13 Pembunuh

13 Pembunuh
Pisau di alas kakinya.


__ADS_3

Bentakan Roro Wulandari seketika memecah kesunyian malam. bersamaan tubuh wanita cantik itu berkelebat ke depan. senjata kipas perak yang tergenggam di tangan kanannya membuat tiga buah gerakan cepat mengibas, menotok dan membabat tubuh lawan. suara sambaran angin keras dan tajam berhawa panas seketika melabrak si 'Golok Siluman Kembar Penghisap Darah.!'


Menyadari orang yang menjadi lawannya bukanlah pesilat sembarangan, Roro juga siapkan ilmu pukulan 'Cakar Tengkorak Darah'. di tangan kirinya. jemarinya yang indah dan lentik berubah sememerah bara api dengan kuku- kuku tajam melengkung.


Sepertinya Roro si 'Dewi Malam Beracun' telah berhasil mengembangkan ilmu pukulan Cakar Tengkorak Darah pada tingkatan atas. karena sekarang cakar beracunnya bukan saja bercahaya semerah darah dan berbau anyir, tapi juga bersemu sinar kehitaman.


''Pergilah ke neraka.!'' bentak Roro seiring dengan kelabatan tubuhnya yang malabrak maju. serangan kipas peraknya yang sengaja di buat mendadak, membuat lawannya terkesiap kaget. dengan menggembor marah orang berjubah merah itu langsung bergerak menghindar sambil putar kedua goloknya untuk menangkis.


Kilatan dua cahaya merah golok bergerigi di tangan orang ini berputar cepat membentuk lingkaran perisai yang bukan saja sanggup menahan serangan kipas, tapi juga balik mengirimkan belasan bacokan golok yang mengancam hampir seluruh bagian tubuh Roro yang paling mematikan.


'Whuuuk., wheeet., beet.!'


'Traaang., treeng., craang.!'


Roro merutuk kesal dalam hati. terpaksa dia mengurungkan niatnya untuk melepaskan pukulan Cakar Tengkorak Darah, karena mesti berbalik mempertahankan dirinya dari ancaman golok kembar lawannya.


''Hak., haa., ha., jangan salahkan aku kalau tubuhmu yang putih mulus harus tercincang di tempat ini. jadi kurasa., sebaiknya kau menyerah saja dan tunduk kepadaku Dewi Malam Beracun. setiap waktu aku dapat memberimu kesenangan dan kepuasan..''

__ADS_1


''Tutup saja mulutmu dasar bajingan mesum, kau bisa mencari kesenangan sendiri saat bertemu para setan di neraka.!'' potong Roro balik mendamprat. tubuhnya yang langsing bergerak cepat namun anggun seperti penari panggung. meskipun beberapa bagian jubah hitamnya robek tersambar senjata lawannya, namun dia mampu lolos dari rajaman golok kembar itu.


Pertarungan kedua orang yang berilmu silat tinggi ini berlangsung begitu cepat hingga sekejap saja sudah terlewati dua puluhan jurus. tubuh mereka berdua seakan lenyap dalam gulungan cahaya hitam dan merah yang saling libas dengan sengitnya. dari sana juga terdengar berpuluh kali beradunya senjata.


Angin serangan jurus kesaktian dari kedua pesilat itu yang menyambar ganas ke segala penjuru arah, membuat pelataran rumah besar Ki Ageng Bronto menjadi berantakan. dari beberapa sudut pelataran yang gelap terdengar suara- suara tercekat dan keluhan tertahan. rupanya ada beberapa orang pengepung yang terkena sambaran angin serangan jurus yang nyasar.


''Matilah kau perempuan sund*l keparat.!'' bentak si 'Golok Siluman Kembar Penghisap Darah' kalap.


''Kaulah yang bakal duluan menjadi bangkai, botak jahanam.!'' balas Roro Wulandari tidak mau kalah gertak. dalam bayangan merah hitam dari jubah keduanya yang terus saling sambar, tidak lupa mereka juga saling mengumbar ancaman dan makian kotor. hingga kini pertarungan antara pengganti nomor sembilan melawan bekas nomor dua belas dalam kelompok 13 Pembunuh itu sudah hampir melewati empat puluh jurus.!


Bagi Dewi Malam Beracun, pertarungan ini tidaklah terlalu berat untuk di selesaikan. yang jadi masalah kedua senjata lawan yang berupa golok pendek bergerigi tajam itu seperti menyimpan kekuatan jahat. setiap kali serangan jurusnya hendak mencapai sasaran, darah di tubuhnya seakan ada yang menyedot keluar. hingga hampir saja Roro muntah darah.


Sebaliknya kalau lawan belum sanggup di lukai, hawa jahat dari kedua golok itu akan membuat aliran darah lawan kacau dan pada akhirnya termuntah keluar lalu terhisap oleh golok itu. maka tidak salah kiranya jika senjata itu di namai Golok Siluman Kembar Penghisap Darah.


Dalam petualangannya selama bertahun- tahun di rimba persilatan yang ganas, Dewi Malam Beracun sudah mengalami berpuluh pertarungan sengit bahkan beberapa di antaranya dia mesti berhadapan dengan tokoh silat yang ilmunya lebih hebat darinya. meskipun jelas kesulitan dan nyaris hilang nyawa, tapi pada akhirnya dia justru yang keluar sebagai pemenangnya.


Semua itu karena Roro mempunyai otak yang jauh lebih cerdik dari orang lain. bahkan saat di tugaskan menghabisi sasaran yang berilmu lebih tinggi, terlebih dahulu Roro seringkali melakukan penyelidikan secara rahasia selama berhari- hari hanya untuk mengetahui kebiasaan dan kelemahan calon lawannya. meskipun harus membuang banyak waktu dan biaya, Roro selalu saja berhasil menghabisi sasarannya.

__ADS_1


Namun berbeda jika pertarungan itu tidak di rencanakan, Roro mesti berpikir cepat untuk mencari kesempatan menang sambil terus bertarung. sambil menyeringai licik wanita ini sudah membuat keputusan.


Sambil kipas peraknya berputar menangkis kedua golok lawan. tangan kirinya bergerak hamburkan lima buah paku beracun yang semuanya sanggup di buat mental.


''Apakah permainan paku kecil ini adalah ilmu andalanmu yang terakhir Dewi Malam Beracun., aku heran bagaimana kau dapat menjadi anggota 13 Pembunuh jika punya ilmu begini rendah. jangan- jangan kau sudah serahkan tubuhmu pada Ketua atau si Kamajaya sebagai gantinya. Haa., ha.!''


Roro Wulandari menyumpah serapah dalam hati. tapi dia tetap berusaha tenang, karena itulah kunci kemenangannya. saat si Golok Siluman Kembar Penghisap Darah berkoar mengejek, Dewi Malam Beracun mendadak jatuhkan dirinya dan berguling ke tanah. hanya sekejap mata saja dia sudah berada di belakang tubuh lawan nyaris sama rata dengan permukaan tanah.


Di saat lawan belum menyadari siasatnya, dari bawah Roro sudah kirimkan dua buah tendangan menggunting dan mencungkil ke atas. si botak berjubah merah itu meraung saat merasa sepasang pergelangan kakinya tersambar dua bilah pisau yang entah sejak kapan muncul di celah cepitan alas kaki Roro yang terbuat dari lembaran papan kayu jati. darah muncrat urat kakinyapun terputus.


Tubuhnya sedikit terhuyung. dia menggeram saat sadar pisau itu beracun. dengan meraung buas orang ini bacokkan sepasang goloknya ke bawah, tapi lawan sudah keburu berguling menjauh. jarak dua tombak sudah cukup bagi Roro untuk menghantamnya dengan ilmu 'Cakar Tengkorak Darah.!'


''Mampuslah kau bajingan botak.!'' umpat Roro bengis. lima larik cahaya merah darah bersemu hitam dengan disertai hawa panas dan bau anyir busuk melabrak. didepan sana si Golok Siluman Kembar Penghisap Darah menjerit ngeri. kedus goloknya dibabatkan berturut- turut. dua larik cahaya merah lebar menyambar. dua ilmu sakti beradu di udara.!


Pelataran itu berguncang hebat. meski Roro sempat terhuyung ke belakang dengan jubah bagian depannya robek besar, tapi dia tidak mengalami suatu apapun. di jurusan lain lawannya jatuh terjungkal dengan dada robek terkoyak hangus. sebelum terkapar roboh orang ini masih sempat menyuruh anak buahnya untuk menyerbu. sebuah perintah yang terlambat.


Roro tersenyum sinis. dari pertarungan tadi dia menjadi sadar kalau golok kembar itu hanya akan dapat menghisap sekaligus mengacaukan aliran darah lawan yang berada dekat di hadapannya. tapi sayangnya hawa jahat itu tidak keluar menghisap darah kalau lawan berada di bawah.

__ADS_1


Roro Wulandari sang Dewi Malam Beracun menyimpan beratus macam senjata rahasia di hampir seluruh bagian tubuhnya. dari pucuk rambut hingga ujung kaki. termasuk juga dua buah pisau beracun yang tersembunyi di balik alas kaki kayunya.


Bersamaan itu dari balik sudut kegelapan bermunculan orang- orang bertopeng tengkorak putih dan berseragam hijau. dengan tombak pendek di tangan mereka serentak menyerbu Roro dengan beringas tanpa perduli pimpinannya sudah terkapar.


__ADS_2