13 Pembunuh

13 Pembunuh
Nomor tiga., si Kaki Tumbal.


__ADS_3

Orang tua yang disebut sebagai Sesepuh Pelindung Istana itu sedikit berubah air mukanya. dengan menuruni tiga undakan tangga batu kini dia dapat melihat lebih jelas orang yang disebut sebagai si Kaki Tumbal itu. mata tuanya yang cekung tapi tajam sesaat mengamati si pembunuh ke tiga di kelompok 13 Pembunuh itu.


Dalam kisah sebelumnya (episode 74, Para pembunuh mulai muncul.) di ceritakan kalau pembunuh nomor delapan si Iblis Betina Mawar Jalang, dan pembunuh nomor tiga si Kaki Tumbal sedang di tugaskan untuk menghabisi nyawa keluarga Nyai Sutra Malinda. meskipun mendapat bantuan dari sesama pesilat aliran putih tapi tetap saja mereka tewas di tangan kedua pembunuh itu.


Pembunuh nomor delapan menyangka kalau rekannya si nomor tiga yang terluka parah tidak dapat bertahan hidup hingga memilih untuk meninggalkannya. lagi pula bukan rahasia lagi kalau diantara para anggota 13 Pembunuh juga terjadi persaingan. yang satu selalu berharap pembunuh lainnya mati.


Rupanya orang berjuluk si Kaki Tumbal ini masih berumur panjang, karena mendapat pertolongan anggota kelompok Istana Angsa Emas yang kebetulan berada di sekitar tempat itu dan membawanya ke mari.


''Kulihat meskipun dia tertotok pingsan tapi dari nafasnya yang teratur menandakan luka dalamnya sudah pulih, apakah orang ini sudah kau berikan pertolongan.?'' tanya tuan Sesepuh Pelindung Istana. Panglima Istana Tengah mengangguk membenarkan. ''Saya terpaksa menggunakan dua butiran obat pemulih tenaga untuk menyembuhkan sebagian luka dalamnya yang parah..''


''Tidak mudah untuk mengorek keterangan dari orang- orang seperti mereka., bebaskan seluruh totokan ditubuhnya.!


Ketiga Panglima itu sesaat tertegun. ''Kalau kita bebaskan, bisa jadi orang ini pasti akan langsung mengamuk berusaha kabur. biarpun kita bisa membekuknya lagi, tapi itu akan membuang tenaga kita Tuan Sesepuh..'' ucap Panglima Istana Kiri khawatir. kedua rekannya seakan menyetujui pendapatnya.


Tetapi tuan Sesepuh Pelindung Istana cuma diam, mata tuanya menyorot sinar tajam. ketiga bawahannya langsung maklum kalau perintah orang tua itu tidak bisa lagi ditawar.


Panglima Istana Tengah sentakkan dua jari tengah dan telunjuk tangan kanannya ke bawah beberapa kali, tiga larik cahaya kuning redup disertai sambaran angin tajam menusuk tiga bagian urat di tubuh si Kaki Tumbal. orang berjubah dan berkaki hitam itu itu seakan tersengat sesuatu hingga terjingkat. hanya sekejab saja pembunuh nomor tiga ini sudah bangkit berdiri dan langsung melompat menjauh ke belakang hingga merapat ke dinding ruangan goa. gerakannya yang cepat dapat menunjukkan tingkat ilmu kesaktiannya yang hebat.


Saat berdiri tegak baru terlihat barulah terlihat satu keanehan orang ini. meskipun dia memiliki sepasang kaki besar hitam yang kokoh dan menakutkan, tapi justru kedua tangannya sangat kurus kering seperti tangan orang tua renta.

__ADS_1


''Siapa kalian semuanya, bagaimana aku bisa berada di tempat ini.?'' tanya si Kaki Tumbal dengan mata jelalatan dan curiga. ''Kenapa diam, jangan coba bermain- main denganku si Kaki Tumbal dari kelompok 13 Pembunuh.!'' gertaknya coba mengancam.


''Hhm bagus., jadi benar kau ini anggota dari 13 Pembunuh, sekarang aku bicara langsung saja, kami adalah anggota dari Istana Angsa Emas. kami menginginkan semua yang kau ketahui tentang kelompok 13 Pembunuh., sekarang juga.!'' jawab Tuan Sesepuh Pelindung Istana dengan suara dingin.


''Istana Angsa Emas.? ja., jadi kaliyan inikah para pentolan istana ker., keramat itu.?'' tanpa sadar si Kaki Tumbal berseru kaget. sepasang matanya kembali memandang berkeliling hendak berusaha kabur. tapi sekiling tempat cuma dinding goa batu yang keras. tidak terlihat pintu atau jendela, bahkan lubang semutpun juga tidak ada.


''Kau tidak usah berpikir hendak kabur dari sini., ibarat kata saat ini dirimu sudah berada dalam sebuah peti mati, jadi turuti saja apa yang katakan.!''


''Kamilah yang telah menyelamatkan nyawamu dari kematian saat kau sekarat di pelataran rumah Nyai Sutra Malinda. jadi sudah sepantasnya kami menuntut imbalannya..'' kata orang tua itu dingin.


Kaki Tumbal merasa terkejut mendengarnya. ''Jadi merekalah yang telah membawaku dari tempat Nyai Sutra Malinda dan menolongku. tapi bagaimana dengan si nomor delapan Iblis Betina Mawar Jalang., wanita sundal keparat, pasti dia sengaja meninggalkan diriku..'' pikirnya dalam hati.


Begitu ucapannya berakhir si Kaki Tumbal pejamkan matanya sekejab, mulutnya bergumam merapal sesuatu. sepasang bandul tengkorak yang terikat di kedua kakinya membersit cahaya hitam yang terus menyelimuti kakinya dari ujung telapak hingga ke paha.


Berikutnya tubuh pembunuh nomor tiga itu mencelat tinggi ke udara. dari atas sana dia membuat gerakan salto dua kali sebelum meluruk deras ke bawah, dengan kedua kaki merapat menjejak keras bagaikan tombak besar. hawa hitam pekat berbau busuk menghampar ''Ingin membuatku tunduk., terima dulu jurus 'Kaki Tumbal Hawa Hitam' ini.!''


''Kurang ajar., berani melawan tuan Sesepuh Pelindung Istana, kau sudah bosan hidup.!'' geram Panglima Istana Kanan. saat hendak melabrak balik lawannya, orang tua itu sudah angkat tangan kanannya, ini adalah isyarat baginya untuk diam sekaligus sebagai jurus pembuka serangan.


Saat sepasang Kaki Tumbal menggebrak, tuan Sesepuh Pelindung Istana memutar telapak tangan kanannya diatas kepala, pusaran cahaya kuning emas berpijar menyilaukan mata. hawa panas menyambar memapaki serangan lawan.

__ADS_1


'Whuut., Whuuss.!'


'Blaar., blaam.!'


Kaki Tumbal mendengus keras. tubuhnya mental ke udara dan jatuh bergulingan dilantai ruangan batu, hawa hitam beracun di kakinya buyar di hantam ilmu kesaktian orang tua itu. meskipun kakinya yang sekeras besi tempa terasa panas tapi tidak sampai cedera. manusia ini langsung maklum dengan kehebatan orang tua yang menjadi lawannya.


Tapi rupanya orang ini masih merasa penasaran hingga kembali menyerang dengan masih mengandalkan jurus yang sama. akibatnya kembali dia di buat terpental ke udara, darah dalam tubuhnya nyaris tersembur. namun tidak percuma dia jadi anggota kelompok 13 Pembunuh. saat berada di atas dia mampu mengendalikan gejolak hawa panas yang menyerang tubuhnya. bahkan sekejab saja si Kaki Tumbal sudah bersiap lancarkan serangan balasan.!


Dalam dunia persilatan pembunuh si nomor tiga ini sudah terkenal dengan kehebatan ke dua kakinya. konon kabarnya demi menguasai ilmu kesaktian 'Kaki Tumbal' orang ini sampai harus membunuh dua orang saudaranya sendiri. alasannya sangat sepele dan menggelikan, kedua saudaranya sering mengejek sepasang tangannya yang memang lemah dan kurus kering akibat terserang suatu penyakit. sejak itu dia bersumpah akan meyakinkan ilmu kesaktian yang mengandalkan sepasang kakinya. tapi untuk menguasai ilmu hitam itu dia harus memotong kepala kedua saudaranya untuk dijadikan tumbal ilmu hitamnya. sepasang tengkorak hitam yang tergantung di kedua kakinya itulah tumbal dari ilmunya.


Kehebatan ilmu ini bukan saja mampu membuat sepasang kakinya sekeras besi, tapi juga mampu menyebar hawa hitam beracun. ''Orang tua bangsat., rasakan ini.!'' bentak Kaki Tumbal bengis. kedua kaki hitamnya bergerak bersilangan menggunting. dua larik cahaya dan asap hitam menyambar bagaikan gunting raksasa membelah udara. inilah jurus 'Kaki Tumbal Penggunting Roh.!' kabarnya orang jahat berjubah hitam ini sangat mengandalkan ilmu ini, karena jangankan tubuh manusia, pilar batu sekalipun bakal terpotong jika tersambar jurus ini.


''Tuan sesepuh awas.!'' seru ketiga Panglima hampir bersamaan. tapi orang tua itu cuma angkat kedua tangannya. lalu mengibas, bayangan seekor angsa emas besar sedang mengepakan sayap muncul di tubuhnya. saat kedua tangannya mengibas, serangkum angin keras yang disertai sinar kuning menyilaukan menggebrak. seisi ruangan batu berguncang keras, beberapa sudut dinding sampai berderak seakan mau roboh.


Cahaya hitam berbentuk gunting pecah berhamburan menghantam dinding- dinding ruang goa batu. ketiga panglima istana kebutkan jubahnya untuk menangkis sambil melompat menjauhi. walaupun ruangan batu itu cukup luas dan tinggi tapi tetap tidak cukup untuk menahan getaran tenaga akibat benturan ilmu kesaktian yang di lepaskan kedua pesilat itu.


Si Kaki Tumbal jatuh terbanting, dari sudut bibir dan hidungnya keluar darah, nafasnya terasa sesak. jubah hitamnya robek besar hingga dia nyaris telanjang. hawa hitam dari kakinya meredup lalu hilang. dijurusan lain tuan Sesepuh Pelindung Istana terlihat tenang seolah tidak mengalami apapun. tapi jika di perhatikan kedua ujung lengan jubahnya terlihar robek menghitam akibat tersambar jurus lawannya. perlahan orang tua itu melangkah mendekati si Kaki Tumbal.


Sepasang mata pembunuh nomor tiga ini menatap redup, tangan kirinya terangkat menunjuk jubah orang tua itu. dari mulutnya keluar sebaris ucapan terputus- putus yang mengejutkan semua orang di ruangan itu. ''Dia., dia., orang itu., memakai., ju., jubah yang sama deng., denganmu. ada lam., lambang sulaman ang., angsa emas di jubah., nya..!'' saat ucapannya selesai dan tangannya jatuh terkulai, saat itu juga hidupnya berakhir.

__ADS_1


__ADS_2