13 Pembunuh

13 Pembunuh
Mata hitam yang bertanya pada langit.


__ADS_3

Meskipun malam semakin mendekati akhir namun langit seolah justru semakin gelap. hujan juga tetap turun walaupun tidak selebat tadi. 'Pengemis Tua Mata Setan' beserta empat orang anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang menjadi bawahannya terus bergerak cepat kembali menuju lembah untuk melaporkan segalanya kepada sang pemimpin kelompok 13 Pembunuh.


Ditengah perjalanan kira- kira lima ratusan langkah dari mulut lembah tempat tujuannya, kelima orang ini sama hentikan laju tubuhnya karena mendadak muncul sesosok tubuh manusia yang berdiri menghadang mereka. angin dingin bercampur tetesan hujan yang berhembus kencang nampak mengibarkan sebuah lengan baju kanan yang kosong itu.


''Haa., ha., tidak kusangka si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' bisa muncul ditengah hujan dan menghadang kami. kalau dilihat sekarang, agaknya kau sudah berhasil menyingkirkan pemuda pincang yang bergelar si 'Muka Pucat Dingin' itu..'' seru Pengemis Tua Mata Setan sambil tertawa bergelak.


Orang tua berwajah dingin seram, berbaju putih kumal dan basah oleh siraman air hujan itu memanglah Lengan Tunggal Pengejar Roh. ''Pemuda pincang itu sempat termakan jurus mautku sebelum dia kabur kedalam hutan. meskipun begitu., umurnya juga tidak mungkin bertahan lama..'' terangnya menyeringai buas.


Pengemis Tua Mata Setan dan keempat orang anak buahnya sempat tercengang dan saling pandang sebelum tertawa seram. ''Haa., ha., jika orang lain yang bicara, mungkin diriku masih merasa ragu untuk percaya. tapi karena kau yang mengatakannya, tidak ada alasan lagi untuk menyangsikannya..''


''Di dunia persilatan ini memangnya siapa yang tidak kenal keganasan ilmu cakar pisau hijau maut milik tuan pemimpin si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh'. jangankan tersambar langsung, sedikit saja terkena angin pukulannya sudah dapat menjamin nyawa lawan melayang.!'' timpal salah satu anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis turut memuji.


''Kita tidak dapat berada disini terlalu lama. ketua pasti sedang menanti kedatangan kita kembali untuk turut serta membantai habis semua musuh yang masih bertahan dilembah itu. apalagi ketua menginginkan agar supaya segala urusan disini dapat diselesaikan sebelum hari berganti pagi.!''


Pengemis Tua Mata Setan lebih dahulu memberi isyarat kepada rekannya sebelum mendahului berkelebat pergi diikuti anak buahnya. si Lengan Tunggal Pengejar Roh sekilas sempat melirik kesatu arah sebelum tubuh kurusnya bergerak cepat menyusul kawannya kedepan.


Hujan deras yang mulai mereda berubah jadi gerimis disertai kabut dingin. diantara rapatnya batang pepohonan yang ada ditepian pedataran berumput itu samar terlihat ada sesosok tubuh manusia. meskipun hanya berupa bayangan gelap namun jelas adanya sepasang sorot mata dingin yang kemerahan. biarpun hanya sekilas terlihat namun sangat menggidikkan hati.


Bersamaan dengan meredupnya cahaya mata dingin menyeramkan itu, sesosok tubuh gelap yang berdiri diantara pepohonan hutan itu juga turut lenyap. sekelebatan bayangan kehitaman terlihat melesat bagai hantu gentayangan menembusi kegelapan dan hujan gerimis. meskipun lewat jalan memutar namun jelas arahnya sama dengan yang dituju Pengemis Tua Mata Setan dan anak buahnya.

__ADS_1


Enam orang anggota kelompok 13 Pembunuh itu bergerak cepat menerobos rintik hujan dan kegelapan malam yang dingin. lima berada didepan seorang lagi yang berlengan kanan buntung mengikuti dibelakang dengan tetap menjaga jarak empat tombak jauhnya. meski sempat merasa agak heran tapi Pengemis Tua Mata Setan dan yang lainnya tidak ambil perduli.


Baru separuh perjalanan terlewati, saat tepat di tengah jalan sempit bertebing batu yang terdapat jurang agak curam disisi kirinya, kelima orang yang berada paling depan itu mendadak berhenti. meskipun belum terlihat jelas siapa orangnya namun mereka dapat melihat ada sesosok bayangan gelap sedang berdiri menghadang di ujung jalan, tepat disamping tebing batu.


''Setan kesasar dari mana yang sudah berani menghadang jalan kita.?'' geram salah satu anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang berdiri disamping pimpinannya. ''Kita tidak punya banyak waktu untuk bertanya jawab. berani menghalangi jalan berarti dia punya maksud buruk. bunuh saja secepatnya.!'' putus yang lainnya.


Pemimpinnya memberi isyarat setuju. dengan berbekal senjata tombak bergerigi dua orang anggota meluruk kedepan menyerang dari depan dan sisi kanan merapat tebing. mereka bermaksud mendesak lawan ke bibir jurang. angin serangan tombak yang tajam terasa mengiris kulit.


Sosok tubuh yang diserang masih diam tidak bergerak seolah dia hanyalah sebuah patung batu. merasa diremehkan kedua orang ini lipat gandakan tenaga serangan. ujung mata tombak berkilat kemerahan mengancam pinggang dan perut lawannya. meski terancam maut tapi tidak terlihat ada gerakan mencolok yang dilakukan sosok tubuh itu.


Barulah saat tombak bermata gergaji tinggal sejengkal dari sasaran. terlihat sekelebatan cahaya hitam pekat yang lebih gelap dari langit malam. gerakan cahaya itu sangat sederhana, karena hanya terlihat menusuk langsung kemuka. tapi akibatnya sungguh diluar nalar. dua tombak berpatahan lantas terpental lenyap entah kemana, bersamaan itu tubuh pemiliknya terjungkal dengan tenggorokan berlubang hangus semburkan darah.


Rintik hujan gerimis dan udara yang semakin dingin membuat suasana bertambah hening seram mencekam jiwa. Pengemis Tua Mata Setan seakan baru terbangun dari suatu mimpi buruk. dia tidak pernah mengira lawan bakalan mampu bertindak sekejam itu. dengan muka beringas dia hendak mengumbar amarahnya. tapi seketika orang tua ini diam termangu saat telinganya mendengarkan sesuatu.


Yang dia dengar bersama kedua sisa anak buahnya hanyalah sebuah siulan aneh yang bernada menyayat hati. walaupun mereka sama tidak tahu siulan menyedihkan itu melantunkan soal apa, tapi jelas membuat perasaan para pendengarnya turut menjadi diliputi kesedihan hati.


Sosok bayangan yang berdiri dalam kegelapan itu mulai melangkah. sebuah langkah kaki yang terlihat aneh dan mungkin mengundang tawa bagi orang yang melihatnya. langkah kaki terseok pincang dan menyeret seperti cacing dibantu dengan sebatang tongkat besi hitam yang menyaruk permukaan tanah becek.


Tetapi tidak ada satupun orang disana yang berani tertawa apalagi sampai menghinanya. karena mereka semua tahu siapa pemilik langkah kaki pincang yang aneh juga siulan berirama menyedihkan hati itu. tanpa sadar Pengemis Tua Mata Setan dan kedua orang anak buahnya yang berdiri dibelakang sama menyurut mundur.

__ADS_1


''Tuu., tuan pemimpin Lengan Tunggal Pengejar Roh., buk., bukankah kau bilang si pincang itu pasti mati ditanganmu.?'' tanya salah satu anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis tergagap sambil menoleh ke orang yang berada belakang. baru saja dia dan kawannya memutar tubuh, lima larikan cahaya hijau sudah menyambar didepan mereka. keduanya hanya sempat keluarkan suara tercekik lantas roboh terkapar dengan tenggorokan terkoyak dan tulang leher remuk patah.


Pengemis Tua Mata Setan belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi, saat pemuda berkaki pincang yang berdiri empat langkah dihadapannya juga sudah keburu bertindak. gerakan yang dia lakukan bukan saja sangat cepat juga kejam tidak kenal ampun. tangan kiri menghamburkan pukulan 'Tapak Darah Meminta Sedekah' sementara bersamaan tongkat kepala tengkorak yang tergenggam di tangan kanannya menghantam dengan jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan.!'


'Whuuuusss., Whuuukk.!'


'Sslaaaaasss., blaaaamm., blaaaarrr.!'


Berlusin cahaya merah menebar aroma anyir darah bertaburan menerabas dinginnya hujan. selarik sinar hitam pekat dengan hawa panas menghantam lurus kedepan. dalam keadaan masih bingung Pengemis Tua Mata Setan hanya bisa merutuk panik sambil lepaskan dua pukulan sakti yang menyebar hawa hitam beracun.


Akibat bentrokan ilmu kesaktian yang terjadi membuat sisi tebing batu berguncang dan longsor. secepat yang dia mampu Pengemis Tua Mata Setan berjumpalitan menghindari guguran batu dan pukulan lawan yang masih terus melabrak sembari berteriak meminta pertolongan pada si Lengan Tunggal Pengejar Roh, tapi yang dia dapat malah cabikan cakar pisau hijau dari rekannya yang menghajar punggungnya.!


Seluruh kejadian ini berlangsung sangat cepat bahkan agak sulit jika diurutkan dalam sebuah rangkaian cerita. punggung kurus yang tercabik dari pundak hingga pinggang. telapak tangan merah darah yang meremukkan wajah tuanya sampai kedua bola mata hitamnya tercopot keluar dari rongganya, juga ditengah dadanya yang bertambah sebuah lubang hangus tembus ke punggung. sebuah kematian yang teramat sadis mesti dialami tokoh silat jahat itu.


Dua biji mata hitam berlepotan darah yang bergulir diatas tanah basah itu masih menghadap keatas langit gelap seakan ada pertanyaan yang tersirat disana. kenapa dia mesti mati dengan cara sekejam ini, tanpa tahu sebabnya dikhianati rekan sendiri yang menikam dari belakang.?


Sayangnya sampai tubuh tuanya tersungkur mandi darah ditanah basah dan arwahnya yang melayang penasaran ke akhirat, semua pertanyaan itu tidak pernah dia terima jawabannya. lagi pula., sepertinya si Lengan Tunggal Pengejar Roh serta pemuda pincang di depannya juga enggan untuk menjawab.


*****

__ADS_1


Asalamualaikum. salam sejahtera selalu., Mohon tulis komentar, kritik sarannya🙏. juga like👍 vote atau favorit👌 jika anda suka. kalau berkenan tolong share novel ini kepada teman" yang lainnya. Terima kasih.👏. Wasalamualaikum.


__ADS_2