
Meskipun percaya dengan kemampuan Roro Wulandari si 'Dewi Malam Beracun' dalam bermain siasat dan tipu muslihat, tetapi jika kepungan lebih dari lima ratus orang pesilat 'Istana Angsa Emas' sudah mulai bergerak menyerbu mereka, Sabarewang, Birunaka juga Jurata mau tidak mau juga merasa tegang dan agak ngeri. tanpa sadar ketiganya melirik Respati dan Ki Ageng Bronto.
Kedua orang itu biarpun diluar terlihat tenang, tapi sorot mata mereka jelas memancarkan kewaspadaan tinggi. bahkan senjata puasaka pedang Iblis Hitam dan Golok Bayangan Setan juga sudah tergenggam di tangan keduanya. cahaya hitam dan merah berhawa kematian terpancar dari kedua senjata sakti itu.
''Sepertinya rencanamu tidak berjalan sesuai dengan yang kau harapkan. kalau sudah begini kita cuma bisa beradu nyawa..'' sindir Putri Penjerat persiapkan benang- benang bajanya. ''Inilah akibatnya jika kau terlalu percaya diri, suatu ketika kesombonganmu bakal menelan dirimu sendiri Roro.!'' semprot Respati kesal. ini juga kesempatannya untuk dapat mengejek sepupunya.
''Chuiih., orang lugu berotak rendahan macam kalian berdua tahu apa soal siasat dan tipu muslihat. biarpun mereka terlihat menyerang kita, tapi aku yakin itu cuma gertakan saja. Nah lihat., banyak dari mereka yang mulai bergelimpangan terkena bubuk asap beracun dari panah berapiku.!'' terang Roro sekalian balas mengolok.
Ki Ageng Bronto menarik nafas berat, ''Orang lugu berotak rendahan., kalau soal memaki orang wanita cantik ini tidak pernah mau mengalah..'' batinnya geli juga. baru saja dia berpikir, di depan sana terdengar seruan lawan untuk berhenti. tanpa sadar semua rekannya menatap Roro seakan minta penjelasan.
''Kalau kalah tenaga, gunakan otak agar bisa menang. meskipun orang Istana Angsa Emas punya banyak tokoh berkepandaian tinggi, tapi selama orang yang mereka incar berada di tangan kita, mereka tidak akan berani berbuat sembarangan. alasan lainnya mereka juga tidak tahu senjata rahasia apalagi yang sudah aku persiapkan..''
''Selain itu pimpinan Istana Angsa Emas saat ini tentunya berpikir kenapa aku justru memilih tempat lembah terbuka seperti ini yang mudah untuk dikepung lalu mereka habisi. dengan demikian perhatian mereka akan terpecah dan timbul keraguan. padahal dalam sebuah pertarungan adu jiwa, bagi setiap pesilat itu adalah pantangan besar yang bisa berujung kematian..''
''Karena itu diriku sengaja berseru mau terus berperang sampai kita semuanya mampus atau memilih bicara untuk mencapai sebuah kesepakatan. semua tindakan kita ini bakal membuat mereka mengira kalau kita sudah siap untuk bertarung habis- habisan. padahal., siapa sudi membuang nyawa untuk urusan kecil seperti ini..'' ujar Dewi Malam Beracun tersenyum sinis sambil goyangkan kipas peraknya.
''Lagi pula., kalau wanita pintar secantik diriku mati malam ini, pastinya akan membuat ribuan lelaki yang selama ini memuja dan tergila- gila kepadaku menjadi bersedih lalu menangis karena patah hati. Hik., hi., hi.!'' gelak Roro terkikik. mendengar itu semua orang melotot padanya dengan pandangan geram.
Dalam hati mereka berpikir, ''Baiklah., kamu memang wanita cantik yang cerdik, licik dan ahli tipu siasat. meskipun menyebalkan tapi itu masih bisa kami terima. tapi bagaimana bisa masalah sebesar ini kau bilang sebagai urusan kecil. dan lagi., kau berkata beratus pria pemujamu bakalan hidup merana dan sedih karena kematianmu. sebenarnya dari mana rasa percaya dirimu yang kelewat batas ini berasal.?''
''Sudahlah., tidak perlu memikirkannya. sejak dulu wanita ini sifatnya memang begitu..'' bisik Respati. ''Kau benar., lagi pula kita tidak akan pernah menang berdebat dengannya..'' gumam Ki Ageng Bronto. ''Kita mesti banyak bersabar dan waspada menghadapi perempuan licik seperti dia. sedikit salah omong kita bisa kena dampratannya..'' Sabarewang turut pula bicara. yang lain sama mengangguk maklum.
__ADS_1
''Heii., apa yang sedang kalian omongkan, kenapa juga matanya melotot begitu.!'' tegur Roro mendelik. ''Aah., tidak ada Nyi Dewi. kami hanya bicara soal menghadapi lawan saja..'' ucap Jurata tergagap. ''Benar., itu benar Nyi Dewi. sekarang apa yang mesti kita lakukan.?'' tanya Birunaka mengalihkan pembicaraan.
Roro malah mengernyitkan alis geleng- geleng kapala. ''Kau bertanya apa yang mesti kita lakukan, pertanyaan bodoh macam apa ini. tentu saja kita tinggal menunggu mereka untuk berunding. jika masalah sepele begini saja kau tidak bisa mengiranya, berhenti saja dari kelompok ini.!'' dampratnya kesal.
Seketika mulut Birunaka bungkam. pada saat itulah dari pihak Istana Angsa Emas terlihat dua sosok bayangan putih berkelebat cepat mendatangi. jarak lebih empat puluh tombak dapat mereka lewati dalam dua kejapan mata lalu berhenti hanya lima langkah di depan Roro dan ketujuh rekannya. ''Mereka berdua adalah bekas Kulubalang kepala pasukan Istana Angsa Emas pada masa lalu., Kyai Jabar Seto dan I Gede Kalacandra si 'Dewa Serba Putih.!'' bisik Respati pada Ki Ageng Bronto.
''Kami berdua sengaja datang hanya untuk menjemput tuan putri Satriyana agar kembali ke Istana Angsa Emas..'' ucap Kyai Jabar Seto tanpa basa- basi. ''Sekarang juga biarkan putri Satriyana, pewaris utama Istana Angsa Emas ikut kami. setelah itu kita baru bicara soal lain..'' kata I Gede Kalacandra turut menekan.
''Haa., ha., tuan putri Istana Angsa Emas ada pada kami. kalian berdua juga sudah pernah mendengar kalau gadis itu tidak mau kembali. jadi., sebaiknya jangan memaksakan sesuatu yang tidak ada gunanya. lagi pula., yang perlu bantuan tenaga untuk menghadapi kelompok 13 Pembunuh adalah kalian. sementara kami sebenarnya tidak ada kepentingan langsung..''
''Jadi dalam perundingan ini, kamilah yang membuat aturannya dan pihak Istana Angsa Emas tinggal mengikuti aturan itu. jika kalian berkenan bisa kita teruskan pembicaraan. tapi kalau merasa keberatan, yah., lupakan saja untuk dapat bertemu dengan junjungan kalian itu.!'' ancam Dewi Malam Beracun.
''Hik., hii., hi., kalau memang sanggup, lantas kenapa tidak kalian lakukan. Aah., biar aku tebak. jangankan untuk melibas 13 Pembunuh, menemukan tempat rahasia mereka saja kalian belum mampu. karena itulah Istana Angsa Emas membutuhkan kami para bekas anggotanya untuk dikorek semua rahasianya. bukankah begitu I Gede Kalacandra.?''
''Tapi untuk mendapatkan semua rahasia itu dari mulut kami tidaklah gampang, ada harga mahal yang harus kalian bayarkan pada kita semuanya. panggil saja pemimpin tertinggi Istana Angsa Emas sekarang juga kemari. kita bicara sebagai dua buah pihak yang setara. berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah..'' tegas Roro mulai lancarkan siasatnya.
''Wanita gila., memangnya kau siapa berani meminta untuk bertemu dengan pemimpin kami. tidak perlu lagi banyak bicara, serahkan tuan putri Satriyana baik- baik pada kami. soal lainnya bisa diurus belakangan. kalau kalian menolaknya, kami bakal melepaskannya dari cengkeraman para manusia penipu jahat macam kalian.!'' umpat Dewa Serba Putih yang mulai murka siapkan satu aji kesaktiannya.
Kyai Jabar Seto yang lebih sabar dari rekannya masih mencoba membujuk. dia tahu betul kalau ilmu kesaktian Dewi Malam Beracun tidak dapat dipandang remeh. di pertarungan terakhir antara wanita itu dengan sahabatnya beberapa waktu lalu, sudah membuktikan kalau tingkat ilmu kesaktiannya hampir dapat menyamai sahabatnya hingga mereka berdua terluka parah.
''Dewi Malam Beracun., sebaiknya kau turuti saja apa yang sahabatku tadi bilang. karena tidak ada gunanya bermain kekerasan. kalian jelas kalah jumlah dan kekuatan. sangat mudah bagi kami untuk merebut kembali putri Satriyana dari tanganmu. tapi karena kalian semua sudah menjaga dan melindungi pewaris Istana Angsa Emas dengan baik, kami masih enggan berbuat kasar..''
__ADS_1
Seluruh rekan Roro Wulandari bukannya tidak menyadari semua kebenaran ucapan Kyai Jabar Seto. tetapi mereka semua sudah mempercayakan segalanya pada wanita cantik itu untuk mengurus semuanya. meskipun kalah kekuatan tapi mereka tetap yakin pada kamampuan Dewi Malam Beracun. rasa saling percaya diantara sahabat kadang sering lebih kuat dari sebongkah batu karang.
''Aku paham maksud baik Kyai Jabar Seto, untuk perhatianmu ini kuucapkan terima kasih. tapi sayangnya kami tidak dapat memenuhi permintaanmu. kalian berdua mundurlah dan minta pemimpinmu untuk menemui kami. lalu kita bisa saling bicara baik- baik..''
''Apakah ucapanmu mewakili pendapat semua kawanmu Dewi Malam Beracun.?'' tanya orang tua berjubah dan bersorban kain putih itu. yang ditanya membenarkan. ''Baguslah kalau begitu, terpaksa kita gunakan jalan kekerasan untuk menentukan menang atau kalah.!'' potong I Gede Kalacandra yang sudah tidak tahan ingin melabrak. rupanya orang ini masih penasaran dengan pertarungan terakhirnya saat melawan Roro.
''Huhm., biarpun kalian main kekerasan, tetap tidak akan mendapatkan apapun..'' dengus Roro lalu diam sesaat. setelah itu mendadak dia berteriak lantang, ''Jika sesuatu terjadi pada kami baik terluka atau tewas, cepat bunuh saja anak bernama Satriyana itu. kalian dengar.!''
Tidak ada sahutan dari rekannya. entah wanita itu sedang bicara dengan siapa, tapi sekejab kemudian dari delapan penjuru terdengar jawaban yang hampir bersamaan. ''Baik Dewi., kami mendengar dan mengerti. jika sesuatu terjadi padamu bocah pewaris Istana Angsa Emas yang berada di sini akan segera kami habisi.!''
Baik I Gede Kalacandra si Dewa Serba Putih, Kyai Jabar Seto maupun orang- orang Istana Angsa Emas yang mengepung lembah sama terperanjat dan bingung. sebenarnya apa yang dilakukan wanita itu. jelas Satriyana berada di tengah mereka sekarang ini, tapi kenapa dia malah menerintah orang lain yang berada di kejauhan untuk membunuh gadis itu. siapa pula mereka yang bersembunyi jauh di balik kegelapan hingga mau menuruti perintah Dewi Malam Beracun.
Rupanya Roro mengerti pikiran lawannya. dengan menyeringai sinis dia berkata, ''Kalian pasti bingung atau malah mengira diriku gila. kalau kalian pikir Satriyana berada disini itu salah besar..'' sambil bicara dia menghampiri gadis remaja enam belas tahunan itu. jemari tangannya yang lentik mengusap wajah gadis itu. entah bagaimana selembar topeng kulit yang sangat tipis terlepas dari sana.
Kini yang ada disana adalah seraut wajah asing yang agak gelap dan kusut. ''Gadis ini biasa dipanggil sebagai Gembluk., dia seorang pengemis bisu tuli yang pernah kami tolong saat hasil kerjanya hendak di jarah para begundal pasar. kebetulan perwakannya sama dengan Satriyana. untuk memancing kalian kami sengaja memakaikan topeng diwajahnya agar Istana Angsa Emas mengira Satriyana berada bersama kami..''
''Meskipun mungkin diriku belum sehebat si 'Celeng Muka Seribu' yang terkenal sebagai rajanya dalam ilmu penyamaran, tapi kurasa kemampuanku lumayan juga. paling tidak kalian sudah terkecoh. sekarang tuan- tuan tentunya paham alasan kenapa kami sengaja memilih tempat terbuka di tengah lembah., itu agar bocah Satriyana palsu ini dapat terlihat oleh kalian. sedangkan yang aslinya., berada ditangan orang- orangku.!''
*****
Asalamualaikum., Salam sehat sejahtera selalu. Silahkan tulis komentar, kritik dan saran, like👍, vote atau favorit👌 jika anda suka. Terima kasih. Wasalamualaikum.
__ADS_1