
Satriyana sudah mulai bosan menunggu Respati datang, gadis kurus itu juga merasa khawatir dengan keselamatan si pemuda. sempat juga dia berniat pergi mencarinya, tapi akhirnya diurungkan sendiri. gadis itu memandang sekeliling, saat ini dia berada dua ratus langkah dari batas pedukuhan Punggingan, duduk sendirian di bawah sebatang pohon tua yang mulai mati kekeringan. udara terasa panas, keringat mulai membasahi baju kutangnya yang entah sudah berapa lama tidak dicuci, atau malah mungkin juga gadis ini tidak pernah ganti baju.
''Uuhh., panas sekali disini., tubuhku sampai keringatan begini.,!'' Dengan punggung tangan dihapusnya peluh yang meleleh di dahinya, tanpa sadar dia mengendus bau badannya sendiri, ''Hhmm., Baunya masih harum., air wewangian untuk mandi pemberian kakak Dewi Malam Beracun memang tidak ada duanya.!'' gumamnya tersenyum sendiri.
Dia lalu berdiri memandang lalu lalang orang di jalanan sana, untuk kesekian kalinya Satriyana mengeluh kesal, yang ditunggu belum nampak batang hidungnya. gadis itu berjalan menghampiri kuda yang dia tambatkan dipohon. punggung kuda hampir penuh dengan bermacam barang yang sudah mereka beli, mulai dari pakaian, makanan, dan barang- barang aneh pesanan Dewi Malam Beracun, termasuk juga bungkusan kotak milik Respati yang entah berisi apa didalamnya.
Sepeminum teh sudah berlalu, perasaan Satriyana semakin cemas, bukan saja memikirkan Respati yang belum kembali, namun juga ada sesuatu masalah yang sangat mengganjal pikirannya. tapi dia harus tetap tenang dan menunggu. diteguknya kendi berisi air yang tergantung dipunggung kuda sampai isinya hampir habis. Bersamaan itu terlihat dua orang pemuda bertubuh pendek berjalan mendekatinya.
''Di siang hari bolong dan panas terik begini, masih ada juga gadis yang mau keluyuran sendiri.!'' berkata pemuda pendek yang berdiri disebelah kanan dan berbaju kuning sambil tersenyum tipis.
''Aah., rupanya dia juga membawa banyak sekali barang, kurasa kita bisa membantu menjaga barangnya sekalian menemani ngobrol.,!'' ujar pemuda pendek yang bertubuh kurus.
Satriyana segera maklum kalau dua orang pemuda ini berniat kurang baik, tapi dia tetap tenang dan santai, ''Duuhh., memang panas banget siang ini., kalian sendiri kenapa juga keluyuran dijalanan, pengangguran yaah.,?'' tanya gadis itu setengah mengejek.
Si kurus pendek terjingkat alisnya, tapi tetap mampu menahan diri. ''Kami berdua petugas keamanan di Pungingan ini. disini sangat rawan, banyak sekali perampokan dan pencurian tejadi belakangan ini.!''
''Benar sekali., bahkan baru saja terjadi pembunuhan terhadap dua orang pengamen tua tidak jauh dari sini.!'' tambah si baju kuning. ''Karenanya, lebih baik kalau adik ikut kami berdua ketempat yang lebih aman..''
''Oouh., rupanya tuan muda berdua ini kepala keamanan di Punggingan, harap maafkan aku karena tidak mengenali dan sudah bersikap kurang sopan.,!'' ucap Satriyana seraya menjura hormat. Kedua pemuda itu saling pandang dan tertawa senang.
''Aah., tidak perlu sungkan, kalau begitu bagaimana kalau sekarang juga kau ikut ke tempat kami.?'' ajak sibaju kuning sambil mengamati tubuh gadis kurus yang cuma memakai baju kutang putih dan celana hitam yang sudah teramat kumal itu. otaknya mulai berpikir kotor.
''Terima kasih atas tawarannya, aku tentu saja senang ditemani dua orang pemuda gagah seperti kalian., tapi.,''
''Tapi apa.,?'' desak si kurus tidak sabaran. ''Masalahnya aku masih harus menunggu kakekku datang, karena dia sudah tua, rada pikun dan lemah, kalau dia kutinggal pasti dia akan kebingungan mencariku, lagi pula kakekku itu membawa uang hasil dagangan cukup banyak.,!'' jawab Satriyana.
Kedua pemuda itu saling lirik sekejab, pikiran mereka sama, lebih baik bersabar sebentar sambil menunggu mangsa empuk datang.
''Memangnya kakekmu pergi kemana..?'' tanya si pendek kurus gusar, karena orang yang mereka tunggu tidak juga datang.
Satriyana tepuk kepalanya sendiri ''Aduuh., aku lupa kalau kakekku sudah mati dua tahun yang lalu, maaf., maaf.,!'' ujar gadis itu sambil mundur membungkuk.
__ADS_1
''Anak gadis sialan., apakah kau sengaja mempermainkan kami.?'' bentak si pendek kurus. sementara si pendek baju kuning mendesak maju hendak merengkuh tubuh gadis kurus itu. tentu saja Satriyana tidak tinggal diam, dengan membungkuk dan mengandalkan kelincahan tubuhnya dia berhasil menghindar, lantas tangan kirinya maju menjotos bawah perut si kurus disusul sodokan siku kanan menusuk rusuk si baju kuning. masih dengan kuda- kuda yang rendah kaki kanan turut menghajar lutut lawannya hingga jatuh terjengkang.
''Wuuk.,Buuk, Buuk.,!''
Kedua pemuda ini meringis kesakitan, ini terjadi bukan sebab ilmu silat mereka rendah, tapi karena mereka lengah dan tidak menyangka gadis kurus ini punya bekal ilmu silat. tidak ingin malu keduanya lantas menyerbu dengan ganas meski tubuh masih terasa nyeri. gantian sekarang Satriyana yang terdesak hebat, beberapa kali gadis ini harus menerima hajaran dua orang pengeroyoknya. meskipun begitu gadis ini masih saja sanggup bertahan. tapi mau sampai kapan,?
Cucu Ki Winong dari desa Kembangsoka ini jatuh terduduk, tangannya menyeka ujung bibirnya yang meneteskan darah. meskipun Satriyana gadis yang cukup kuat tapi dia tetap hanyalah seorang manusia. dia hanya menjerit pasrah saat si baju kuning menjambak rambutnya, dan si pendek kurus mengemplangi pipinya pulang balik.!
Tapi gadis kurus ini memang bandel, saat dijambak kedua kepalan tangannya juga bergerak menjotos perut lawannya. meski tidak keras tapi cukup menyakitkan.
''Perempuan keparat, kau memang tidak layak untuk dikasihani.,!'' maki sipendek baju kuning sambil membanting tubuh gadis itu. sementara perut dan rusuknya masih terasa sakit dihantam kepalan Satriyana.
''Kita bawa dia dan kuda itu ketempat kita, kalau kedua paduka guru melihat hasil yang begini banyak, tentu mereka akan sangat senang.,'' ujar si pandek kurus.
''Pastinya kita juga akan mendapat bagian yang cukup banyak., Haa., ha.,!'' timpal sipendek baju kuning lalu tertawa.
''Dan pastinya juga kalian berdua akan mati di sini, jika tidak cepat membebaskannya.,!'' ujar Respati yang entah sejak kapan sudah muncul dibelakang kedua pemuda pendek itu.
Seakan belum kapok, setelah memungut pisau gergajinya, mereka bangkit dan kembali melabrak Respati, tapi keduanya hanya sempat melepaskan lima kali babatan dan tusukan pisau, sebelum digampar dan jatuh terkapar.
''Tunggu saudara., tolong hentikan.,!'' seru seseorang sambil berlari mendekat. Respati menoleh, dia merasa pernah melihat orang ini sebelumnya. ''Saudara apakah kau masih ingat diriku.?' aku pengamen yang tadi siang berjumpa denganmu dan kau beri sejumlah uang.,''
''Aah., pantas saja aku merasa pernah melihatmu.!'' jawab Respati. pemuda ini heran saat orang didepannya berlutut minta ampun. ''Saudara kumohon lepaskanlah kedua temanku ini, mereka memang berlaku tidak baik, tapi sebenarnya bukanlah orang jahat.!''
''Ooh iya,. namaku Sampon anggota pekumpulan pengamen Empat Penjuru, Terimakasih karena sudah memberitahukan kabar kematian kedua ketua kami.,!'' ucap orang yang ternyata adalah Sampon itu.
''Tapi kenapa kau mencoba menolong mereka, apakah keduanya juga anggota perkumpulanmu.?'' tanya Respati. yang ditanya menggeleng, ''Terus terang saja di masa lalu mereka pernah menolongku, dan aku bukan manusia yang tak kenal budi.,!''
Respati melirik kedua pemuda pendek yang masih tergeletak ditanah, meski masih sadar tapi belum sanggup berdiri. ''Aku merasa orang seperti ini bukan jenis manusia yang suka menolong sesamanya, tapi terserahlah, bawa saja mereka pergi.!''
Sampon menyatakan terimakasihnya, dia langsung mencoba membangunkan mereka, setelah berhasil bangkit mereka bertiga pergi meninggalkan tempat itu, sementara orang- orang yang berkerumun untuk melihat kejadian itu satu persatu membubarkan dirinya. beberapa prajurit penjaga yang enggan ikut campur masalah juga turut berlalu.
__ADS_1
''Bagaimana keadaanmu gadis ceking.?'' tanya Respati lembut sambil memapah bangkit Satriyana, ''Eeh.,namaku Satriyana., kenapa kau selalu memanggilku ceking.?'' bantah gadis itu sewot.
''Hee., he., itu panggilan yang cocok untukkmu, aku heran diwarung tadi makanmu cukup banyak, tapi kau tetap saja kurus.!'' sudahlah mari kita pergi, kau naiklah ke punggung kuda, biar aku yang menuntun, nanti di ujung jalan kita beli seekor lagi, kuda ini tidak cukup untuk kita tunggangi.,'
''Kau benar., barang yang kita beli begitu banyak, entah apa perlunya semua ini..'' ujar Satriyana lalu menatap tajam Respati,
''Tadi aku melihat kotak kayu cendana hitam didalam bungkusan kain milikmu., terus terang saja kukatakan dulu sekali saat masih kecil aku pernah melihat barang serupa itu di rumahku.,!''
Pemuda ini tertegun sesaat lamanya., ''Apapun angapanmu., kotak kayu hitam itu bukan kuambil darimu, barang ini titipan seseorang, juga ada rahasia besar didalamnya, kau mau percaya atau tidak terserah padamu..!'' jawab Respati, sambil membimbing naik Satriyana ke atas kuda. entah kenapa dia merasa harus berkata jujur pada anak ini.
''Aku percaya ucapanmu.!'' ujar gadis itu tersenyum manis. ''Aku percaya karena kutahu kau orang baik.!'' sambungnya. Respati menunduk, entah kenapa hatinya terasa hangat. mungkin sudah waktunya bagi mereka untuk mulai terbuka dan saling percaya.
''Eeh., kau percaya pada ucapan orang bernama Sampon itu.,?'' tanya Satriyana memecah kebisuan. ''Orang itu mungkin tidak punya nama besar dan terkenal, tapi dia punya otak., manusia seperti ini adalah orang yang sulit untuk dihadapi., karena dia bisa melakukan apapun diluar pikiran orang lain.!'' jawab Respati panjang lebar.
Sementara itu Sampon dan kedua orang pemuda pendek sudah sampai di sebuah gubuk reot yang sepi dan tak berpenghuni. ''Dengar kawan, waktuku tidak banyak, seperti yang kalian dengar tadi, namaku Sampon anggota pengamen Empat Penjuru pimpinan Sepasang Pengamen Murung, kalian pernah dengar.,?'' Kedua pemuda pendek itu saling pandang lalu mengangguk, ''Kenapa kau menolong kami berdua.,?''
''Karena aku juga membutuhkan bantuan kalian, dan ini juga akan memberi kebaikan buat kedua guru kalian.!''
''Apa maksud ucapanmu barusan.,'' tanya si pendek kurus waspada. ''Memangnya kau tahu siapa kami.?'' timpal si baju kuning.
Sampon menyeringai tipis, ''Tentu aku tahu., Bukankah kalian adalah murid dua tokoh silat ternama yang berjuluk 'Sepasang Iblis Cebol.,?''
Kedua pemuda pendek ini terkejut saling pandang, Sampon tidak memberi waktu, dia terus berbicara, ''Dengarkan aku., Ketua dan seorang teman karibku sudah mati dibunuh oleh empat orang keparat yang bernama Empat Mayat Hijau, sebelum pergi empat orang itu sudah mengambil sebuah peta surat rahasia pewaris Istana Angsa Emas., dari tangan ketuaku itu..!''
Lagi- lagi kedua orang itu terkejut, ini sebuah berita besar yang tidak boleh dilewatkan, pikir mereka.
''Aku hanya ingin agar kalian menyampaikan berita ini pada kedua gurumu itu, supaya dapat merebut surat rahasia itu, sekaligus menghabisi Empat Mayat Hijau, agar dendam ketua dan kawanku terbalaskan.!''
''Sebaiknya kalian secepatnya pergi menemui gurumu, karena mata dan telinga orang ada dimana- mana, khawatir berita ini bocor.!''
Setelah sepakat kedua orang itupun pergi meninggalkan gubuk reot itu, Sampon menghela nafas, sebelumnya dia juga meminta kawan- kawannya untuk menghubungi setiap tokoh silat di segala penjuru secara diam- diam, dari mayat Sepasang Pengamen Murung dia juga mendapatkan tiga kantung penuh uang emas dan perak yang kemudian dia bagikan pada kawan- kawan pengamennya.
__ADS_1
seringai licik tersungging di bibir Sampon, mungkin benar kata Respati orang ini sangat berbahaya.