13 Pembunuh

13 Pembunuh
Klewang Pemburu Kepala.


__ADS_3

Semilir angin pagi berhembus sedikit lebih kencang menyapu debu jalanan dan daun- daun kering hingga melayang rontok. tiga nenek bermuka belang tanpa bicara sama mengeluarkan sebilah senjata berbentuk klewang dari balik jubah putihnya yang gombrong lalu melangkah maju.


Sabawrewang melirik rekannya sebentar, ''Kau kenal dengan ketiga nenek bermuka aneh itu.?'' Respati menarik nafas berat, ''Sebaiknya kau tidak pernah kenal dengan mereka, supaya bisa hidup lebih lama..''


Tanpa perdulikan rekannya yang keheranan, Respati langsung melompat turun lalu melangkah maju menghadang ketiga nenek bermuka belang- belang kuning itu. ''Hari masih pagi tapi di depanku sudah berdiri tiga pesilat kosen dari daerah timur., ada angin apa sampai 'Tiga Nenek Klewang Pemburu Kepala.' keluar dari sarangnya di jurang Gandulan lereng gunung Pegat.?'' sapa Respati menjura hormat. Sabarewang yang melihat hal ini tertegun karena tidak biasanya Respati mau berbuat seperti itu saat berhadapan dengan lawan


''Apa mungkin ketiga nenek bermuka belang aneh ini begitu menakutkan dan sangat tinggi ilmunya.?'' pikirnya resah. baru saja dia hendak mengetuk dinding kereta, dari balik jendela kecil di belakangnya muncul seraut wajah cantik jelita. semerbak bau harum segar terpancar dari tubuhnya. sesekali Satriyana turut mengintip dari belakangnya.


''Sungguh sialan., pagi- pagi begini sudah ada yang mencari perkara, tapi ketiga nenek bermuka belang- belang kuning ini memang tidak boleh di recoki. apa aku juga harus turun tangan membantunya.?'' gumam Dewi Malam Beracun bimbang.


''Apakah Nyi Dewi kenal siapa mereka itu.?'' tanya Sabarewang penasaran. si cantik ini mendengus sinis, ''Siapa yang sudi kenal dengan tiga nenek bangkotan yang gemar memenggal kepala orang hanya untuk dijadikan mahar persembahan dan barang pajangan.?''


''Lagi pula sebenarnya., justru yang paling menakutkan bukanlah mereka bertiga, tapi pihak yang berada di belakang Tiga Nenek Klewang Pemburu Kepala itu..'' bisik Roro menambahkan.


Meskipun Sabarewang tidak paham maksud ucapan Roro Wulandari, tapi dia maklum kalau saat itu Respati sedang menghadapi tiga orang musuh yang sangat berbahaya.


Apa yang kusir kuda itu pikirkan memang tidak salah, semua yang di ucapkan Roro juga sangat tepat. sebab belasan tahun silam dunia persilatan pernah di buat geger oleh serangkaian pembunuhan berantai yang sangat mengerikan. puluhan tokoh silat dari golongan hitam dan putih berturut- turut mati dengan kepala terpenggal. anehnya semua tokoh silat itu mati dengan keadaan sama kehilangan kepalanya.


Kepala para pesilat berilmu tinggi itu semuanya lenyap entah kemana. bukan itu saja semua barang berharga termasuk uang recehan juga turut lenyap. tidak diketahui siapa pelakunya. untuk menyelidiki masalah ini golongan hitam dan putih sampai sepakat bekerja sama mencari orang yang telah melakukannya.


Setelah beberapa kali gagal akhirnya usaha itu berhasil juga. mereka mampu menjebak pelaku dengan memancingnya ke sebuah rumah penginapan. dari para korbannya yang menyandang nama besar, dapat diketahui kalau dia sengaja hanya memenggal kepala pesilat terkenal dan berharta saja.


Disebarkanlah berita bahwa dipenginapan itu telah menginap seorang tokoh silat yang kaya raya. yang baru saja mendapatkan sebuah peta harta karun dan kitab ilmu pedang yang hebat luar biasa. agar terlihat lebih meyakinkan, beberapa pesilat aliran hitam dan putih berpura- pura seolah ikut bertarung memperebutkan peta harta itu.

__ADS_1


Di saat semuanya mulai putus asa dan merasa jebakannya gagal, tidak dinyana dari atas wuwungan atap rumah penginapan yang berlantai dua. muncul menyusup tiga sosok bayangan putih.


Tiga penyusup itu bergerak secepat kilat menerobos langsung ke dalam salah satu kamar penginapan. tidak jelas apa yang terjadi di dalam sana. karena yang terdengar hanyalah suara pertarungan sengit, cahaya tenaga kesaktian dan bentrokan senjata.


Saat beberapa orang berniat masuk, dari dalam kamar terdengar jeritan- jeritan ngeri dan semburan darah segar yang muncrat sampai keluar ruangan, disusul terpentalnya tubuh tiga orang nenek tua bermuka coreng belang kuning yang membekal sebilah klewang berlepotan darah.


Serentak para tokoh silat mengepung mereka bertiga. saat itulah baru mereka sadar tangan salah satu nenek bermuka belang kuning itu telah menenteng sebutir kepala berlepotan darah. itu bukan kepala orang sembarangan, melainkan kepala salah satu ketua perguruan silat terkenal yang bersedia menjadi umpan.


Menurut cerita orang yang menyaksikan langsung kejadian itu. saat kegemparan masih terjadi, dari pintu kamar penginapan keluar seorang lelaki gagah yang membekal sebilah parang berwarna keemasan. dia juga bukan pesilat kacangan, karena nama si Parang Emas juga cukup mentereng.


Raut muka si Parang Emas terlihat aneh, seperti sedang tertawa tapi juga mirip orang menangis. hanya selangkah keluar pintu mata si Parang Emas mendekik gusar, dari lehernya tersembur darah segar yang membanjiri lantai penginapan. kepalanya putus bersamaan dengan tubuh besarnya yang tumbang ke lantai bawah.!


Belum sampai batok kepala itu tiba di lantai, nenek muka belang yang di sebelah kiri gerakkan senjata klewangnya secara berputar. serangkum angin keras menderu ke depan. batok kepala Parang Emas seakan tertahan di udara, lalu tersedot ke arah si nenek belang kuning. sekali tangan kurusnya menyambar, kepala berlepotan darah itu sudah tercekal olehnya.!


''Kabarnya yang terlibat dalam pertarungan di penginapan itu ada lebih dari dua puluh orang pesilat yang cukup tangguh. walaupun ketiga nenek muka belang bersenjatakan klewang punya ilmu sangat tInggi, tapi dikeroyok seperti itu pastinya membuat mereka cepat terdesak..''


''Dalam keadaan nyawa terancam dan tubuh terluka parah, salah satu nenek belang itu tiba- tiba mengucapkan sesuatu yang sangat aneh., mungkin kira- kira bunyinya seperti ini, ''Hari ini genap terkumpul dua belas kepala pesilat kelas atas sebagai maharnya., kami bertiga butuh perlindungan dari Tuan Besar.!''


"Tidak satu orangpun yang mengerti maksud ucapan itu, bahkan sebagian orang sampai tertawa menghina dan menganggap tiga nenek tua itu sudah gila karena ketakutan. tapi kejab berikutnya keadaan menjadi berubah hening. tidak satu.orangpun yang berani bicara, apalagi bergerak menyerang. semua mata tertuju pada satu benda hitam yang entah sejak kapan muncul di tengah kalangan pertarungan dengan pandangan seram dan ngeri. kau tahu benda apa itu.?'' tanya Roro Wulandari pada kedua rekannya.


''Benda hitam., benda hitam semacam apa yang punya pengaruh begitu besar.?'' dengan penasaran Sabarewang balik bertanya. juga Satriyana tak kalah penasarannya. wajah Roro yang cantik membayangkan kengerian.


''Itu hanya sebuah bendera hitam yang kecil, bendera hitam bergambar sebuah gapura dengan latar belakang rembulan purnama berselimut darah., bendera hitam lambang dari sebuah partai silat aliran hitam yang terkuat., Partai Gapura Iblis.!''

__ADS_1


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya kak Roro.?" desak Satriyana tidak sabaran. "Masa dengan bendera hitam saja mereka semus jadi takut.?"


"Kau anak kecil bau kencur tahu apa soal Gapura Iblis., saat itu kudengar ada beberapa orang yang tetap nekat menyerang ketiga nenek belang yang sudah hampir tidak berdaya melawan, tapi baru saja orang itu bergerak maju, mendadak seseorang yang berada tepat di samping kanannya dan memegang tombak menusukkan senjatanya ke perut pesilat yang hendak menyerang. belum sempat sadar dengan apa yang terjadi, orang bertombak itu sudah acungkan sebuah bendera hitam bergambar sama sambil beseru "Gapura Iblis ada di sini., siapa melawan pasti mati.!"


"Orang bertombak yang mengacungkan bendera hitam bergambar gapura dan bulan purnama berdarah itu juga bukan pesilat sembarangan, dia seorang pendekar ternama dari aliran putih yang di panggil sebagai Ki Lembing Megantara. sungguh tidak diduga kalau seorang yang dikenal baik budi bisa menjadi anggota partai hitam itu.."


"Seketika orang menjadi saling curiga satu dengan lainnya. karena siapa yang bakal menjamin kalau orang yang ada di dekatnya bukan anggota partai hitam itu. saat itulah tiga nenek tua itu berhasil meloloskan diri dari kematian. sejak saat itu nama Tiga Nenek Klewang Pemburu Kepala turut lenyap.."


"Hmm., itu sudah berlangsung belasan tahun silam, tidak kusangka mereka muncul lagi. tapi ada urusan apa tiga nenek jelek itu dengan Respati.?" gumam Dewi Malam Beracun.


Jika Satriyana cuma terpaku tidak mengerti, maka lain halnya dengan Sabarewang, tubuh pria brewok ini gemetar, aliran darahnya seakan membeku. kalau pagi itu ada suara guntur mungkin dia cuma terkejut. tapi saat mendengar Roro Wulandari menyebut nama Gapura Iblis, Sabarewang seketika merasa sangat ketakutan.


Meskipun tidak begitu jelas tapi dulu tanpa sengaja dia pernah memergoki Ki Wikalpa memberikan sekotak besar penuh uang emas dan perhiasan miliknya kepada seseorang. dari sikapnya yang penuh rasa hormat dan segan menandakan kalau Ki Wikalpa takut pada orang itu dan sebagai gantinya ketuanya mendapatkan sebuah bendera hitam bergambar sebuah gapura dan bulan purnama berdarah dari orang misterius itu. sekarang baru dia ketahui kalau majikannya dulu adalah salah satu anggota partai hitam itu.


Selintas pikiran buruk berkelebat di benak Sabarewang ''Kalau benar dugaanku., bisa jadi tiga orang nenek aneh ini sengaja muncul di sini untuk membuat perhitungan dengan Respati karena telah membunuh Ki Wikalpa yang menjadi anggota partai Gapura Iblis.!"


Tiga nenek berjubah putih kumal itu tidak langsung menjawab pertanyaan si pemuda tapi orang yang berada di tengah dan berambut putih tergelung malah balik bertanya, ''Kau inikah yang disebut sebagai Ular Sakti Berpedang Iblis, anggota nomor tiga belas dari kelompok 13 Pembunuh.?''


'Kau juga yang telah membunuh Ki Wikalpa, ketua perkumpulan pengawalan barang Garuda Merah dan merebut semua barang kawalannya.?'' sambung si nenek yang berada di kiri dan tubuhnya paling kecil.


''Serahkan semua barang kawalan itu juga batok kepalamu sebagai bunganya.!'' ujar nenek yang berdiri di kanan berbibir bawah agak sumbing.


Belum sempat Respati menjawab dan gema suara tiga nenek itu belum lenyap, tiga buah klewang di tangan mereka sudah berkelebat terbang menyambar kepala pemuda itu. dalam serangan pertama ini Tiga Nenek Klewang Pemburu Kepala langsung lancarkan jurus 'Klewang Terbang Sukma Melayang.' menyerang cepat berputar dari tiga penjuru arah, tapi pada akhirnya terus menebas leher kepala si pemuda.!

__ADS_1


__ADS_2