya makanan kecil ini yang bisa kuberikan padamu.,'' bisiknya pelan, butiran air mata mengalir di pipinya.
Gadis dari desa Pendamaran itu balik memandangnya dengan tatapan kosong. dengan gelengkan kepala Rumilah kembali ke gubuknya. tidak lama kemudian muncul seorang nenek tua dari balik kandang kuda. dia bukan lain nenek bisu tuli yang tinggal satu gubuk bersama Rumilah.
''Hhemm., kalau ingat perempuan inilah yang menyebabkan kematian Brajawana anak yang kuasuh sejak kecil, ingin rasanya kubiarkan dia terus tersiksa seperti ini. tapi jika melihatnya aku juga tidak tega., lagipula dari apa yang kudengar Brajawana yang terlebih dahulu menyalahi gadis ini.,!'' gumam nenek tua itu pelan seakan berbicara sendiri, jadi sebenarnya nenek tua ini tidak benar- benar bisu, mungkin juga tidak tuli.!
__ADS_1
Nenek tua itu seperti sedang berpikir keras, ''Baiklah bocah mari kita bertaruh., kalau kau dapat lolos dari lubang kematian yang kubuat, berarti dirimu memang berjodoh denganku. tapi jika tidak maka memang nasibmu yang buruk.!'' ujar Nenek tua itu, setelah terlebih dahulu melihat sekitarnya, si nenek mengambil sebuah tabung bambu kecil dari lipatan kain setagen ikat pinggangnya, lalu mengeluarkan tiga butir obat pulung berwarna putih. kemudian butiran obat itu dimasukkan kedalam gelas bambu berisi air minum didepan Roro.
Gadis itu cuma menatap kosong, dia seperti sudah hilang ingatan. ''Minumlah gadis sial., semoga saja nasibmu mujur.!'' bisik si nenek tua. bagaikan baru mendapat perintah gaib, Roro seakan terjingkat lantas meneguk habis air bercampur obat dari dalam gelas bambu itu. tak lama kemudian tubuh gadis kurus kering yang terikat rantai besi itu kejang- kejang, dari mulutnya keluar busa bercampur darah, setelah mengejang lama tubuh itupun lemas diam tak bergerak. nenek tua itu menyeringai, balikkan tubuhnya dan berjalan terseok menuju gubuknya. malam telah turun, gerimis yang membasahi bumi seakan ikut menangisi nasib malang gadis itu.
Esok harinya suasana di rumah saudagar emas itu menjadi geger, gadis bernama Roro yang disekap dalam kandang kuda diketahui mati. Rumilah yang pertama kali mengetahui nya, gadis kurus pucat itu menangis sesengukan melihat kematian sahabatnya, mungkin juga dia bersimpati dengan nasib buruknya, saudagar emas itu cepat memerintahkan orang untuk membuang mayat Roro, tapi melalui bahasa isyarat, si nenek tua mengatakan kalau sebaiknya dimasukkan ke dalam peti dan dikubur saja ditempat yang jauh, karena jika dibuang begitu saja selain dari mayat gadis ini dapat membawa wabah penyakit, arwahnya juga bisa penasaran.
Karena percaya si nenek tua memahami ilmu gaib dan pertabiban, akhirnya saudagar itu beberapa pengawalnya untuk menguburkan mayat Roro Wulandari.
Pagi itu hujan gerimis kembali turun, Gumoro sebenarnya merasa kesal karena diminta untuk ikut menemani si nenek tua, dia juga heran kenapa nenek itu seperti cukup dihormati saudagar emas dan istrinya. dengan menggebrak tali kekang kereta kudanya, dia bermaksud secepatnya sampai ditempat tujuan si nenek. karena jalanan berbatu dan becek berlubang, laju kereta menjadi tidak teratur.
''Anak muda, bisakah kau menjalankan keretamu lebih tenang.,?'' tegur si nenek tua dari dalam kereta, terdengar suara mendengus kesal, tapi Gumoro menurut.
Sementara Rumilah memandang sekeliling ruang kereta kuda, dia baru menyadari kalau ini adalah kereta kuda yang sama dengan yang dipakai gerombolan Jalak Gandos. seketika dia teringat nasib Roro Wulandari sahabatnya, meskipun mereka baru bertemu dan tanpa sengaja, tapi dihatinya sudah merasa sangat dekat dengan gadis itu. tanpa sadar Rumilah menangis.
__ADS_1
''Meskipun menangis memang senjata kaum wanita, tapi jangan membuatmu menjadi perempuan cengeng.,!'' tegur si nenek.
''Aku hanya teringat sahabatku Roro nek., kasihan sekali nasibnya.,'' jawab Rumilah sambil menghapus air matanya.
''Semuanya sudah suratan takdir., tapi jika memang berjodoh kau bisa saja berjumpa lagi dengannya, meskipun kemungkinannya sangat kecil.!'' gumam si nenek tua, tangannya mengetuk dinding depan kereta kuda. ''Gumoro., sekarang kita menuju ke kuburan Roro Wulandari terlebih dulu, aku dan Rumilah ingin melihatnya.!'' perintah si nenek tegas, seketika kereta mendadak berhenti. Gumoro langsung turun dari tempat kusir.
''Heeii nenek tua., memangnya kau siapa berani memerintahku seenaknya,? 'Semua bilang kau jarang bicara seperti orang bisu dan rada tuli, tapi sekali kau berucap sudah menyakitkan telingaku.,!'' bentaknya sambil melompat masuk ke dalam kereta kuda, Rumilah yang berada dekat pintu kereta ditariknya keluar hingga jatuh ke tanah. dengan beringas Gumoro melabrak si nenek, ''Jangan Gumoro., dia cuma nenek tua yang lemah.,!'' jerit Rumilah ketakutan. tapi pemuda itu sudah kehilangan akal, dia bermaksud menghajar si nenek. tapi diluar dugaan tubuh Gumoro yang gemuk besar terpental keluar dengan mata bengkak, gigi rompal dan tulang hidung remuk.! ''Apa yang telah terjadi sebenarnya.,?'' pikir Rumilah terkejut.
Perlahan si nenek tua keluar dari kereta itu. mata tuanya menatap tajam Gumoro yang berusaha bangkit, sekali tangan kurusnya mengibas Gumoro terbanting tak sadarkan diri. si nenek mendongak, hidungnya mengendus sekeliling udara, lalu berhenti sambil menunjuk kesatu arah, 'Kuburan temanmu ada di sana, tempatnya masih cukup jauh,!'
''Kalau turut mauku, sekarang juga kubunuh dirimu. tapi., aku butuh orang hidup bukan mayat.!'' gumam nenek itu, tangan kurusnya mencengkeram baju Gumoro. sekali sentak tubuh pemuda gemuk ini sudah berpindah ke atas bahu kanannya yang ringkih. rupanya nenek tua yang kelihatan lemah ini bukanlah manusia sembarangan.!
''Kau jangan merasa takut, nanti juga kau akan mengerti. kalau kau suka sekarang juga ikuti saja aku, bila memang nasibnya baik kita pasti bisa bertemu temanmu lagi.!'' kata si nenek tua itu pada Rumilah yang cuma terbengong dengan perasaan takut, heran bercampur penasaran. saat dia sadar tubuh si nenek yang memanggul Gumoro sudah puluhan langkah meninggalkannya, dengan kertakkan giginya perempuan ini nekat menyusul.
__ADS_1