
Malam semakin memuncak., pertarungan antara para manusia ular sudah berlalu. pemuda berbaju putih memutar sekali lagi pedang Iblis Hitam di tangan kanannya. selapis hawa dan cahaya hitam yang lebih pekat dari gelapnya malam berkelebat mengikuti putaran pedang, lalu lenyap saat disarungkan di belakang pinggang.
Respati edarkan pandangannya sekali lagi. dia tahu masih ada dua atau tiga orang pesilat berilmu tinggi yang masih mengintai dari balik kegelapan.
Pemuda berjuluk 'Ular Sakti Berpedang Iblis' ini tidak menunggu lama karena dari balik sudut kegelapan sebelah kiri muncul seorang anak perempuan berbaju merah. kalau dilihat anak perempuan itu mungkin umurnya baru sepuluh tahunan. dengan ujung rambut dikuncir dua serta memakai bedak pupur dan pemerah pipi di mukanya.
Kulit bocah perempuan ini putih bersih dan tubuhnya montok. sehingga terlihat lucu dan menggemaskan hati. saat pertama kali muncul dari balik kegelapan sampai tiba ditengah kalangan, bocah perempuan ini selalu saja bernyanyi riang.
Dengan penuh rasa tertarik dia berjongkok sambil mengamati dua onggokan daging mayat gosong yang tergeletak di atas tanah. kedua tangannya yang kecil bertepuk tangan dengan gembira, seolah telah menemukan suatu permainan yang menarik hatinya.
Sabarewang tanpa sadar ikut tersenyum hampir saja dia tertawa geli melihat tingkah lucu dan aneh dari bocah perempuan itu. tapi satu desisan pelan yang disertai suatu isyarat tangan dari Dewi Malam Beracun seakan memberitahukan padanya agar diam dan mundur.
Orang ini tentu saja merasa keheranan. tapi saat melihat raut wajah Roro Wulandari yang begitu tegang bahkan terselip rasa ketakutan membuatnya semakin penasaran.
''Nyi Dewi., sebenarnya ada masalah apa lagi sekarang, apakah kau tahu siapa bocah perempuan lucu itu dan berasal dari mana.?'' bisik Sabarewang. yang ditanya cuma menggeleng pelan sebagai isyarat agar dia tidak bersuara. butiran keringat dingin mengalir di kening Roro pertanda ada suatu kekhawatiran besar di hati perempuan cantik yang biasanya selalu percaya diri ini.
__ADS_1
Hal ini semakin membuat hati Sabarewang penasaran, apalagi di depan sana Respati juga cuma diam tidak bergerak. seakan ada sesuatu yang sangat mengerikan sedang mengancamnya.
Hanya seorang bocah perempuan sepuluh tahun berbaju merah yang terlihat lucu dan menyenangkan hati. memangnya apa yang menakutkan dari anak perempuan lucu dan manis itu. tanpa sadar Sabarewang mulai mengamati bocah perempuan itu lebih seksama. tidak ada yang aneh kecuali tingkahnya yang menggemaskan hati. paling yang tidak biasa, dia muncul pada malam ini seorang diri saja.
Sabarewang sesaat masih menyeringai sinis melihat tingkah kedua rekannya yang dia anggap konyol dan tidak masuk akal. hampir saja dia kusir kuda itu nekat mengolok- olok Respati dan Roro yang ketakutan dengan seorang anak kecil, kalau saja saat itu matanya tidak melihat suatu keanehan di kening si bocah.
Kening bocah perempuan itu sepintas tidak berbeda dengan bocah kebanyakan, tapi jika diamati lebih seksama ada sebuah tonjolan sebesar biji buah salak berwarna kemerahan tepat di tengah kening bocah perempuan itu.
Meskipun cuma sekilas tapi Sabarewang sempat melihat tonjolan bulat di kening itu seakan berkedip seperti sebuah biji mata manusia. kilatan cahaya merah yang tajam menyorot menggidikkan hati dari bulatan mirip bola mata itu. saat itulah Sabarewang teringat akan satu cerita menyedihkan sekaligus menyeramkan yang pernah dia dengar sewaktu masih menjadi anggota kelompok pengawalan barang 'Garuda Merah.'
Mungkin karena tidak tahan dengan kemiskinan yang terus membelenggunya, akhirnya suami istri itu nekat mencari sebuah pesugihan agar dapat menjadi kaya secara cepat. dari seorang dukun mereka berdua di suruh pergi ke sebuah goa yang ada di gunung Kawi untuk bertapa.
Kabarnya sepulang dari gunung Kawi kehidupan mereka mulai berubah, entah bagaimana ceritanya saat tengah malam dibawah balai bambu tempat tidur kedua pasangan itu muncul segenggam gumpalan emas. hebatnya itu terjadi tujuh malam berturut- turut. sejak itulah mereka menjadi keluarga yang kaya- raya.
Dari dasar jurang kemiskinan mendadak berada di puncak kekayaan membuat suami istri dan kelima anaknya mulai lupa diri dan sombong, hingga mereka lalai dengan sebuah perjanjian yang pernah mereka buat bersama satu mahkluk halus di gunung Kawi tempat keduanya meminta harta pesugihan.
__ADS_1
Malapetaka mulai datang saat lahir seorang bayi perempuan dari perut sang istri. bayi perempuan itu memiliki suatu keanehan di keningnya berupa tonjolan mirip bisul kecil berwarna merah. tapi semenjak lahirnya bayi itu setiap tahun satu persatu dari kelima anak lelaki mereka berturut- turut mati tanpa di ketahui penyebabnya.
Akhirnya suami istri itupun sadar kalau mereka sudah melupakan tumbal persembahan yang harus mereka berikan pada mahkluk gaib di gunung Kawi yang telah memberi harta kekayaan pada mereka, akibatnya kelima anak itulah yang menjadi gantinya.!
Sepasang suami istri itupun ketakutan karena tahu sang mahkluk gaib akan terus meminta korban. akhirnya mereka memberikan anak perempuan bungsunya pada siluman di gunung Kawi itu. rupanya siluman jahat itu tertarik dengan anak perempuan yang umurnya baru lima tahun itu. siluman itu juga mengatakan kalau lima tahun lagi dia akan datang kembali meminta korban dan keduanyapun menyanggupi.
Seperti yang sering terjadi, manusia sering lupa dengan janjinya. lima tahun kemudian sepasang suami istri kaya- raya itu ditemukan tewas dengan tubuh mengering dan jantung lenyap.
Ada beberapa saksi mata mengatakan kalau malam itu di rumah mereka muncul seorang bocah perempuan sepuluh tahunan yang mirip sekali anak mereka yang sudah dijadikan sesajen siluman di gunung Kawi. bocah perempuan itu bilang ingin bertemu orang tuanya untuk menagih tumbal. jelas saja kedua orang tua ini menjadi ketakutan dibantu beberapa tukang pukul mereka berniat membunuh bocah itu. tapi hebatnya bocah perempuan itu bukan saja berhasil selamat, bahkan dengan sangat kejam dia membunuh semua orang yang ada di rumah itu.
Konon kabarnya bocah perempuan itu sebenarnya sudah lama mati bertahun- tahun silam, tapi raganya dipakai oleh mahkluk siluman penghuni goa di gunung Kawi untuk menebar petaka. cerita itu sudah sangat lama terdengar, tapi soal kebenarannya tidak ada seorangpun yang dapat membuktikannya.
Hanya satu yang membuat semua orang merasa yakin, jika memang anak itu hanya perempuan biasa, kenapa pula tidak pernah beranjak dewasa dan terus berwujud bocah kecil selama puluhan tahun lamanya., juga mata merah yang ada dikening itu kabarnya menyimpan suatu kekuatan yang sangat jahat.
Sabarewang kucurkan keringat dingin, tengkuknya merinding, nafasnya terasa berat. jika cerita itu benar adanya maka layak kiranya kalau Respati dan Roro merasa ngeri, karena saat ini mereka sedang berhadapan dengan seorang anak perempuan jelmaan siluman jahat yang kabarnya sangat gemar menghisap darah para korbannya.!
__ADS_1